KAISAR DUA DUNIA

KAISAR DUA DUNIA
Mama!!


__ADS_3

Sesaat Jani ingin memasuki gedung, dia melihat ke jalan lalu saat sebuah truk sampah mau melewati gedung ini, Jani tanpa pikir panjang langsung melempar kalung pelacak tersebut.


Kalung tersebut tepat memasuki truk sampah dan mungkin kebetulan atau tidak sebuah mobil Van yang berisi orang-orang yang sebelumnya berseteru dengan Jani di jalanan melewati gedung ini.


Melihat hal itu, Jani di balik topengnya tersenyum dan berkata "elu cari dah, itu kalung di bantar gerbang!" lalu dia memasuki gedung perkantoran.


Setelah memasuki kantor, Jani bertanya kepada resepsionis "Mbak, apa pak Hardi nya ada? saya sudah buat janji dengan Pak Hardi."


"Bisa saya bertanya dulu Bapak ini siapa dan dari mana?"


"Mr.Gold. Founder sekaligus CEO dari Arcadia teknologi."


"baiklah! Saya konfirmasikan dulu dengan Pak Hardi nya dulu." Jawab wanita resepsionis lalu tidak lama dia kembali dan kembali berkata "Mr. Gold! silahkan lewat sini biar saya hantarkan anda menuju ruangannya."


Jani menganggukkan kepalnya lalu mengikuti wanita resepsionis tersebut. Di dalam lift, Jani dengan tenang menunggu lalu ketika lift terbuka di lantai dua, seorang wanita berparas cantik memasuki lift lalu bertanya kepada wanita resepsionis "hei, siapa pria bertopeng ini?"


"dia Founder Arcadia teknologi, Mr.Gold! masa kamu tidak mengetahui dia sih!?"


"ah! Masa sih! Bukannya dia selalu menyuruh wanita kepercayaannya untuk masalah menjalin kerja sama dengan perusahaan lainnya?"


"gak tahu juga sih? Coba kamu tanya aja sama dia?"


"Hehe! Aku gak berani! Kalau ternyata dia beneran yang asli, bisa-bisa aku di pecat karena mengganggu kenyamanan klien perusahaan kita."


Jani yang mendengar percakapan dua wanita ini, hanya terdiam dan kemudian berkata di dalam hatinya ' sepertinya aku memang terlalu mengandalkan Ayu.'


Tidak lama wanita itu keluar bersamaan dengan resepsionis yang berkata kepada Jani "Mr.Gold, silahkan lewat sini. Kantor tuan Hardi berada di lantai ini!"


Jani segera mengikuti resepsionis menuju ruangan yang ingin dia tuju. Setelah sampai di depan ruangan, wanita resepsionis mengetuk pintu dan berkata "bos! Mr.Gold telah saya hantarkan ke ruangan anda!"


"bagus suruh dia masuk dan kamu bisa kembali sekarang."


"baik, bos!" Dan wanita resepsionis itu pergi menuju lobi. Jani perlahan memasuki ruangan tersebut, namun sebelum dia memasukinya, Jani menggunakan Indera sihirnya untuk memeriksa ruangan tersebut. Setelah memeriksanya, Jani menghela napas lalu mulai memasuki ruangan tersebut.


Ketika Jani masuk, dia di sambut dengan pemukul bola kasti yang di tunjukkan kepada dirinya. Tentu saja Jani sudah mengetahui datangnya serangan ini dan dengan Refleksnya yang cepat, Jani menangkapnya lalu memberi salam kepada orang yang menyerangnya "selamat pagi! Menteri BUMN, Aryanto Senopati! Aku mengapresiasi semangatmu, tapi bisakah anda tidak menyalurkannya kepada pemukul bola kasti ini dan menggunakannya untuk menyerang ku?"


"haha! Kau tidak marah aku melakukan hal ini kan, Mr.Gold?"


"tentu saja tidak Pak menteri!" Jawab Jani yang melepaskan pemukul tersebut lalu berjalan menuju meja besar di ruangan itu. Pak Hardi alias kepala keluarga Senopati saat ini berdiri dari kursinya lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sambil berkata "selamat datang di perusahaanku, Mr.Gold! silahkan duduk dulu."


"terima kasih atas sambutannya, Pak Hardiyono Senopati!"


Hardi yang mendengar anaknya memanggilnya dengan nama lengkapnya agak merasa canggung, tapi sia cepat kembali tenang lalu berkata "Pak Hardi saja sudah cukup."


"oke, kalau begitu bagaimana kalau kita langsung ke intinya saja."


"baiklah, silahkan jelaskan apa yang ingin kami bangun untuk perusahaan anda."


Jani pun mulai mengeluarkan beberapa berkas dari koper yang di bawanya lalu mulai menjelaskannya kepada Ayahnya "seperti yang sebelumnya kami kabarkan, bahwa rencana pembangunan ini terdiri dari sembilan tempat yang berbeda yaitu Tangerang, Bandung, Purwokerto, Semarang, Jogja, Surabaya, Malang, Bali dan yang terakhir di solo."


"dari sembilan tempat itu, selain di kota solo, saya berencana membangun 1 kantor cabang perusahaan kami, dan satu gedung kafe virtual yang mampu menampung lima ratus kapsul virtual di masing-masing delapan daerah tersebut. Lalu untuk di kota solo, saya ingin membangun rumah untuk calon mertua saya."

__ADS_1


Ayah dan kakeknya Jani terkejut mendengar perkataan Jani yang sudah mempunyai calon mertua. Dan kakeknya yang penasaran memotong pembicaraan Jani dengan bertanya "tunggu sebentar! Apa kau akan segera menikah!?"


"yah itu masalah pribadiku, Jadi Pak menteri, bisakah kita membicarakan bisnis terlebih dahulu?"


"baiklah, silahkan lanjutkan." Jawab kakek Jani dengan enggan.


"oke, dari semua bangunan itu untuk kafe virtualnya, aku yang akan menyiapkan desainnya. Sementara untuk kantor cabang dan rumah tersebut aku serahkan desainnya kepada perusahaan anda, Pak Hardi."


"itu tidak masalah! Perusahaanku memiliki tim arsitek yang dapat dipercaya dan bisakah aku melihat desain milik anda?"


"tentu silahkan di lihat." Jani menyerahkan desain yang dia dapat dari arsitek kenalannya. Dan setelah melihatnya, Ayah Jani berkata dengan nada serius "Mr.Gold, jika kita mengikuti desain anda maka biaya yang perlu di keluarkan mungkin melebihi dari jumlah yang di perkirakan sebelumnya."


"oh, menurutmu berapa total biayanya?"


"hmm, mungkin sekitar 7 sampai 8 milyar, bagaimana?"


"Baiklah, Aku tidak masalah dengan harga tersebut, tapi bisakah perusahaan mu membangun semuanya secara serentak?"


"itu mustahil untuk dilakukan mengingat skala pembangunnya yang cukup besar. Karena paling banyak kita bisa menangani hanya dua kota saja secara bersamaan." Jawab Ayahnya yang menggelengkan kepalanya.


"hmm, begitu ya? Lalu perkiraan penyelesaian pembangunannya butuh waktu berapa lama?"


"saya jamin paling lama hanya 3 bulan saja! Meskipun perusahaanku hanya mampu membangun 2 kota secara bersamaan, tapi kami menjamin kualitas dan kecepatan proyek yang kami kerjakan."


"baiklah, aku tidak masalah dengan waktunya dan bagaimana kalau aku akan memberikan 10 miliyar untuk semua rencana pembanguan yang ada?. Tentu saja aku akan membayarnya setengah untuk uang mukanya dan setengahnya lagi akan dibayar setelah semua selesai."


Mendengar anaknya akan membayar lebih dari yang di perkirakan, Ayahnya bertanya "apa kau ingin kami sekaligus mengatur bagian interior dan semua perabotannya?"


"kalau bisa di lakukan kenapa tidak?" Jawab Jani dengan tenang.


"Kalau begitu untuk saat ini kita sudah sepakat'kan?" Kata Jani yang kali ini mengulurkan tangannya menandai proyek ini telah di sepakati.


"tentu saja, untuk saat ini kita sepakat." Ayah Jani pun menerima jabat tangan anaknya.


Setelah pembicaraan bisnis selesai, kakek Jani yang duduk di samping anaknya pun mulai berkata "baiklah, bisakah sekarang kita membicarakan yang lain, Mr.Gold? atau aku harus memanggilmu, Jani Senopati?"


Jani tidak langsung menjawab dan terdiam sesaat lalu tidak lama dia melepaskan topeng emasnya sambil menghela napas "haa.... baiklah apa yang ingin kalian berdua bicarakan, Ayah, Kakek?"


....


Di saat yang bersamaan, di tempat parkir.


Anak kecil tersebut perlahan membuka matanya, dalam keadaan linglung dia berkata dalam hatinya ' di mana aku sekarang? Seingat ku, aku bersembunyi di bagasi mobil seseorang lalu tidak sadarkan diri akibat kelelahan.'


Anak itu pun mulai merasakan bahwa dia tidur di pangkuan seseorang sambil kepalanya di elus dengan belaian tangan yang lembut. Dia mencoba melihat siapa orang itu dan setelah melihat seorang wanita cantik yang masih sibuk dengan HP-nya, dia menutup matanya lagi dan sekali lagi berkata di dalam hatinya ' aku tidak tahu siapa wanita ini, tapi dia memberiku perasaan hangat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.'


Meskipun dia ingin merasakan kehangatan ini lebih lama, tapi perutnya yang belum makan apa pun selama pelariannya mulai bergemuruh.


*Kruuukkk* suara itu membuat Ayu melihat ke arah gadis kecil itu dan berkata "kau sudah bangun ya? Duduklah terlebih dahulu lalu minumlah untuk menyegarkan tenggorokan mu." Katanya sambil memberikan sebotol air mineral kepada gadis kecil tersebut.


Gadis itu tidak berkata apa pun, tapi dia meminumnya air itu tanpa ragu sampai habis. Melihatnya selesai minum, Ayu kemudian berkata "karena kau sudah minum air, sekarang waktunya untuk makan. makanlah ini dulu!"

__ADS_1


Ayu memberikannya satu buah hamburger dan gadis kecil juga segera memakannya dengan lahap. Setelah menghabiskan beberapa hamburger, gadis itu merasa kenyang lalu dengan perasaan canggung dia mencoba memanggil Ayu "Mama!"


Ayu terkejut mendengar gadis kecil itu memanggilnya 'Mama', tapi dengan cepat menenangkan dirinya lalu mengusap kepalanya sambil tersenyum dan berkata "gadis kecil, aku bukan Mamamu."


"enggak! Kata kak Seno, wanita yang memberikan perasaan kehangatan kepadaku itu berati dia adalah Mamaku!!" Bantah Anak kecil tersebut sambil memeluk Ayu.


Ayu tidak bisa melawan perkataan anak tersebut karena dia tidak tahan melihat wajahnya yang sangat menggemaskan itu. Selain tidak tahan melihat wajah anak itu, Ayu juga merasakan iba dengan anak itu. Karena perasaan itulah Ayu akhirnya pasrah dan juga kembali memeluk anak itu sambil berkata "Baiklah, Aku akan menjadi Mamamu, tapi kamu harus janji satu sama hal padaku."


Anak itu kembali bertanya dengan nada yang sangat gembira "janji apa itu, Mama!?"


"saat Papamu nanti datang, kamu harus meyakini dia untuk menerima kamu menjadi anaknya dan dengan begitu kita akan menjadi satu keluarga yang lengkap! Bagaimana kamu mau berjanji melakukannya?"


"mhm! Aku janji akan membujuk Papa dengan cara apa pun!"


"kalau begitu, mama akan menelepon papamu dulu."


Ayu pun mulai menelepon Jani yang saat ini sedang berada di ruangan CEO Pt. Senopati Karya.


....


Kembali ke sisi Jani yang baru saja melepas topengnya.


Kakeknya yang melihat Jani membuka topeng mulai tertawa dan berkata "haha... Jani, aku masih tidak habis pikir bagaimana kamu membuat kekayaan seperti itu, tapi yang ingin aku tanyakan sekarang adalah kenapa aku tidak tahu kalau cucu hebat ku ini akan menikah?"


"yah mau bagaimana lagi, baru kemarin aku mendapatkan restu dari orang tuanya dan untuk kapan tanggalnya belum di pastikan karena aku belum melamarnya." Jawab Jani dengan nada santainya yang biasa.


"Apa kau tidak bertanya tentang restu dariku?" tanya Ayahnya yang duduk di samping kakeknya.


"akan merepotkan kalau aku meminta restu darimu, ayah. karena kau pasti akan bertanya tentang latar belakang kekasihku dan jika kau tidak puas dengannya, maka kau tidak akan merestuinya."


"dari mana kau menyimpulkan hal itu?"


"tidak, aku tidak menyimpulkannya sendiri. Mama yang memberitahuku akan hal ini."


Ayahnya terdiam karena jika itu di simpulkan oleh mantan istrinya, maka hampir bisa di pastikan itu benar adanya. Setelah terdiam beberapa saat, dia mulai berkata "haa... baiklah, kalau itu memang keputusanmu aku tidak akan ikut campur di dalamnya, tapi aku ingin hadir di sana sebagai orang tuamu, bagaimana?"


"Aku menanyakannya nanti kepada mama." Saat Jani menjawabnya, tiba-tiba teleponnya berbunyi lalu Jani melihat siapa yang meneleponnya dan setelah melihat yang meneleponnya itu Ayu, Jani segera mengangkatnya "Halo, Sayang, ada apa?"


"kamu masih lama membahasnya? Kalau sudah selesai, cepatlah kembali! anak kecil itu sudah bangun dan ingin berbicara dengan kamu."


"oke, aku akan segera ke sana! Kebetulan kesepakatannya telah selesai di sepakati."


"aku tunggu ya!" dan setelah itu dia mematikan panggilan teleponnya.


"apa ia datang bersamamu ke sini? Kenapa dia tidak menemui ku di sini?" tanya kakeknya yang kecewa dengan Ayu.


"maaf, kakek! Dia aku suruh menjaga sesuatu, tapi aku janji aku akan membawanya saat ulang tahun nenek bersama dengan satu kejutan lainnya."


"baiklah aku maafkan kalian kali ini, tapi ingat janjimu yang tadi! Jangan sampai mengingkarinya karena kamu tahukan? sifat nenekmu sama persis dengan ibumu."


"iya aku tahu. Mereka berdua paling benci di ingkar janjinya. Kalau begitu aku pamit dulu dan Ayah, kabari aku kalau kontrak kerja sama kita selesai, oke?"

__ADS_1


"baiklah, aku akan segera menghubungimu."


Meskipun sekarang Jani bukan dalam ikatan keluarga Senopati lagi, tetapi hubungan dia dengan keluarga lamanya masih terjaga sampai sekarang. Setelah berpamitan dengan mereka, Jani pergi menuju tempat parkir untuk menemui anak kecil misterius itu.


__ADS_2