
Di sebuah cafe yang terkenal di kotanya, terdapat seorang laki-laki yang dari semalam hingga pagi menjelang masih setia duduk di depan bartender dengan minuman memabukkan berwarna hitam pekat di depannya.
Entah berapa gelas yang telah ia habiskan laki-laki itu juga tak sanggup lagi menghitungnya karena saking banyaknya.
Laki-laki itu menumpahkan segala rasa kesalnya pada minuman itu.. Rasa kesalnya karena hari ini Chandra akan mengadakan pesta pernikahan bersama istri tercintanya.
Wanita yang dulu dan sampai sekarang masih ia cintai.
"Luna.. Kenapa kamu memilih Chandra? Seharusnya kamu nikah sama aku! Kamu itu pantasnya sama aku." racau Raka di sela-sela kewarasannya sedari semalam karena dia sudah dalam kondisi mabuk.
Sopir maupun pengawal pribadi yang dipekerjakan oleh Ayahnya tidak ada yang bisa mengajaknya pulang dari Cafe itu dari semalam.
Semuanya ditolak mentah-mentah. Bahkan beberapa wanita cantik yang memakai baju kurang bahan pun disodorkan untuknya, tapi semuanya ditolak.
Laki-laki itu tidak berminat dengan satu wanitapun dari sekian banyak wanita yang dengan sengaja duduk di atas pahanya untuk menggodanya.
"Hei! Kamu anak pemilik Diamond Grup bukan?" tanya Darius saat laki-laki itu baru saja memasuki Cafe itu dan mendengar jika laki-laki yang kini ia tanyai meracau tentang nama wanita yang juga sampai saat ini masih mengisi relung hatinya bahkan sampai kapan.
Mata Raka menyipit mendengar nama perusahaan milik Ayahnya disebut. "Kamu siapa?" tanyanya dalam setengah sadar karena Darius menepuk pundaknya.
"Saya Darius.. Direktur Pemasaran di perusahaan milik Ayahmu." Darius pun mengulurkan tangannya.
Raka mengangguk, tapi tak membalas uluran tangan Darius. "Oh.. Pegawai bokap. Pantes kenal sama aku."
"Saya dengar.. Anda menyebut nama Luna sedari tadi. Apa maksud Anda Luna istri Chandra?" Darius pun bertanya untuk menjawab rasa ingin tahunya.
Sebenarnya Darius ke Cafe itu sepagi itu karena ingin bertemu dengan pemilik Cafe yang tak lain adalah temannya.
Tapi saat mendengar nama Luna disebut, ia tidak tahan untuk bertanya lebih jauh apalagi yang mengucapkan itu anak pemilik Diamond Grup. Tempat dimana ia bekerja, dan perusahaan yang sedang menjalin kerja sama dengan Chandra.
"Kamu kenal sama mereka?" Raka pun mulai meraih kesadarannya, setelah mendengar nama Chandra dan meminu sebotol kecil air mineral. Walaupun belum pulih sepenuhnya.
"Saya kurang kenal.. Tapi teman saya ada yang dapat undangan. Jika mereka hari ini akan mengadakan pesta pernikahan." Darius berkilah, untuk mendapatkan informasi.
__ADS_1
Raka menganggukkan kepalanya, percaya begitu saja pada Darius. "Luna itu wanita yang cantik.. Dia tidak pantas untuk Chandra." gumam Raka.
"Tidak pantas? Maksud Anda?"
"Luna itu pantasnya sama aku. Laki-laki yang bisa membahagiakan dia tanpa menyembunyikan status pernikahan." ujar Raka yang membuat Darius mengernyitkan dahinya tapi juga tak menyelanya.
"Dulu.. Saat Chandra menghina Luna, saat Luna masih mengaku sebagai Janda pada dia.. Dia tidak mau mengakuinya di kampus jika Luna adalah istrinya."
apa iya Chandra seperti itu? tapi yang ku lihat.. Chandra begitu mencintai Luna. batin Darius tidak percaya.
"Aku juga sempat ingin membunuhnya.. Mendorongnya dari rooftop di hotel dimana ia nanti mengadakan pesta pernikahannya." tanpa diminta, Raka terus bercerita seolah-olah menyalurkan rasa sesak yang kini menyelimuti hatinya.
Darius membulatkan mata, tidak percaya jika Luna pernah mengalami hal segila itu dari anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
apa segitunya dia mencintai Luna? hingga berbuat sekejam itu? batin Darius terus berperang, namun menahan sekuat mungkin untuk tidak menyela.
Mendengarkan manusia setengah mabuk yang sedang bercerita tentang kepatah hatiannya.
"Tapi Luna selamat.. Sekretaris sialan kepunyaan Chandra itu menyelamatkannya." Raka meracau lagi, mengingat informasi yang ia dapat dari pengawal yang berjaga di depan hotel.
"Silahkan." Raka mengangguk.
"Kenapa Anda berniat membunuh Nona Luna? Anda tidak takut masuk penjara?" tanya Darius.
"Papa punya pengacara handal yang bisa membelaku." Raka menyombongkan apa yang dimilikinya.
Darius mengangguk, tidak melanjutkan pertanyaannya.
"Aku sekarang sedang berusaha membalas dendam pada Chandra karena telah merebut Luna dariku." sambung Raka.
Darius diam.. Laki-laki itu memikirkan hubungan kerja sama antara Chandra dengan Diamond Grup. Apa itu bagian balas dendam dari Raka untuk Chandra?
Mendengar banyak tentangan dari Reyna tempo hari saat di kampus Luna, menyadarkan Darius jika sahabat lebih dari segalanya.
__ADS_1
Laki-laki itu berusaha menerima dengan tidak menemui Chandra dan Luna terlebih dahulu, hingga yang Chandra tau laki-laki itu sudah kembali ke Amerika.
Menghindar lebih baik, itu bagi Darius karena persahabatannya dengan Chandra lebih berharga. Dan lagi, Luna terlihat begitu bahagia dengan Chandra.
Tidak ada alasan maupun kesempatan untuknya memiliki Luna, apalagi merebutnya dari sahabat yang dulu selalu ada untuknya.
"Aku menghancurkannya dari adiknya.. Karena aku tau jika perusahaan Chandra bisa handal menjawab tantangan dari Papa." lanjut Raka lagi, menyuarakan isi hatinya yang bahkan tidak diceritakan dengan siapapun.
Dengan Darius, laki-laki itu percaya begitu saja dan cerita semuanya. Mungkin karena pengaruh minuman memabukkan yang membuat otaknya kurang singkron.
Darius mengangguk namun juga berpikir. "adiknya? Jenifer? Pak Raka membuat rencana apa untuk Jenifer?" batin Darius namun tak berani untuk bertanya.
Namun sedetik kemudian, ia pun mendapatkan jawabannya karena Raka melanjutkan racauannya. "Aku sudah mengambil mahkota adiknya Chandra.. Mungkin sekarang wanita itu sedang hamil." ujarnya yang membuat Darius kini langsung menatapnya intens.
"Maksud Anda?"
"Adiknya Chandra bilang sama aku jika dia ingin mempunyai kekasih seperti temannya.. Akupun mau menjadi kekasihnya jika dia mau memberikan kepunyaannya yang aku inginkan." jelas Raka yang membuat Darius kini langsung berdiri dari duduknya.
"Anda sudah melakukan ITU dengan Adiknya Chandra, Pak?" Darius pun bertanya.
"Iya.. Setiap dia mendatangiku.. Kita selalu melakukannya. Mungkin sudah tidak terhitung. Kepunyaannya begitu nikmat. Kamu tau." racau Raka lagi sembari mengingat kegiatan panasnya bersama Jenifer.
"Maaf Pak.. Sepertinya saya sedang ada keperluan lainnya. Saya permisi." ujar Darius lalu berjalan melangkah tanpa menghiraukan Raka yang terus memanggilnya.
Jenifer? Kasihan sekali dia.. Apa Chandra sudah tau tentang hal yang terjadi dengan Jenifer? Darius pun terus berpikir sembari berjalan memasuki mobilnya.
Laki-laki itu dilanda bingung dan bimbang harus bercerita tentang hal yang baru diketahuinya dengan siapa. Apa dia bertanya dahulu pada Chandra? Atau bertanya dahulu pada Jenifer?
Jenifer? Apa wanita cantik itu akan mengakui jika ditanya olehnya? Apa benar wanita itu sedang hamil? Lalu bagaimana sekarang keadaannya? Sudahkah ia cerita dengan keluarganya?
Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Darius sembari mencengkeram kuat kemudinya, tidak habis pikir dengan perbuatan Raka pada Jenifer.
Tidakkah laki-laki itu punya hati? Tidakkah laki-laki itu bisa menghargai wanita?
__ADS_1
Bersambung...