Janda Itu Istriku

Janda Itu Istriku
Belum bisa digapai


__ADS_3

"Nyonya mau masak sandwich?" tanya Bi Asih yang baru saja pulang dari pasar saat melihat Luna pagi-pagi buta sudah di dapur dengan bahan yang sudah dikeluarkannya dari kulkas untuk membuat beberapa potong sandwich.


Luna mengangguk cepat sebagai jawaban dan Bi Asih yang sedang mengeluarkan belanjaannya pun menghela napas pelan sebelum berujar, "Sebaiknya jangan Nyah."


"Heuh? Kenapa lagi Bi? Bukannya Mas Chandra sukanya sarapan sandwich.. Apa adiknya Mas Chandra yang gak suka sarapan sandwich?" tanya Luna sembari menatap Bi Asih penuh tanda tanya yang memutar di kepalanya.


Kenapa setiap ia ingin membuatkan sarapan untuk suaminya, ada saja informasi baru yang ia dapatkan. Dan apa yang tengah disiapkannya pun berakhir tidak dimakan.


Tapi, untunglah kali ini Bi Asih mencegahnya saat ia belum mulai membuatnya. Luna mengembuskan napas lega.


"Tuan Muda dan Nona Jenifer sangat menyukai sandwich, Nyah."


"Lalu Bi? Kenapa Bibi melarang saya membuatkan mereka sandwich?" tuntut Luna.


"Itu.. Itu karna Tuan Muda semalam tidak sempat makan malam karna harus menyusul Nyonya. Sepertinya Tuan Muda sangat khawatir dengan keadaan Nyonya yang belum sampai rumah juga saat Tuan dan Nona Jenifer sudah sampai di rumah." jelas Bi Asih yang membuat Luna menatapanya intens, menyelami manik mata Bi Asih untuk menemukan kebohongan dari penjelasan yang baru saja Bi Asih ungkapkan padanya.


Tapi nihil, yang ditemukan oleh Luna adalah kejujuran yang seketika membuatnya diam terpaku.


kenapa Mas Chandra sepertinya mengkhawatirkanku? apa dia mulai menganggapku sebagai istrinya? batin Luna yang kemudian menggelengkan kepala samar tidak mau terlalu memikirkannya.


Baginya, kenyataan di depannya yang mana Chandra menginginkan ia menyembunyikan status pernikahan mereka sudah menjadi cukup jawaban jika laki-laki yang menjadi suaminya itu tidak benar-benar mengharapkan ia menjadi istrinya kecuali karna butuh status untuk mempertahankan jabatannya.


"Saya harus bikin apa sekarang Bi?" tanya Luna polos sembari menatap tautan jemarinya.


Bi Asih menggelengkan kepala, dan memberanikan diri memegang tangan istri dari Tuan-nya itu. "Nyonya sebaiknya bersiap, karna sebentar lagi Tuan Muda dan Nona Jenifer pasti sudah bangun. Nyonya juga harus kuliyah kan? Biar saya saja yang memasak, Nyah."


"Tapi, Bi?"


"Itu sudah tugas saya, Nyonya." ujar Bi Asih yang membuat Luna mau tidak mau kembali ke kamarnya.


***


"Kenapa itu bibir dibiarin manyun?" tanya Chandra dengan suara parau-khas bangun tidurnya saat melihat Luna baru masuk ke dalam kamar sembari memanyunkan bibir.


"Bi Asih ngelarang aku masak buat sarapan pagi, Mas." adunya sembari duduk di sofa.


"Bibi bilang gimana memangnya? Kok kamu sampai manyun begitu? nanti kurang cantiknya kalau manyun." tanya Chandra seraya berdiri mendekati Luna yang sedang duduk.

__ADS_1


Luna mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan Chandra padanya, namun fokusnya dengan perkataan di akhir pertanyaan Chandra barusan yang membuat pipinya merona lagi-lagi hatinya menghangat saat Chandra secara tidak langsung mengakuinya cantik.


"Memang aku cantik ya Mas?" tanya Luna dengan menunduk malu-malu.


"Siapa bilang?" tanya Chandra yang membuat Luna mendongak menoleh menatapnya.


"Mas tadi."


"Kapan?" tantang Chandra yang membuat Luna mencebikkan bibirnya.


"Ya sudahlah kalau Mas gak mau mengaku." Luna cemberut lagi akhirnya yang membuat Chandra tertawa pelan melihatnya.


"Ada yang lucu ya Mas?" tanya Luna dengan menaikkan alisnya, dan Chandra mengulum senyum tak menjawabnya.


Luna yang melihat Chandra hanya menatapinya dengan tersenyum pun memukul lengan Chandra pelan. Ia tidak terima jika Chandra menganggapnya ke-GR-an.


"Mas.. ih!" Luna terus memukuli lengan Chandra dengan raut wajah kesal dan Chandra yang dipukuli terus menerus pun tidak mau tinggal diam.


Laki-laki itu dengan sekali gerakan menangkap tangan Luna dan menguncinya hingga tatapan mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat.


Cup


****! kenapa aku gak bisa nahan gini setiap aku natap bola mata jernihnya. ujar Chandra dalam hati sembari melepas kunciannya di tangan Luna.


Luna tanpa sadar memegang bibirnya yang baru saja mendapat kecupan sekilas dari suaminya.


Entah apa yang kini tengah dirasakannya, tapi yang pasti seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya, menggelitik dan membuat pipinya lagi-lagi merah merona.


***


"Kak Luna cantik banget.." puji Jenifer usai mereka sarapan pagi dan bertemu untuk pertama kalinya.


Kini mereka berdua sedang duduk di sofa ruang tengah.


Luna hanya tersenyum menanggapi untaian pujian yang dilontarkan oleh adik ipar yang baru dikenalnya itu.


Chandra yang tidak ada meeting penting pun ikut nimbrung dengan perkenalan antara adik dan istrinya itu. Dia merasa perlu waspada karna Jaelani selalu membicarakan hal yang berkaitan dengan Luna, pada adiknya.

__ADS_1


Ia tidak mau Jenifer berkata atau menanyakan hal yang pasti nanti akan menyinggung istrinya, karna bagaimanapun Luna adalah tanggungjawabnya dan menikah dengannya karna paksaan darinya.


"Anak Kakak dimana?" tanya Jenifer mencoba menggali informasi.


Luna melirik Chandra sebentar sebelum menjawab pertanyaan adiknya, "Radit bersama neneknya, Jen."


"Oh.. Gak ikut Kakak sama Kak Chandra?" tanya Jenifer lagi yan dijawab gelengan kepala oleh Luna.


"Kenapa Kak? Apa Kak Chandra gak bisa nerima anak Kakak?" tanya Jenifer polos namun terlihat Chandra tersenyum ingin mendengarkan jawaban dari istrinya.


"Mas Chandra itu baik banget Jen, dia bukan hanya bisa menerima Radit, tapi juga sangat menyayanginya. Bahkan dia menganggap Radit seperti anaknya." jawab Luna jujur sembari menatap Jenifer yang kini sedang terperangah, tidak percaya.


"Kau dengar Jen?" tanya Chandra pongah. membanggakan dirinya.


"Iya aku dengar Kak.." jawab Jenifer sembari memutar bola matanya malas pada Chandra lalu beralih lagi pada Luna. "Apa Kak Chandra juga menyayangi Kakak?"


Bukan bermaksud jahat Jenifer bertanya seperti itu, tapi saat melihat Luna yang begitu baik dan telaten dalam mengurusi kakaknya tadi saat akan sarapan membuka jalan pikirannya jika wanita yang dinikahi kakaknya adalah wanita yang cocok untuk Kakaknya.


Chandra haus akan kasih sayang dan perhatian, dan sepertinya Luna bisa memberikannya karna ia melihat Kakaknya itu senang mendapat perhatian dari Luna dari hal sepele, seperti menyiapkan makanan untuknya.


Dan Jenifer sangat menyayangkan jika Chandra hanya mempermainkan Luna. Apalagi, saat perkenalan tadi ia menemukan informasi baru jika Kakak iparnya ternyata seumuran dengannya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu sama aku? disini kan ada Kakakmu. Coba bertanya sama dia, Jen." ujar Luna dengan tetap menatap Jenifer tanpa melirik Chandra sedikitpun.


kakakmu memang menyayangi Ibu dan Radit, Jen. Tapi, aku gak berani berharap jika dia mau menyayangiku, karna itu sesuatu hal yang belum bisa digapai olehku. batin Luna meringis dan saat Jenifer beralih duduk di samping Chandra, wanita itu terlihat meneteskan air mata.


"Kak.. Kak Chandra sayang dan cinta kan sama kak Luna?" tuntut Jenifer sembari memegang lengan Chandra.


Chandra menghela napas sembari melirik Luna yang sedang membelakanginya.


Sedikit ia melihat saat tangan Luna mengusap sesuatu di sekitar matanya.


Apa wanita itu menangis? Apa dia memang terpaksa menikah dengannya? Apa sejauh ini hubungan mereka yang sepertinya terbuka dan dia tidak menolak kecupan darinya tidak berpengaruh apa-apa di hati Luna?


Chandra ingin sekali menjawab 'iya' pertanyaan dari adiknya, namun ia pun belum yakin dengan apa yang tengah dirasakannya.


Selanjutnya, ia pun melepas pegangan tangan Jenifer pada lengannya lalu berdiri dan berjalan pergi ke perusahaan tanpa menjawab apapun dan tanpa menghiraukan teriakan dari adiknya yang menuntutnya memberi jawaban atas pertanyaan yang tadi diajukannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2