
"Ada apa Mas? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Luna bingung saat melihat suaminya memasuki kamar Ibunya.
Suaminya itu kembali ke ruko lagi saat belum ada dua jam setelah pamit pergi untuk bekerja.
Dan itu artinya suaminya itu baru saja sampai di perusahaannya dan pulang lagi saat merasa ada yang tertinggal. Menurut Luna saat itu.
Chandra tidak menjawab pertanyaan Luna, laki-laki itu terus melangkah mendekat dimana Ibu mertuanya sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan wajah yang sudah mulai segar.
"Bagaimana keadaan Ibu? Sudah membaik?" tanyanya dengan lembut usai menyalami tangan Ibu mertuanya.
Luna terdiam, tidak menyela apa yang dilakukan Chandra pada Ibunya.
"Ibu sudah enakan nak, terimakasih ya." jawab Ibu tulus sembari memegang tangan anak menantunya.
Wanita paruh baya itu meneteskan air mata sekilas lalu diusapnya sembari mengusap lengan menantunya yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.
Laki-laki yang kini jadi menantunya itu begitu baik dengannya. Dan begitu perhatian dengan kondisinya.
Dan itu membuat Ibu Halimah terharu sekaligus bangga dan sangat bersyukur mempunyai menantu yang tak hanya menyayangi anaknya, tapi juga keluarga istrinya.
Chandra menganggukkan kepala mendengar jawaban Ibu mertuanya karna ia juga bisa melihatnya jika Ibu mertuanya tidak sepucat kemarin.
"Ibu.. Saya dan Luna mau pergi beberapa hari ke Bandung.. Kebetulan cabang perusahaan Saya yang berada di Bandung membutuhkan penanganan langsung dari saya." Chandra akhirnya mengungkapkan alasan untuk membawa Luna menghindar dulu dari bertemu dengan Ibunya yang juga tidak berbohong setelah sekian lama terjadi keheningan.
Luna membulatkan matanya mendengar ajakan suaminya, "Tapi Ibu belum sembuh betul, Mas." tolaknya halus.
"Disini ada Radit dan Enam pegawai yang bersiap menjaga Ibu, Lun.. Dokter Irwan juga sudah aku minta untuk merawat Ibu agar kamu bisa menemani aku ke Bandung."
"Tapi.." Luna masih berpikir untuk menolak ajakan suaminya.
"Bolehkan Bu, saya mengajak istri saya ke Bandung?" Chandra langsung bertanya pada Ibu mertuanya agar istrinya tidak bisa lagi menolaknya.
"Boleh Nak, Luna itu istrimu. Kamu berhak membawanya kemana saja." Dan jawaban bijak dari Ibunya tidak bisa lagi membuat Luna mengelak.
"Kamu dengar, Lun?" Chandra menatap istrinya penuh harap dan senyuman terukir di wajahnya saat istrinya itu mengangguk menerima ajakannya.
***
Butuh waktu beberapa jam untuk Chandra melewati jalan tol dari Jakarta menuju kawasan Dago, di kota Bandung.
Villa milik Chandra di Bandung bukan hanya ada di satu lokasi, tapi hampir di berbagai sudut kota Bandung itu terdapat villa milik Chandra.
Melewati rest area, Luna yang sedari tadi menahan kandung kemihnya yang sudah terasa penuh pun meminta Chandra agar membelokkan mobilnya ke rest area dahulu.
"Mas mau sekalian aku beliin kopi?" tawarnya sembari memegang handle pintu mobilnya.
Menimbang beberapa detik, Chandra yang memang tidak terlalu menyukai kopi itupun akhirnya mengangguk, "Tapi jangan kopi hitam.." jelasnya yang dijawab anggukan paham oleh Luna.
__ADS_1
Menunggu istrinya yang sedang menyelesaikan urusannya ke kamar mandi yang ada di rest area itu, Chandra pergunakan kesempatan itu untuk duduk menyandar di kursi mobilnya untuk merenggangkan otot-otot tangannya yang terasa tegang.
Kring~~~~
Dering ponsel milik Chandra berbunyi, menampilkan Jenifer, adik kandungnya yang tengah menelponnya.
Chandra pun menggeser ikon gagang telpon berwarna hijau itu untuk menjawab telpon.
Panggilan Tersambung...
Jenifer: Hallo Kak..
Chandra: Hemm.. Ada apa?
Jenifer: Ada apa? Ada apa? Kakak kemana? Mom nyariin tuh.
Chandra: Aku ke Bandung.. Mau nanganin cabang perusahaan yang disana.
Jenifer: Sama kak Luna juga?
Chandra: Heem..
Jenifer: Emang harus ya Kak Luna ikut? Biasanya kalau Kakak ke luar kota gak pernah ngajak istrinya.
Chandra: Kamu kalau telpon gak bermutu kayak gitu gak usah telpon deh. (Chandra mulai kesal pada adiknya.)
Chandra: Enggak. (jawabnya tegas sembari menggelengkan kepala seraya tersenyum.)
Maksud Chandra mengajak Luna ke Bandung memang untuk menghindari pertemuan yang belum ia inginkan antara Ibunya dan istrinya.
Apa sikap ingin melindungi Luna itu merupakan bagian bucinnya dia pada Luna?
Sepertinya Chandra benar-benar harus mendownload aplikasi penterjemah apa yang dirasakan oleh hatinya agar ia tidak bisa mengelak lagi.
Jenifer: Ya ya.. Lidah memang tak bertulang kok ya Kak.. Di mulut bilang tidak.. Tapi di hati bilang iya kan gak ada yang tahu. (Jenifer cekikikan meledek Kakaknya yang selalu serius itu.)
Chandra: Ada apa kamu nelpon Kakak? (tanyanya mengalihkan pembicaraan).
Jenifer: Tadi kan aku udah bilang Kak.. Kalau Kakak itu dicariin sama Mom.
Chandra: Kayak Mom pernah peduli aja.
Jenifer: Kaaaakk.. Mom itu peduli dan sayang sama Kakak.
Chandra: Enggak Yakin.
Jenifer menghela napas, lelah menyakinkan Kakaknya jika Momnya memang menyayanginya: Kak Luna dimana? Kenapa diam aja aku telpon perasaan dari tadi?
__ADS_1
Chandra: Istriku sedang di kamar mandi.
Jenifer: Cie Cie.. Yang ngakuin Kak Luna istri..
Chandra: Kan memang dia istriku, Jen.
putus Chandra lalu memutuskan panggilan tersambungnya dengan adiknya yang suka sekali meledeknya.
"Abis telpon siapa, Mas? Kenapa kesel kayak gitu?" tanya Luna saat ia sudah kembali masuk ke dalam mobil Chandra dan sempat mencuri dengar jika suaminya sedang bertelepon dengan berteriak kesal.
"Ini minum dulu kopinya." pinta Luna saat suaminya baru saja menegakkan kursi duduknya kembali.
Chandra pun meminum kopinya dahulu dan memakan sepotong roti untuk mengisi perutnya yang sedari tadi belum diisi.
"Tadi Jenifer telpon." gumam Chandra tiba-tiba saat ia mulai melajukan mobilnya.
"Heuh? Terus?" tanya Luna.
"Dia bilang kalau Mom ada di Indonesia." terang Chandra.
"Ibunya Mas di Indonesia? Sama Jenifer juga?" Luna bukannya takut malah terlihat bersemangat untuk bertemu Ibu mertuanya dan Adik iparnya.
Di pikiran Luna, Ibu mertuanya pasti berhati baik seperti Chandra dan Jenifer.
Semangat disertai senyuman Luna membuat Chandra semakin menguatkan dirinya jika jalan yang dipilihnya kali ini tidaklah salah.
Ia harus mempersiapkan istrinya secara matang untuk bertemu Ibunya.
Istrinya tidak boleh dihina oleh Ibunya.
"Enggak.. Jenifer masih besok sampainya. Mom sudah di Indonesia kemarin siang." jelas Chandra yang membuat Luna kini teringat sesuatu.
"Mas.. Aku boleh tanya sesuatu?" tanyanya lirih sembari memegang lengan suaminya.
"Boleh.. Apa, Lun? Kamu mau tanya apa?"
"Apa Ibunya Mas itu tingginya lebih tinggi dari aku? Eh.. Bukannya aku gimana ya, Mas. Tapi tinggiku kan semampai, dan ini ada wanita yang lebih tinggi lagi." Luna serba salah menanyakan wanita yang kemarin ia tabrak dadanya.
Chandra terlihat berpikir, dan sedetik kemudian ia mengangguk sembari memegang tangan Luna yang berada di atas paha Luna. "Iya.. Momku itu seorang model, Lun." jawab Chandra sembari mengecup punggung tangan istrinya.
Luna menatap nanar Chandra, dan itu sudah jadi cukup jawaban jika memang istrinya itu sudah bertemu dengan Ibunya.
Hah? Kenapa dia bisa kecolongan seperti itu?
"Kenapa? Ada apa? Apa kamu pernah bertemu dengan wanita yang tingginya di atas kamu? Dimana?" Chandra bertanya bodoh untuk menetralkan ekspresi istrinya.
Luna menunduk, lalu ia pun akhirnya menggeleng sebagai jawaban.
__ADS_1
Bersambung...