KAISAR DUA DUNIA

KAISAR DUA DUNIA
Mutiara laut dalam


__ADS_3

Di sebuah kafe dekat sekolah


Ada peristiwa yang mengejutkan seluruh pengunjung kafe yaitu seorang pemuda yang berniat melamar kekasihnya di depan umum, tapi yang mengejutkan adalah Pemuda tersebut masih mengenakan seragam putih abu-abu yang tidak lain adalah Jali yang belum lama ini sampai di sini bersama dengan Devi.


Saat mereka sedang mengobrol tentang pengumuman yang di sampaikan Ayu sebelumnya, Jali tiba-tiba berkata kepada Devi "Dev, gua ingin ngomong sesuatu sama lu."


"ya udah ngomong aja, kayaknya serius banget."


Jali berdiri sambil berkata "Yah ini memang hal yang cukup serius... mohon maaf untuk semua tamu, bisakah aku meminta kalian untuk menjadi saksi dalam acara yang sangat penting ini?"


Setelah Jali berkata seperti itu, semua pelanggan kafe berbalik untuk melihat ke arahnya dan beberapa dari mereka ada juga mulai merekam momen langka ini.


Saat semua orang sudah memperhatikan dirinya, Jali berlutut satu kaki di depan Devi lalu berkata "Dev! mungkin saat ini kita Cuma teman biasa, tapi gua ingin hubungan kita lebih dari itu dan bahkan lebih dari sekedar pacaran."


Kemudian jali mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam jaketnya dan membuka kotak tersebut sambil melanjutkan "Devi, lu mau gak menjadi calon istri gua? Tenang saja kita tidak akan langsung menikah sebelum kamu siap untuk menikah denganku!"


Devi yang terkejut tidak tahu sejak kapan mulai meneteskan air mata dan tanpa pikir panjang dia menjawabnya "Iya aku mau calon istrimu, Jal!"


Setelah lamarannya di terima, semua pengunjung kafe bertepuk tangan dan memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua. Sementara suasana sedang sangat meriah, tiba-tiba telepon Jali berdering menandakan ada yang meneleponnya.


Dan mungkin karena masih terkejut dengan lamarannya di terima oleh Devi, Jali mengabaikannya dan berfokus memasangkan cincin ke jari manis Devi. Saat cincin berhasil di pasangkan, sekali lagi para pengunjung bertepuk tangan lalu Jali dan Devi berpelukan menandai awal hubungan mereka.


Ketika mereka berpelukan, telepon milik Devi mulai berdering juga. Devi pun dengan cepat mengeluarkan teleponnya dan melihat siapa yang meneleponnya.


Setelah melihatnya, dia menunjukkannya ke Jali sambil berkata "ini kakak!"


Jali dengan enggan membiarkan Devi mengangkat telepon itu meskipun dia kesal karena momen romantisnya terganggu. Devi mulai berbicara dengan Ayu lewat telepon.


"Halo, kak! Ada apa manggil aku?"


"sebelumnya kakak mau ucapin selamat buat kamu karena sudah resmi bertunangan dengan Jali."


"dari mana kakak tahu aku menerima lamaran Jali?"


"kau pikir kakakmu tidak memperhatikan tingkah laku-mu saat teleponan dengan Jali?!"


"hehe... jadi apa kakak meneleponku Cuma mengucapkan selamat kepadaku?"


"ohh.. kakak hampir lupa, tolong berikan telepon ini kepada Jali."


Devi pun memberikan teleponnya kepada Jali sambil berkata "nih, Jal! Kakak mau ngomong sama kamu."


Jali menerima telepon itu, lalu berbicara dengan Ayu "halo! Ada apa nih manggil gua!?"


"Jal! Lu sekarang cepat nyusul gua ke gudang tua! Jaka kayaknya sudah di tangkap!" jawab Jani yang saat ini sedang menyetir mobilnya.


"Hah! Kok bisa ke tangkap sih?!"


"penjelasannya nanti aja!" kata terakhir Jani dan telepon langsung terputus.


Setelah mengakhiri telepon, Jali berkata kepada Devi "Dev, kita harus pergi sekarang!"


"eh! Kenapa? Kita kan belum makan apa pun."


"soal makan kita akan urus nanti, sekarang aku mau bawa kamu ke markas Trio Djancok! Apa kamu mau ikut?"


Setelah Jali mengatakan bahwa mereka akan pergi ke markas Trio Djancok, Devi segera bersemangat dan menjawab "kalau ke sana, tentu saja aku akan ikut!"


Jali dan Devi bersiap pergi lalu untuk menunjukkan rasa kasih kepada semua pengunjung kafe yang sudah mendoakan hubungan mereka, jali diam-diam membayar semua makanan yang saat ini sedang di pesan.


....

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, di gudang tua.


Jali dan Devi yang baru saja sampai di gudang tua langsung masuk ke dalam. Saat mereka sampai di dalam, jali langsung menghampiri Jani dan bertanya "Jan! Gimana perkembangannya apa sudah ada tanda keberadaan Jaka?"


"sudah, untungnya Jaka sudah mempersiapkan tindakan pencegahan, saat peristiwa seperti ini terjadi." Jawab Jani yang menunjuk ke arah layar komputer yang sedang menjalankan program pelacakan kepada Jaka.


Sementara para lelaki sedang sibuk menatap layar komputer, dua wanita yang tidak lain dua bersaudara yaitu Ayu dan Devi sedang berbicara masalah hubungan percintaan mereka.


Saat Ayu dan Devi bertemu, ayu segera memeluknya dan berkata "Devi! Selamat ya! Sekarang kamu sudah resmi bertunangan!"


"iya kak! Terus kalau kakak kapan di lamar oleh Jani?"


"tidak tahu, Tapi yang jelas akan di adakan tahun ini. KATANYA SIH BEGITU!" jawab Ayu yang membuat kalimat terakhir terdengar lebih keras agar seseorang dapat mendengarnya.


Tentu saja hal itu di tunjukan kepada Jani yang saat ini pura-pura tidak mendengar karena dia sekarang lebih berfokus menyelamatkan Jaka.


Devi juga menyadari seberapa penting sosok Jaka bagi Jali dan Jani saat melihat kekhawatiran mereka yang begitu besar terhadap peristiwa ini.


Setelah menatap kedua pria tersebut, Devi mulai menegur kakaknya "sudahlah kak! Jangan ganggu Jani seperti itu. Lebih baik kakak mengajariku cara memasak sekarang!"


Mendengar teguran adiknya, Ayu menghela napasnya lalu berkata " kau benar. Bagaimana kalau kita minta di ajari oleh mama Kartika?"


"mama Kartika?" tanya Devi yang tidak mengenal nama yang sebutkan kakaknya.


"dia adalah calon ibu mertuaku.... sayang! Aku pamit untuk menemui mama dan memintanya untuk mengajari Devi cara memasak di rumah kamu!"


"oke! Nanti setelah aku selesai dengan urusan di sini, Aku akan pulang bersama dengan Jali untuk mencoba masakannya! Benarkan Jal?"


"te..tentu saja! Aku sudah tidak sabar untuk mencoba masakan-mu, sa..sayang!" jawab Jali dengan terbata-bata karena gugup.


Setelah dua saudari itu pergi, Jani kembali fokus kepada titik merah yang ada di layar monitor raksasa. Titik merah itu terus bergerak cepat yang menandakan Jaka sedang di angkut menggunakan mobil.


Saat titik merah itu masih bergerak cepat, Jali memulai pembicaraan.


Jani terdiam sesaat lalu berkata "pertama! Panggil Green Goblin kemari untuk menjadi mata dan telingaku dalam misi kali ini dan juga bisakah kau menyiapkan C4 untukku?"


"berapa banyak?


"100 Kg. Akan aku buat mereka yang berani menyentuh sahabatku membayar harga yang sangat mahal!" jawab Jani dengan mata penuh amarah di dalamnya.


Jali hanya menjawab dengan tenang "baiklah akan segera gua siapkan. Lalu berapa orang yang akan ikut menyerang bersama lu?"


"tidak ada, hanya gua sendiri saja sudah cukup."


Jali terkejut dengan jawaban Jani lalu dengan cepat menarik kerah Jani dan berkata dengan marah "JAN!! GUA TAHU LU SANGAT MARAH SEKARANG, TAPI INGAT SAMA JANJI LU SATU TAHUN YANG LALU UNTUK MENGUTAMAKAN NYAWA LU SENDIRI!!"


Jani juga mengingat janjinya lalu berkata "kau tenang saja, Jal! Aku sudah berbeda dengan diriku satu tahun dulu yang pernah hampir mati karena 5 luka tembak dan 20 sayatan senjata tajam!"


Jali melepaskan cengkeramannya lalu berkata "baguslah lalu kau masih ingat dengan lukamu itu, tapi tetap saja! jika kau ingin menyerangnya sendirian aku harus tetap mengawasi-mu dengan Death Night milikku!"


"baiklah! Aku mengerti!"


Saat mereka selesai berdiskusi, titik merah berhenti tidak jauh dari tempat mereka berada yaitu perumahan Golden Residen tempat di mana Jani tinggal saat ini.


Melihat hal itu, Jani mencoba melihat lebih jelas tempat di mana Jaka di sekap saat ini dan tak lama kemudian dia mengetahui bahwa tempat itu adalah rumah nomor 5 yang berada di ujung perumahan.


Jali yang juga melihat hal itu, langsung bertanya kembali "jan, bukankah ini keberuntungan kita?"


"tidak, ini malah jauh lebih merepotkan."


"apa maksudmu?"

__ADS_1


"karena 40% saham perumahan ini adalah milikku."


"lah itu malah bagus dong! Jadi lu bisa ngancurin rumah itu tanpa takut ketahuan karena lu bisa memanipulasi rekaman CCTV, kan!?"


"tidak! Jika aku menyuap para penjaga, para pemegang saham yang lain pasti akan segera mengetahui bahwa aku lah yang menghancurkan rumah tersebut. Karena dulu kami sepakat bahwa orang yang bisa menyuap para penjaga adalah hanya para penghuni perumahan ini."


"terus bagaimana?"


"satu-satunya cara adalah membunuh para penjaga dan aku enggan untuk melakukannya karena aku cukup mengenal mereka semua."


"kalau itu masalahnya, biar aku dan anak buah-ku yang melakukannya. Lu tinggal mengurus musuh yang ada di rumah tersebut, bagaimana?"


Dengan berat hati Jani menyetujui rencana jali lalu berkata "baiklah, aku serahkan para penjaga kepadamu."


"oke tidak masalah, lalu kapan kita akan menyerangnya?"


"secepatnya! Setelah semuanya siap, kita langsung menyerang rumah nomor 5 tersebut."


"kalau begitu aku akan pergi ke gudang milikku untuk melihat berapa C4 yang aku miliki saat ini."


"Kembalilah dengan cepat." Jawab Jani kepada Jali yang sudah pergi ke penyimpanan gudang miliknya.


Setelah Jani di tinggalkan sendirian, dia mulai membuka layar sistem dan bertanya kepada Zein "Zein, apa kau menjual cincin lamaran?"


"tidak, tapi aku memiliki batu permata yang cocok untuk di taruh di cincin lamaran."


"coba tunjukan kepadaku?"


Panel layar sistem mulai menampilkan sebuah batu permata yang harganya mencapai 1 milyar dan permata itu di sebut permata 'Empat Musim' yang warnanya dapat berubah sesuai cuaca yang sedang di alami lingkungan sekitarnya.


Setelah melihatnya sebentar, Jani menggelengkan kepalanya lalu berkata "apakah ada yang lain?"


"kenapa? bukankah ini permata yang sangat bagus?"


"kau bisa mengatakan itu jika aku tinggal di wilayah sub tropis, tapi sayangnya aku tinggal di negara tropis yang hanya memiliki dua musim."


"kau benar, lalu bagaimana kalau kau memilihnya sendiri." Jawab Zein yang kemudian menunjukkan puluhan permata kepada Jani. butuh waktu cukup lama bagi Jani untuk memilih permata yang akan di gunakan sebagai cincin lamarannya. Setelah memilih cukup lama, dia akhirnya tertarik kepada sebuah mutiara berwarna biru yang kebetulan merupakan warna kesukaan Ayu.


Dia pun bertanya kepada Zein "hei Zein, bagaimana dengan mutiara ini?"


"ohh! Itu adalah Mutiara Laut dalam yang biasa di gunakan para penyihir unsur air untuk meningkatkan sihirnya dan mutiara bisa di temukan di pesisir pantai benua Arca mana pun, jadi tidak terlalu berharga."


"lalu berapa harganya?"


"hmm.. karena aku hanya menyimpan mutiara yang berusia 100 tahun ke atas harga agak sedikit mahal dari mutiara kebanyakan yaitu seharga 500 juta."


"baiklah, aku membeli yang ini dan sekalian tolong cek status mutiara tersebut."


"baiklah, uang pembayaran telah di potong dari akun bank pribadi master."


[ MEMULAI PENGIRIMAN BARANG SEKALIGUS PENGCEKAN STATUS BARANG TERSEBUT...10%..40%..70%..100%..


BARANG TELAH SUKSES DI KIRIM DAN LANGSUNG MENAMPILKAN STATUS BARANG...


NAMA BARANG: Mutiara Laut Dalam


JENIS BARANG: Aksesoris dan media pelatihan sihir unsur air.


KELAS BARANG: Epic(karena usia mutiara melebihi 100 tahun.)


EFEK KHUSUS: jika di gunakan sebagai Aksesoris, maka mutiara ini dapat membuat pengguna bisa bernafas di dalam Air selama yang dia mau. Sedangkan jika di gunakan sebagai media pelatihan sihir unsur air, maka mereka bisa menerobos satu tingkat tergantung usia mutiara tersebut.

__ADS_1


PERINGATAN: efek khusus permata ini akan terus ada dan akan menghilang jika permata ini di bagi lebih menjadi dua bagian. Lalu untuk membelah permata ini hanya bisa menggunakan senjata magis sesuai usia permata tersebut.]


Setelah melihat status mutiara tersebut, Jani tersenyum lalu berkata " mutiara ini sempurna di gunakan sebagai cincin lamaran-ku!"


__ADS_2