KAISAR DUA DUNIA

KAISAR DUA DUNIA
Akhir dari pertempuran melawan kera


__ADS_3

Saat semburan Magma menyerang Jani, dia dengan cepat melompat. sayangnya apa yang menunggu di udara bukanlah tempat yang aman, tetapi puluhan batu yang di lemparkan oleh beberapa kera Batu.


Untungnya Jani punya reaksi yang cukup tinggi dan dia pun berteleportasi ke sisi salah satu kera Batu lalu membunuhnya dengan sekali tebasan pedangnya. Setelah berhasil menghindari serangan pertama, Jani berkata "hei, itu tidak adil menggunakan anak buah-mu dalam pertarungan ini."


Sambil melompat ke arah Jani, dia berkata "Maaf Alex! Konsep adil dalam pertarungan, tidak ada di antara Para Monster." Saat Raja Kera akan mendarat, Jani sudah siap dengan kuda-kudanya dan bersiap menyerang dengan dua pedang sambil berkata dalam hatinya 'Aliran dua Golok: Pengait Rumah Jagal!'


Menggunakan pedang petir untuk menusuk lengan kirinya lalu menariknya agar Jatuhnya langsung berbelok dan terjatuh di samping Jani. Setelah terjatuh, Jani menggunakan pedang Magma apinya untuk menebas leher Raja kera.


Tebasan Jani tepat mengenai Leher Raja Kera, tapi karena tubuh Raja Kera di lindungi oleh lapisan Batu Vulkanik, tebasannya tidak langsung memotong kepalanya dan hanya menggores sebagian lapisan kulit batunya. Melihat hal itu, Jani langsung menebasnya sekali lagi, tapi berbeda dengan sebelumnya dia menebasnya dengan sisi tumpul dari Golok dan tebasannya menghasilkan bunyi yang cukup keras.


*TANG!!*


Setelah melakukan serangan kedua, Jani segera melompat mundur karena dia hampir di tangkap oleh tangan Raja Kera. Sementara itu, Raja Kera yang menerima serang kejutan pun berdiri lalu tertawa "Haha!... Sayang sekali serangan-mu sama sekali tidak mempan kepadaku."


Jani tersenyum lalu bertanya balik "apakah begitu?"


Setelah Jani bertanya, terdengar suara retakan beberapa kali dan tidak lama kemudian, lapisan batu di leher Raja Kera sedikit demi sedikit mulai jatuh. Terkejut dengan hal tersebut, Raja Kera bertanya "bagaimana kau!?"


"hehe.. lucu melihat kau terkejut karena meremehkan dua serangan yang kau anggap lemah itu. Singkatnya tebasan pertamaku untuk membuka  celah dan barulah di tebasan kedua, aku memukul dengan sekuat tenaga agar retakan di celah itu mulai melebar dan akhirnya lapisan itu terlepas dengan sendirinya."


Raja Kera tertawa lalu berkata "Haha... Luar biasa! Aku terkesan kau bisa memikirkan serangan seperti itu, tapi..." saat Raja Kera menjawab, dia dengan sengaja menunjukkan lehernya yang terbuka dan dari dalam kulitnya perlahan muncul kembali lapisan batu yang sebelumnya di hancurkan Jani lalu setelah lapisan batu tumbuh kembali, Raja Kera melanjutkan "Sayangnya aku bisa dengan mudah menumbuhkan lapisan batuku seperti semula, Bagaimana terkejut?"


Jani dengan santai menjawab "tidak, aku sudah menduga kemampuan regenerasi milikmu itu. Jadi, sepertinya aku harus mulai sedikit lebih serius!"


Setelah itu, Jani melempar kedua pedangnya ke udara dan saat dua pedangnya berada di udara, Jani berkata dengan tenang "muncul."


Lalu dalam hitungan detik, Jani telah mewujudkan sarung tangan Ifrit di tangannya. Setelah Jani mengenakan sarung tangannya, dia menangkap pedang harimau lava di udara dan untuk pedang naga petir, saat ini telah sepenuhnya berubah menjadi wujud dari Tempest versi ukuran kecilnya karena kekuatannya yang belum kembali sepenuhnya.


Melihat salah satu pedang Jani berubah menjadi seekor naga, Raja kera tertawa dan berkata dengan nada menghina ke arah Tempest "Hahaha!! Tidak aku sangka Monster penguasa langit telah di reduksi menjadi sebuah alat!! Sungguh Kadal yang menyedihkan!"


Tempest adalah mantan monster penguasa langit dan tentu saja dia akan sangat marah mendengar perkataan tersebut, tetapi ada suatu alasan di dalam dirinya yang membuatnya tetap tenang dan tidak menanggapi hinaan tersebut.


Melihat naga petir tersebut tidak menanggapi, Raja kera melanjutkan perkataannya "apa dia menjadi tidak berakal karena telah di ku....!!"


Sebelum menyelesaikan perkataannya, dia merasakan serangan kuat di perutnya yang membuatnya terpental ke atas dan dalam sekejap menghantam langit-langit gua. Setelah hantaman tersebut, para kera batu akhirnya menyadari yang menyerang Raja mereka adalah Jani dan kini mereka melihat Jani ingin melanjutkan serangannya. Melihat hal itu, mereka semua mulai bergegas untuk menggangu  Jani dengan segala cara, tapi seekor naga mulai berputar di seluruh area gua sambil melancarkan serangan secara membabi buta dan di saat bersamaan Tempest berkata "selama masih ada aku, kalian pikir bisa menyerang masterku!? Tidak semudah itu, BAMBANG!!" 

__ADS_1


Mendengar nama itu, mulut Jani sedikit  berkedut tetapi segera dia kembali menjadi fokus dan tanpa ada yang mengganggunya dia akhirnya siap dengan Mantra Sihir unsur Api tingkat 4-nya lalu dia segera mengambil lompatan besar dan melesat kearah Raja kera yang masih tertanam di langit-langit gua.


Tentu saja Raja kera yang tidak sempat menghindar kini mulai mengambil posisi bertahan atas perutnya yang masih terluka akibat pukulan telak Jani sebelumnya. Tentu saja Jani sudah mengharapkan hal ini dan segera dia menggenggam bola api kecil  di tangannya hingga menyerap ke dalam sarung tangannya dan setelah menyerapnya, Jani segera melancarkan serangan keduanya dengan menyebutnya di dalam hatinya 'gerakan pertama: tinju neraka!"


*DOOOOMMMM!!!*


Sekali lagi sebuah tinju keras menghantam Raja kera tetapi dia tidak menyangka kekuatan tinju ini sangat kuat hingga membuatnya  semakin tertanam di langit-langit gua. Setelah selesai menyerang Raja kera Jani kembali ke dasar gua lalu berkata dengan santai "Sun Metafora."


Dan tepat setelahnya sebuah ledakan besar terjadi di langit-langit gua dan dari ledakan itu terbentuk sebuah bola api raksasa yang membakar seluruh langit-langit gua.


....


Sementara itu di lain sisi.


Pertempuran melawan ribuan Monster bukanlah pertempuran yang mudah karena setiap dari kera batu ini memiliki kulit yang keras dan beberapa di antara mereka bahkan ada yang di kategorikan yang lebih tinggi dari kera batu biasa yaitu, Gorila Batu.


Monster itu berukuran dua kali lipat dari tubuh manusia biasa dan di tambah mereka memiliki kekuatan yang sangat besar yang membuat pasukan pertahanan membutuhkan tenaga ekstra menahan serangan monster tersebut.


Melihat situasi medan pertempuran yang semakin kacau, Ratu Agatha yang baru saja membunuh salah satu Kera batu bertanya kepada anak buahnya "bagaimana keadaan formasi utama!?"


 Mendengar hal itu, Ratu Agatha mulai marah dan bertanya kembali "APA YANG DILAKUKAN VISCOUNT ITU HAH!!?"


Melihat Ratu mereka marah, untuk sesaat prajurit yang melapor tidak berani menjelaskan. Meskipun dia gemetar ketakutan, Prajurit itu tetap melanjutkan laporannya "Viscount Antonio sendiri tidak ikut melakukan serangan karena dia berkata tidak mau mengotori pusaka keluarganya dengan darah Monster sehingga penyerangan pasukan Kavaleri sebelumnya di pimpin oleh pelayan keluarga Viscount yang mengenakan zirah milik Viscount untuk menutupi kebenarannya."


Mendengar laporan tersebut, Aura berwarna merah darah milik Ratu Agatha segera keluar dan meledak begitu saja seolah sudah tidak bisa di bendung lagi. Di saat itulah sebagian Prajurit senior telah mengingat sebuah cerita lama tentang Seorang gadis muda yang mampu memimpin 4 Juta pasukan dari suku Barbar dan di juluki dengan nama 'The Queen Barbarian', tapi itu masih hanya sebuah cerita yang jauh di masa depan.


Di saat Ratu Agatha akan mengamuk, tiba-tiba dari arah markas para Kera terdengar ledakan yang sangat keras dan seketika pertempuran berhenti sejenak untuk melihat dari mana asal ledakan tersebut.


Di saat semua melihat ke arah ledakan, tiba-tiba Ratu Agatha berkata dengan lantang sambil mengayunkan pedangnya "SELAGI MEREKA LENGAH,BUNUH DAN PUKUL MUNDUR MEREKA SEMUA!!"


Semua prajurit pun kembali tersadar dan segera melakukan serangan balik terhadap para Kera. Di saat pasukan Agatha mulai kembali merebut kendali atas pertempuran ini, Lisa perlahan berdiri lalu menyimpan senjatanya dan berkata kepada pengawalnya "ayo kita kembali!"


Para pengawal tidak berani membantah perintah Lisa dan hanya mengikutinya dengan tenang.


....

__ADS_1


Sementara itu di sisi Jani.


Setelah debu akibat dari ledakan sihir Jani mereda, perlahan ratusan mayat kera yang mati pun terlihat dan di antara mayat tersebut ada satu yang masih bertahan hidup dengan perut berlubang menembus badannya yang tidak lain adalah Sang Raja kera.


Jani sudah tahu bahwa musuhnya masih selamat dan dia pun perlahan mendekati tubuh Raja Kera yang sekarat sambil memegang Golok Harimau Lava di tangannya. Melihat pemuda yang melukainya mendekat, Raja Kera memaksakan dirinya untuk mengambil posisi duduk sambil bersandar pada mayat kera batu di sekitarnya.


Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, Raja Kera berkata "Selamat... tadi itu pukulan yang sangat hebat! Aku tidak menyangka kau akan memahami kelemahanku begitu cepatnya!"


Di saat Jani mendengarnya, dia tidak menanggapinya dan hanya terus berjalan mendekati Raja Kera.


Raja Kera pun tidak memperdulikannya dan lanjut berkata "meskipun aku memang memiliki regenerasi tidak terbatas, tetapi itu masih membutuhkan waktu dalam prosesnya tergantung dari luka yang aku derita. Jika melihat kondisiku ini mungkin butuh waktu yang sangat lama untuk kembali ke dalam keadaanku yang sebelumnya."


Saat dia selesai perkataannya, Jani telah sampai di depannya dan Jani yang melirik kearah Raja Kera bertanya "lalu apa yang ingin kau sampaikan setelah mengucapkan semua omong kosong itu?"


Raja kera menundukkan kepalanya, lalu setelah diam beberapa saat dia menjawab "aku ingin kau mengampuni aku dan seluruh kera Batu yang tersisa lalu membiarkan kami kembali ke gunung berapi. Jika itu terlalu berlebihan, maka cukup mereka saja yang di ampuni dan kau boleh membunuhku di tempat ini sekarang juga."


Jani sebenarnya sejak awal merasakan sesuatu yang membuatnya curiga, tentang kenapa Monster tingkat SSS sepertinya sangat mudah di kalahkan? Saat dia memikirkan hal itu, Jani melirik ke batu meteor besar yang tidak berada jauh darinya lalu seketika dia bertanya kepada Raja Kera "Raja Kera Goku! katakan kepadaku, apa batu itu menyerap Mana-mu?"


Raja Kera seketika terkejut, lalu beberapa saat kemudian dia berkata "memang, batu itu perlahan menyerap Mana-ku."


Setelah mengetahui tentang hal itu, Jani dengan tenang mengambil keputusan "baiklah! Hari ini aku bebaskan kau pergi dengan seluruh rakyatmu, tapi kau harus meninggalkan batu besar itu di sini!"


Tanpa banyak berpikir Raja Kera menjawab "baiklah aku menerimanya!" setelah itu dia berteriak kepada seluruh kera yang tersisa untuk mundur dengan cepat. Beberapa Gorila Batu membantu Raja Kera untuk pergi tepat sebelum dia pergi Raja Kera bertanya "sebelumnya aku ingin bertanya kepadamu Putra Mahkota, kenapa kau membiarkan aku pergi?"


Jani menjawabnya "aku hanya tidak terlalu menikmati pertarungan kita yang tadi karena kau dalam kondisi terlemah-mu. Jadi, cepatlah pulih agar kita bisa bertarung sekali lagi!"


Raja kera terkejut, lalu setelahnya dia tertawa dan berkata "HAHA!! Kau benar-benar menarik, Putra Mahkota!. Baiklah, kita akan bertemu lain waktu!"


Setelah itu dia memberi tanda kepada Gorila Batu untuk membawanya pergi dari sini. Sesudah Raja Kera pergi, Jani memberi pesan kepada Lisa dan Ratu Agatha bahwa Raja Kera telah pergi dan menarik semua pasukan Keranya.


Setelah semuanya selesai, Jani melirik ke arah Batu Meteor besar tersebut lalu berkata "Baiklah! Apa yang aku harus lakukan dengan Batu ini?"  


 


        

__ADS_1


__ADS_2