
"Radit sudah baikan.. Sebaiknya kamu pulang, Nak. Suamimu pasti sudah menunggumu." Ibu Halimah mengingatkan Luna jika jingga di ufuk barat sudah mulai terlihat, tanda sebentar lagi akan tiba waktu malam.
Dan sebagai seorang istri yang baik, Luna harus berada di rumah sebelum suaminya pulang bekerja.
Terlepas dari bagaimanapun hubungan pernikahan mereka, bagaimana Chandra yang masih berniat menyembunyikan status pernikahan mereka, Bakti sebagai seorang istri harus tetap ia jalankan sepenuh hati agar ia tidak menjadi istri yang durhaka.
Luna menganggukkan kepala menyetujui pinta Ibunya yang menyuruhnya segera pulang ke rumah dan mengambil tasnya yang tergelatak di atas sofa dengan rasa malas yang sedari tadi mengungkungnya.
Menangkap gelagat tak biasa dari anaknya, Ibu Halimah pun bertanya, "Kamu lagi gak bertengkar dengan Chandra kan, Lun?"
"Enggak, Bu." elak Luna cepat.
"Tapi, kenapa sepertinya kamu terlihat malas untuk pulang? Ada apa sayang? Bilang sama, Ibu."
Luna menunduk menatap tautan jemarinya dengan gaya resahnya. "Aku lagi malas ketemu Mas Chandra, Bu." akunya akhirnya.
"Malas? Chandra itu suami kamu, Lun. Kamu tidak boleh seperti itu. Ini yang Ibu takutin sebenarnya jika kalian belum berhubungan badan."
"Maksud Ibu apa?" Luna mengernyitkan dahinya heran, karna Ibunya selalu membicarakan tentang dia yang belum berhubungan badan dengan Chandra.
"Luna... Berhubungan badan dalam hubungan suami istri itu harus dilakukan, selain untuk memenuhi kebutuhan biologis kalian, juga untuk memupuk tumbuhnya rasa cinta di hati kalian sebagai sesama pasangan. Ibu gak memaksa kamu untuk berhubungan badan dengan suami kamu, tapi kamu harus tau kalau laki-laki itu butuh 'ITU' untuk menyalurkan hasratnya."
"Tapi, Mas Chandra belum pernah memintanya, Bu? Apa iya Luna yang harus memulainya? Luna itu seorang wanita, Bu... Luna malu lah." gerutu Luna dengan mencebikkan bibirnya yang malah terlihat begitu lucu di mata Ibunya.
"Kamu mau suami kamu jajan di luar sana?"
"Jajan apa sih, Bu? Maksud Ibu beli makan? Ya, kalau Mas Chandra mau beli makan diluar kan itu haknya dia. Aku gak bisa melarangnya, toh, yang nyari uang kan Mas Chandra, Bu." jawab Luna dengan polosnya.
"Bukan beli makan, Lun.." Ibu Halimah gemas sendiri dengan anaknya. "Maksud Ibu itu.. Kalau Chandra ngelakuin 'ITU' dengan wanita lain di luar sana. Kamu gak mau kan suami kamu kayak gitu?" tanya Ibu Halimah yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Luna.
"Nah.. Makanya, menawarkan diri dengan suami itu mendapat pahala sayang. Turunkan rasa malumu itu karna suami kamu itu berhak atas kamu. Sudah sebulan lebih kalian menikah, dan kalian belum pernah berhubungan badan sama sekali. Sebenarnya maksud dari kalian menikah cepat itu apa?" Ibu Halimah akhirnya bertanya dengan apa yang sedari kemarin dipikirkan dalam benaknya.
Mas Chandra itu menikahi aku karna mau mempertahanin jabatannya, Bu. Bukan karna cinta sama aku. Lalu Ibu menyuruhku untuk menurunkan rasa maluku? apa itu gak salah? batin Luna sendu sembari menatap Ibunya memikirkan jawaban yang tepat.
"Kalau menurut Ibu, apa?" alih-alih menjawab, Luna malah berbalik tanya.
__ADS_1
"Loh.. Kok kamu malah tanya Ibu sih sayang? yang menikah siapa coba? Kamu kan?"
"Hehhe... Iya sih, Bu." Luna menjawab dengan cengiran di wajahnya.
"Biasanya sih kalau anak muda yang memilih menikah cepat itu karna untuk menghindari dosa sayang." gumam Ibu tiba-tiba dengan menepuk kaki Radit pelan agar kembali nyenyak dalam tidurnya.
Anak kecil itu terbangun mendengar obrolan kedua wanita dewasa. Tapi, karna pengaruh obat yang diminumnya, akhirnya Radit pun tertidur kembali.
"Menghindari dosa? Maksud Ibu?"
"Mereka itu mau cepat-cepat melakukan 'ITU' sayang."
"Ibu ini kenapa sih yang dibahas dari tadi itu mulu." Luna memalingkan wajahnya, merasa geli dengan pembahasan yang selalu menyudutkannya untuk menawarkan diri pada suaminya.
"Ibu membahas itu untuk menyadarkanmu, jika melakukan 'ITU' harus dilakukan agar pernikahan kalian langgeng. Biasanya dalam rumah tangga, kalau lagi berantem itu kalau udah ngelakuin 'ITU' terus reda lo sayang.. Langsung akur lagi." terang Ibu Halimah yang membuat seseorang yang mendengarnya tersenyum.
Sebenarnya ia juga menginginkannya, namun tidak mau membebani wanita yang menjadi istrinya.
"Ibu ini lama-lama ngaco ya.." elaknya dengan tertawa pelan.
"Tapi, Luna kan udah bilang sama Ibu kalau Mas Chandra belum pernah memintanya, Bu."
"Kalau aku memintanya, apa berarti kamu mau memberikannya?" celoteh Chandra sembari memasuki kamar Ibu di lantai dua tempat yang sedari tadi menjadi saksi obrolan dewasa dua wanita dewasa.
Ibu Halimah tersenyum menatap Chandra yang baru saja masuk yang secara tidak langsung juga menyatakan menginginkan istrinya. Lalu apa yang membuat Luna membatasi suaminya melakukan hubungan badan dengannya? Ibu Halimah menggeleng sembari tersenyum memikirkan kelakuan anak semata wayangnya.
"Mas.." Luna membulatkan matanya lalu menundukkan wajahnya yang seketika merah merona mendapati pertanyaan sepeerti itu dari suaminya.
"Apa? Ayok pulang, katanya kalau aku memintanya kamu akan memberikannya." Chandra berkata dengan mengedipkan sebelah matanya saat Luna menatapnya.
"Kapan aku mengiyakannya, Mas?" tanya Luna tidak terima dengan perkataan Chandra yang merasa menjebaknya dengan Ibunya.
"Tadi.. Aku mendengar perkataanmu dengan Ibu, Lun." aku Chandra tanpa ditutupi.
"Luna pulang dulu ya, Bu... Nanti kalau ada apa-apa sama Radit, Ibu hubungi Luna ya.."
__ADS_1
Ibu Halimah mengangguk, "Iya.. Yang rajin buat cucu untuk Ibu juga ya. Ingat ya sayang, menolak suami itu dosa." bisik Ibu Halimah saat Luna mencium pipinya.
"Ibu kan sudah punya cucu." sahut Luna yang membuat Chandra malah menggelengkan kepala, mengerti arti bisikan Ibu mertuanya pada istrinya.
"Iya, Bu.. Kita pasti bikin cucu buat Ibu." Chandra menyela lebih dulu sebelum Ibu Halimah berkata agar istrinya secepatnya bisa ia ajak pulang ke rumah karna ada kepentingan yang sudah menunggunya.
***
"Mas.. Mau kemana?" tanya Luna menoleh pada suaminya, saat ia memasuki kamarnya dan melihat satu koper sudah siap di sebelah tempat tidurnya.
"Pergi ke bali." sahut Chandra cepat dengan mendekati kopernya.
"Ke Bali? Lalu untuk apa Mas tadi menjemput aku?" Luna mengesah lalu dengan malas melangkahkan kaki menuju tempat tidurnya.
"Kenapa? Kamu mau buat cucu untuk Ibu?" ledek Chandra saat melihat raut wajah tidak rela tercetak jelas di wajah istrinya.
"Maaaaassss..." teriak Luna dengan mencebikkan bibirnya dan melipat tangannya di depan dada.
"Iyaaaa..."
"Aku serius, Mas. Kenapa Mas malah bercanda."
"Aku juga serius, kalau kamu mau sekarang buat cucu untuk Ibu, ya ayok. Masih ada waktu sepuluh menit sebelum Jaelani menjemputku menuju bandara."
"Mas mau ngapain di Bali?" tanya Luna mengalihkan pembicaraan absurd yang tiba-tiba saja mendebarkan hatinya.
"Ada urusan." jawab Chandra lalu berdiri karna telepon genggamnya telah berbunyi dan menampilkan Jaelani, menandakan jika laki-laki itu sudah berada di depan rumahnya, menjemputnya.
Chandra mendekat pada istrinya yang duduknya berjarak satu meter darinya, "Aku berangkat dulu, Jaelani sudah jemput." Chandra memperlihatkan handphonenya yang menampilkan jika Jaelani masih menghubunginya.
Menghela napas sebentar, Chandra pun membungkukkan badannya lalu mengecup kening, kedua pipi, hidung dan bibir istrinya.
Saat kecupan itu sampai di bibir, Chandra pun memagutnya sebentar lalu melepasnya. "Kamu hati-hati di rumah. Walaupun aku sedang di Bali, tapi rumahmu adalah disini. Makanya tadi aku menjemputmu, karna tempat tinggalmu disini." ujarnya lagi yang membuat Luna mengerjapkan matanya dan tidak bisa mengontrol debaran jantungnya yang terasa lebih cepat mendengar perkataan Chandra yang begitu menyiratkan jika laki-laki itu memang menganggapnya, istrinya.
Melihat istrinya yang termangu dengan perkataannya, Chandra pun tersenyum lalu melangkah pergi ke luar kamarnya untuk menuju bandara.
__ADS_1
Bersambung...