
Luna menahan tawanya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit saat melihat wajah khawatir suaminya yang salah sangka terhadap rintihannya.
"Mas.." panggil Luna mencoba memberitahu dan memberi pengakuan, tapi malah membuat Chandra semakin khawatir.
"Masih sakit? Sebentar lagi kita sampai. Sabar ya, Sayang." ujar Chandra tanpa menoleh menatap istrinya yang sedang tersenyum, karena laki-laki itu sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan maximal agar cepat sampai di rumah sakit.
***
"Ra.. Kamu harus sadar. Kamu harus hidup demi aku, Ra." Raka memohon pada Kinara yang belum sadarkan diri sembari mengecupi punggung tangan istrinya.
Lagi-lagi.. Pria penuh obsesi itu bisa meneteskan air mata karena Kinara.
Bukan karena cinta.. Karena berkali-kali Raka menyakinkan diri dan hatinya jika ia tidak bisa mencintai Kinara.
Yang dicintainya hanya Luna.
Penyesalan terdalamnya menguar begitu saja saat melihat bagaimana lemahnya Kinara.
Hadir di acara baby shower Jenifer dan Luna membuatnya merasakan sebuah rasa yang menyiksa saat melihat darah dagingnya bisa tumbuh begitu sehat di perut wanita yang hanya ia jadikan tempat menunaikan obsesinya.
Tak pernah terpikirkan oleh Raka untuk mau datang di acara baby shower Jenifer dan Luna.
Di situ, dia tidak hanya sakit melihat Darius bisa mengusap dan mengecup perut membuncit Jenifer saat photoshoot terjadi.
Tapi, dia juga sakit saat melihat wanita yang selama ini dicintainya begitu bahagia bersanding dengan rekan dosennya.
Bukan bersanding dengannya. Dan itu mungkin hanya akan menjadi harapan semu semata yang tak akan pernah terjadi dalam hidupnya.
Raka tau, Luna dan Chandra saling mencintai.
Raka tau, ia salah pernah menanyakan hal konyol tentang penukaran pasangan dengan Chandra.
Tapi.. Kebetulan keberuntungan saat itu berpihak padanya karena Kinara tak mendengarnya dan langsung mau diajaknya ke luar negeri dimana Papanya sangat menanti kedatangannya dan calon cucunya.
Raka tiba-tiba merasa seperti laki-laki penuh dosa dan tidak berguna.
Istrinya dan dia harus menelan pil pahit saat kecerobohannya dan kebiasaan tak baiknya membuatnya kehilangan calon anak yang sangat diinginkan Papanya.
Ia tak berguna untuk Kinara.
Ia tidak bisa mengembalikan keceriaan Kinara.. Bahkan melihat wanita itu bisa tersenyum adalah hal yang sangat mustahil terjadi yang saat ini ada dalam pikirannya.
Bagaimana ia bisa membuat wanita itu tersenyum sedangkan wanita itu sangat membencinya?
Kinara selalu menolaknya, setiap kali ia mendekatinya yang ia lihat dari Kinara hanya isak tangis, teriakan kebencian dan raut bermuram durja milik Kinara yang ditujukan padanya.
__ADS_1
Berulang kali Kinara pun mengusirnya saat ia hendak mendekati dan menenangkan wanita itu.
Bahkan satu hal yang membuatnya sangat menyesal adalah ia tidak berguna karena tidak bisa mengembalikan rahim Kinara.
Karena rahimnya diangkat Kinara terus mengurung diri dan menyalahkannya.
Karena rahimnya diangkat.. Kinara terus menangis dan selalu menyalahkannya.
Karena rahimnya diangkat.. Kinara frustasi dan berulang kali hampir bunuh diri.
Apa ini karma untuknya karena telah berbuat jahat pada Jenifer dan Luna? Bahkan memperalat Kinara agar mau merebut Chandra dan ia bisa memperistri Luna?
Tapi.. Raka melupakan satu hal. Jika takdirnya ia tidak bisa bersanding dengan Luna. Ia tidak akan bisa bersanding dengan Luna walaupun dengan cara apapun yang dilakukannya.
Apa ia tidak pantas bahagia disaat orang yang ia sakiti terlihat bahagia?
Raka meneteskan air mata merasakan berbagai siksaan rasa yang kini sedang dirasakannya.
Dan seakan siksaan rasa itu tidak hanya sampai disitu.
Sejak sampai di rumah sakit dimana Kinara dirawat.. Hingga berjam-jam lamanya menunggui Kinara yang belum sadarkan diri, Raka merasakan siksaan rasa yang begitu luar biasa.
Di hadapannya, terbaring wanita lemah yang wajahnya begitu pucat dengan mata yang begitu sembab dan bengkak.
Dari rasa kasihan, rasa bersalah, rasa sakit, rasa tidak terima, rasa sesal, dan berbagai siksaan rasa lainnya.
Andai ia tidak menjadi pria egois dan penuh obsesi, mungkin sekarang ia bisa hidup bahagia tanpa kata sesal yang selalu menyelimuti hatinya.
Pun rasa bersalah yang begitu dominan atas apa yang terjadi pada Kinara.
Seharusnya.. Kinara tidak patut sampai seperti ini. Kinara tidaklah salah. Kinara hanya manusia yang dijadikan alat olehnya untuk menunaikan obsesinya memiliki Luna.
"Ra.. Aku tahu ini salahku, beri aku kesempatan untuk menebusnya." Raka pun mencoba membangkitkan istrinya yang sangat-sangat lemah kondisinya.
"Ra.. Aku ngaku salah. Aku akan membuat pengakuan dengan Chandra jika aku telah menyakiti adiknya. Aku juga akan meminta maaf dengannya kalau kamu mau membuka mata." Raka pun berjanji pada dirinya sendiri untuk menebus rasa bersalahnya dan banyak dosanya pada orang-orang yang telah disakitinya.
Dalam hitungan detik, seakan Kinara mendengar perkataan Raka yang penuh sesal disertai air mata, wanita itu membuka matanya.
"Ra.." ujar Raka begitu bahagia saat melihat Kinara mau membuka matanya.
Bahkan dalam kondisi yang sedang tidak disadarinya, Raka langsung mengecup kening Kinara begitu dalamnya merasakan kebahagiaan yang tak terkira karena Kinara telah sadarkan diri.
"Syukur Alhamdulillah, Ra.. Kamu akhirnya mau bangun juga." Raka masih seantusias itu, bahkan sampai meneteskan air mata yang membuat bodyguard yang tadi ikut menemaninya menunggu Kinara di ruangan ikut terharu dan meneteskan air mata.
"Sebaiknya Anda memberi minum Nyonya, Tuan muda." ujar bogyguard itu yang dijawab anggukan oleh Raka.
__ADS_1
Laki-laki itu menaikkan sedikit ranjang yang dipakai Kinara agar wanita itu tidak tersedak saat meminum air mineral yang diberikan olehnya.
Kinara sedang dalam keadaan lemah, wanita itu tidak berbicara tapi meminum air mineral yang diberikan oleh Raka tanpa menoleh pada suaminya.
"Nanti lagi, Ra." ujar Raka yang tak dibalas oleh Kinara saat ranjangnya sudah dikembalikan semula oleh Raka.
Raka menghela napasnya melihat sikap Kinara padanya.
Tapi, Raka harus tetap menepati janjinya yang mau memberi pengakuan dan meminta maaf pada Chandra dan Luna atas semua perbuatannya.
***
"Mas!" pekik Luna saat mereka berdua hampir sampai di ruangan dimana dokter kandungan Jenifer berada.
Luna mengedarkan pandangannya saat suaminya menatapnya seakan bertanya 'ada apa.'
"Kita pulang aja yuk." ujar Luna akhirnya yang membuat Chandra mengerutkan keningnya.
"Pulang? Maksud kamu apa, Sayang? Kita harus memeriksakan kandungan kamu dulu." Chandra masih belum mengerti dengan ujaran istrinya.
"Aku udah enggak apa-apa, Mas."
"Bukannya tadi perut kamu kontraksi?" Chandra mempertanyakan pendapatnya.
"Bukan.. Tadi itu bukan kontraksi, Mas. Tapi si baby lagi nendang perut aku karena aku enggak mau dia mirip sama Mas." jujur Luna sembari menggigit bibir bawahnya yang membuat Chandra membulatkan matanya seraya melongo.
"Beneran cuma nendang? Enggak kontraksi, Sayang?" Kalau lagi begini, Chandra mirip dengan Luna, loadingnya lama.
"Enggak, Mas.. Cuman nendang." jelas Luna yang membuat Chandra seketika meluruhkan bahunya yang sedari tadi tegang.
"Kenapa kamu baru bilang?" Chandra seperti protes, tapi dengan nada begitu lembut.
"Aku dari tadi mau bilang, tapi Mas-nya enggak mau dengarin dulu malah main potong aja." keluh Luna sembari menunduk yang membuat Chandra langsung merangkul pundaknya lalu merebahkan kepala Luna di dadanya karena sekarang mereka sudah duduk di salah satu kursi tunggu.
Chandra baru mau minta dispesialkan, tapi panggilan istrinya padanya membuatnya mengajak Luna duduk terlebih dahulu.
"Maafin Mas ya.. Mas panik tadi waktu dengar kamu merintih." Chandra tidak malu untuk meminta maaf duluan pada istrinya, walaupun disini Luna-lah yang salah.
"Aku yang harusnya minta maaf, Mas." Luna pun tidak mau suaminya merasa bersalah, karena dia merasa yang salah.
Chandra tersenyum sembari menganggukkan kepalanya menjawab permintaan maaf istrinya.
Adegan tersebut pun tertangkap mata oleh seseorang yang kini sangat ingin menemuinya.
Bersambung...
__ADS_1