Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Positif


__ADS_3

Usai memakai pakaian ganti dan memakaikan baju untuk Luna.. Karena Luna terus merintih kesakitan sembari menangis dan memegang perutnya, Chandra pun langsung menghubungi sopir yang tersedia di hotelnya untuk mengemudikan mobil membawa istrinya menuju rumah sakit.


"Sabar sayang.. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Chandra berusaha menghibur Luna sembari mengencangkan dekapannya.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil menuju rumah sakit internasional.


"Aw.. Sakiiit, Mas.." Luna terus merintih sembari memegang perutnya.


Di sela-sela kepanikannya, Chandra pun teringat untuk menghubungi Jaelani agar mempersiapkan seorang dokter untuk memeriksa istrinya tanpa menunggu.


"Baik, Tuan.. Saya akan menghubungi Dokter Ridwan." jawab Jaelani yang membuat Chandra langsung berkata "iya" dan memutus panggilan tersambungnya.


Chandra mengusap punggung Luna.. untuk sekadar meringankan rasa sakit yang kini sedang dirasakan oleh istrinya sembari mengusap air mata yang tiba-tiba menetes membasahi wajah tampannya.


Apa yang tadi diperbuatnya hingga istrinya seperti ini?


***


Sepuluh menit kemudian, Chandra dan Luna sampai di rumah sakit internasional.


Chandra langsung meneriaki Jaelani yang sudah menunggu di depan pintu IGD, dan Jaelani yang sudah siap pun langsung mengajak suster membawakan brankar untuk Luna.


"Tolong periksa istri saya, Dok... Dia begitu kesakitan." Chandra mengatupkan kedua tangannya pada Dokter Ridwan, yang membuat Ridwan melongo mendapatinya.


Belum pernah ia melihat Chandra sepanik itu, bahkan saat Momnya masuk rumah sakit dulu. Laki-laki itu begitu terlihat biasa.


Dokter Ridwan merupakan dokter keluarga dalam keluarga besar Abimana. Dan sangat mengerti bagaimana kelakuan Chandra.


"Tenang saja, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin." Dokter Ridwan pun membalas yang membuat Chandra mengangguk.


"Sabar, Tuan.. Nyonya Luna pasti baik-baik saja." Jaelani mencoba menguatkan Tuannya dengan berdiri di samping Chandra yang kini begitu terlihat khawatir.


Laki-laki itu berkali-kali mengembuskan napas kasar sembari membekap mulutnya dengan kepalan tangannya.


"Kamu tau, Lan.. Aku enggak tahu dengan apa yang tadi aku perbuat hingga Luna kesakitan seperti itu." gumam Chandra dengan menyandarkan kepalanya di pintu ruangan dimana Luna sedang diperiksa.


Ceklek~~~


Suster yang bertugas membantu Dokter Ridwan di ruangannya pun membuka pintunya, menyuruh Chandra untuk masuk.


Jantung Chandra berdegub kencang sembari berjalan memasuki ruangan Dokter Ridwan.


"Pak Chandra.." panggil Dokter Ridwan melihat tampilan kacau Chandra dan tatapannya yang kosong.

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil, Chandra yang sedari tadi menatap tirai yang menjadi pemisah untuk menatap istrinya, pun menoleh pada Dokter Ridwan dan langsung memberinya banyak pertanyaan.


"Bagaimana Dok? Bagaimana istri saya? Dia baik-baik saja kan? Kenapa tadi dia mengeluarkan darah dan merintih kesakitan?"


Dokter Ridwan menyuruh Chandra untuk duduk dulu. "Sebaiknya Pak Chandra memeriksakan istri Anda pada Dokter Obgyn."


"Dokter Obgyn?" Kepintaran Chandra tiba-tiba menurun karena kepanikannya, laki-laki itu belum bisa mencerna perkataan Dokter Ridwan dengan baik.


Dokter Ridwan mengangguk, "Iya, Pak.. Yang bisa memastikan kondisi istri Anda adalah Dokter Obgyn." jelasnya yang membuat Chandra mengernyit.


"Siapa Dokter Obgyn terbaik disini, Dok?" tanya Chandra dengan kepanikan yang masih melandanya.


"Bapak tenang saja, suster sudah saya minta untuk menghubungi Dokter Maya.. Dan sebentar lagi istri Anda akan dibawa ke ruangannya." jelas Dokter Ridwan yang membuat Chandra kembali mengangguk.


"Maass.." panggil Luna pada Chandra dengan suara yang begitu pelan.


Chandra berdiri dan langsung menghampiri istrinya. "Ya? Apa masih sakit?" tanyanya dengan mengecup pucuk kepala Luna.


"Masih, Mas.. Sakiit banget." lirihnya.


"Mas tadi terlalu semangat ya? Maafin Mas ya.." ucapnya lirih sembari menyatukan keningnya pada kening Luna.


Chandra merasakan perasaan bersalah yang begitu berlebih, saat melihat keadaan istrinya yang terus kesakitan setelah berhubungan badan dengannya.


"Pak Chandra.. Sudah waktunya Ibu Luna dibawa ke ruangan Dokter Maya." Dokter Ridwan mengingatkan, yang dijawab anggukan oleh Chandra.


***


Sesampainya di ruangan Dokter Maya, Luna pun langsung diperiksa.


"Nona Luna bisa buang air kecil dulu?" tanya Dokter Maya yang membuat Chandra mengernyit. "Untuk apa, Dok?"


"Untuk melakukan test urine, Pak." jelas Dokter Maya.


"Test urine? Untuk apa?"


"Bisa saya jelaskan nanti setelah keluar hasilnya, Pak." Dokter Maya terlihat begitu sabar menghadapi Chandra.


Luna pun turun dari ranjangnya dibantu oleh Chandra, dan menampung urinenya pada wadah bersih yang telah disiapkan oleh Dokter Maya.


Mendapat urine yang sudah ditampung, Dokter Maya pun menyuruh suster untuk membawa urine itu ke laboratorium.


"Sambil menunggu hasilnya, kita lihat perut Nona dulu ya." Dokter Maya pun mengoleskan gel diatas perut Luna yang masih datar.

__ADS_1


Luna dan Chandra saling tatap, belum bisa bereaksi apapun saat itu.


Dokter Maya melihat apa yang ada di perut Luna pada monitor yang ada di sebelah Luna.


Dokter itu tersenyum yang membuat Luna dan Chandra saling tatap kembali tanpa berani bertanya.


"Bagaimana, Dok?" tanya Chandra setelah Dokter Maya selesai melakukan tugasnya untuk melakukan USG di perut Luna.


"Kita tunggu dulu hasil laboratnya ya, Pak." Dokter Maya pun menjawab dengan perkataan menggantung yang membuat Chandra menatap istrinya.


"Kita tunggu saja, Mas. Semoga aku baik-baik saja." Luna pun menunduk, menguatkan dirinya sendiri.


"Mas yakin, kamu pasti baik-baik saja." Chandra pun ikut membesarkan hati istrinya.


Satu jam kemudian.. hasil test urine itupun keluar.


Dokter Maya membaca hasil test urine itu dengan senyuman yang begitu lebar.


"Bagaimana, Dok?" Chandra terlihat tidak sabar, istrinya merintih kesakitan dan Dokternya terus tersenyum membaca hasilnya.


"Selamat ya, Pak.. Selamat ya Nona."


"Selamat untuk apa, Dok?" Luna dan Chandra bertanya dengan bersamaan.


"Nona Luna dinyatakan positif hamil." jelas Dokter Maya yang membuat keduanya terperangah. "Hah?"


"Apa Dok? Katakan sekali lagi." Chandra yang meminta, untuk memastikan jika pendengarannya tidaklah salah.


"Nona Luna hamil. Istri Anda sedang mengandung anak Bapak." ulang Dokter Maya yang membuat mata Chandra tiba-tiba berkaca-kaca.


"Hamil?" Chandra membeo, "Apa darah yang keluar tadi adalah janin yang tidak jadi tumbuh di rahim istri saya, Dok?" tanyanya dengan lirih sembari menggelengkan kepala.


tidak.. tidak mungkin Luna keguguran. batin Chandra menolak.


"Janin Nona Luna begitu kuat.. Untung saja dia masih bertahan, Pak. Lain kali jangan terlalu bersemangat ya, Pak. Ada makhluk kecil yang sedang berjuang untuk tumbuh disana." jelas Dokter Maya lagi yang kini tiba-tiba membuat Chandra langsung menatap istrinya.


"Kamu hamil, sayang?" Chandra memegang pundak Luna. "Kamu hamil?" tanyanya lagi dan langsung mendekap istrinya sembari meneteskan air mata. "Ya Tuhan.. Terimakasih karena sudah menghadirkannya." gumamnya yang membuat Dokter Maya ikut meneteskan air mata.


Ya, air mata bahagia.


Chandrra terus mendekap istrinya, menyalurkan beribu rasa bahagia yang tiada terkira hingga melupakan pertanyaan yang bersarang di pikirannya saat kemarin malam istrinya melakukan test dan hasilnya negatif pada Dokternya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2