
Mendengar tentang sebuah sumber Kristal Mana murni, Raja Roman menggebrak meja pertemuan.
*BRAAKK*
Suaranya gebrakannya sangat kuat sampai lantai di bawah meja retak karena kekuatan Raja Roman. Ratu Iris yang duduk di samping Raja berusaha menenangkannya dengan berkata "Rajaku mohon tenangkan dirimu, sumber Kristal Mana murni memanglah sesuatu yang kita cari selama ini, tapi kamu pasti tahukan… sebuah perumpamaan yang sering kita rasakan dulu?"
"perumpamaan apa? Aku tidak mengingatnya?" Jawab Raja yang teralihkan oleh pertanyaan Istri pertamanya.
"Duh!... masa kau melupakannya! Perumpamaan seperti ini 'Di mana ada kristal Mana murni, di situlah ada Monster yang menjaganya!"
Mendengar perkataan Iris, Raja akhirnya mulai mengingat tentang petualangannya ketika dia masih muda dan seperti yang di bilang Iris. Ketika mereka menemukan sarang monster Langka tingkat A dan menghabisinya, di sarang monster tersebut pasti akan di temukan sebongkah batu kristal Mana murni.
Jika sebongkah kristal murni saja sudah di jaga monster tingkat A, Bagaimana dengan sebuah Goa yang di penuhi dengan kristal Mana murni?. Itulah yang terlintas di pikiran sang Raja yang raut wajah kini diliputi dengan perasaan cemas.
Raja pun mulai menenangkan dirinya lalu kembali bertanya "Borkus, coba engkau ingat kembali pada masa kecilmu. Ketika kau menemukan Goa tersebut, apakah kau menemukan monster di sana?"
"aku sendiri tidak begitu ingat, Yang mulia. Tapi temanku yang bersamaku waktu itu, menemukan dua buah taring di dalam goa tersebut dan kami menjadikannya sebuah kalung sebagai tanda persahabatan kita."
"kalau begitu di mana temanmu sekarang? Lalu bisakah aku melihat kalung mu itu?"
Borkus melepaskan kalung yang dia gunakan dan memberikannya kepada Raja Roman. Setelah memberikannya kemudian dia menjawab pertanyaan Raja yang sebelumnya "aku dan sahabatku memutuskan untuk berpisah di perbatasan kerajaan ini dan kekaisaran Rohden untuk mencapai keinginan kami menjadi Jendral di dua negara yang berbeda dan membangun kerja sama antara dua negara ini."
Sambil memeriksa kalung taring tersebut, Raja kembali bertanya "Jadi temanmu kini berada di kekaisaran Rohden?"
"iya! tapi sayangnya setelah kami berpisah, aku tidak mendapat kabar tentang dia lagi meskipun aku sudah mencoba mengiriminya surat berkali-kali." Kata Borkus yang mengenang tentang sahabatnya.
"aku mengerti."kata Raja yang memahami kesedihan Borkus lalu dia melirik Agatha dan berkata "Agatha, tolong kamu periksa tulang ini melalui doa-mu dengan Dewa Makhluk Buas, Skaratu."
"baiklah." Jawab Agatha dengan tenang lalu dia mulai memanjatkan doanya.
Sambil menunggu Doa Agatha, Raja mulai berkata kepada Borkus "aku bisa menyimpulkan dua hal, satu! Dia gagal mencapai tujuannya dan enggan memberitahumu. Dua! Dia terpaksa memberitahukan tentang Goa tersebut kepada kaisar Rohden untuk mendapatkan jabatan seorang Jendral yang dia inginkan!"
"tidak mungkin yang mulia, aku sangat mengenal dan memahaminya! Dia tidak mungkin menjual rahasia kami hanya demi sebuah jabatan semata!" kata si tua borkus yang masih mempercayai sahabatnya.
"Borkus. Ada tiga hal yang bisa merusak persahabatan antara para pria yaitu Harta, tahta, Wanita! Dan aku dulu sering merasakan penghianatan seperti itu!"
Mendengar nasehat dari Raja, Borkus masuk ke dalam pemikiran yang mendalam dan Raja Roman tahu tidak mudah menerima kabar bahwa orang yang kita percayai telah berkhianat kepada kita.
Tidak lama kemudian, Agatha selesai berdoa dan berkata "menurut para leluhurku yang berada di dekat Dewa Skaratu, taring berasal dari monster Monyet batu, tapi monster itu telah mati lebih dari 200 tahun yang lalu."
Setelah mendengar informasi dari Agatha, Ratu kemudian bertanya "Borkus, apakah saat temanmu menemukan tulang ini ada lebih banyak tulang?"
Borkus terbangun dari pikiran mendalamnya lalu setelahnya dia menjawab "itu banyak sekali! Sampai tumpukan tulang waktu itu melebihi tinggi badan kami."
__ADS_1
"jika seperti itu, maka dugaan ku benar! Alice, kau pernah menemukan kasus yang serupa kan?"
Ratu Alice yang di ingatkan oleh Iris menjawab dengan wajah yang sangat muram "ah, aku ingat sekali! Itu adalah malapetaka yang tidak akan pernah aku lupakan dan juga merupakan dosa yang aku simpan selama ini!"
"Alice! Bukankah sudah aku peringatkan bahwa itu bukan salah mu!?" jawab Raja Roman dengan marah.
"aku tahu, Sayang! Aku tahu itu…, tapi setiap aku mengingat tentang tangisan dan teriakan dari mereka yang terus-menerus di lahap oleh monster itu, aku terus merasakan itu adalah kesalahanku!"
"Alice, kami mengerti perasaanmu, tapi kamu harus paham bahwa kebangkitan monster itu adalah skema semua penduduk untuk membunuhmu dan jika mereka mati, itu adalah salah mereka yang menuai apa yang mereka tabur!" kata Ratu Iris yang mengingatkan tentang kejadian yang sebenarnya.
Alice pun menenangkan dirinya, lalu berkata kepada Borkus "maaf Borkus, aku jadi kehilangan ketenangan. Menurut informasi yang di berikan oleh kak Agatha, Goa yang kamu temukan itu adalah sarang monster tingkat Double S ke atas atau mungkin monster tingkat Legenda yang sedang dalam masa hibernasi mereka."
"Monster Legenda? Mohon maaf Ratu! Bukankah Monster itu hanya sebuah Rumor di antara para tentara bayaran?"
"mereka beneran ada loh! Cerita yang tadi kau dengar itu adalah pengalamanku saat menghadapi Monster tingkat Legenda! Kalau tidak salah monster bernama 'Serigala Vampir'"
Mendengar kata Serigala Vampir, Borkus mengingat kisah tentang Ratu Alice yang menyebar ke seluruh negeri tentang pertarungan-nya melawan Serigala Vampir yang melegenda lewat para Penyair jalanan.
Dikisah-kan awalnya Monster itu di gunakan untuk membunuh sang Ratu, tapi sialnya mereka yang merancang rencana pembunuhan ini tidak mengetahui tentang kekuatan monster tingkat legenda yang menyebabkan kematian lebih dari 500 warga di sana.
Alice melanjutkan ceritanya "meskipun aku sempat terkejut melihat monster itu membunuh banyak warga dalam waktu 3 detik, tapi setelah aku tersadar aku melempar monster itu menjauh dari desa lalu mulai bertarung dengannya di dalam hutan, tapi monster yang terganggu saat melakukan hibernasi adalah monster yang benar-benar kuat melebihi tingkatannya sendiri dan aku sempat kewalahan dalam beberapa detik. Meskipun dia sangat sulit di lawan, tapi aku tetap berhasil membunuhnya!"
Agatha yang mendengar cerita versi Alice berkata "haha…Alice, Tolong jangan terlalu merendahkan dirimu seperti itu. Meskipun kamu sempat berkata kewalahan, tapi aku melihatnya sendiri! Kamu mengalahkan monster itu hanya dengan dua Mantra sihir saja!"
Raja yang melihat pembicaraan melewati topik yang di bahas, mulai menghentikan perdebatan antara Agatha dan Alice "Sudah cukup tentang mengingat masa lalunya! Pokoknya kesimpulan kami adalah monster yang ada di dalam Goa itu sangat berbahaya dan jika pihak kekaisaran Rohden tanpa sengaja membangunkannya saat menambang kristal Mana murni di sana, maka yang mengalami kerugian paling besar adalah kerajaan kita karena harus mengalahkan Monster itu dengan cepat sebelum dia menuju kota terdekat untuk mencari makanannya."
"untuk saat ini, kamu dan Pangeran Marcus terus gempur pasukan mereka bahkan bila perlu rebut kota benteng terdekat mereka sehingga mereka menganggap ini bukan hanya pengalihan perhatian semata."
"tapi yang mulia! Tentaraku dan Ordo Pangeran kedua tidak cukup untuk menggempur mereka."
Yang menjawab bukanlah Raja, tapi Agatha "kalau itu tidak perlu kau khawatirkan! Aku akan maju ke garis depan bersama dengan sekiranya 10.000 tentara dari berbagai kota lainnya."
Raja tidak menolak permintaan istri keduanya dan hanya melanjutkan perkataannya kepada Borkus "lalu untuk mencegah Monster itu bangun dari hibernasi nya, kita perlu memerlukan pasukan yang bagus dalam misi rahasia…. Kayaknya aku perlu mengandalkan Putra Mahkota ku lagi deh!"
Mendengar hal itu, Alice berkata "kenapa harus Alex lagi! Aku baru saja bertemu dengannya kemarin, tapi kenapa kamu tega memisahkan kita lagi seperti ini, Sayang!?"
"haa… Alice, kata-katamu itu sungguh berlebihan tau! Bukankah Tadi malam kau menyelinap ke kamar anakmu sendiri dan tidur dengannya semalaman sampai meninggalkanku sendirian di kamar?" kata Raja yang menceritakan kisahnya semalam.
"bukannya kamu sudah tertidur! Kenapa kamu bisa tahu?"
"sudahlah, aku tetap akan mengirim Alex ke sana karena kebetulan dia juga ingin mengunjungi tempat itu untuk suatu alasan tertentu. 'Itu akan membunuh dua burung dengan satu batu'"
"baiklah! karena rencana kita telah di buat. Sekarang tinggal persiapannya dengan para bangsawan terkait. Iris tolong sebarkan berita ini kepada bangsawan lainnya."
__ADS_1
"baik, Rajaku."
"Bernard, panggil Putra Mahkota ke sini untuk membahas masalah ini dengannya!"
"segera hamba Laksanakan!"
"lalu Alice kirim Borkus ke perbatasan timur segera! Dan untukmu Borkus, rahasiakan rencana ini sampai Ratu Agatha dengan pasukannya datang agar mereka terkejut dengan serangan dadakan kita nantinya."
"oke akan segera aku persiapkan sihir teleportasi nya." Jawab Alice yang berjalan ke ruang samping meja untuk mempersiapkan sihir teleportasi.
"aku mengerti yang mulia!" jawab Borkus dengan rasa penuh hormatnya.
Setelah sihirnya siap, Borkus berjalan menuju lingkaran sihir lalu sebelum menghilang dia berkata "semoga kemenangan bersama kita semua!" dan dia kembali menuju perbatasan timur.
Hari ini tidak ada yang mengetahui tentang kembalinya Jendral Borkus dari perbatasan Timur dan menyusun Strategi balasan bersama Raja dan ketiga ratunya terhadap agresi militer dari kekaisaran Rohden. Ini juga akan menjadi sebuah momentum bersejarah di mana para penyair menyebarkan berita tentang lahirnya pahlawan baru, tapi itu akan menjadi cerita di masa depan nantinya.
…
Sementara Strategi selesai di bahas, Jani masih baru saja selesai melakukan inspeksi dan mendapatkan 50 Ksatria yang tidak memenuhi standar fisik minimun atau mereka bisa juga di sebut gendut.
50 ksatria tersebut di pisahkan dan berbaris di depan saling berhadapan dengan ksatria lainnya. Sambil berjalan melawati antara keduanya, Jani berkata "dari 5000 ksatria di ibukota, untung saja hanya 50 dari kalian saja yang menjadi penumpang gelap seperti ini."
"kalau saja ada lebih dari 100 orang, HEH!! Bubarkan saja seluruh ksatria ini!" kata Jani yang berkata dengan nada mengancamnya.
"baiklah, coba aku kepada kamu. Siapa namamu!?"
Seorang pria gendut menjawab dengan keras sampai lemak di tubuhnya ikut bergetar "Siap, Lenon! Yang mulia!
"lalu sebagai seorang ksatria, kenapa dalam melakukan gerakan dasar sebanyak 20 kali sudah membuatmu terkapar di tanah?"
"Siap! Saya tidak pandai memainkan pedang yang mulia!"
"lalu apa yang kau anggap paling kau kuasai?"
"menghitung uang, Yang mulia!"
"kalau begitu, kenapa kau tidak membuka toko saja, Hah!?"
Lenon menjelaskannya dan Jani yang mendengarkannya hanya menggelengkan kepalanya dan dia juga memberitahu bahwa ayahnya-lah yang memasukannya ke dalam pasukan ksatria tanpa harus mengikuti seleksi kriteria minimun fisik.
Mendengar dia sudah menemui titik terang dalang korupsi di dalam Ksatria, Jani mulai mengingatnya dan akan melimpahkannya ke Silent Army untuk di urus nantinya. Meskipun dia juga berpikir untuk menangkap pelakunya sekarang yang terlihat gemetaran di dalam barisan.
__ADS_1