
"Tuan!"
"Tuan!" seru Jaelani lagi memanggil Chandra dari dalam mobilnya.
Seruan dua kali dari Jaelani pun akhirnya menyadarkan Chandra yang masih terpaku dari kata-kata disertai teriakan histeris dari istrinya.
"Masuk Tuan.. Kita kejar Nyonya Luna." ujar Jaelani kemudian setelah Chandra menatapnya dan Chandra pun mengangguk lalu berlari memasuki mobil Jaelani untuk mengejar istrinya.
****
Maafkan aku, Bu... Maafkan Luna yang telah membuat Ibu berdosa karena aku telah membentak suamiku. Luna tidak bermaksud membentaknya, Bu.. Luna hanya.. Luna.. Batin Luna sendu dengan menatap kursi kemudi di depannya.
Luna terus menangis di dalam taksi itu dengan berbagai kata andai dan menyesal yang kini bersarang di pikirannya.
Pundaknya yang naik turun beserta derasnya air mata yang membasahi wajah cantiknya begitu menggambarkan betapa sakit hatinya hati Luna saat itu.
"Kita mau kemana, Mbak? Sudah hampir satu jam kita hanya berkeliling." Sopir taksi itupun bertanya setelah satu jam mereka hanya berkeliling di daerah itu tanpa tau arah dan tujuan karena Luna belum mengatakan apa-apa, wanita cantik itu asyik tergugu dengan dunianya sendiri.
"Kita ke.." Ucapan Luna terpotong saat teringat sesuatu, laptopnya tertinggal di rumah Chandra dan dia tidak bisa pergi ke danau buatan untuk mencurahkan keluh kesahnya tanpa laptopnya.
"Kemana, Mbak?" tanya Sopir taksi itu seakan tidak sabaran, walaupun dia tidak khawatir kalau Luna tidak bisa membayarnya karena pakaian yang dipakai Luna bukanlah pakaian orang biasa.
Ditaksir bisa seharga puluhan juta dalam satu setelannya.
"Ke Kawasan Perumahan Elite di daerah sini, Pak." ujar Luna akhirnya menunjukkan alamat rumah Chandra pada Sopir taksi itu dengan menunjukkan ponselnya.
Ia terpaksa harus ke rumah suaminya dulu walaupun ia sangat malas menginjakkan kaki disitu, untuk mengambil barang berharganya, yaitu laptop kesayangannya.
Sopir taksi itu menarik tuas remnya saat traffic light menunjukkan warna merah, lalu menoleh sekilas dan mengangguk setelah paham dimana alamat rumah yang dituju.
*Di dalam mobil Jaelani
"Nyonya sebenarnya mau kemana, Tuan? Kenapa dari tadi cuman mutar-mutar daerah sini saja." Jaelani pun bertanya akhirnya, setelah merasa lelah mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Luna yang hanya memutar di daerah itu sudah satu jam lamanya.
Chandra hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Laki-laki itu bingung harus bagaimana dan melakukan apa.
Kepintarannya yang bisa menjadi dosen popular di campus sekaligus CEO yang bisa membangkitkan lagi CA. Corps. Dari keterpurukan sepertinya tidak bisa digunakan saat masalahnya berkaitan dengan hati.
Hatinya yang begitu labil setiap berkaitan dengan Kinara.
__ADS_1
Hatinya yang baru saja akan menetap pada Luna dan digoyahkan lagi dengan kedatangan Kinara.
Tak memungkiri, jika Kinara memanglah wanita spesial di hatinya.
Tapi dia juga tidak munafik jika Luna adalah istrinya. Hidupnya.
Apalagi wanita cantik itu tengah mengandung calon anaknya.
Dokter sudah memberitahunya, jika dia tidak boleh membuat istrinya itu stress.
Tapi, Apa yang barusan ia lakukan?
Ia kembali menyakiti dan memberi tekanan batin pada istrinya.
Tapi, siapa sangka jika istrinya berada di situasi itu kan?
Berada di saat Raka berucap tentang hal yang tidak pantas ditanyakan.
Menukar pasangan hidup? Benar kata istrinya, dia bukan barang yang bisa ditawar dan ditukar seenaknya.
Dulu, dia yang menawarinya untuk menjadi istrinya demi mempertahankan jabatannya.
Disertai embel-embel karena telah membuat sedikit lecet mobilnya, membuat Luna harus terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengannya.
Bahkan istrinya itu terang-terangan mengatakan jika dia nyaman hidup berdampingan dengannya.
Lalu, apa Chandra tidak bisa untuk tidak mempertimbangkan lagi hubungannya dengan Luna dan Kinara?
Apakah laki-laki itu akan egois dengan selalu mementingkan Kinara di atas istrinya.
Istrinya yang begitu terluka atas sikapnya.
Istrinya yang selalu makan hati atasnya.
Mana janji yang dulu diucapkannya dalam hati jika dia akan membahagiakan istrinya?
"Aaarrrggghh!!" Chandra menggeram memikirkan semuanya dengan mencengkeram rambutnya.
Jaelani yang panik melihat Tuannya seperti itupun langsung menyentuh lengan Chandra. "Anda kenapa, Tuan? Apa ada masalah?" tanyanya bodoh padahal dia tau kalau Nyonya-nya dan Tuan-nya sedang terlibat masalah.
"Aku bodoh, Lan. Aku bodoh!" Chandra berkata dengan memukul kepalanya.
__ADS_1
"Anda pintar. Anda tidak bodoh, Tuan. Anda saja bisa selalu memenangkan proyek besar." celetuk Jaelani yang membuat Chandra menoleh menatapnya.
"Ini bukan berkaitan dengan perusahaan, Lan. Ini masalah istriku. Rumah tanggaku. Aku bodoh, Lan." Chandra memukul dadanya, menyalahkan dirinya.
"Maksud Anda apa, Tuan?" Jaelani pun pura-pura bertanya dengan sesekali menoleh pada Chandra, tanda jika ia menyimak apapun perkataan Tuan-nya padanya.
"Luna cemburu dengan Kinara. Luna salah paham dengan aku yang selalu peduli dengan Kinara, Lan." Chandra akhirnya bercerita.
Jaelani menganggukkan kepalanya. "Bukankah Nona Kinara dulu meninggalkan Anda dan meminta Anda memutuskannya?" sepertinya kekepoan tertinggi yang dimilik oleh Jaelani agak bermanfaat adanya. Hahaha
"Iya.. Dia memintaku untuk memutuskannya baik-baik karena dia ingin mengejar apa yang sesuai bidangnya, Lan." Chandra selalu ingat alasan apa yang memisahkan hubungannya dengan Kinara, mantan terindahnya.
"Begitu? Berarti Nona Kinara egois ya, Tuan?"
"Egois? Maksud kamu apa, Lan?" Chandra mengernyit.
"Dia mementingkan kepentingannya daripada Tuan, padahal dia bisa jadi apapun jika bersama Tuan dan menemani Tuan. Tuan juga tidak perlu menikahi Nyonya Luna kan?" Jaelani bertanya lagi yang kini membuat Chandra terdiam.
"Anda masih mencintainya, Tuan?" Jaelani pun kembali bertanya.
"Aku enggak tahu, Lan."
"Kenapa Anda tidak tahu? Bagaimana perasaan Anda pada Nyonya? Tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang bisa menerima jika suaminya masih mencintai wanita lain, Tuan." Jaelani pun merasa kasihan pada Nyonya-nya setelah melihat Luna dari kejauhan jika Nyonya-nya itu menangis.
"Luna.. Dia istriku. Dia Ibu dari anakku, Lan." Chandra teringat kembali pada istrinya, setelah mengingat kenangannya bersama Kinara.
"Apa Tuan mencintai Nyonya?" Jaelani pun dengan gemas bertanya, walaupun ia pernah melihat benih cinta untuk Luna itu tumbuh di hati Tuannya.
Saat dengan jelas Chandra yang cemburu karena Jenifer mencuri kecupan di pipi Luna.
Hanya karena kedatangan Kinara, cinta yang baru tumbuh itu seakan goyah sedikit dan Chandra kurang tegas dengan pilihannya.
"Luna arah ke rumah, Lan?" Chandra tidak menjawab saat menoleh menatap taksi di depannya yang ternyata ke arah rumah mewahnya.
"Nyonya Luna itu wanita yang baik. Tatapan intimidasi dan perlakuan buruk saya saja selalu dimaafkan, dia bukan wanita egois, Tuan. Semoga Tuan mempertimbangkan lagi bagaimana harus bersikap dengan Nona Kinara maupun Nyonya Luna. Saya yakin, Tuan lebih pintar dari hal apapun dari saya." Jaelani pun berucap sembari menurunkan Chandra di depan rumah mewahnya setelah Luna memasuki rumah Tuan-nya.
Bersambung..
Heheehe..
happy reading guys..
__ADS_1
Maaf baru update ya.. aku lagi kurang enak badan soalnya.