
Sesampainya di bioskop, Luna dan Chandra langsung memasuki bioskop itu tanpa membeli makanan atau minuman untuk menemani mereka nonton.
"Kamu yakin enggak mau beli sesuatu dulu?" tanya Chandra berulang kali yang dijawab gelengan kepala oleh Luna.
"Aku kan maunya nonton, Mas.. Lagian filmnya juga udah mau mulai kan?" ujar Luna yang dijawab anggukan kepala oleh Chandra.
Beberapa detik sebelum film dimulai.. Chandra dan Luna yang mendapat kursi di tengah-tengah, tiba-tiba mendengar satu suara wanita yang memanggil Chandra dan langsung duduk di sebelah Chandra tanpa dosa.
"Chandra.."
Wanita cantik itu juga langsung melingkarkan tangannya pada tangan Chandra yang tidak sengaja dibuat menyiku, seperti kebiasaan mereka setiap kali akan menonton film.
Suatu kebetulan yang memang tidak sengaja oleh Chandra.
"Kamu juga nonton film ini ya, Ndra?" tanyanya tanpa menatap Luna yang kini melihat interaksi keduanya.
Lagi.. Chandra tidak secepatnya melepas tangan Kinara yang menyusup di sikuan tangannya.
Dan Luna lagi lagi.. meneteskan air mata saat suaminya tidak bisa menjaga jarak pada Kinara.
"Ehem." Luna pun akhirnya berdehem untuk menyadarkan suaminya.
Suaminya sedari tadi terpaku sembari menatap Kinara yang tiba-tiba bergabung di acara nonton film mereka dan sama sekali tidak menatapnya.
"Aku pindah aja ya." ujar Luna dengan menguatkan hatinya sembari berdiri melangkah meninggalkan Chandra, namun seketika Chandra melepas tangan Kinara dan mencekal lengan Luna. "Disini aja." ujar Chandra sembari menatap istrinya.
Luna menoleh pada suaminya, dan usai melihat jika suaminya sudah melepas tangan Kinara, ia pun sedetik kemudian duduk kembali di sebelah Chandra.
Seperti adegan di film-film.. Kini Chandra diapit oleh dua wanita cantik yang begitu berharga dimatanya.
"Ra.. Ini istriku, Luna. Mahasiswi kamu juga."
"Dan ini Kinara, sayang.. Dia teman, Mas. Dosen baru di kampus." Chandra menstabilkan dirinya agar tidak labil pada Kinara dengan mengenalkan Kinara dan Luna satu sama lain.
Ia sudah berjanji pada istrinya untuk menjaga jarak dengan Kinara, dan ia juga diingatkan oleh Dokter untuk selalu menjaga kestabilan situasi hati dan pikiran istrinya jika tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon anak yang kini dikandung oleh Luna.
Kinara menampilkan wajah cemberutnya saat mengetahui jika ternyata Chandra nonton dengan istrinya.
Luna tersenyum saat diperkenalkan sebagai "istri" oleh suaminya, dan Kinara hanya "teman" oleh suaminya.
Diam-diam hati Luna menghangat, bagaimanapun kedudukan istri dan teman itu jauh berbeda.
__ADS_1
Dan ia mempunyai kedudukan jauh lebih tinggi dibanding Kinara di hidup Chandra.
Luna pun mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Kinara, "Aku Luna, Miss."
Kinara hanya mengangguk, tapi tak membalas uluran tangan Luna.
Luna tidak sakit hati, wanita cantik itu kini tersenyum sembari kembali menarik tangannya.
Film romantic dimulai. Ketiganya pun terlihat serius menonton film tersebut, tapi sebenarnya mereka bertiga bergelut dengan pikirannya masing-masing.
Berulang kali Chandra berucap maaf pada Kinara karena telah berusaha untuk menjaga jarak dengannya.
Ia juga minta maaf pada istrinya karena tidak bisa menurutinya untuk pindah tempat duduk demi kenyamanannya.
***
Beberapa jam kemudian.. film itupun berakhir.
Tidak ada hal yang terjadi saat menonton film itu kecuali Luna yang berkali-kali meneriakkan uwuphobia saat melihat kemesraan pasangan yang ada di film tersebut.
"Mas.. Aku mau beli popcorn.. Boleh?" Luna tiba-tiba bermanja dengan bergelayut manja di lengan Chandra saat mereka sudah keluar dari bioskop itu.
"Matcha latte, Mas." jawab Luna yang langsung dijawab anggukan oleh Chandra.
"Kamu mau minum apa, Ra?" Chandra pun bertanya pada Kinara, yang membuat Kinara tadinya cemberut kini tersenyum lagi.
"Aku ice chocolate aja, Ndra." ujarnya dengan tak kalah manjanya, namun setiap ingin mengusap lengan Chandra, Chandra selalu bisa berkilah agar Kinara gagal menyentuhnya.
Luna tersenyum penuh arti melihat suaminya yang menepati janjinya untuk menjaga jarak dengan Kinara.
Mendapati pesanan dari dua wanita yang sedari tadi mengapitnya, Chandra pun melangkah menuju kasir penjual popcorn untuk membeli makanan dan minuman yang dipesannya.
"Kamu enggak beli ice chocolate, Ndra?" tanya Kinara sembari mencebikkan bibirnya saat menerima ice chocolate dari Chandra.
Chandra menggelengkan kepalanya setelah memberikan apa yang diinginkan oleh Luna. "Enggak." jawabnya singkat.
"Kenapa? Bukankah itu minuman kesukaan kita dulu saat nonton film?" Kinara tidak tahan untuk bertanya.
"Udah enggak suka. Sekarang sukanya matcha latte biar sama kayak punya Luna." jawab Chandra yang kini membuat Kinara memanyunkan bibirnya kesal.
"Segitunya kamu mencintai istrimu ya, Ndra?" sebuah pertanyaan dengan nada tidak suka terlontar dari mulut Kinara yang membuat Chandra mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa, Ra?"
Luna hanya diam mendengarkan interaksi antara suaminya dan dosen barunya.
"Ya gitu deh.. Sampai-sampai pesen minum aja harus sama." jawab Kinara asal.
"Mau sama atau tidak.. itu terserah aku, Ra." putus Chandra kemudian.
"Kita bisa bicara sebentar, Ndra?" tanya Kinara setelah keheningan yang terjadi.
"Bicara apa?"
"Aku maunya berdua aja." jawab Kinara dengan menatap tidak suka pada Luna seakan meminta Luna untuk pergi dulu dan tidak memggangu mereka berdua.
Mendengar ujaran Kinara, Bukannya menyuruh Luna pergi, tapi Chandra malah mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Luna. "Bicaralah.. Dia istriku, Ra."
"Tapi ini tentang sesama dosen, yang mahasiswi belum boleh mendengarnya."
"Apapun alasannya.. Dia istriku, Ra. Ada berita apapun di kampus aku selalu memberitahunya. Dan dia bisa menyimpannya." bohong Chandra, demi menjaga hati Luna agar tidak salah paham dengannya dan Kinara.
"Ya sudah. Besok aja kalau di kantor aku ngomongnya." putus Kinara, lalu bergegas melangkah sembari menghentakkan kakinya kesal melewati Luna.
Tanpa bertanya pada suaminya, Luna pun mengikuti saja suaminya mengajaknya hingga mereka kembali memasuki mobil.
"Mau beli lagi popcorn-nya, Lun?" tanya Chandra saat akan menggunakan seat-belt dan baru menyadari jika popcorn punya istrinya sudah habis.
"Enggak, Mas.. Aku pengen sesuatu lagi yang lain." ujar Luna melunjak.
"Apa? Bilang sama Mas.." dan Chandra berusaha menjadi suami yang berguna untuk istrinya.
"Jalan aja dulu, Mas.. Nanti aku kasih tau kalau udah deket." ujar Luna yang membuat Chandra mengangguk lalu mulai mengemudikan mobilnya.
Sepanjang perjalanan menuju apa yang kembali diinginkan oleh Luna.. Mereka berdua terdiam, tidak ada pembicaraan.
Luna.. yang tidak mau membahas sikap Kinara.
Dan Chandra.. yang masih memikirkan bagaimana perasaan Kinara setelah ia tolak untuk bicara berdua dengannya.
"semoga keputusanku ini tidak salah.. Istriku jauh lebih penting dibanding Kinara." batin Chandra bersuara sembari menatap jalanan di depannya.
Bersambung..
__ADS_1