Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Milik Daddy


__ADS_3

"Kita mampir ke tempat Ibu sebentar ya, Mas." pinta Luna dengan tatapan penuh harap setelah perasaannya dilanda kecewa.


Chandra tidak tau jika istrinya berkali-kali meneteskan air mata saat mereka saling memunggungi disaat mereka berganti pakaian santainya lagi.


Bukan karena apa mereka saling memunggungi, itu semua permintaan Chandra karena takut tidak bisa menahan hasratnya saat melihat tubuh sintal istrinya.


Suaminya belum mau mengatakan jika telah mencintainya. Apa Luna harus menyimpulkan sendiri bagaimana Chandra bersikap padanya untuk mengartikannya jika laki-laki itu telah mencintainya?


Entahlah.. Luna belum mau terlalu berharap lebih karena tidak mau terlalu kecewa, nantinya.


"Kita ke ruko Ibu mertua saya dulu, Lan." titah Chandra pada Jaelani yang berarti mengiyakan permintaan istrinya.


Luna tersenyum, suaminya selalu menurutinya dan membuatnya begitu nyaman saat bersamanya kecuali "Kata Cinta" yang belum pernah diutarakan suaminya itu padanya.


Padahal berkali-kali Luna menyakinkan hatinya jika ia tidak boleh kecewa. Ia dan Chandra sangat berbeda. Kastanya yang berbeda dengan Chandra seharusnya bisa untuk mencegah hatinya untuk tidak kecewa, tapi nyatanya tidak.


Wanita cantik itu tetap merasa kecewa setelah perjalanan panjang dengan suaminya yang awalnya tidur berbatas guling sekarang tanpa batas apa-apa, bahkan kulit mereka bersentuhan karena sama-sama polosnya mereguk indahnya surga dunia.


Chandra menoleh pada istrinya saat dirasa mobilnya sudah hampir sampai di ruko Ibu mertuanya dan menangkap jika istrinya tengah melamun.


Apa yang tengah dilamunkannya? Batin Chandra bertanya.


Apa dia tidak bahagia setelah poto pre wedding? apa dia tidak menginginkannya?


Padahal semua itu ulahnya yang belum mau mengatakan cinta dan mengiyakan pertanyaan yang tadi dilontarkan oleh Luna. Kapan kamu sadar Chandra? Luna itu butuh itu untuk menyakinkan hatinya, membesarkan harapannya jika laki-laki yang kini menjabat sebagai suaminya adalah laki-laki yang sangat dicintainya dan juga mencintainya.


Chandra mengusap lengan Luna untuk menyadarkan istrinya itu dari lamunannya, dan saat Luna menoleh.. Chandra pun terperanjak saat melihat bekas tetesan air mata yang menghiasi wajah istrinya.


Laki-laki itu langsung menurunkan sekat agar Jaelani yang sedang berada di kursi pengemudi tidak mendengar pembicaraannya dengan Luna.


"Kamu menangis?" tanyanya bodoh dengan mengusap bekas air mata yang ada di pipi Luna.


"Tidak.. Aku hanya terharu, Mas." kilah Luna berbohong.


"Terharu? Apa yang membuatmu terharu?" Chandra pun mengernyitkan dahinya heran.

__ADS_1


"Kata Reyna.. Radit sudah pandai berbicara. Aku terharu tapi juga sedih karena aku tidak menjadi yang pertama yang melihatnya pertama kali bisa berbicara, Mas. Aku bukan Mommy yang baik untuk Radit." Bohong Luna untuk menutupi apa yang kini dirasakannya dengan alasan yang bisa diterima suaminya.


Wanita cantik itupun langsung mengeluarkan isakannya, tergugu dengan pundak yang kini naik turun.


Chandra maju mendekap istrinya, karena tadi mereka duduk berjarak. Ia lebih mengutamakan berbicara tentang perusahaan dan proyeknya dengan Diamond Grup bersama Jaelani.


Laki-laki itu mengusap pucuk kepala istrinya yang kini berada di depan dadanya. "Kamu Mommy yang baik untuknya. Radit beruntung memiliki kamu."


"Benarkah, Mas?" Luna merasa tersanjung dan rasa kecewanya hilang seketika mendapat pujian dari suaminya.


Hatinya tidak bisa ia cegah untuk sekadar bahagia.


"Iya." Chandra pun langsung mengiyakan dan melepas dekapannya lalu mengecup bibir istrinya.


Laki-laki itu juga mengecup kedua mata Luna seakan meminta Luna untuk tidak bersedih karena ada dia. Tapi jika dia tidak mengatakannya... Apa Luna akan mengerti?


Author tidak habis pikir dengan Chandra.. Hahhhahaha


Melihat istrinya yang menatapnya intens, Chandra pun mengecup seluruh inci wajah cantik istrinya, lalu mengecup bibir Luna dan memagutnya.


Pagutannya begitu lembut dan Luna sudah tidak memerlukan kode dari Chandra untuk membalasnya. Wanita cantik itu langsung membuka mulutnya, membiarkan suaminya mengeksplor mulutnya dengan kelihaian yang membuatnya juga mengingingkannya.


Tok~ Tok~


Ketukan di jendela kaca mobilnya membuyarkan Chandra yang begitu lihai mengeksplor mulut Luna.


Dua kali. Dua kali ia digagalkan saat ingin membawa istrinya mereguk indahnya surga dunia.


"Jangan marah.. Nanti malam aku kasih, Mas." bisik Luna tepat di telinga Chandra lalu mengecup pipi suaminya.


Chandra meremang, hembusan napas Luna yang terasa di telinganya membuat juniornya seketika menegang.


Tidak.. Ia harus bisa menahannya karena mereka sedang berada di ruko Ibu mertuanya. Tapi, ingatkan Chandra jika dia mempunyai kamar di lantai atas untuk menuntaskannya.


Hah? Pikiran erotis Chandra bermunculan dan laki-laki itu benar-benar kecanduan dengan tubuh sintal istrinya.

__ADS_1


Dengan wajah memerah menahan amarah karena Jaelani telah menggagalkan ia yang sedang tegang-tegangnya, Chandra berjalan memasuki ruko Ibu mertuanya menyusul istrinya.


"Radit.." panggil Luna dengan begitu bahagia, lalu berlari memeluk Radit yang tengah bermain lego di dekat Ibunya.


"Mommy.." Radit benar sudah bisa berbicara. Anak kecil itu langsung mengusel di dada Luna membuat Chandra yang melihatnya menghela napas pelan. Itu tempat favoritnya.


itu milikku, Dit. Itu milik Daddy. batin Chandra menatap keduanya yang masih berpelukan.


Usai memeluk Radit, Luna pun tak lupa untuk menyalami tangan Ibunya, mengecup kedua pipi wanita yang selalu dirindukannya. Wanita yang telah melahirkannya ke dunia, wanita yang membesarkannya dan mendidiknya dengan penuh cinta dan wanita yang selalu ingin ia bahagiakan di hidupnya.


"Bagaimana keadaan Ibu?" Luna pun bertanya dengan tak bisa menahan isakannya, wanita cantik itu tidak bisa membohongi hatinya jika dia masih kecewa sekaligus begitu merindukan Ibunya.


Ibu Halimah memeluk Luna, wanita paruh baya itu mengecup kedua pipi anaknya penuh sayang. "Ibu baik-baik saja, Nak. Kamu jangan begitu khawatir dengan Ibu. Disini Ibu tidak sendiri." Ibu Halimah seakan tahu apa yang dipikirkan anak semata wayangnya.


Luna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Ibu lihat.. sepertinya kamu lebih berisi?" Ibu Halimah mengamati bentuk tubuh anaknya yang sedikit berbeda.


"Iya.. Aku juga merasa seperti itu, Bu." Chandra pun menimpali yang membuat Luna seketika memanyunkan bibirnya.


"Aku kegendutan ya, Bu? Aku jelek ya?" Dan Luna pun salah tangkap, wanita itu sudah merasa insecure duluan.


"Wanita yang kegendutan itu memang terlihat lebih jelek, Nyonya. Coba lihat saya, badan saya ideal kan?" Sintia tiba-tiba nimbrung, wanita yang terlalu cantik untuk menjadi pegawai di ruko Ibunya itu seperti sedang menghinanya.


"Ya.. Ideal sekali." Luna pun membalas tapi menatap tajam pada Chandra saat laki-laki itu menatapnya, bukan menatap Sintia.


Hah? Sepertinya Luna tidak bisa mengontrol matanya untuk tidak mendelik tajam pada Chandra saat ada Sintia. Wanita cantik itu masih cemburu pada Sintia. Apalagi Chandra belum pernah mengatakan telah mencintainya.


Apa Luna salah jika ia sedikit serakah agar Chandra tidak melirik wanita selain dirinya?


Chandra tiba-tiba berdiri lalu menggenggam tangan Luna untuk diajaknya naik ke lantai atas ruko Ibunya.


Luna menoleh pada Ibunya, dan Ibu Halimah hanya bisa mengangguk seraya tersenyum sebagai jawaban.


"Ada apa, Mas? Kenapa Mas ngajak ke kamar? Aku sedang melepas rindu dengan Ibu dan Radit.." Luna menatap suaminya yang kini begitu menatapnya intens.

__ADS_1


Chandra tidak menjawab, laki-laki itu langsung memagut bibir istrinya sembari menuntunnya ke arah tempat tidur untuk menuntaskan apa yang ia inginkan dan menyakinkan istrinya jika ia tidak tergoda sama sekali pada Sintia setelah mendapatkan tatapan tajam yang belum pernah ia dapatkan dari istrinya.


Bersambung...


__ADS_2