
Hari ini adalah hari dimana Chandra dan Luna akan menikah.
Hari dimana mereka berdua akan mengikat janji suci ikatan pernikahan.
Hari dimana Luna dan Chandra sama-sama bahagia, namun kenyataannya mereka berdua sama-sama tersiksa.
Di satu sisi, Chandra merasa jika ia terlalu memaksakan kehendaknya pada Luna. Sekilas, ia merasa iba karna begitu banyak orang yang tak menyukai Luna menjadi istrinya, terutama Jaelani-sekretarisnya.
Bukan Chandra tak tahu, ia sangat tahu karna tanpa sepengetahuan Jaelani, ia menyuruh seseorang untuk mengikuti mereka belanja tempo hari.
Namun, demi mempertahankan apa yang ia punya, ia pun mengenyahkan lagi rasa kasihan itu, tapi satu hal yang pasti.. ia berjanji dalam hati untuk membuat Luna nyaman berada di sisinya. Selama menjadi istrinya. Walaupun Ia masih bingung bagaimana caranya menjadi suami dan kapan pernikahan itu akan berakhir.
Tak pernah terbesit olehnya untuk mempermainkan sebuah pernikahan, karna bagaimanapun pernikahan itu adalah sesuatu hal yang sakral. Pernikahan itu bukan hanya mengucapkan janji yang didengar orang saja, tapi juga Tuhan yang menciptakan kita.
Tapi, Chandra juga tidak mungkin seegois itu jika kenyataannya nanti Luna tak nyaman hidup berdampingan dengannya. Ia pun harus siap kapanpun jika wanita itu meminta cerai darinyaa.
Hah? Cerai? Nikah aja belum udah mikir cerai. Chandra.. Chandra.. batin Chandra sembari menggelengkan kepala seraya memakai tuxedo yang kini membuatnya terlihat begitu sempurna.
Di lain sisi, Luna yang kini sedang dirias oleh MUA terhebat di kotanya hanya bisa tersenyum pelik seraya melihat pantulan wajahnya melalui kaca yang ada di depannya.
Sebentar lagi.. sebentar lagi ia akan menjadi istri dari dosen tampannya. Apa yang harus dilakukannya setelah itu? Apa Chandra tidak risih dengannya dengan status palsu yang sengaja ia pakai? Tapi, jika Chandra meneliti berkas yang dikumpulkannya untuk persyaratan menikah, bukankah Chandra sudah tau jika dia masihlah seorang gadis.
Luna terlihat menggelengkan kepala samar, apa yang ia takutkan? Bukankah berkali-kali Chandra bilang padanya jika laki-laki itu hanya butuh status darinya.
Ia menikah dengan Chandra hanya agar Chandra mendapat sebuah status, bukan karna cinta.
Ganti rugi uang untuk membayar kerusakan mobil Chandra ia bayar dengan menikah dengan Chandra. Apa ia terkesan seperti menjual diri? Luna meneteskan air mata memikirkannya.
Namun sedetik kemudian ia mengusap air matanya saat teringat jika Chandra yang menawarinya. Ia disini hanya korban. Ya, korban. Luna berkata dalam hati menguatkan dirinya sendiri.
"Mbak.. Kenapa menangis? Rusak nanti make upnya Mbak.." ujar sang MUA sembari merapikan riasan di wajah Luna.
"Eh iya.. maaf ya Mbak." ujar Luna merasa tidak enak hati.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Ibu Halimah begitu perhatian.
Walaupun Wanita paruh baya itu terlihat sedang sibuk bermain dengan Radit di atas kasur di kamar rumah Chandra yang telah disiapkan untuknya, tapi lihatlah, wanita paruh baya itu terlihat meneteskan air mata seraya menahan suara dan terus secara cepat mengusapnya.
Ibu Halimah masih tidak menyangka jika putri tunggalnya akan menikah dengan laki-laki yang sangatlah kaya.
__ADS_1
"Aku.. Aku rindu dengan Ayah, Bu.. Hari ini.. seharusnya Ayah ada disini.. Seharusnya hari ini Ayah jadi wali nikah aku. Menikahkan aku dengan laki-laki yang mau menjadi suamiku. Imam untukku. Tapi nyatanya enggak, Bu.. Apa aku salah jika aku masih begitu menyayanginya walaupun dia sudah tak lagi memperdulikan kita. Apa Luna salah Bu.." Kilah Luna yang juga tidak berbohong pada Ibunya dengan tangisan yang pecah kembali.
MUA yang merias Luna pun berdecak kesal melihat riasan Luna yang berantakan karna tangisannya namun juga iba saat mendengar kata yang terlontar dari bibir mungil milik Luna.
Bagaimanapun, siapapun anak yang mau menikah pasti ingin didampingi oleh kedua orangtuanya. Menyaksikannya di hari penting dalam hidupnya, walaupun ia bingung harus bahagia atau sedih di moment pernikahannya ini.
Luna juga tak munafik, jika Luna begitu menginginkan kehadiran Ayahnya disaat hari penting dalam hidupnya.
Hati Ibu Halimah mencelos mendengar perkataan Luna, ia pun bangkit seraya menggendong Radit mendekat dimana Luna sedang duduk dirias.
Wanita paruh baya itu menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya seraya tangisnya yang kembali pecah. "Kamu gak salah sayang.. Tetaplah menyayanginya, karna sebenarnya mungkin jauh di sana, ia sangat mempedulikanmu."
"Mempedulikanku? Ibu tidak salah bicara? Kalau memang Ayah peduli denganku, seharusnya Ayah tidak meninggalkan kita dan seharusnya.. Ayah mengabari kita dimana dia berada walaupun sekali. Tapi.. Itu tak dilakukannya kan, Bu.." ujar Luna mengungkapkan isi hatinya.
Ketukan di pintu membuat Ibu Halimah yang tadi ingin menimpali perkataan Luna, mengundurkan niatnya.
"Saya hanya mau menginformasikan jika penghulu sudah datang." ujar Jaelani memberitahu, lalu menutup pintunya kembali.
Usai riasannya dirapikan, Luna pun menghela napas lalu membuangnya.
Inhale!!
Exhale!!
Di ruang tengah itu, Chandra sudah duduk di depan penghulu dengan mengenakan tuxedo yang membuatnya dua kali lipat lebih tampan dan Luna sedikit gugup akan duduk di sampingnya.
Tamu yang datang pun hanya sedikit, karna pernikahan itu Chandra hanya mengundang para pemegang saham di kantornya dan paman serta bibinya.
Merasa wanita yang akan dinikahinya sudah duduk di sampingnya, Chandra pun menoleh menatap Luna yang kini begitu cantik dengan riasan flawless dari MUA terhebat di kotanya.
"Bagaimana? Sudah siap?" tanya pak penghulu kembali pada calon pengantin di depannya sebelum ijab qobul berlangsung.
Terlihat Chandra dan Luna kompak menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Tepat pukul sembilan pagi akad nikah Chandra dan Luna berlangsung.
Teriakan "SAH" dari para saksi dan tamu undangan yang hadir pun menjadi saksi jika Chandra dan Luna kini telah sah menjadi suami istri.
Chandra pun mengembuskan napas lega karna moment yang sedari tadi mendebarkan hati dan jantungnya terlewati dengan baik dan begitu khidmad.
__ADS_1
Luna mencium punggung tangan Chandra usai mereka saling bertukar cincin, dan Chandra pun kini memegang kepala Luna, mengucapkan doa lalu dengan hati yang berdebar dia mencium pucuk kepala istrinya.
Deg
Luna merasa ada rasa hangat yang menjalar di hatinya saat kini bibir tebal milik Chandra menempel di dahinya.
"Selamat ya Chan, Paman gak menyangka jika ponakan paman sudah jadi seorang suami sekarang." ujar Permana sembari menepuk pundak Chandra yang kini sedang bersimpuh meminta doa restunya.
"Ini semua juga tak lepas dari nasihat Paman." timpal Chandra yang kini membuat Permana meneteskan air mata.
Permana terlihat mengangguk, laki-laki yang masih begitu tampan di usianya itu meneteskan air mata. "Paman doakan semoga kamu selalu bahagia. Semoga pilihanmu tidak salah."
***
"Namamu siapa, Nak?" tanya Permana sembari menatap Luna yang kini mencium punggung tangannya.
"Luna, Paman."
"Hiduplah dengan baik bersama ponakan Paman, ia telah memilihmu. Paman yakin kamu yang terbaik untuknya." nasihat Permana pada keponakan menantunya.
***
"Nak Chandra, Ibu titip Luna ya.. Dia putri tunggal Ibu.. Dialah satu-satunya harta Ibu yang paling berharga di dunia ini. Bahagiakanlah dia seperti Ibu yang selalu membahagiakannya, walaupun Ibu orang tak punya." ujar Ibu Halimah seraya mengusap pucuk kepala Chandra, meminta kesungguhan dari laki-laki yang kini menjadi menantunya.
"Aku akan membahagiakan Luna seperti Ibu membahagiakannya." tegas Chandra begitu mantap dengan janjinya.
Entah janji itu bisa ia tepati atau tidak, yang pasti ia sangat yakin jika ia bisa membahagiakan wanita yang kini menjadi istrinya.
"Luna.. Kamu sekarang sudah jadi seorang istri, berbaktilah pada suamimu dan jangan membantah apa yang diucapkannya selagi tidak melanggar norma agama. Sayangilah dia dan hiduplah bahagia bersamanya, Nak. Ibu selalu mendoakan kebahagiaan kalian." Ibu Halimah berujar seraya mencium kedua pipi Luna secara bergantian.
"Iya Bu.. Luna pasti bahagia dengan suami Luna." jawab Luna menyakinkan Ibunya jika kini ia sedang berbahagia.
Kini, gantilah Luna meminta doa restu dari Bibi Chandra usai Chandra meminta doa restu padanya.
Bibi Chandra yang bernama Maria itu sedari tadi menatap sinis pada Luna.
Dan saat Luna mendekatinya, tanpa basa-basi ia pun langsung berkata. "Kamu tidak akan bahagia hidup bersama Chandra, dia menikahimu hanya karna ingin mempertahankan jabatan yang ia punya."
Luna hanya menanggapinya dengan tersenyum manis, "Aku yakin akan bahagia hidup dengan Mas Chandra, Bibi tenang saja karna dia yang memilihku, dia pasti bertanggung jawab dan selalu ingin membahagiakanku."
__ADS_1
Jawaban telak dari Luna membuat Maria mengibaskan kipasnya seraya memutar bola matanya, jengah.
Bersambung...