
Sang mentari telah menyapa pagi, mengintip melalui celah-celah gorden di kamar Chandra hendak membangunkan kedua insan yang masih tidur begitu lelapnya.
Mungkin karna kejadian semalam, atau mungkin karna mereka terlalu nyaman tidur dalam keadaan saling berpelukan.
Chandra menyipitkan mata saat cahaya mentari mengenai matanya, mengusapnya perlahan dan saat ia membuka matanya, ia tersenyum karna menemukan istrinya masih begitu posesif memeluknya.
Gerakan perlahan yang dibuat oleh Chandra ternyata membangunkan istrinya dan saat Luna menyadari ia telah lancang memeluk suaminya pun langsung mendongak tanpa melepas pelukannya pada Chandra.
Deg
Bola mata jernih milik Luna bertemu dengan bola mata elang milik Chandra, dan dalam satu detik Luna langsung melepas pelukannya lalu mengulurkan selimutnya hingga di atas kepalanya, malu karna perbuatannya.
"Maaf ya Mas, aku semalam lancang peluk-peluk. Soalnya aku takut sama petir." ujar Luna dengan suara khas bangun tidurnya masih tetap di balik selimut dan Chandra malah tersenyum menanggapinya.
Chandra mengubah posisi tidurnya yang tadi miring sekarang terlentang, kedua tangannya pun saling bertautan dan ia taruh di belakang kepalanya sebagai bantal sembari menoleh pada istrinya yang ternyata masih malu.
Ya, pagi ini mungkin pagi paling memalukan bagi Luna karna ia telah lancang memeluk suaminya yang jelas membangun batas diantara keduanya.
Suaminya yang berkali-kali mengatakan hanya membutuhkan status darinya, tidak mencintainya dan berniat menyembunyikan statusnya.
Walaupun status itu disembunyikan hanya di kampus, tapi Luna menyadari jika dirinya belum dikenalkan di publik dan itu menyadarkan ia untuk membangun batas yang kokoh di hatinya untuk Chandra.
Seperti batas dua guling yang selama ini menjadi sekat hubungannya dengan Chandra di atas ranjang walaupun mereka sudah halal melakukan apapun.
Tapi, mau disadari atau belum, batas yang kokoh yang dibangun oleh Luna itu sepertinya mulai sedikit terkikis karna kasih sayang dan perhatian Chandra pada Radit, terutama Ibunya.
Kenyamanan yang diberikan oleh Chandra, dengan tak menolak pelukannya semalam juga merupakan salah satu faktor yang mendasari mulai sedikit mengikis batas yang kokoh itu.
Luna menurunkan selimutnya, mengintip Chandra yang sedari tadi tak menjawab permintaan maafnya dan ia malah menemukan laki-laki itu tersenyum manis kepadanya.
"Kamu gak kuliyah, Lun?" tanya Chandra akhirnya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan memulai pembicaraan.
Tak ingin Luna terlalu malu atas perbuatannya, dan perutnya pun sudah meronta minta diisi.
Pagi ini juga merupakan pagi pertama dalam hidup Chandra, bangun kesiangan dan belum bersiap melakukan aktifitasnya.
Luna menggelengkan kepala, "Gak Mas.. Aku nanti masuk kuliyah siang. Bukannya Pak Moreno sudah ngabari Mas ya."
__ADS_1
Chandra menganggukkan kepala karna Moreno memang semalam mengabarinya jadwal mengajar walaupun dia tak memintanya. "Berarti kalau kamu masuk kuliyah siang, kamu gak bangun pagi, gitu?" tanya Chandra yang membuat Luna langsung menyibak selimutnya dan bangun dari tidurnya.
Perempuan cantik itu lalu mengikat rambutnya, mencari sandalnya langsung berjalan menuju dapur tanpa menjawab pertanyaan Chandra.
***
Mendapatkan pesan jika Jaelani sudah sampai di perusahaannya membuat Chandra yang awalnya malas bangun kini langsung bersiap untuk berangkat ke perusahaannya.
Memang hari ini ia tidak ada meeting penting dan entah apa yang membuat seorang Chandra Abimana tiba-tiba malas hendak ke perusahaannya.
Sesampainya di anak tangga paling bawah, Chandra langsung disuguhkan pemandangan yang baru kali ini dilihatnya.
Luna begitu telaten menyiapkan sarapannya seorang diri dan para maid hanya membantunya mengulurkan bumbu-bumbu yang dibutuhkannya.
Pemandangan sepeerti itu membuat hati Chandra seketika menghangat karna baru pertama kalinya ia mendapatkan perhatian sepeerti itu.
Perhatian yang bahkan nyaris tidak pernah ia dapatkan dari kedua orangtuanya.
Mengalihkan tatapannya ke sembarang arah karna kepergok memandangi istrinya, Chandra pun langsung duduk di meja makan sembari mengecek email di macbooknya.
"Mas mau sarapan dulu apa langsung berangkat?" tanya Luna sembari membawa sebuah kotak makan.
FLASHBACK ON
"Nyonya.. Sudah bangun?" tanya Bi Asih perhatian saat melihat Luna sampai di dapur.
"Iya Bi.." jawab Luna sembari membuka kulkas mengambil bahan-bahan yang akan ia pakai untuk membuat nasi goreng.
"Bibi sudah masak tadi, Nyah." ujar Bi Asih mengingatkan Luna jika wanita cantik itu tidak perlu memasak.
"Gak apa-apa Bi.. Luna pengen masak nasi goreng buat sarapan Mas Chandra." ujar Luna sembari memanaskan wajan dan siap menuangkan bumbu untuk memasak nasi goreng yang telah disiapkannya.
"Tapi.. Tuan kurang suka sarapan nasi goreng, Nyah." ujar Bi Asih lagi yang kini mendapatkan perhatian dari Luna, terbukti sekarang Luna menoleh padanya.
"Lalu Mas Chandra sukanya sarapan apa Bi? Bukannya selama ini Mas Chandra suka aku buatin nasi goreng dan Bibi juga masak nasi goreng kan?" tanya Luna sembari mengaduk kembali nasi gorengnya dan sedikit menuangkan kecap agar lebih enak.
"Itu semua Tuan lakukan karna Tuan ingin membuat Ibu Nyonya dan Den Radit betah disini, Nyah." ujar Bi Asih yang membuat Luna menghentikan adukannya dan mematikan kompornya.
__ADS_1
Deg
Perasaan lain menyeruak di hati Luna mendengar pernyataan Bi Asih yang menandakan Chandra begitu menyayanginya dan keluarganya.
Salahkah ia? Jika batas yang kokoh itu kembali terkikis?
Luna pun menatap kembali ke wajan berisi nasi goreng dan menyadari jika pembahasan itu juga memang bertepatan dengan nasi goreng Luna yang sudah matang.
"Lalu, Mas Chandra sukanya sarapan apa Bi?" tanya Luna menggali sebuah fakta baru tentang suaminya.
"Sandwich Tuna, Nyonya. Bahannya semua sudah tersedia di kulkas." ujar Bi Asih yang membuat Luna cepat-cepat membuka kulkas kembali.
Dengan cekatan, dan dengan bantuan arahan dari Bi Asih, dua potong sandwich tuna untuk suaminya pun sudah siap dihidangkan.
Usai memasak, Luna pun menyeduh segelas teh hangat untuk Chandra lalu menaruhnya di nampan untuk diletakkannya di atas meja makan.
Berbalik badan menuju meja makan, pandangan Luna pun bersitatap dengan pandangan Chandra yang menatap lurus padanya.
FLASHBACK OFF
"Kamu buat sandwich tuna?" tanyanya dengan binar mata bahagia.
"Iya, Bi Asih yang bilang sama aku kalau Mas suka sarapan sama sandwich. Kenapa Mas selama ini mau sarapan nasi goreng kalau Mas gak suka?" tanya Luna sembari menatap Chandra, ingin mendengar alasan yang keluar dari mulut Chandra sendiri bukan orang lain.
"Karna aku hanya ingin membuat kalian nyaman. Menyesuaikan apa yang kalian suka." jawab Chandra sembari mengambil sandwichnya.
Bingo! Jawaban yang sangat diharapkan Luna memang terlontar dari mulut Chandra dan membuat pipinya seketika merah merona.
"Pipimu kenapa?" tanya Chandra usai memakan sandwichnya dan melihat Luna yang belum menyentuh nasi gorengnya, dan malah menatapnya dengan pipinya yang seperrti kepiting rebus.
"Eh, gak apa-apa Mas." ujar Luna sembari menaruh sedikit nasi goreng dari mangkuk itu ke dalam piringnya.
"Aku bawain bekal ya, Mas. Sandwich satunya ini bisa dimakan nanti kalau Mas mau." ujarnya saat melihat Chandra sudah bangkit dan mengambil tas kerjanya.
Chandra hanya tersenyum sebagai jawaban dan Luna tau jika laki-laki itu tak menolak bekal yang ingin disiapkannya.
Secepat mungkin, Luna membuka kotak makan yang masih tertutup itu lalu mengisinya dengan sandwich yang sudah tersedia dan menutupnya kembali, lalu ia pun mengambil paperbag untuk wadah kotak makan yang akan dibawa Chandra ke perusahaannya.
__ADS_1
Bersambung....