KAISAR DUA DUNIA

KAISAR DUA DUNIA
Uang hanya alat pertukaran


__ADS_3

Beberapa jam sebelum penyerangan di mulai, Rumah sakit terdekat.


Seorang dokter memasuki salah satu ruangan VIP dan mendekati pasien lalu berkata "Selamat ibu Maya! Anda sudah di perbolehkan pulang, tapi mohon untuk menghabiskan obat yang saya berikan dan juga jika memungkinkan untuk tidak melakukan hubungan **** selama satu bulan untuk mempercepat proses kesembuhan-mu!"


"Baik, saya akan melakukannya, Dok." Jawab wanita yang di sebut Maya.


Setelah Dokter itu pergi, Lena yang juga hadir untuk menjemput sahabatnya berkata "Jadi... apa kamu tetap akan menerima pekerjaan yang di sarankan oleh Mr. Gold?"


"iya! aku sudah membulatkan tekad-ku!" jawab Maya yang sedang bersiap untuk pergi dari rumah sakit.


"aku mengerti dengan tekad-mu, tapi aku penasaran, Bagaimana dia tahu kalau kamu pernah memiliki seorang adik laki-laki dan sekarang menawari-mu pekerjaan untuk menjadi pembantu di rumah baru adikmu?"


"aku juga tidak tahu, tapi dia berkata bahwa ini semua adalah takdir yang mempertemukan aku dengan adikku kembali. Dia juga mengatakan bahwa adikku itu adalah orang yang sangat ahli dalam bidang komputer sehingga membuat dunia takut kepadanya."


Lena hanya bisa tersenyum mendengar perkataan sahabatnya tentang kehebatan adiknya yang tentu saja dia tidak begitu percaya dengan apa yang di katakan jani meskipun itu kenyataanya.


Saat dia sedang asyik mengobrol dengan Maya, Lena melirik keluar dan tersenyum melihat banyaknya wartawan di luar area rumah sakit lalu berkata "sepertinya kita akan sedikit kerepotan untuk keluar dari rumah sakit ini."


Maya juga melihat keluar jendela dan kemudian berkata "kamu tidak perlu khawatir tentang mereka, karena Mr.Gold sudah mempersiapkan jalan alternatif untukku!"


"jalan alternatif?"


"sudahlah, nanti kamu akan tahu saat kita tiba di atap rumah sakit!" jawab Maya yang menarik tangan Lena untuk ikut dengannya menuju atap rumah sakit.


...


Di atap rumah sakit.


Saat Lena melihat sekelilingnya, dia tidak melihat ada yang spesial dari atap ini dan bertanya kepada sahabatnya "aku tidak melihat ada yang spesial dari atap ini untuk menjadi jalan alternatif kita?"


"itu karena kamu belum melihat lebih detail, Lena!" jawab Maya yang entah darimana sudah mengambil sebuah tas yang besar dan mengeluarkan isinya.


Saat Maya mengeluarkan isinya, dia mulai mempersiapkan jalan alternatifnya yaitu dengan menggunakan peralatan Flying Fox untuk meluncur dari atap rumah sakit menuju gedung parkiran di sebelahnya.


melihat peralatan yang di keluarkan oleh Maya, Lena sudah mengetahui bahwa itu adalah peralatan untuk game Flying Fox, tapi sekali lagi dia melihat sekelilingnya lalu berkata "kalau kita menggunakan cara seperti Flying Fox, kita butuh Wire-nya (jalur kabel baja) dan sejauh aku melihat, aku tidak menemukan hal tersebut di atap ini."


"itu karena kita harus membuat Wire-nya sendiri dengan menggunakan senjata ini!" kata Maya yang mengeluarkan sebuah senjata berbentuk roket dan kemudian dia lanjut menjelaskan "senjata ini di sebut Wiregun yang berfungsi untuk menembakkan kabel baja untuk membuat jalur meluncur dadakan. tidak seperti Speargun yang paling kuat bertenaga udara Pneumatik, Wiregun ini dirancang menggunakan tenaga ledakan yang sama dengan senjata api pada umumnya dan mampu menembakan ujung kabel baja dengan sangat kuat sehingga menempel pada beton yang kokoh. dan untuk tambahan benda ini di buat oleh adik laki-lakiku."


"apa adikmu itu ahli membuat senjata?" tanya Lena yang tidak tahu harus berkata apa tentang Wiregun ini.


Maya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari sahabatnya dan kemudian berkata "baiklah, bagaimana kalau kita bersiap pergi dari sini?"


"oke!" jawab Lena dan kemudian mereka mulai mengenakan pengaman sederhana lalu Maya bersiap menembakan Wiregun-nya menuju sebuah gedung parkiran mobil.


*DOOR!!*


suara yang di hasilkan oleh Wiregun cukup keras, tetapi dengan daya yang setara dengan peluru, ujung tali baja yang berfungsi menjadi pengait tertancap pada salah satu tiang gedung tersebut.


saat semuanya sudah siap, Maya dan Lena meluncur dari atap rumah sakit menuju gedung sebelah parkir mereka. kebetulan Lena memarkirkan kendaraannya di gedung ini dan mereka pun segera bergegas pergi dari gedung parkir ini sebelum para wartawan menyadari keberadaan mereka.

__ADS_1


...


Kembali ke masa sekarang.


Saat Jani dan Jaka sedang berjalan kaki menuju rumah nomor dua, Jani merangkul sahabatnya lalu bertanya dengan suara yang kecil "Jak! lu pasti punya alasan lain kan, untuk membiarkan diri lu tertangkap?"


"iya! gua memang punya alsan lain yaitu agar Jali batal ngelamar Devi, tapi sayang dia sudah duluan melamar sebelum tahu gua telah di culik." jawab Jaka dengan lesu yang sudah tahu bahwa rencananya gagal.


beberapa saat setelah Jaka berkata seperti itu, tiba-tiba teleponnya berdering lalu saat dia melihat siapa yang menelepon, jaka langsung mengangkatnya dan berkata "Halo mas calon pengantin! pajang umur lu, baru tadi di bicarakan sekarang orang langsung menelepon gua."


"gimana gua gak langsung nelepon, soalnya gua dengar semua yang elu katakan tadi! Djancok!!"


"hahaha! Lalu kalau elu sudah tahu, memangnya kenapa?"


"elu tunggu ya! gua langsung ke sana sekarang!!"


Dan setelah itu, Jali menutup teleponnya.


Melihat perbincangan mereka berdua, jani langsung berkomentar "kayaknya akan pecah perang dunia ke tiga nih!"


"hahaha!!"


"hahaha!!"


tawa mereka berdua yang mulai membayangkan amukan dari Jali.


Saat mereka sampai di rumah nomor dua, sebelum masuk rumah jani berkata pada Jaka "oh iya, Jak! sebelumnya gua sudah mempekerjakan seorang wanita untuk merawat lu, pokoknya elu tenang dia memiliki kecantikan yang setara dengan Ayu!"


"gua gak perlu kasih tahu karena elu sudah sangat mengenalnya. Ah! sial, gua lupa ganti topeng." kata jani sambil mengambil topeng emas miliknya.


Jaka pun mulai berpikir keras dan mengingat orang yang di maksud Jani sambil berjalan masuk ke dalam rumah. saat mereka masuk terdengar suara seorang wanita menyambut mereka


"selamat datang Bos Gold dan tuan Jaka!"


ketika Jaka mendengar suara wanita itu, dia langsung terkejut dan kemudian melihat seorang wanita cantik berdiri di depannya lalu dengan tubuh yang gemetar Jaka berusaha bertanya "ini benar kak Maya kan?"


Maya yang akhirnya bertemu adiknya, mulai meneteskan air matanya lalu berjalan untuk memeluk Jaka sambil berkata "iya benar! ini kakak!"


Jaka hanya terdiam dan menerima pelukan kakaknya, namun dalam pikirannya kenangan dengan kakaknya terus di putar dan tanpa di sadari Jaka juga meneteskan air matanya. Dalam pikirannya, Jaka ingin mengatakan sesuatu yang dia sudah lama belum dia katakan kepada kakaknya "aku pulang, kakak!!"


Dalam keadaan masih memeluk Jaka, dia mendengar perkataan Adiknya lalu mulai kembai menangis lagi sambil berkata "hmm! selamat datang kembali, Jaka!"


Jani yang melihat hanya tersenyum hangat lalu sebuah pesan masuk yang menyatakan bahwa semua persiapan telah selesai.


Jani bersiap menelepon lalu sebelum itu dia keluar dan kemudian dia menelepon sebuah nomor. bukannya suara yang menjawab melainkan suara ledakan yang kuat yang berasal dari ujung perumahan.


*BOOOMMM!!*


Ledakan itu tentu saja berasal dari rumah nomor lima yang diledakan oleh jani berserta anak buah Jali dan untuk mengelabui warga sekitar, setelah ledakan di langit kembang api bermunculan layaknya pesta tahun baru.

__ADS_1


Saat jani sedang menikmati kembang api, teleponya terus berdering, tapi jani tidak memedulikannya dan tetap terus menikmati kembang api. beberapa saat kemudian, Jaka keluar dari dalam rumah untuk melihat kembang api lalu sambil bertanya kepada jani "apa kau yakin ini tidak apa-apa? menghancurkan rumah mewah senilai dengan harga 100 miliyar seperti itu?"


"Jaka, bagiku uang hanya alat pertukaran. oleh karena itu, meskipun aku kehilangan banyak sekali uang, aku tetap tenang karena sahabatku masih tetap ada di sisiku."


"memang kau itu adalah sahabat terbaik!"


"tentu! kalau begitu izinkan aku membantumu untuk terakhir kalinya."


"membantu untuk apa?"


"membuatmu bertanggung jawab! tentu saja!" jawab jani sambil memegang bahu Jaka dengan erat.


Tepat setelah itu, ada sebuah mobil berhenti di depan rumah mereka lalu ketika pengemudi keluar Jaka mulai merasakan sedikit takut karena orang tersebut adalah Jali yang saat ini memasang wajah marah.


"Ja...ka!! sudahkah kau siap untuk bertanggung jawab?" kata Jali yang berjalan menuju ke sini dengan senyuman berbahayanya.


"hei! Jan!! tolong lepasin gua!!"


"baiklah." jawab Jani yang melapaskan tangannya lalu dengan cepat memasuki rumah dan mengunci pintunya lalu berkata "Jali! tolong jangan membunuhnya yaa!"


"akan ku usahakan." jawab Jali dengan tenang dan setelah itu, dalam waktu satu jam terdengar suara teriakkan Jaka yang berusaha mempertanggung jawabkan tindakannya yang telah membuat semua orang mengkhawatirkannya.


...


Pagi berikutnya, Jani mengundang ibunya, adiknya dan Ayu untuk sarapan di rumah nomor dua dan merayakan penyambutan Maya ke dalam keluarga besar mereka. setelah acara perayaan selesai, Jani mengajak dua sahabatnya menuju basement lalu masuk kedalam lift untuk pergi ke ruang rahasia miliknya.


Awalnya mereka berdua tidak percaya bahwa ada ruang bawah tanah di ujung lift tersebut, tapi setelah di paksa oleh Jani, mereka mau memasuki lift tersebut. saat tiba di lantai rahasia, mereka berdua tidak bisa bicara apa-apa karena terlalu terkejut dengan luasnya ruang bawah tanah ini.


Saat mereka sedang mengagumi ruangan ini, jani berkata "tempat ini akan menjadi markas terbaru kita dan Jaka! ruangan di sebelah sana akan menjadi tempat penelitian teknologimu."


"oke! dengan begini gua gak usah takut kejadian Punakawan terulang lagi!" jawab Jaka dengan perasaan lega.


setelah mereka istirahat sebentar di ruang bersantai, mereka segera kembali ke atas untuk melakukan berbagai hal. seperti Jali yang akan memindahkan berbagai arefak kuno berharganya ke dalam ruang harta dan Jaka yang pergi ke gudang tua untuk mengambil hal yang penting dan memindahkannya ke ruang penelitian teknologi.


....


Sementara kedua sahabatnya sibuk melakukan pindahan, Jani dan Ayu pergi ke sekolah Jani untuk melihat proses seleksi pemilihan PKL yang di adakan hari ini. Di dalam mobil Jani yang sibuk membaca dokumen tiba-tiba bertanya kepada Ayu


"sayang, apa Devi ikut seleksi ini juga?"


"iya, dia ikut. padahal kalau dia meminta kepada Jali, dia pasti sudah mendapat posisi tinggi di perusahaan Baja milik Jali." jawab Ayu dengan santainya.


"dia pasti tidak akan melakukan hal itu karena menurutku Devi itu memiliki sifat seperti kakaknya yang keras kepala itu."


"siapa yang kamu sebut keras kepala hah!?" jawab Ayu sedikit marah sambil mencubit perut Jani.


"Aww... memangnya siapa lagi?" jawab jani sambil tersenyum mengejek kepada Ayu.


"ihh... awas kamu yah!!" jawab Ayu yang semakin kesal kepada jani lalu mulai menyerang Jani.

__ADS_1


Jani juga menaruh dokumen dan menahan serangan Ayu sampai mereka tiba di sekolah Jani.


__ADS_2