
"Jen.." panggil Darius lembut saat keduanya kini sudah berada di dalam kamarnya.
Jenifer yang terlihat sedang membersihkan sisa make upnya dengan menggunakan kapas yang sudah diberi micellar water pun langsung menoleh saat suaminya memanggilnya. "Apa, Kak?"
Darius yang sedang duduk di tepi ranjangnya terlihat berpikir sebentar, dan akhirnya menggelengkan kepalanya mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Jenifer bagaimana perasaannya saat tadi melihat Raka.
"Kakak tadi mau tanya apa? Tanyakanlah, Kak." desak Jenifer sembari menggenggam tangan Darius yang kini bersandar sembari memejamkan matanya pada kepala ranjang.
"Lupakan aja, Jen." Darius membuka matanya lalu menatap Jenifer begitu dalam saat berkata seperti itu.
Jenifer membalas tatapan Darius tidak kalah dalamnya, seakan mencari cela dari apa yang ingin dikatakan suaminya, padanya.
"Kakak tidak nyaman ya tadi saat Bang Raka hadir di acara?" tembak Jenifer yang sudah bisa melihat raut tak nyaman dari suaminya.
"Tidak.. Kakak nyaman-nyaman saja, Jen." sanggah Darius dengan nada begitu lembut seraya menunduk sembari mengembuskan napas kasar yang mampu terdengar oleh Jenifer.
"Kakak enggak usah bohongin aku. Kita menikah bukan hanya baru sebulan dua bulan, Kak.. Tapi udah berbulan-bulan. Bukankah Kakak sendiri yang mengatakan jika kita harus sering berkomunikasi agar hubungan kita terlihat baik-baik saja." Jenifer membalas sanggahan Darius dengan perkataan yang selalu Darius tekankan jika mereka sedang keadaan tidak baik.
Namanya hubungan pernikahan tidak akan selamanya berjalan lurus dan mulus, pasti banyak batu dan kerikil sandungan.
Dan Darius selalu mengatakan jika komunikasi antar pasangan adalah cara ampuh untuk melewati batu dan kerikil sandungan itu agar masalahnya tidak berkepanjangan.
"Kak.." panggil Jenifer sembari menatap wajah tampan suaminya dari bawah.
Darius tersenyum geli mendapati Jenifer yang belum pernah seperti ini biasanya.
Dan saat ia mengingat jika ada kaitannya dengan Raka, senyum Darius pun langsung luntur seketika.
"Kalau mau senyum jangan ditahan, Kak. Entar enggak enak rasanya." Canda Jenifer yang membuat Darius kini mendongak sembari menatapnya.
"Kakak mau tanya satu hal sama kamu." ujar Darius akhirnya.
"Apa?" Jenifer pun terlihat begitu antusias.
"Apa kamu lelah hidup bersama menjalani rumah tangga seperti ini dengan Kakak?" Darius malah bertanya hal yang membuat Jenifer kini berprasangka buruk dengannya.
Terkadang, hal-hal kecil yang sedang ingin ditanyakan sering tidak singkron saat kita menatap mata orang yang kita cintai.
Deg
Jenifer tiba-tiba menunduk, memainkan jari-jemarinya yang sedang bertautan di atas pahanya.
Wanita cantik itu sudah terlalu nyaman hidup bersama dengan Darius dan tidak dipungkiri jika Darius kini menghiasi seluruh ruang hatinya.
Tapi.. Disaat suaminya menanyakan kata "lelah", Jenifer menyalah artikan kata tersebut.
Baginya itu sama saja dengan Darius yang sudah menginginkan perpisahan dengannya.
Padahal maksud Darius ingin memulai hubungan dengannya ke arah jauh lebih dekat lagi.
"Kakak lelah sama aku? Kakak mau mengejar cinta Kakak lagi?" Jenifer malah melayangkan pertanyaan yang membuat Darius kini menegakkan duduknya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Jen?" Darius tidak mengerti dengan mengerutkan keningnya.
"Kakak lelah hidup sama aku? Kakak mau minta pisah dari aku?" Jenifer mengulangi pertanyaanya dengan menunduk.
Darius menatap langit-langit kamarnya saat merasai sang istri telah salah sangka dari pertanyaannya.
"Kakak mau mengejar cinta Kakak? Iya Kak?" cecar Jenifer lagi saat Darius tak kunjung memberinya jawaban.
"Iya! Kakak mau mengejar cinta Kakak, Jen." jawab Darius akhirnya yang membuat Jenifer kini langsung bangkit dengan tetesan air mata yang tanpa permisi membasahi wajahnya.
Pundak Jenifer naik turun saat berjalan mengelilingi ranjangnya untuk beralih duduk di tepi ranjang yang bersebrangan dengan tepi ranjang untuk duduk Darius.
Darius menghela napas pelan saat melihat Jenifer menangis, ia tak menyangka jika respon sang istri seperti ini.
Apa Jenifer begitu karena telah menaruh rasa dengannya?
Atau Karena takut ditinggal olehnya sehingga ia akan menjadi janda muda?
Perlahan Darius pun bangkit lalu berjalan dengan cepat menuju Jenifer yang tengah duduk menghadap kepala ranjang.
Tanpa berkata apa-apa, Darius langsung memegang kedua pundak Jenifer lalu menariknya dan menabrakkannya pada dadanya, sehingga ia bisa memeluk istrinya itu dari belakang, menenangkan hatinya jika ia telah salah sangka.
Cinta yang ingin dikejar Darius adalah cinta dari istrinya. Bukanlah orang lain.
"Kenapa kamu menangis, hem?" tanya Darius begitu lembut sembari menaruh dagunya di atas pundak Jenifer yang tertutup kain.
Sebenarnya Darius ingin sekali mengecup pipi istrinya, bahkan bibirnya guna menenangkannya.
Ia khawatir istrinya akan merasa tidak nyaman dengan sentuhan lebih dari sekadar pelukan yang biasa mereka lakukan.
Tenggorokan Jenifer seakan merasa tercekat, wanita itu hampir tidak bisa bersuara saat merasakan tangan Darius begitu lembut mengusap perutnya dan tidak memungkiri jika ia ingin mendapat sentuhan lebih dari suaminya.
Libido Ibu Hamil yang meningkat membuatnya seringkali ingin melakukan hubungan badan bersama suaminya, namun sama halnya dengan Darius.. Jenifer takut suaminya itu tidak mau dan berakhir membuatnya sakit hati.
Lebih baik ia berendam di bathtub untuk meredakan hasratnya daripada merasakan kecewa teramat karena ditolak oleh suaminya.
Belum dicoba.. Kok udah berburuk sangka sih Jen? Hehehehe..
Siapa tau Darius mau kan? Nanti kan bisa dibantu sama Authornya kalau kamu mau. Hehhehehe...
"Kakak memang mau mengejar cinta yang ingin Kakak perjuangkan--" perkataan Darius terpotong saat Jenifer tiba-tiba melepas tangan suaminya yang melingkar di perut membuncitnya.
"Ada apa? Kamu aku tanya diam, giliran Kakak mau jelasin.. Kamu kayak gini. Kamu kenapa?" Darius bertanya sembari memutar duduk Jenifer agar menghadapnya.
Tidak lupa, Darius pun kini menangkup wajah Jenifer yang sedari tadi basah karena air matanya.
Jenifer terus menunduk dengan berurai air mata, tidak sedikitpun mau mempertemukan bola matanya dengan bola mata milik suaminya.
Rasanya ia tidak sanggup untuk berpisah dengan laki-laki yang membuat hati dan hari-harinya begitu nyaman.
"Jen.. Dengarin Kakak please!" Darius memohon dengan mengusap pipi Jenifer.
__ADS_1
Jenifer melepas kedua tangan Darius yang menangkup wajahnya dengan sama sekali belum mau menatap suaminya. "Tidak perlu Kakak jelaskan lagi.. Aku sudah paham, Kak. Kalau memang Kakak mau mengejar cinta Kakak.. Silahkan. Aku enggak mungkin bisa melarangnya." ucapnya dengan menunduk lalu kembali memutar duduknya untuk membelakangi suaminya.
"Kamu tau siapa wanita yang sekarang ingin Kakak kejar cintanya?" Darius pun lelah berteka-teki dengan istrinya, kayaknya.
Melihat Jenifer yang terus menangis.. Dan terbata saat mengatakan tidak melarangnya untuk mengejar cintanya membuat Darius paham, jika istrinya hidup nyaman bersamanya.
Soal cinta? Itu nomor dua baginya.
"Aku tidak perlu tahu dan tidak mau tahu, Kak." jawab Jenifer dengan suara sumbangnya.
"Kamu perlu tahu, Jen." Darius bersiap untuk kembali memeluk istrinya dari belakang.
"Tidak perlu, Kak." Tegas Jenifer dengan tak sengaja menaikkan nada suaranya satu oktaf.
"Perlu, Jen. Karena kamu istriku." tegas Darius yang kini membuat Jenifer mendongakkan kepalanya, menatap tembok di depannya dan sedetik kemudian menghapus jejak air matanya seraya memutar duduknya menghadap suaminya.
"Istriku? Kakak mengakuiku?" Jenifer bertanya dengan bodohnya yang membuat Darius tersenyum menatapnya.
Tak dipungkiri ada rasa hangat yang menjalar di hatinya saat pertama kalinya ia diakui oleh suaminya saat ini.
"Iya.. Kamu memang istriku, Jen." balas Darius dengan merapikan anak rambut istrinya ke belakang telinganya. "Dan wanita yang ingin aku kejar cintanya adalah kamu. Kakak bukan hanya ingin memilikimu, tapi juga hatimu." jelas Darius yang membuat Jenifer kini menggigit bibirnya.
"Apa aku enggak salah dengar, Kak?" Jenifer melunak, saat secara tidak langsung mendengar suaminya mengatakan jika mencintainya dan melihat dirinya sebagai wanita--bukan adik dari sahabat yang terpaksa dinikahinya hanya untuk menjaga nama baiknya.
"Tidak.. Kamu tidak salah dengar. Apa kamu bersedia memberi kesempatan itu untukku?" Darius bertanya yang membuat Jenifer langsung memeluknya dari depan, tapi tidak bisa erat karena terhalang perutnya yang membuncit.
"Apa Kakak tidak jijik dengan diriku? Aku tidak seperti wanita lainnya yang mempunyai sesuatu yang berharga yang bisa aku berikan dan banggakan untuk Kakak.. Dan sebagai wanita, aku merasa tidak pantas menjadi istri dari laki-laki sebaik Kakak." Jenifer merendah, dengan kini menundukkan tatapannya lagi.
"Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, Jen. Kakak mengajakmu menikah, berarti Kakak harus siap menerima segala kekurangan bahkan kelebihanmu. Kamu wanita yang pintar, baik, dan begitu penyayang. Tidak salah kan jika nama kamu sekarang terukir disini?" Darius menunjuk dadanya untuk menyakinkan Jenifer jika kini ia telah mempunyai rasa untuknya.
"Wanita yang Kakak cintai dulu?" Jenifer menanyakan hal yang menurutnya penting.
"Kakak sudah melupakannya, kamu tidak usah terlalu memikirkannya."
"Apa benar Kakak sudah melupakannya?" Tuntut Jenifer seakan belum percaya.
"Dia sudah menikah. Kamu tenang saja, Jen." Darius mengusap pipi Jenifer yang terlihat begitu chubby.
Usapan lembut tersebut pun beralih ke bibir Jenifer, ingin sekali menempelkan bibirnya pada bibir istri yang sudah syah ia nikahi beberapa bulan yang lalu.
"Apa aku mengenalnya, Kak?" Jenifer seakan kurang puas dengan jawaban ngambang dari suaminya.
Ia ingin tahu dengan jelas siapa wanita yang selama ini begitu dicintai oleh suaminya.
Darius tidak ada pilihan lain selain mengangguk, Jenifer adalah istrinya dan ia berhak tau dengan apa yang menjadi masa lalunya saat wanita itu bertanya.
"Siapa?" Jenifer bertanya lagi dengan menatap nanar suaminya, menyiapkan hatinya untuk mendengar nama wanita yang selama ini dan dari dulu menghiasi hati suaminya.
"Luna.. Kakak ipar kamu." jelas Darius yang kini membuat Jenifer membelalakkan matanya. "Apa? Kak Luna?" tanyanya membeo yang dijawab anggukan oleh Darius.
Bersambung..
__ADS_1