
Melihat taman hijau di depannya sekarang telah berubah menjadi padang Es yang sangat dingin, Jani sudah menduga bahwa ini adalah perbuatan adiknya. Saat dia berbalik untuk memprotes Veronica karena melakukan serangan lebih dulu, tapi itu di hentikan oleh Veronica yang sudah menebak apa yang ingin kakaknya katakan yang berkata "kak, meskipun aku bisa mengunakan unsur Es, tapi aku belum mampu untuk membekukan seluruh taman ini dalam satu mantra."
"kalau bukan kamu, itu berarti Ibu Iris?"
"yup! Kakak benar sekali!"
Mendengar jawabannya tepat sasaran, Jani mulai merasakan keringat dingin mengalir di kepalanya lalu kembali bertanya "Veronica, apa menurutmu Ibu Iris akan marah?"
"secara logika, dia pasti akan marah besar, kak! Dan tentu saja Ayah juga akan marah!"
"haha!! Ini pasti akan menjadi hari yang paling melelahkan. Benarkan, adikku?"
"betul sekali kak!"
"apa kalian sudah selesai berbicara? Alex? Veronica?"
Tanpa di sadari oleh semua orang, terdengar suara merdu yang mampu membuat orang lain sangat terpesona, tapi bagi Jani dan Veronica itu terdengar seperti ratu neraka yang ingin menuai nyawa mereka.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Ratu Iris karena entah itu Jani atau pun Veronica mereka sama-sama merasakan ketakutan yang cukup mendalam kepada Ratu Iris. Jani sendiri merasakan kebingungan dengan rasa takut yang dia alami sekarang dan dia mencoba bertanya kepada Zein.
"Zein! Apa kau tahu kenapa aku bisa merasakan ketakutan saat Ratu Iris marah?"
"itu mungkin karena tekanan dari gelarnya yang di sebut dengan ICE QUEEN."
Zein menambahkan "ada juga faktor lain yaitu tentang master yang sangat menghormati sosok seorang ibu di dalam diri master."
"Aku anggap itu sebagai pujian." Jawab Jani dengan tenang lalu menyadari bahwa Ratu Iris sudah berada di belakang kerumunan tentara bayaran yang sudah membeku.
Suasana sangatlah sunyi samapi langkah sepatu dari Ratu Iris terdengar dengan jelas. Ketika dia sudah di belakang kerumunan, Ratu Iris hanya perlu bertepuk tangan sekali dan kemudian tubuh para tentara bayaran yang saat ini telah membeku langsung hancur berkeping-keping dan Ratu Iris kembali berjalan mendekati Jani dan Veronica.
Melihat dua orang yang menundukkan kepalanya, Ratu Iris berkata "pagi tadi aku harusnya sedang mengadakan pesta minum teh, tapi ketika aku mendengar bahwa calon Putra Mahkota dan anakku memasuki labirin di dekat ibu kota, aku segera membatalkan acara tersebut dan bergegas ke sini bersama dengan kesatria elit kita. Jadi, aku ingin bertanya siapa yang mempunyai ide memasuki labirin ini?"
"itu aku!" jawab Jani dengan tenang.
Mendengar hal itu, tatapan mata Ratu Iris langsung menuju ke arah Jani lalu berkata "baiklah, kita kembali dulu dan biarkan ayahmu yang akan memberikamu hukuman?"
"eh! Aku berhasil mendapatkan sebuah kuil yang dibangungn oleh pedagang legendaris, tapi kenapa tetap di hukum?!"
"hehe, tanyakan hal itu pada Ayahmu, dia yang menyuruhku membawamu kehadapannya untuk di berikan hukuman. lagi pula kau tidak perlu takut karena ketika dia berkata untuk memberikanmu hukuman, dia mengatakan hal itu sambil tersenyum gembira dan itu merupakan pertanda yang bagus!"
Jani tidak berkata apa-apa, tapi di dalam hatinya dia mengoreksi perkataan Ratu Iris "ingin menghukumku tapi sang Raja mengatakan itu sambil tersenyum? Entah mengapa ini mengingatkanku kepada seorang pak tua licik yang berada di bumi."
…
Sementara itu di bumi:
__ADS_1
*ACHOO!!!*
Suara bersin keras terdengar dari kantor menteri BUMN. Seorang kepala direksi yang saat ini sedang menyampaikan laporannya bertanya "Pak Menteri, apa anda merasa kurang sehat?"
"tidak! Aku bersin mungkin ada salah keturunanku yang saat ini sedang menghinaku di suatu tempat. Baiklah! Lanjutkan laporanmu!"
Sang kepala direksi itu dengan sigap melanjutkan laporannya.
….
Kembali ke sisi Jani:
Saat ini Jani sedang berada di ruang tahta dan berlutut di hadapan ayahnya yaitu sang raja, Roman Van Lester. Di sampingnya ada juga berdiri kepala kuil cahaya suci yang menatap Jani dengan tatapan serigala yang sedang kelaparan.
Jani menyadari tatapan itu, tapi dia mengabaikannya dan menunggu keputusan ayahnya yang baru saja mendengarkan penjelasannya.
Setelah beberapa saat kemudian, Raja akhirnya memutuskan "baiklah, atas tindakanmu yang sangat ceroboh dalam memasuki labirin yang berbahaya dan mengakibatkan tiga bersaudara terluka dan membahayakan nyawa adikmu, aku memutuskan selain hak kepemilikan kuil, semua harta yang kau dapatkan akan di sita dan di jadikan harta karun kerajaan!"
'aku sudah menduganya, ini pasti perampokan oleh sesama keluarga lainnya.' Kata Jani yang telah memahami niatan sebenarnya dari ayahnya.
"apa kau keberatan dengan hukuman yang aku berikan?" tanya Raja kepada anaknya.
"tidak, aku menerimanya." Jawab Jani dengan tenang lalu dia berdiri dan kemudian melepaskan gelang penyimpanan miliknya lalu memberikannya kepada kepala pelayan istana.
Saat Jani hendak meninggalkan ruangan singgasana, dia kemudian mendengar uskup agung yang selama ini diam, kini dengan terang-terangan memaki ayahnya.
Melihat hal itu, Jani hanya tersenyum dan bersandar di tembok terdekat dan menonton sebuah pertunnjukan yang akan segera di mulai.
"yang mulia!! Kenapa Anda tidak mengambil hak kepemilikan kuil dari tangan Pangeran ketiga!!?"
"satu kuil saja, sudah membuatku pusing tentang 'uang sumbangan' yang terus membesar tiap tahunnya. Sekarang jika aku mengurus satu kuil lagi, bisa-bisa uang kas kerajaanku tidak sanggup untuk menutupi 'uang sumbangan' itu." Jawab sang Raja sambil menggelengkan kepalanya dengan berpura-pura tidak sanggup untuk membayar 'uang sumbangan' dari kedua kuil.
Tentu saja kalimat ini di ucapkan oleh Raja untuk menegur tentang uang sumbangan dari pihak Uskup yang terus bertambah setiap tahunnya. Mendengar perkataan Raja Roman, sang Uskup yang tadinya berapi-api kini terdiam kaku dan tertunduk diam di samping Raja.
Sang Pengawal Uskup yang tidak terima jujungannya di permalukan berkata dengan nada mengancam kepada sang Raja "yang mulia!! Tolong hormati Uskup kami!! Karena Uskup kami telah di berkati oleh oleh Dewi cahaya di Katredal pusat."
Raja Roman adalah Penyihir unsur Api tingkat 10 dan hal itu membuatnya memiliki rasa superior yang besar dan juga dia mulai membenci seseorang yang memberikan ancaman kepadanya. Mendengar ucapan pegawal uskup itu, membuat Raja Roman memiliki ekspresi yang sudah lama tidak dilihat oleh semua orang yaitu Marah dan tatapan matanya sangatlah dingin.
"apa yang terjadi jika aku tidak menghormati Uskupmu itu?"
"jika itu terjadi, maka kami akan melaporkan tindakkan anda ke katredal pusat."
Semua orang di buat terkejut dengan jawaban bodoh dari pengawal tersebut dan tentu saja, Uskup juga menyadari hal itu dan dia segera berkata "yang mulai Raja, tolong jangan di ambil hati perkataan ksatria suci muda itu. Dia masih perlu banyak belajar dari kebijaksanan dan kepintaran milik yang mulia!"
"haha! Kau tidak perlu tegang begitu,Pak Tua!! Aku bisa memaafkannya." Jawab Raja dengan nada tenang dan itu membuat sang Uskup merasa lega. Sayangnya itu tidak berlangsung lama karena perkataan berikutnya dari sang Raja yang kembali menatap pengawal Uskup tersebut "tapi biar aku memberitahumu sebuah fakta kecil, Bocah! Jika setelah ini kau berlari menuju Katedral pusat untuk melaporkan tindakku kepada sekelompok orang tua Picik disana, maka bisa aku pastikan mereka semua tidak akan peduli kepadamu dan mungkin saja kau akan di keluarkan dari jajaran Ksatria Cahaya Suci."
__ADS_1
Sang pengawal ingin membantah pertanyaan sang Raja, tapi itu dihentikan oleh sang Uskup yang memberinya tatapan untuk diam. Setelah pengawal itu terdiam, sang Uskup berkata "yang mulia Raja, tolong tunjukan kebijaksanaan anda dan biarkan masalah ini berlalu."
"baiklah, aku akan berhenti, tapi tuan Uskup biar aku memberitahumu satu hal terakhir. Di sini adalah kerajaanku dan tidak ada seorang pun yang berani mengancamku kecuali tiga Ratuku!! Apa kau mengerti?"
Sang Uskup tentu saja memahaminya karena itu sudah menjadi rahasia umum bahwa siapa pun mereka yang berani mengacam sang Raja, akan berhadapan dengan 'Tiga Ratu Kematian Westeria'.
Meskipun dia sangat marah sampai wajah memerah, tapi sang Uskup tidak meledak dan membukukkan badannya lalu berkata kepada sang Raja "saya memahaminya, yang mulia! Dan juga saya mohan izin untuk pamit dulu karena ada beberapa urusan yang perlu saya lakuakan sekarang."
"baiklah, kau boleh pergi dan ingat! lusa nanti akan ada penobatan Pangeran ketiga menjadi Putra Mahkota."
"saya pasti akan menghadirinya, yang mulia!"
Setelah itu, Uskup bersama dengan beberapa pengawalnya pergi dari ruang tahta. Saat mereka berada di lorong istana, mereka melihat Jani sedang memandangi peta benua Arca tanpa memperduli keberadaan Uskup yang berjalan melewatinya, tapi sebelum mereka berjalan cukup jauh Jani berkata "seorang Uskup yang harusnya dianggap suci, kini tanpa malu-malu ingin merebut sesuatu yang di miliki oleh seorang pemuda. Heh! Aku bertanya-tanya apa wajahnya memiliki kulit setebal diding ibukota?"
Setelah mengatakan hal itu, Jani langsung berpindah menuju bayangan lukisan dan para pengawal yang tidak tahan dengan perkataan Jani langsung berbalik dan ingin mengejar Jani, tapi mereka tidak melihat siapa pun di sana.
Sang Uskup segera berkata "tidak perlu mengejarnya! karena saat dia sedang bebangga diri karena telah menjadi putra mahkota, saat itulah akan ada pertunjukkan yang menarik untuk di tonton."
Setelah mendengar perkataan dari sang Uskup, para pengawal tidak lagi memperdulikan perkataan Jani dan kembali berjalan di belakang sang Uskup sambil berkata "tuan benar! Aku tidak sabar melihat ekspresinya yang terkejut dengan warganya yang membuat kerusuhan pada hari yang begitu penting!"
"benar! Itu akan menjadi pemandangan yang sangat bagus!" tambah seorang pengawal lainnya.
Setelah Rombongan itu pergi, dari bayangan lukisan Jani muncul dan tersenyum dingin sambil berbicara di dalam hatinya 'heh! Ingin menekanku dengan tekanan massa? Sungguh kebodohan yang hakiki!'
Setelah berbicara dengan dirinya sendiri, Jani berkata pada ujung lorong yang terlihat kosong "kalian bisa keluar sekarang!"
Ada total delapan orang yang tiba-tiba muncul dari lorong istana dan mereka semua berlutut di hadapan Jani. Orang yang menjadi pemimpin mereka berkata "yang mulia pangeran, apa anda membutuhkan sesuatu?"
"itu benar, paman Zero! Aku ingin bertanya, apa kalian bisa melacak para preman bayaran yang digunakan gereja?"
"tentu, itu sangat mudah untuk di lakukan." Jawab seorang yang di panggil Zero oleh Jani.
"bagus, kalau begitu kamu bayar mereka dua kali lipat dari yang gereja tawarkan lalu suruh mereka menyebarkan gosip buruk tentang gereja yang ingin memonopoli keagamaan di kerajaan ini."
Kerajaan Westeria tidak menyuruh warganya untuk memuja dewa tertentu. Oleh karena itulah, di kerajaan ini banyak dari mereka yang memuja lebih dari satu dewa dan bahkan ada sekelompok orang yang masih memuja dewa kegelapan, Yotus meskipun tidak melakukanya secara terbuka.
Mendengar permintaan Jani, dia segera menjawab "baiklah! akan segera saya lakukan!"
"aku tunggu kabar baik darimu." Jawab Jani lalu dia kembali memandangin lukisan yang bergambar peta benua Arca. Saat Jani merasakan bahwa orang itu belum pergi, dia kembali melirik kelompok tersebut dan bertanya "Paman Zero, apa kamu memerlukan sesuatu dariku?"
"sebenarnya sayang ingin bertanya kepada yang mulia pangeran."
"apa itu?"
"Dari mana yang mulia belajar sihir bayangan?"
__ADS_1