Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Dia Berhak Tau


__ADS_3

"Kalian belum pernah berhubungan badan?"


Satu kalimat pertanyaan yang langsung ditujukan oleh Ibu Halimah saat Luna baru saja duduk saat berkunjung ke rukonya.


Hari kedua sesudah Jaelani memberitahu pada Jenifer jika Chandra ada perjalanan bisnis ke luar kota membuat Luna ingin berkunjung ke ruko Ibunya sekaligus bertemu Radit, anak asuhnya.


Luna meringis mendengar pertanyaan Ibunya, dia bingung harus menjawab gimana.


Niat dia berkunjung ke ruko Ibunya untuk menyenangkan hatinya tapi malah mendapat serangan pertanyaan dari Ibunya.


"Jawab Ibu, Lun. Kalian belum pernah berhubungan badan sejauh ini?" desak Ibu Halimah lagi yang akhirnya dijawab gelengan kepala oleh Luna.


"Astaga.. Kok bisa sih sayang?" tanya Ibu Halimah masih tak percaya.


"Yeaa.. Mas Chandra belum pingin kali, Bu." jawab Luna dengan ringisan yang menghiasi wajahnya.


"Chandra yang belum pingin atau kamu yang belum siap?" tanya Ibu Halimah lagi yang membuat Luna kini menunduk sembari meremas tangannya yang saling bertautan.


"Ibu kok tanyanya gitu sih.. Tadi kalau Luna jawabnya 'udah pernah' Ibu juga gak tau kan?" tanya Luna akhirnya.


"Ibu tau Lun.. Ibu tau bedanya." jawab Ibu Halimah lembut sembari menggenggam tangan Luna.


"Memang apa bedanya, Bu?" tanya Luna penasaran.


"Ada lah.. Nanti kalau Ibu kasih tau kamu berpikir mau bohong lagi sama Ibu." jawab Ibu Halimah yang membuat Luna tertawa pelan.


"Ibuuuuu..." rajuk Luna yang membuat Ibu Halimah mencubit pipinya gemas.


"Kamu sudah kasih tahu Nak Chandra status asli kamu?" tanya Ibu Halimah lagi setelah keheningan melanda keduanya.


Luna yang sejak merajuk langsung minta dipeluk Ibunya, tidak berbicara selain menikmati dekapan hangat dari wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


Luna selalu merindukan dekapan itu, dekapan yang jarang sekali ia dapatkan semenjak ia menikah dengan Chandra.


"Maksud Ibu? Kita kan sudah mengumpulkan berkasku.. Kalau Mas Chandra jeli saat memeriksanya, seharusnya tanpa aku kasih tau pun dia tau lah, Bu." jawab Luna sembari berpikir.


Mas Chandra belum tau, Bu. Dia masih berpikir kalau aku beneran Janda. Tapi aku biarkan saja. batin Luna.


"Luna... Nak Chandra itu orang sibuk. Kemarin yang meminta berkasmu kan sekretarisnya, bisa jadi dia tidak memeriksanya sayang." terang Ibu Halimah mengingatkan.


"Masa sih, Bu?" tanya Luna sembari mendongak menatap Ibunya.


"Jangan bilang kalau kamu lupa.."

__ADS_1


"Nduk... Nak Chandra itu sekarang suamimu, dia berhak tau siapa dirimu dan siapa Radit.


Dia berhak tau status asli wanita yang dinikahinya. Dia juga berhak atas dirimu.


Kamu mau nanti dia salah paham dan marah saat kalian berhubungan badan dan dia baru tahu status aslimu?" tanya Ibu Halimah sembari merenggangkan pelukannya, menyelami manik mata indah milik anaknya.


"Luna gak tau, Bu. Luna bingung harus gimana?"


"Kenapa harus bingung? Jujur itu lebih baik sayang.. Lebih baik Nak Chandra tau sebelum kalian berhubungan badan daripada tau setelah kalian berhubungan badan.


Menyembunyikan status itu tidaklah baik, apalagi berbohong dengan status aslimu pada suamimu sendiri." jelas Ibu Halimah lagi menyakinkan Luna.


Tapi kita menikah karna terpaksa dan Mas Chandra juga menyuruhku menyembunyikan status pernikahan kita, Bu, di kampus, apa itu juga tidak baik? lalu kenapa mas Chandra malah melakukannya dan memintaku seperti itu? batin Luna bertanya.


apalagi tadi? berhubungan badan? tidur aja kita berbatas guling terus kok, Bu.


"Kamu juga harus cerita soal Radit padanya, Ibu yakin dia juga bingung soal Radit yang belum pernah tidur bareng kalian." jelas Ibu Halimah lagi.


"Ibu kok tau? Mas Chandra memang pernah bertanya waktu itu, Bu. Tapi aku bilang kalau Radit terbiasa tidur sama, Ibu." jawab Luna sembari menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.


"Berarti Nak Chandra juga penasaran kan sayang? Makanya, dosenmu yang lain juga tau kalau kamu masih gadis, lebih baik kamu jujur dengan suami kamu sebelum teman-teman dosennya memberitahunya tentang status asli kamu yang nanti bisa membuatnya kecewa padamu.


Menjaga hati seorang suami, itu tugas seorang istri sayang." jelas Ibu Halimah lagi sembari menata anak rambut Luna lalu menyelipkannya di belakang telinga.


"Iya.. Kamu harus jujur sayang." Ibu Halimah berkata sembari mengusap pucuk kepala Luna, menyakinkannya jika Chandra berhak tau siapa dirinya, mengingat mereka sudah menikah hampir satu bulan tapi belum pernah berhubungan badan.


***


Obrolannya dengan Ibunya waktu itu kini kembali terngiang di pikiran Luna.


Tapi, saat kini ia berdiri berhadapan dengan suaminya, ia masih bingung harus gimana.


jujur Luna.. kamu harus jujur.. apa sih beratnya buat jujur sama suami kamu sendiri? batin Luna terus bergejolak sembari menatap Chandra.


"Lun.. Lun.. Hei, Lun?" Chandra memegang lengan Luna untuk menyadarkannya dari lamunannya.


"Eh, i--iya Mas." Luna terkesiap.


"Kamu ngelamunin apa? Kok serius banget dari tadi?"


"Aku lagi mikirin hal yang tadi mau aku ceritain sama, Mas."


"Ohya? Kamu mau cerita apa tadi?" Chandra baru ingat jika Luna tadi belum cerita.

__ADS_1


"Emmmmm.." Luna masih berpikir sembari mengusap kedua lengannya karna menahan hawa dingin yang baru dirasakannya.


Kebetulan, Chandra memang sampai di rumah saat jam merujuk angka sembilan malam. Dan kini keduanya mengobrol hampir dua jam, berarti kini mereka mengobrol di balkon jam sebelas malam. Dan cuaca sudah mulai dingin pun tak terelakkan.


"Kita masuk dulu, aku mau mandi dulu. Kita ngobrol di kamar saja nanti." putus Chandra saat melihat istrinya kini hampir menggigil karna kedinginan.


Luna mengangguk, lalu keduanya pun masuk ke dalam kamar.


***


"Maaaaasss.. Banguuun!" teriak Luna membangunkan Chandra dengan menarik lengannya.


Semalam.. saat Chandra mandi, Luna membuat teh hangat untuk suaminya di dapur.


Sesampainya di dapur, Reyna temannya.. menelponnya.


Reyna bercerita jika ia baru saja mampir dari ruko tempat Ibu Halimah berdagang dan Reyna pun mencecarnya menanyakan dimana dia tinggal.


Mendapat telpon dari Reyna membuat Luna lupa jika ia sedang membuatkan teh untuk suaminya dan akhirnya teh itu pun keburu dingin lalu ia pun memanaskan air kembali untuk membuat teh lagi untuk suaminya.


Sekembalinya dia ke kamar, Suaminya sudah tertidur dengan pulasnya dan Luna hanya bisa mengesah menaruh teh hangat itu di meja dekat sofa yang ada di kamarnya.


"Hmmm.. Ada apa Lun?" tanya Chandra dengan setengah sadar.


Semalam ia tidur larut malam, dan ia belum mau bangun karna jam masih menunjukkan pukul enam pagi.


"Aku mau ngajak Mas ke suatu tempat, Mas mau ya antar aku kesana?"


"Buat apa? Ini masih pagi.." tolak Chandra lalu kembali memejamkan matanya.


"Tapi ini berkaitan dengan hal yang mau aku ceritain tadi malam, Mas. Mas-nya semalam keburu tidur."


"Kamu-nya entah pergi kemana." timpal Chandra tak terima, karna memang sehabis mandi ia menunggu istrinya hingga ketiduran.


"Aku buatin teh buat, Mas."


"Buat teh? Butuh waktu setengah jam lebih?" tanya Chandra sembari menaikkan alisnya.


"Hehe.. Semalam Reyna nelpon Mas,"


"Ya sudah, kita mau kemana memangnya?" tanya Chandra seraya membuka selimutnya.


"Nanti aku kasih tau, Mas.." jawab Luna sembari bersiap memakai skincarenya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2