
Sorak-sorai sekali lagi terdengar yang menjadi tanda berakhirnya pidato Putra Mahkota yang baru. Para warga pun secara perlahan membubarkan dirinya sambil berbicara tentang keajaiban yang terjadi di istana beberapa saat yang lalu.
Uskup agung yang masih memasang wajah penuh amarah bertanya di dalam hatinya 'kenapa tidak terjadi apa-apa, apa yang terjadi dengan para pendeta yang sedang membaur dengan warga? pasti ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi'
Melihat rencananya tidak berjalan sesuai rencana, Uskup Agung segera berencana untuk kembali ke gereja, tetapi saat dia berdiri dari kursinya, dia sudah melihat kepala ksatria Hertez Bonavic bersama dengan anak buahnya telah berjalan mendekatinya.
Dua ksatria suci yang bertugas menjadi pengawalnya, sudah menghunuskan pedangnya dan berdiri di depannya sambil berkata "Yang mulia Uskup Agung! Tolong segera pergi dari sini dan kami akan menahan para Bidat ini!!"
"baiklah, tapi aku akan memberikan kalian sihir pemberkatan." Uskup Agung mulai melantunkan mantra nya dan ketika selesai, dia mengucapkan kata terakhir "Holy Light Body!!"
Tubuh dua ksatria suci mulai di selimuti aura cahaya lalu cahaya tersebut mulai memasuki tubuh mereka. Setelah mendapat sihir tersebut, dua ksatria suci tersebut mulai berkata dengan sombongnya "HAHA!! Lihatlah ini para Bidat!! Dengan kekuatan suci ini, kalian tidak lebih dari semut di mata kami!"
Salah satunya mengeluarkan cahaya dari tangannya dan mengenai para ksatria yang menahan pintu keluar tempat para tamu undangan berada. Saat para ksatria itu terkena cahaya tersebut, mereka terpental dan membuka jalan keluar bagi Uskup agung.
Setelah membuka jalan keluar, ksatria suci tersebut berkata "pergilah, Yang Mulia! Kami berdua saja sudah cukup untuk menahan kepala ksatria yang tidak bisa menggunakan sihir ini!"
"baiklah, semoga Dewi Kiana bersama kalian!!" setelah berkata seperti itu, Uskup Agung berlari meninggalkan kedua pengawalnya tanpa melihat ke belakang.
""Amin!!"" jawab keduanya kepada doa sang Uskup Agung.
Melihat Uskup Agung pergi, salah satu ksatria bawahan Hertez bertanya "Chief, apa kita membiarkan Uskup itu pergi begitu saja?"
"biarkan saja, lagipula di tempat yang dia tuju ada orang yang lebih menakutkan dari pada diriku menunggu di sana. Dari pada memikirkan uskup itu, Lebih baik aku mengatasi dua orang bodoh di depan kita dulu. Lumayan buat pemanasan untuk tubuh ku ini!" jawab Hertez sambil membuka jubahnya.
"haha! Kau ingin mengalahkan kami?!"
"itu mustahil! Dengan kekuatan dewi di dalam tubuh kami! Tidak ada siapa pun yang bisa mengalahkan kami!"
"Oh! Kau sungguh percaya diri sekali dengan kekuatan itu? Lalu bagaimana kalau aku mengambilnya? DISPELL!!"
Saat Hertez mengucapkan mantra nya, tubuh kedua ksatria suci itu mulai sedikit menyusut dan kekuatan yang di berikan oleh Uskup Agung sebelumnya sudah menghilang dari tubuh mereka seolah kekuatan itu menguap begitu saja.
"eh! Apa yang terjadi?! Kemana perginya kekuatan suci kita?!" kata salah seorang ksatria suci yang terkejut.
Dan salah satu yang akhirnya tersadar segera menunjuk ke arah Hertez dan berkata "KAU!! Apa yang kau lakukan dengan kekuatan kami?! Cepat kembalikan!"
Meskipun para ksatria bawahan Hertez merasa agak kesal dengan nada bicara mereka yang tidak sopan kepada atasan mereka, tapi karena mereka sudah mengikuti Hertez sejak lama. pemandangan ini sudah menjadi biasa untuk mereka dan bahkan ada yang sebagian yang menjadikannya sebuah hiburan.
__ADS_1
Hertez pun menjawab perkataan ksatria suci tersebut "kembalikan? Memangnya kekuatan itu milikmu? Lagi pula itu salah kalian sendiri yang meremehkan ku tadi. Yah…melihat kalian membuatku mengingat pertarungan ku dulu saat melawan John."
"John? Maksudmu Kardinal pedang cahaya John?!"
"yah aku tidak tahu tentang julukannya atau jabatannya di kerajaan suci, tapi mendengar julukannya, aku rasa itu memang cocok dengan John yang aku lawan dulu. Baiklah,aku pikir sudah saatnya menghajar kalian. Apa kalian sudah siap?"
"meskipun aku tidak pernah bertarung melawan kardinal John, tapi diberi kesempatan untuk melawan orang yang setara dengannya. Aku merasa sangat senang!" kata seorang ksatria suci yang mengagumi sosok Kardinal tersebut.
"ho! Kau punya tekad yang bagus. Baiklah, aku juga akan menangani kalian dengan serius."
Hertez mengambil posisi menyerang dan begitu juga dengan dua ksatria suci di hadapannya. Beberapa saat kemudian mereka semua saling menyerang satu sama lain dan beberapa tamu wanita yang masih ada di sana mulai menutup matanya karena takut melihat adegan berdarah yang akan segera terjadi, tetapi seorang bangsawan di samping berkata "nona muda, kau bisa tenang. Selama kepala ksatria kita tidak menggunakan pedang miliknya, maka tidak pernah ada darah yang tumpah dalam pertarungan ini."
Dan seperti yang di katakan bangsawan itu, pertarungan itu berlangsung sangat cepat karena tidak ada benturan pedang dan Hertez terkesan hanya menghindari serangan ksatria tersebut lalu berjalan melewatinya, tetapi adegan berikutnya membuat semua orang yang menonton terkejut.
Karena tidak lama kemudian, dua ksatria itu tumbang tanpa sebab yang pasti. Tidak menoleh ke belakang, Hertez berkata kepada anak buahnya "bawa mereka ruang perawatan!"
"tapi Chief, atas perintah yang mulia putra mahkota. Setiap ksatria suci harus di bawa ke penjara. Kenapa kita malah merawatnya?"
"mereka layak mendapatkannya! Lagi pula setelah mereka di rawat, kita akan memasukkan mereka ke penjara! Jadi ikuti saja perintah ku!"
"Siap laksanakan!" jawab ksatria bawahannya dan Hertez berkata kepada para tamu "mohon maaf atas ke gaduhan yang telah kami perbuat dan sekarang karena situasi sudah kami kendalikan, kalian bisa pulang untuk bersiap pesta yang di adakan malam ini. Semua bangsawan ibukota di undang dan itu juga sama halnya dengan para pemilik kamar dagang di ibu kota."
"baik, Chief!!" jawab anak buahnya yang tersisa dan mereka pergi untuk menyebarkan berita itu ke seluruh ksatria agar mereka juga bisa bersiap untuk pemeriksaan esok hari.
Setelah semua orang pergi, Hertez melirik bangunan gereja ibu kota lalu berkata "semoga saja Alex tidak terlalu kasar dalam membalas dendam."
…
"HA…HAA…HU…HAA…" Suara tersenggal datang dari seorang Uskup Agung yang baru saja melarikan diri dari istana kerajaan. Setelah nafasnya sudah kembali normal, dia melirik sekali lagi ke arah istana kerajaan dan berkata "lihat saja kalian semua! Setelah aku kembali ke kerajaan suci, maka aku akan pastikan kerajaan ini hancur!" dan setelah itu dia kembali ke gereja.
Saat kembali ke gereja dia merasakan ada yang aneh karena tidak ada penyambutan dari para ksatria suci dan juga pendeta yang dia tinggalkan di gereja. Meskipun dia merasa curiga, tetapi karena dia sudah sangat lelah Uskup agung memasuki gerejanya dan setelah dia masuk, dia terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya.
Apa yang dia lihat adalah aula gereja telah di penuhi oleh orang-orang berpakaian hitam dengan topeng aneh lalu banyaknya orang-orang yang di ikat dan di gantung. Melihat pemandangan itu, Uskup Agung dengan panik berkata "SI…SIAPA KALIAN INI?!! DI MANA PARA KSATRIA DAN PENDETAKU?!!"
Salah satu anggota Silent Army berkata "apa kau tidak melihat? Mereka semua sedang bertugas menjadi hiasan gereja dengan di gantung di atas sana?"
Saat Uskup Agung melihat ke atas dia sekali lagi terkejut dan di buat takut karena semua ksatria sucinya telah di kalahkan. menahan rasa takutnya dia kembali bertanya "apa maksud dari semua tindakan kalian ini?"
"cobalah bertanya kepada Uskup Agung yang di depan." Katanya sambil menunjuk ke arah depan.
__ADS_1
Uskup Agung berjalan ke depan dan dengan sekali pandang dia sudah mengenali bahwa jubah dan topi yang di gunakan orang itu adalah miliknya yang dia gunakan saat upacara kebangkitan sihir.
Sebelum dia bertanya tentang siapa orang tersebut, orang itu sudah berbalik dan menyapanya "halo! Uskup agung!"
Melihat orang itu, darahnya langsung naik tinggi sambil bertanya "kenapa kau ada di sini, Putra Mahkota Alex?!!"
"tentu saja untuk menangkap penjahat! Dan juga menutup gereja ini untuk selamanya." Jawab Jani dengan di awali nada bercanda lalu di akhiri dengan nada serius.
"heh! Menutup gereja? Apakah kau berniat untuk berperang dengan agama cahaya suci?"
"woah… jangan berpikiran sejauh itu! Lagi pula kerajaan sedang bersitegang dengan kekaisaran Rohden, kenapa kami harus menambah musuh?"
"lalu apa kau tidak berpikir tentang tindakanmu menutup gereja sama saja ingin berperang dengan agama kami?"
"tenang saja, meskipun aku menutup gereja ini. Tidak akan terjadi perang karena aku sudah memberikan surat penjelasan langsung kepada Saintess tentang yang tejadi di sini dan semua dosa yang kau lakukan di kerajaan ini!"
"tidak mungkin! Aku bahkan tidak melihat satu pun orang yang pergi dari sini untuk menyampaikan pesan!"
"hei Uskup Tua! Apa mengirim surat harus menggunakan kuda dari sini sampai kerajaan suci? Tentu saja tidak, Bodoh! Kami bisa menggunakan portal sihir ruang ke kota perbatasan utara yang saat ini di pimpin oleh kakak pertama ku lalu di teruskan oleh kakakku menuju Katedral Pusat, Mudah bukan?!"
Mendengar pernyataan dari Jani, Uskup agung hanya bisa mengertakkan giginya saja tanda dia tidak memikirkan tentang hal ini. Melihat Uskup agung tidak bisa mengatakan apa pun, Jani melepas semua antribut Uskup lalu berkata "baiklah, bukankah sudah saatnya untuk menagih hutangku yang sudah tiga tahun lamanya!"
"hutang?kapan pernah aku berhutang padamu?!"
"yah hutangnya bukan soal materi, tapi lebih pada tindakan mu yang membuatku koma waktu itu, benarkan Uskup Agung?!"
Uskup agung mulai panik 'Gawat! Aku harus segera pergi dari sini!' dia mulai melantunkan mantra untuk membutakan Jani sesaat, tapi sebelum mantra itu selesai, Jani sudah ada di depannya dengan tongkat Ryu-Jin di tangannya. Setelah berada di depan Uskup agung, Jani mengarahkan tongkatnya menuju perut uskup lalu berkata "memangnya aku akan membiarkanmu pergi? Ryu-Jin! MEMANJANG!!"
Tongkat emas mulai memanjang dengan kecepatan tinggi sambil membawa Uskup agung hingga menabrak pintu raksasa milik gereja. Merasa belum puas menekan lagi hingga sang Uskup pingsan dan menempel di pintu raksasa tersebut.
Setelah puas membuat Uskup agung pingsan, Jani berkata kepda bawahannya "baiklah, aku sudah membaca laporannya dan dengan ini aku nyatakan operasi 'PEMBERSIHAN CAHAYA' telah sukses di laksanakan!"
Seluruh pasukan menjawab dengan serempak "SILENT ARMY SELALU SIAP MENJALANKAN PERINTAH PUTRA MAHKOTA! PANJANG UMUR YANG MULIA ALEX!!"
"BUBAR!!" Jawab Jani dengan tegas dan seketika mereka membubarkan diri.
Setelah dia di tinggalkan sendirian, Jani menguap sambil berkata "Hoaamm~… akhir selesai juga! Aku penasaran bagaimana Katedral Pusat menaggapi surat protes ku itu?"
__ADS_1