Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Rumah Sebenarnya


__ADS_3

"Maria.. Kemarilah!" Emily menyuruh Adik iparnya itu untuk mendekatinya.


Wanita yang masih cantik di usianya itu sedang memasang beberapa hiasan bunga di sebuah acara yang tengah disiapkannya untuk anak dan menantunya.


Semenjak semalam memang Keluarga Permana sudah sampai lebih dulu di London ketimbang Chandra dan Luna.


Maria berdecak kesal, tapi tidak berani untuk tidak mengiyakan pinta Kakak Iparnya lalu berjalan mendekati Emily. "Ada apa Kakak memanggilku? Kakak enggak percaya dengan kata-kataku kan? Kakak tetap menjadikan wanita yang mengaku janda itu menantu Kakak dan malah mempercayainya." Maria baru bisa menggerutui Kakak iparnya.. Karena saat Chandra mengadakan pesta pernikahannya dengan Luna.. Maria dan Permana tengah berada di Melbourne untuk mengembangkan bisnisnya sehingga hanya Kenzie dan Kezia lah yang hadir.


"Kakak bukannya tidak mempercayaimu, Mar. Tapi Kakak bisa melihat dan merasakan sendiri bagaimana baiknya menantu Kakak itu. Karena menantu Kakak itu Kakak bisa berbaikan dengan Chandra. Kamu harus tau itu." Emily berkata dengan nada begitu tegas, tanpa memperhatikan raut muka cemberut milik Maria.


"Tapi dia wanita pembangkang, Kak.. Aku saja yang lebih tua tidak dihormatinya. Kata-kataku saat awal pernikahannya dengan Chandra bisa dijawabnya dengan nada yang sangat tidak aku sukai." Maria tanpa sadar membuka hal yang membuatnya jengkel dengan Luna.


Dulu.. Saat Emily ke Indonesia. Dialah yang meracuni pikiran Emily agar membenci Luna.


Karena saat itu kebetulan Permana lah yang mengetahui kedatangan Emily ke Indonesia, dan menyuruh istrinya untuk menjemput Kakak kandungnya itu di Bandara.


Maria pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menambah teman yang memusuhi Luna untuk menghempaskan wanita miskin itu di kehidupan keluarganya.


Maria memutar balikkan hal yang ingin dilakukan Emily saat tiba di Indonesia pada Luna.. yang mana ingin mengenal baik menantunya sesuai perintah suaminya, tapi pada akhirnya malah ingin membuatnya berpisah dengan Chandra.


Maria tidak tahu jika Emily menerima Luna karena Luna telah membuatkannya Kue Bakpia--makanan kesukaannya.


Maria juga tidak tahu jika Chandra telah menurunkan egonya untuk berbaikan dengan Momnya agar Momnya mau menerima Luna sebagai menantunya walaupun kasta mereka sangat berbeda.


Bahkan Chandra harus membawa Luna ke Villanya yang ada di Bandung untuk membelajari Luna bagaimana keseharian di lingkungannya.


Di saat pertemuan awalnya dengan Luna dulu.. Memang Maria berkata tidak mengenakkan hati. Dan pantaslah jika Luna langsung bisa menjawabnya.


Tapi dulu.. Kata-kata Luna tidak ada yang menyinggung dirinya. Kalian ingat kan? Hehehe


"Memang apa yang dulu kamu katakan pada Luna?" Emily pun malah bertanya hal yang belum diketahuinya.


Maria yang dulu hanya menjelekkan Luna tanpa dasar yang dengan sialnya dipercaya oleh Emily begitu saja.


Maria tiba-tiba terdiam sembari memegang bibirnya yang terkatup dengan tangannya saat mendapati pertanyaan dari Emily.


"Kenapa kamu diam, Mar? Apa yang kamu katakan pada Luna." Cecar Emily dengan kini menatap Maria, karena pekerjaannya telah usai ia kerjakan.


"Aku tidak mengatakan apapun, Kak." ujar Maria setelah terdiam beberapa saat.


"Bicaralah, Mar. Atau aku akan meminta Suamiku untuk memblockir semua klien penting yang bisa membuat perusahaanmu bangkrut dalam sekejap." Ancam Emily saat Maria masih berusaha menutupi hal yang baru saja dibukanya.


"Kakak mengancamku hanya karena menantu Kakak yang miskin itu? Suamiku itu adikmu, Kak." Maria masih berusaha berkilah.


"Permana memang adikku, tapi kamu orang lain, Mar." Emily pun tak gentar dan kini Maria seketika terasa susah menelan salivanya.


"Ada apa ini, Ma? Tante? Kalian terlihat serius sekali." Kezia ikut ke tengah-tengah perbincangan dengan membawa anak laki-lakinya yang berada dalam gendongannya.

__ADS_1


"Lebih baik kamu pergi, Kezia. Jangan ganggu kami." Titah Emily tegas yang membuat Maria dan Kezia saling tatap seakan bertanya ada apa dan jawaban Maria yang mengendikkan bahunya membuat Kezia pun akhirnya melangkah pergi dengan gerutuan di bibirnya. "Apa sih tante Emily.. Enggak jelas."


***


"Ibu! Radit" Pekik Luna dengan binar bahagia yang terpancar jelas di matanya saat melihat wanita yang melahirkannya sekaligus anak asuhnya itu berada dalam privat jet milik suaminya yang baru saja dimasukinya.


"Mommy!" panggil Radit dengan bahagianya lalu merentangkan tangannya agar Luna bisa secepatnya masuk ke dalam pelukannya.


Chandra dan Ibu Halimah saling melempar tatapan lalu tersenyum melihat interaksi antara Radit dan Luna.


Sedikit melepaskan rasa rindunya pada Radit, Luna pun berdiri dari berjongkoknya yang ternyata agak kesusahan karena perutnya sudah begitu membuncit. "Tolong, Mas." ujarnya pada suaminya dengan tersenyum kikuk.


"Yang nyuruh jongkok siapa? Perut udah gede gitu, Sayang." Chandra bukan bermaksud memarahi, namun mengingatkan yang dijawab cengiran oleh Luna.


"Terimakasih, Mas." Ujar Luna saat ia sudah bisa berdiri tegak lagi yang dijawab anggukan oleh Chandra.


Luna pun beralih pada Ibunya.. mencium tangan wanita yang melahirkannya ke dunia itu untuk menyapanya.


Hendak memeluk namun tidak bisa, karena Ibunya sudah duduk di kursi yang dekat jendela dengan Radit di sampingnya.


Perut Luna yang sudah membuncit tidak memungkinkan untuk menekannya ke bahu kursi hanya untuk bisa memeluk Ibunya yang tengah duduk. "Ibu kesini sama siapa? Burgernya tadi gimana?" Luna pun bertanya sembari mengalihkan tatapannya pada suaminya yang setia berdiri di sampingnya.


"Mas.." Luna pun ternyata mencari jawaban dari suaminya.


Melihat Chandra yang sepertinya enggan menjelaskan, Ibu Halimah pun yang mengambil alih menjelaskannya. "Ibu sama Radit tadi dijemput sama Pak Mun, Sayang.. Burgernya udah Ibu makan tadi pas di jalan mau ke Bandara. Terimakasih ya, Sayang."


Mendengar penjelasan Ibunya, Luna pun lantas mengangguk lalu mengambil tempat duduk di seberang Ibu dan Radit yang tengah duduk.


"Kita sebenarnya mau kemana sih, Mas?" Luna pun bertanya saat privat jet milik Chandra itu sudah lepas landas meninggalkan negara Indonesia.


"Ke London, Sayang." Jawab Chandra dengan memposisikan kepala Luna agar bersandar di bahunya.


Tak hentinya juga Chandra mengusap perut membuncit istrinya yang sudah terasa ada pergerakan setiap ia mengusapnya.


Menjadi hiburan tersendiri bagi Chandra secara diam-diam tanpa sepengetahuan Luna saat ia bisa merasakan bagaimana calon anaknya itu memberinya pergerakan saat diusap olehnya.


Senyumannya pun seakan tak luntur dan saat ini ingin sekali ia mengajak calon anaknya itu berbicara.


Luna terdiam, tidak bertanya lagi saat suaminya mengatakan London adalah tujuan kepergiannya karena ia tahu keluarga besar Chandra berada disana.


"Mas.." panggil Luna sembari mendongak mengusap rahang suaminya setelah sekian detik terjadi keheningan diantara keduanya.


Bahkan hembusan napas teratur terdengar dari Radit dan Ibunya yang membuat Luna tersenyum saat menatapnya.


"Apa?" Chandra pun membalas tatapan istrinya dengan tatapan yang begitu meneduhkan.


"Aku geli." Luna menunjuk tangan Chandra yang masih mengusap perut membuncitnya sembari meringis mengatakannya, merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Tahan ya." timpal Chandra yang membuat Luna mengernyitkan dahinya.


"Aku geliii, Mas." jelas Luna yang ingin sekali Chandra mengertinya.


"Tahan sebentar, Sayang. Mas sedang merasakan pergerakannya." akhirnya Chandra pun jujur, karena kenyamanannya merasakan pergerakan anaknya yang masih berada di dalam perut terganggu oleh ocehan istrinya.


"Tapi jangan semakin ke bawah ngusapnya." aku Luna dengan wajah memelas yang membuat Chandra langsung mengecup bibirnya.


"Memangnya kenapa?" Chandra menahan tawanya, karena ia memang sengaja ingin meminta jatah dari istrinya.


"Bikin aku jadi pengen, Mas." Bisik Luna sembari menatap Ibu dan Radit terdahulu.


"Kalau kamu pengen, kita bisa menuntaskannya. Perjalanan dari Indonesia ke London butuh waktu lama, Sayang." jelas Chandra yang membuat Luna menggigit bibir bawahnya.


"Gimana?" tawar Chandra saat melihat istrinya itu berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Memangnya bisa, Mas?" alih-alih menjawab, Luna malah berbalik tanya yang membuat Chandra begitu gemas pada istrinya.


Chandra tidak menjawab. Laki-laki itu langsung berdiri dan mengajak istrinya berdiri lalu berjalan menuju kabin yang khusus diperuntukkan untuknya saat berpergian agar bisa mengistirahatkan diri.


"Nanti kalau Ibu sama Radit kesini gimana, Mas?" Luna pun bertanya, walaupun kini ia membiarkan suaminya melucuti pakaiannya.


"Mereka baru saja tidur. Kalau sebentar kayaknya enggak." jawab Chandra yang seakan tidak yakin pada jawabannya.


"Mas yakin bisa cuman sebentar?" Luna malah bertanya lagi yang kini bibirnya akhirnya dibungkam oleh bibir Chandra agar bisa segera memulai permainannya.


Hampir setengah jam mereka melakukan kegiatan panas hingga suara Radit yang terdengar bertanya pada Ibu Halimah menghentikannya.


"Mas.. Radit sama Ibu sudah bangun!" Luna sedang merasa seperti pencuri yang tengah tertangkap basah, karena ia sedang dalam posisi tanggung-tanggungnya.


"Rapikan bajumu dan riasanmu, Sayang." Chandra pun secepat kilat memakai pakaiannya dan membantu Luna memakai dressnya.


"Tanggung ih, Mas."


"Nanti bisa lagi. Mas ke depan dulu." ujar Chandra yang membuat Luna memanyunkan bibirnya dan seketika mengikuti Chandra.


"Kalian darimana?" Ibu Halimah pun bertanya.


"Dari toilet, Bu." Chandra yang menjawab, karena Luna sedang mencari posisi duduknya.


"Kita ke London mau apa, Nak?" Ibu Halimah pun bertanya akhirnya.


Ia hanya dikasih tahu oleh Pak Mun jika akan diajak Chandra ke London tanpa tau tujuan sebenarnya.


"Rumah di London itu adalah rumah sebenarnya Mom dan Dadku, Bu.. Aku ingin memperlihatkannya dengan kalian." dusta Chandra dengan berucap beribu maaf di hatinya karena belum bisa mengatakan tujuan sebenarnya pada istri dan Ibu mertuanya.


Ibu Halimah pun mengangguk dan Chandra pun menoleh pada istrinya yang ternyata sudah memasuki alam mimpinya.

__ADS_1


Chandra tersenyum, laki-laki tampan bak Dewa Yunani itupun memeluk istrinya lalu mengikuti istrinya untuk tidur dalam menikmati perjalanan dari Indonesia ke London yang membutuhkan waktu yang cukup lama.


Bersambung...


__ADS_2