Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Extra Part


__ADS_3

"Terimakasih ya, Luna. Kamu udah mau hadir di acara sederhana yang aku buat hari ini." ujar Reyna saat Luna dan Chandra akan pulang dari rumahnya.


Reyna mengadakan acara syukuran atas kelulusannya di rumahnya, karena Mama Papanya tidak ada waktu untuk sekadar makan di restoran.


"Sama-sama Reyna. Aku tunggu besok di perusahaan Mas Chandra ya, kamu harus kerja disana biar kita bisa ketemu terus." pinta Luna dengan memegang tangan Reyna.


Reyna menoleh sekilas pada Chandra, dan saat melihat suami sahabatnya itu mengangguk, ia pun lantas mengangguk sebagai jawaban karena sebenarnya ia belum mengajukan surat lamaran bahkan belum tahu ada posisi apa yang sedang dibutuhkan di perusahaan Chandra.


Luna senang bukan main saat melihat Reyna mengangguk, lalu sedetik kemudian ia pun memeluk sahabatnya itu dengan posesif.


****


"Kamu yakin enggak mau tanya dulu sama Ibu, Sayang?" Chandra masih membahas kejadian beberapa hari yang lalu, tentang Wira yang ternyata Ayah kandung Luna.


Mereka berdua kini sudah berada di dalam mobil kembali untuk pulang ke rumahnya, karena Devano tidak diajaknya.


"Enggak, Mas. Mas kemarin dengar sendiri kan, kalau A--yah sudah bilang ke Ibu kalau Ibu adalah istri keduanya. Dan kalau sekarang aku tanya ke Ibu tentang itu, pasti Ibu akan bersedih dan luka lama yang sudah berusaha ditutupi akan berlubang lagi. Aku enggak setega itu sama Ibu, Mas." jawab Luna dengan menoleh menatap suaminya.


"Kenapa Mas tanya seperti itu? Ada apa, Mas?" Luna lantas bertanya.


"Enggak ada apa-apa, Mas cuman tanya, Sayang." jawab Chandra dengan menoleh sekilas disertai senyuman lalu mengalihkan tatapannya lagi pada jalanan padat kendaraan di depannya.


Sebenarnya Chandra ingin Luna lebih dekat dengan Ayahnya, karena bagaimanapun ia melihat sendiri jika Wira juga begitu menyayangi Luna dari tatapan matanya.


Luna menganggukkan kepalanya, tidak mau memperpanjang masalah status Ayah kandungnya, karena merasa itu bukan ranahnya.


Ibunya sudah tidak bersama Ayahnya, lalu untuk apa ia memperpanjang masalah tersebut?


***


Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di pelataran rumahnya.


Chandra dan Luna seakan memiliki pikiran yang sama saat mereka sampai di daun pintu dan mendengar suara orang yang sedang berada di dalam rumahnya.


"Kamu mendengarnya, Mas?" Luna pun bertanya saat ia dan suaminya saling tatap.


"Iya.. Mas mendengarnya, Sayang." Chandra menganggukkan kepalanya samar.


Keduanya terlihat kompak mengangguk, lalu berjalan beriringan masuk ke dalam rumah mewahnya.


Tepat di ruang keluarga yang tak jauh dari ruang tamu, di karpet berwarna navy itu Devano terlihat sedang bermain dengan Darius, dan Arini--putri Jenifer sedang bermain dengan Bundanya.


Kedua balita itu cekikikan saat diajak cilukba oleh keduanya.


"Jen! Ri!" pekik Chandra dengan suara tertahannya.

__ADS_1


Jenifer dan Darius kompak menoleh pada Chandra dan Luna, lalu dengan kompaknya menampilkan cengirannya, menunjukkan deretan giginya yang rapi dan bersih. "Kami menyusul Kakak karena Arini kangen sama Devano--Kakaknya, Kak." ujar Jenifer yang membuat Chandra menghela napas.


Belum genap seminggu mereka berpisah setelah berbulan-bulan bersama, adik yang ia sayangi itu tidak bisa jauh darinya.


"Arini yang kangen sama Devano, atau kamu yang enggak bisa jauh dari Kakak, Jen?" canda Chandra yang membuat Jenifer mencebikkan bibirnya. "Kakak kepedean banget sih." gerutunya yang membuat Darius dengan berani mencium pipinya di depan Chandra.


Cup


Kecupan itu berhasil membuat rona merah di pipi Jenifer dan Luna yang melihatnya pun tersenyum.


Hubungan keduanya semakin erat setelah Arini lahir dan Jenifer menyelesaikan masa nifasnya.


Darius mulai menyentuh Jenifer ke arah lebih intim memang setelah Jenifer melahirkan.


Bukan ia tidak mau menyentuh istrinya saat Jenifer masih hamil, tapi dia tidak mau benihnya tercampur dengan milik Raka walaupun ia berjanji akan menganggap Arini sebagai darah dagingnya.


Cup


Chandra pun seakan tidak mau kalah, usianya yang seusia dengan Darius membuatnya harus setara bahkan melebihi apapun dengan apa yang dikerjakan oleh Darius tanpa terkecuali perlakuan pada istrinya.


"Mas.. Malu." ujar Luna, tapi tetap tak bisa menyembunyikan rona merahnya.


"Mereka aja enggak malu ada kita." timpal Chandra yang membuat Jenifer tergelak.


Chandra dan Luna sudah duduk di karpet untuk bermain bersama anaknya dan menyimak ujaran Darius.


"Keinginan apa, Ri?" Chandra pun lantas bertanya.


"Aku ingin mengajak Jenifer ke Desa A. Desa di mana aku lahir dan besar. Desa di mana aku dan Luna dulu tinggal dan menjadi tetangga." jawab Darius dengan menoleh menatap Luna, sang Kakak ipar yang terlihat lebih cantik setelah melahirkan.


"Jangan lihat Luna seperti itu, Ri." tegas Chandra dengan suara dinginnya tapi Darius tak mendengarnya.


Laki-laki itu sedang tenggelam dalam lamunannya mengingat kepingan demi kepingan ingatan sewaktu dulu ia bersama Luna di desa A.


"Kak.." panggil Jenifer saat Darius tak menanggapi ujaran Chandra.


"Kak!" seru Jenifer lagi sembari menepuk paha Darius yang membuat si empunya terhenyak. "Ada apa, Jen?"


"Kakak yang ada apa? Kakak melamun? Kakak lagi enggak mengingat kenangan Kakak dengan Kak Luna, kan?" Jenifer bertanya dengan menatap sendu suaminya.


Darius seketika salah tingkah sekaligus merasa bersalah, karena dengan kurangajarnya ia malah membayangkan wanita lain yang tak lain Kakak iparnya sendiri di depan istrinya.


"Enggak.. Kakak hanya sedang memikirkan bagaimana nanti Kakak menjelaskan kepada kedua orang tua Kakak tentang kamu dan anak kita. Dulu saat kita mau menikah, kakak belum mengenalkannya denganmu, Jen." kilah Darius yang dirasa Jenifer cukup masuk akal, dan memang sedetik kemudian Jenifer menganggukkan kepalanya paham.


"Aku akan menemani kalian." tandas Chandra yang membuat ketiga orang itu menoleh padanya.

__ADS_1


"Kenapa?" Chandra pun bertanya yang membuat ketiganya kompak menggelengkan kepalanya.


"Ada apa sebenarnya dengan kalian?" Chandra bertanya lagi dengan menatap tajam ketiganya yang membuat Luna seketika menelan salivanya.


"Mas.. Bukannya Mas enggak suka ke desa. Bukannya Mas sibuk. Mas ingat enggak dulu Mas enggak mau turun pas aku ajak ke pasarnya." Luna mencoba mengingatkan suaminya tentang desanya.


"Rumah Darius ada di dekat pasar itu?" Chandra pun bertanya yang membuat Luna menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Tiba-tiba terdengar hembusan napas kasar dari Chandra yang membuat Darius menaikkan alisnya.


"Kenapa, Ndra? Berubah pikiran?" ledek Darius yang membuat Chandra kontan menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa?" Darius pun kembali bertanya.


"Pasar dekat rumahmu itu tempat dimana Luna pertama kali jujur sama aku tentang statusnya, Ri. Dulu dia mengaku Janda beranak satu saat di kampus karena mengasuh Radit." jelas Chandra yang membuat Darius membelalakkan matanya.


"Kamu serius, Ndra?" Darius pun lagi bertanya, seakan tidak percaya.


"Tanya aja sama Luna. Dia mengaku Janda, padahal dia masih gadis." Chandra mengendikkan dagunya pada istrinya yang membuat Luna menatapnya seakan mengatakan tidak usah membahasnya.


Itu privasinya, dan bagi Luna. Hanya suaminya lah yang boleh mengetahuinya.


"Aku ke kamar dulu, Mas. Devano udah ngantuk kayaknya." elak Luna langsung sembari menggendong Devano saat Darius akan membuka mulutnya yang membuat Jenifer menepuk paha Chandra.


"Kak.. Dikejar kak Luna-nya." ujar Jenifer yang tidak menyadarkan Chandra.


"Devano ngantuk, Jen." Chandra menjawab dengan santainya.


"Kak Luna itu ngambek sama kakak, bukannya ngantuk. Peka dong, Kak." Jenifer pun gemas pada Kakaknya yang tidak menghiraukan tatapan tak biasa dari istrinya.


"Oh ya?" Chandra pun seakan tidak percaya.


"Kalau kamu enggak mau ngejar, biar aku yang ngejar Luna, Ndra." kelakar Darius yang membuat Chandra langsung bangkit dari duduknya untuk mengejar istrinya, tapi juga membuat istrinya--Jenifer langsung melayangkan tatapan tajamnya padanya.


"Kenapa, Jen?" Darius pun bertanya karena merasa tidak salah.


"Kakak mau mengejar kak Luna? Iya?" Jenifer pun bertanya dengan suara dinginnya yang membuat Darius tiba-tiba menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Namun, sedetik kemudian ia pun menggendong Jenifer ala bridal style menuju kamarnya.


"Arini, Kak.." pekik Jenifer.


"Bi Asih siap menjaganya sebentar untuk kita, Jen." ujar Darius dengan kerlingan matanya, lalu menunjuk ke arah Bi Asih yang sedari tadi ternyata melihat keakraban keluarga mereka.


..

__ADS_1


__ADS_2