
Tok~~ Tok~~~
Sial! umpat Chandra saat dia baru saja hendak membuka seluruh kancing kemeja Luna dan mendengar pintunya diketuk.
Luna tertawa pelan, wanita cantik itu merapikan kancing kemejanya dengan terburu saat nendengar dosen wanitanya memanggil suaminya.
"Pak Chandra.." panggil lagi dosen wanita itu setelah Chandra belum juga menimpalinya dari dalam.
"Sebentar, Bu." jawab Chandra akhirnya setelah dia dan Luna sudah terlihat 'agak' rapi lagi.
Ceklek~~~
"Permisi, Bu.." Luna pun tersenyum lalu menunduk saat setelah membukakan pintu untuk kembali ke kelasnya tanpa menghiraukan tatapan aneh dari dosennya.
"Ada apa, Bu?" Chandra bertanya untuk mengalihkan arah tatap rekan sesama dosennya itu yang saat ini masih menatap punggung istrinya.
Dosen wanita yang mendengar suara Chandra pun menoleh dan mengalihkan perhatiannya. "Pak Chandra... Sebentar lagi, kita.. para dosen akan menjenguk Pak Raka." ujarnya dengan apa yang memang dari tadi akan ia utarakan.
"Pak Raka masih di rumah sakit, Bu?" tanya Chandra yang memang tidak tahu menahu tentang keadaan Raka.
Raka yang dulu saat kejadian di pesta pertunangan Kezia ia beri bogem mentah berulang kali hingga wajahnya tak berbentuk, dan langsung ia tinggalkan begitu saja dan dia tidak mau tahu menahu.
Dulu, Chandra memang masih mengampuni laki-laki itu. Karena terlepas bagaimanapun kelakuannya dengan Luna.. laki-laki itu hanya terobsesi dan dan yang paling penting istrinya selamat.
Ya, karena istrinya selamat. Chandra mengampuni Raka dan membiarkannya begitu saja.
Hingga kabar jika laki-laki itu masih berbaring di rumah sakit pun ia tidak pedulikan karena sakit hati yang masih nengungkungnya atas perbuatan laki-laki tersebut.
Dosen wanita itu mengangguk sebagai jawaban. "Saya harap Pak Chandra mau ikut bersama kami menjenguk Pak Raka." sambungnya.
"Saya pikirkan nanti." jawab Chandra yang dibalas anggukan oleh dosen wanita itu lalu kembali ke ruang kerjanya.
***
"Kamu mau kemana, Jen? Seingat Mom setelah kamu sampai di Indonesia, kamu selalu pergi." Emily mulai curiga pada Jenifer.
"Aku lagi ngerawat pacar aku, Mom. Nanti kalau udah waktunya.. juga bakal aku kenalin kok sama Mom." jawab Jenifer dengan menampilkan deretan giginya.
__ADS_1
"Pacar? Sejak kapan kamu punya pacar? Nanti kalau Dad dan Chandra tahu.. pasti mereka akan memarahi Mom." ujar Emily yang membuat Jenifer kini memeluknya dari samping dengan gaya manjanya. "Kak Chandra dan Dad tidak akan tahu, kalau Mom enggak kasih tau mereka, Ya?" Jenifer pun mengedipkan matanya.
Emily menghela napas pelan, tapi demi anak tersayangnya dia pun tak bisa menolaknya, dan wanita itupun mengangguk. "Yeay.. Terimakasih, Mom." ujar Jenifer sembari mengecup pipi Momnya lalu berlalu pergi ke tempat kekasihnya berada.
***
Beberapa jam kemudian, saat jam kampus sudah boleh pulang, Chandra pun menghampiri istrinya yang terlihat lesu masih duduk di kursi dalam kelasnya.
Wanita cantik itu berasa malas untuk sekadar berdiri dari duduknya.
"Kamu sakit, sayang?" tanya Chandra saat melihat dahi Luna mengeluarkan keringat dan Luna terlihat lemah.
"Enggak, Mas.. Aku lagi gak napsu makan aja dari tadi pagi." jawabnya dengan sangat lirih sembari mengusapi keringat di dahinya.
"Dari tadi kamu belum makan?" Chandra membeo, terlihat jelas khawatirnya saat melihat istrinya begitu lemah.
Luna menggeleng lemah sebagai jawaban.
"Kamu mau makan apa, Lun?" tanya Chandra perhatian, laki-laki itu terus menatap intens wanitanya sembari mengusap wajah Luna dengan ibu jarinya.
"Aku lagi pengen bakso, Mas. Yang pedes gitu.. Tapi, Mas yang bikinin." jawab Luna apa adanya, dan selanjutnya ia menutup mulutnya dengan tangan saat menyadari telah lancang.
"Ayo." Chandra mengulurkan tangannya kemudian setelah menghela napas pelan.
"Mau kemana, Mas?" tanya Luna dengan polosnya, karena yang dibayangkannya saat ini adalah akan dibuatkan bakso yang pedas oleh suaminya.
"Mau ngajak kamu menjenguk Raka."
"Aku gak mau, Mas." tolak Luna mentah-mentah.
Chandra tidak mendengarkan, melihat wajah pucat istrinya, laki-laki itupun menggendong Luna ala bridal style menuju mobilnya.
"Pak Chandra romantis banget sih." sorak para mahasiswi maupun dosen yang dilewati oleh Chandra menuju parkiran yang dijawab senyuman datar oleh Chandra.
Sedangkan Luna, wanita cantik itu terlihat mengulum senyum sembari menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.
"Jangan terlalu banyak gerak, nanti kebangun juniornya." bisik Chandra yang membuat Luna memgeratkan pelukannya di leher Chandra.
__ADS_1
"Kita ketemu di lobi rumah sakitnya saja ya, Pak." ujar para dosen saat melihat Chandra hendak mengemudikan mobilnya yang dijawab anggukan oleh Chandra.
***
Chandra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cepat untuk sampai di rumah sakit tepat waktu bersama para dosen.
Kecepatan cepat ia lakukan karena laki-laki itu membelokkan mobilnya dahulu ke ruko milik mertuanya untuk membuatkan bakso yang diminta oleh istrinya.
Bisa saja ia membooking bakso di tempat lain, tapi untuk meraciknya sendiri ia tidak yakin jika diizinkan oleh pemilik kedainya.
"Katanya mau jenguk Pak Raka, Mas?" tanya Luna saat suaminya memberhentikan mobilnya di depan rukonya.
"Buatin bakso kamu dulu. Kamu harus makan, sayang." tutur Chandra begitu lembut dan langsung membuka seat-beltnya sembari menatap teduh istrinya.
"Bakso yang besarnya tiga ya, Mas." pinta Luna yang dijawab acungan jempol oleh Chandra.
Dengan susah payah dan dibantu oleh pegawai tertua yang dipekerjakan olehnya, Chandra pun berhasil juga akhirnya membuat satu porsi bakso buat istrinya.
Keringat yang mengucur deras dan wajahnya yang terkena sengatan uap kuah panas menjadi saksi jika suaminya tidak menipunya dan menyuruh pegawainya untuk membuatkannya.
"Enak gak?" tanya Chandra dengan wajah penuh penasarannya.
"Enak, Mas.. Mas mau cobain?" tawar Luna yang dijawab gelengan kepala oleh Chandra.
"Aaaaaak.." Luna tak menghiraukan penolakan, dan Chandra pun terpaksa membuka mulutnya saat sendok berisi sepotong bakso beserta kuahnya sudah ada di depan mulutnya.
"Kamu gak keasinan?" tanya Chandra setelah terpaksa menelan bakso dengan kuah keasinan itu.
"Enggak! Enak Mas.." jawabnya sembari menghabiskan bakso itu.
"Ibu mana ya, Mas?" tanya Luna saat ia sudah menghabiska baksonya dan Ibunya belum terlihat.
"Ibu lagi istirahat siang bersama Radit.. Besok kita kesini lagi kalau kamu mau ketemu sama Ibu." sergah Chandra dahulu karena ia yakin teman para dosennya sudah hampir sampai di rumah sakit tempat Raka dirawat.
"Beneran, Mas?" tanya Luna dengan binar mata bahagianya yang dijawab anggukan kepala oleh Chandra.
Kini, keduanya pun kembali memasuki mobil Chandra untuk menuju rumah sakit dimana Raka dirawat.
__ADS_1
Luna tidak berani menolaknya lagi, karena itu ajakan suaminya. Dan ingatkan Luna pada nasihat Ibunya, jika menolak ajakan suami itu dosa.
Bersambung...