Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Pentingnya Sebuah Izin


__ADS_3

Ehem..


Deheman seseorang mengagetkan Luna yang sedang membasuh wajahnya di depan wastafel.


Luna mendongak, Ia pun terhenyak saat menatap pantulan kaca yang ternyata memperlihatkan jika suaminya berdiri tepat di belakangnya.


Hah?


"Mas Chandra?" ujarnya sembari berbalik badan menatap suaminya.


Mata elang Chandra menatapnya dengan tajam membuat Luna tidak jadi melanjutkan pertanyaan yang ingin diajukannya.


"Ngapain ketemuan sama Raka?" pertanyaan Chandra setelah keheningan beberapa detik menyelimuti mereka.


"Pak Raka yang mengajak saya bertemu, Mas." jawabnya lirih.


"Buat apa?"


"Tidak tau.. Pak Raka cuman bilang jika ada sesuatu yang penting yang mau dibicarakan."


lirihnya dengan tetap menunduk.


"Soal kampus?" tanyanya lagi yang dijawab gelengan kepala oleh Luna. "Gak tau, soalnya pak Raka belum bilang apa-apa."


"Sudah berapa lama kamu disini tadi?"


"Aku baru sampai Mas."


"Mas kok bisa disini?" tanya Luna memberanikan diri saat mendengar helaan napas berat dari suaminya.


"Seharusnya itu pertanyaan yang aku tujukan untuk kamu." jawab Chandra lalu berbalik badan hendak meninggalkan Luna, karna jika terlalu lama berdua dengannya dalam keadaan marah, Chandra takut, Luna semakin takut padanya karna mendengarnya berbicara keras dengannya.


Baru satu langkah, Luna mencekal tangan Chandra lalu berjalan mendekatinya dan tepat berdiri di sampingnya. "Maaf. Maafin aku Mas." lirihnya.


"Buat apa kamu minta maaf? Apa kamu merasa punya kesalahan?" tanya Chandra tanpa mau menatap istrinya.


"Iya.. Aku tau aku salah."


"Coba sebutkan kesalahanmu apa." tantang Chandra dengan menaikkan alisnya.


"Aku gak izin mau pergi kesini tadi sama Mas, terus aku ketemu sama laki-laki lain tanpa izin Mas."

__ADS_1


"Lalu?"


"Lalu? Maksud Mas?"


"Apa kau lupa?"


"Lupa apa Mas?"


"Kamu sudah duduk di depannya dan tersenyum di depannya." tandas Chandra lalu melepas cekalan tangan Luna, dan berjalan meninggalkannya.


apa Mas Chandra cemburu? batin Luna sembari menatap punggung tegak suaminya, namun suaminya itu malah terlihat berbalik badan kembali menghampirinya.


Senyum Luna terlihat mengembang saat Chandra berdiri di depannya, namun senyum itu pudar saat Chandra menegaskan hal yang selama ini memang membuatnya takut mencintai suaminya itu.


"Pernikahan ini memang terjadi karna aku hanya membutuhkan status dari kamu. Tapi, aku tidak mau klien ataupun pemegang saham di perusahaanku melihat dan tau jika kamu seperti ini. Jadi, jangan diulangi lagi." ancamnya dengan menunjukkan jari telunjuknya tepat di depan hidung Luna lalu menyoleknya.


"Dan Izin itu penting, walaupun dan bagaimanapun keadaan pernikahan kita, aku tetaplah suami kamu dan kamu harus izin sama aku kemanapun kamu akan pergi." lanjutnya lalu benar-benar pergi dari hadapan Luna.


lalu apa yang kamu lakukan Mas? siapa wanita cantik itu? dan kenapa kamu membiarkannya memelukmu bahkan menciummu. sedangkan aku saja belum pernah melakukan hal itu padamu. batin Luna sembari meneteskan air mata.


Sejenak ia menatap punggung suaminya, ia bingung harus sedih atau bahagia. Di satu sisi, pernikahannya dengan Chandra memanglah hanya sebuah status dan Chandra bukanlah laki-laki sembarang yang melampiaskan hasratnya pada banyak wanita.


Dan ia bahagia dengan hal itu, Chandra tidak akan meminta haknya sebagai suami, padanya. Dan tidak memaksanya melakukan hal yang harusnya pasangan halal lakukan.


Ia ingin dicemburui suaminya, walaupun ia sendiri belum tau pasti apa yang kini tengah dirasakannya.


Sedangkan Chandra, laki-laki itu berucap beribu maaf di hatinya pada istrinya karna harus menekannya lagi untuk tidak bertemu orang lain tanpa sepengetahuannya sembari berjalan dimana adiknya sedang menunggunya.


Egonya yang tinggi tidak mau mengakui jika kini ia memang tengah cemburu dengan istrinya.


Cemburu karna Luna bertemu dengan lawan jenisnya tanpa sepengetahuannya.


Luna juga terlihat santai berbincang dengan Raka, disertai senyuman yang membuat hatinya membara.


***


"Lama banget, Lun?" tanya Raka saat Luna baru saja mendudukkan bokongnya di kursi.


Usai Chandra membalas panggilan Raka, Luna memang sempat berbincang dengan Raka, namun itu karna Raka menanyakan ia mau pesan apa, dan ia pun langsung izin ke toilet, dan tak lama Chandra pun menyusulnya.


Niatnya yang hanya ingin membasuh wajah berakhir dengan kesalahpahaman antara dirinya dan Chandra.

__ADS_1


"Em, Maaf ya pak Raka. Kalau memang pak Raka ada yang mau dibicarakan, silahkan bicara Pak, soalnya Ibu saya tadi menelpon saya, dan saya harus segera pulang ke rumah."


"Rumah? Ohya.. Kamu sekarang tinggal dimana? Kenapa kemarin pas saya lewat, kontrakanmu pintunya tertutup dan tetanggamu bilang jika kamu sudah pindah. Apa benar itu Lun? Kamu pindah kemana?" tanyanya dengan rentetan pertanyaan yang memang ingin juga diutarakannya.


Memang selama ini Raka selalu menyempatkan diri jika ada kesempatan untuk mampir di tempat Luna, untuk sekedar bertegur sapa pada Ibu Halimah ataupun membelikan susu untuk Radit.


Intinya, Raka selalu perhatian dan Luna tidak menangkap perhatian Raka dengan baik.


Selama ini Luna hanya menganggap jika Raka hanya menaruh sayang pada Radit karna tau Radit anak yang ia temukan di jalanan, dan merasa kasihan.


Tidak menganggap jika perhatian Raka pada Ibu dan Radit, sebagai bentuk pendekatan dengan dirinya karna salahnya Raka yang memang belum berani mengutarakan apa yang ingin dikatakannya.


Dalam benak Raka, siapapun pasti menyukai Luna. Wanita bertubuh tinggi semampai, rambut hitam panjang sebahu, bibir mungil, hidung mancung dan garis wajahnya yang halus serta hati yang begitu tulus.


Seorang Wanita yang hampir sempurna, dimata Raka.


aku harus jawab gimana. kalau aku kasih tau pak Raka jika Ibu udah jualan di ruko nanti pak Raka bakal tau donk dari Ibu kalau aku udah nikah sama Mas Chandra, dan nanti bagaimana dengan perjanjianku dengan Mas Chandra yang ingin menyembunyikan status pernikahan kita. Duuuuhhh... Gawat! aku harus alasan apa coba. batin Luna sembari menoleh ke sembarang arah, dan tatapannya malah bertumpu pada Chandra yang sedang mengusap kepala adiknya dengan sayang.


"Ibu baru pulang ke rumahnya Pak, dan saya di rumah Reyna." alasan Luna kemudian dengan menatap Raka sembari berucap maaf di dalam hatinya.


Raka menganggukkan kepala, namun saat ia hendak memegang tangan Luna ingin menyatakan perasaannya, Chandra langsung memanggilnya.


Rupanya, walaupun Chandra sedang mengobrol panjang lebar dengan adiknya, matanya tidak lepas dari istrinya.


"Pak Raka? Ada yang mau saya bicarakan dengan Bapak." ujar Chandra kemudian duduk di kursi sebelah Luna.


Kebetulan bentuk meja di Cafe itu berbentuk bulat dan ada tiga kursi di setiap nomor mejanya.


Luna menelan salivanya melihat Chandra yang sepeertinya ingin mengalihkan perhatian Raka.


Dan memang uluran tangan Raka yang hendak menjangkau tangannya, terbukti Raka tarik kembali dan memusatkan perhatiannya pada Chandra.


Dan mungkin ini kesempatan bagi Luna untuk lari dari dua laki-laki yang mungkin menurut kita sedang memperebutkannya. Haha


Luna aja gak tau apa-apa. Ia hanya menghormati suaminya Kak.. Luna juga gak tau kalau Raka suka padanya.


Iya-iya. Otor bilangnya tadi kan, menurut versi kita. Bukan Luna. Hehe he.


"Pak Raka dan pak Chandra... Maaf jika saya menyela, tapi saya harus secepatnya pulang ke rumah karna Ibu saya sudah menunggu saya. Permisi." pamitnya lalu langsung berdiri dan Chandra tersenyum tipis melihat istrinya.


Sedangkan Raka, ia hanya bisa menelan saliva mengakui jika ia harus gagal lagi mengutarakan apa yang selama ini ia pendam, pada Luna.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2