
Saat Jani terbangun di bumi, dia tidak berada di kamarnya, melainkan di sebuah kawah gunung berapi aktif yang siap meletus kapan saja dan di atas langit gunung berapi terdapat kumpulan awan hitam yang mengeluarkan petir di sekelilingnya.
Saat Jani masih dalam kebingungan, tiba-tiba dari kawah gunung berapi keluar seekor harimau raksasa yang langsung mengaum ke arah awan hitam di atasnya. Seolah menanggapi auman sang harimau, awan hitam tiba-tiba bergemuruh dan seekor naga biru muncul dan langsung menerjang ke arah sang harimau.
Mereka mulai bertarung dan Jani yang tidak tahu harus melakukan apa, hanya bisa duduk di samping sambil menonton dua hewan buas bertarung dengan sengit. Setelah bertarung cukup lama, mereka berhenti dan berbalik menatap Jani dengan bingung.
Saat Jani melihat mereka berdua berhenti bertarung, Jani berdiri dan bertanya "apakah sudah selesai? Kalau sudah, bisakah di antara kalian berdua menjelaskan apa yang terjadi di sini?"
Sang harimau yang pertama bertanya kepada Jani "manusia, apa kau tidak takut melihat pertarungan kami yang begitu dahsyat ini?"
"tidak terlalu, tapi aku cukup menikmatinya?"
""menikmatinya?"" kata mereka berdua bersamaan.
"haha.... menarik sekali! Tuan baru kita ini benar-benar sangat menarik, benarkan Ignis!?" kata dari sang naga biru petir.
"yaa, kau benar Tempest! Tidak hanya memiliki semua bakat sihir, tetapi juga jiwanya bukan berasal dari dunia kita!" jawab sang harimau Lava.
Setelah puas tertawa, sang naga biru petir berkata "baiklah, untuk saat ini mari kita memperkenalkan diri dahulu. Seperti yang kau lihat, aku adalah seekor naga unsur petir, bernama Tempest! Walaupun sekarang aku hanya sebuah roh yang mendiami pedang, tapi dulu aku adalah monster tingkat SSS dari menjadi penguasa langit di seluruh benua Arca!!"
"dan aku adalah harimau Lava!, Ignis. Tidak seperti kadal itu yang hanya memiliki satu unsur sihir, aku memiliki dua!! yaitu unsur api dan tanah!!. Dulu aku pernah menguasai daratan tandus kematian sampai di juluki sebagai penguasa daratan!"
"aku Jani, salam kenal. Jadi, apa alasan kalian membawaku kemari?"
"kami ingin memberitahu bahwa sebenarnya kami berhasil mendiami jiwamu dan ikut sampai ke dunia asalmu." Kata Ignis yang menjelaskan kenapa mereka bisa di sini.
"hah! Kenapa kalian ikut denganku!?"
"yah, kami hanya penasaran dengan dunia yang berbeda dengan benua Arca." Jawab Tempest dengan malu.
"meskipun kami berhasil mengikutinya, tapi kami tidak bisa menikmati dunia asalmu tanpa tubuh. Jadi kami membawamu ke sini untuk membuat sebuah permintaan." Tambah dari Ignis.
"apa itu?"
"kami ingin kau mencarikan kami tubuh fisik seekor hewan yang kami inginkan. Kalau aku mau seekor ular dewasa yang berukuran Satu meter atau lebih, tapi jangan terlalu besar! Itu akan membuatku terlihat gemuk." Jawab Tempest yang menjelaskan keinginannya.
"dan kalau aku ingin seekor anak harimau jantan. Agar aku terlihat sedikit imut." Kata Ignis yang menjelaskan keinginannya.
"lalu, apa yang kudapat setelah memenuhi keinginan kalian?"
"hehe, nak! Sebelumnya aku ingin bertanya kepadamu? Apa kau tahu alasannya kenapa kau tidak bisa menyimpan kami di penyimpanan dimensi sebelumnya?" tanya Tempest kepada Jani.
"tidak, aku tidak tahu." Jawab Jani yang baru mengingat tentang dua pedang tingkat mistisnya tidak pernah bisa masuk ke dalam ruangan penyimpanan sihir.
"itu karena kami adalah senjata tingkat tinggi dan mampu mengendalikan keinginan kami yang tidak mau untuk memasuki ruangan penyimpanan mana pun." Jawab Ignis.
"oleh karena itu, jika kau dapat memenuhi keinginan kami, kau dapat menggunakan pedang kami di dunia asalmu atau dunia Arcadia sesuka hatimu!" tambah Tempest.
"baiklah, aku akan berusaha memenuhi keinginan kalian, tapi ingat satu hal ini! Jika kalian telah mendapatkan tubuh fisik kalian, kalian tidak boleh berbuat sesukanya di dunia asalku, mengerti!?"
""oke! Kami akan berusaha."" Jawab mereka berdua secara bersamaan lalu membuat Jani pergi dari tempat ini dengan cepat.
__ADS_1
Kemudian pandangan Jani tiba-tiba mulai menjadi gelap dan langsung merasakan kelelahan yang sangat kuat.
....
Setelah itu, Jani pun terbangun di pagi hari di kamarnya dengan tubuh di penuhi keringat. Saat sedang bertanya pada dirinya sendiri, tiba-tiba suara Zein yang panik terdengar.
"master! Apa kau tidak apa-apa!?"
"aku baik-baik saja, hanya merasakan kelelahan yang sangat kuat."
"itu karena Mana anda telah habis!!"
"ohh! Ternyata dua Monster itu mengambil semua manaku? Ya sudahlah, untung sebelumnya aku membeli ramuan pemulihan mana untuk berjaga-jaga." Jawab Jani dengan tenang kemudian Jani mengeluarkan sebuah ramuan dan meminumnya sampai habis.
Setelah Jani memulihkan Mananya, dia pergi untuk mandi untuk membersihkan keringatnya. Saat dia sedang berendam di bak mandi, Zein bertanya "master, apa tidak apa-apa membiarkan kedua monster itu berdiam diri di dalam tubuhmu?"
"sebenarnya ini agak berbahaya karena jika aku mengalirkan sedikit saja manaku, maka dua tanda ini akan muncul dan semisalnya keluargaku melihat tanda ini, mereka pasti akan berpikir hal yang aneh-aneh dan itu akan sangat merepotkan untuk menjelaskannya kepada mereka." Jawab Jani sambil menunjukkan tanda milik Tempest dan Ignis yang berada di kedua punggung tangannya.
"lalu apa yang akan kau lakukan, master?"
"mungkin aku harus menemukan tubuh fisik untuk mereka berdua secepatnya."
Setelah Jani membersihkan dirinya, dia kembali ke kamarnya dan melihat kekasihnya yang tertidur pulas lalu melihat alarm Hp Ayu berbunyi yang menunjukkan waktu untuk bangun. Jani membiarkan alarm terus berbunyi lalu pergi ke lemari untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa menit kemudian, Ayu bangun dari tidurnya lalu saat dia melihat Jani sedang berpakaian, dia berdiri lalu dengan cepat menyergapnya dari belakang.
"pagi.., sayang!" kata Ayu yang memeluk Jani dari belakang.
"pagi juga, sayang!" jawab Jani kepada Ayu lalu setelah itu dia berbalik dan mencium kening sambil berkata "mandi dulu, aku tunggu kamu di bawah."
Setelah berpakaian Jani turun dan melihat ibunya dan mbok Surti sedang membuat sarapan bersama. Jani terkejut melihat ibunya masih di rumah karena biasanya ibunya Jani sudah pergi pagi buta ke ruko nasi uduknya untuk membantu karyawannya membuka warung.
Jani pun mencoba bertanya kepada ibunya "loh, mah!? Tumben mamah masih di rumah?"
"iya, soalnya depan kompleks perumahan itu dah banyak wartawan yang kumpul di situ dan kayaknya mereka mengikuti kita saat selesai acara tadi malam!" jawab ibunya sambil menyalakan TV yang menampilkan berita tentang acara peluncuran semalam.
Jani juga mulai melihat berita tersebut lalu melihat tayangan berita yang sedang siaran langsung di depan kompleks perumahan GOLDEN RESIDENCE.
Walaupun mereka sudah di usir oleh pihak keamanan, tetapi mereka tetap tidak mau pergi dan bertahan di sana.
Melihat berita tersebut, Jani hanya tersenyum lalu berkata "biarkan saja! Palingan bentar lagi ada pasukan polisi yang bakalan mengusir mereka semua."
" dari mana kamu tahu itu?" tanya ibunya.
"firasat." Jawab Jani dengan santai sambil duduk dan mulai sarapan.
Saat Jani sedang sarapan, suara sirene mobil polisi terdengar dari luar rumahnya dan suara pengumuman agar para wartawan membubarkan diri mulai terdengar. Setelah Jani selesai makan, dia keluar rumah dan pergi ke gudang tua.
Saat Jani masuk ke dalam dan melihat sahabatnya sedang melakukan programing dengan dua komputer super canggih yang Jani belikan lewat pasar gelap.
"Jak, gimana? server utama sudah siap?"
__ADS_1
"belum, mungkin butuh dua mingguan buat bikinnya, tapi kalau mau lebih cepat, lu beli satelit bintang lima. Gua janji seminggu server utama Arcadia Land siap di luncurkan untuk seluruh dunia!"
"elu enak tinggal ngomong doang! Masalahnya apa Amerika mau ngejual satelit tingkat tertinggi mereka begitu saja!?"
Seperti kata Jani, satelit bintang lima adalah salah satu seri satelit terbaik yang pernah di ciptakan oleh manusia. Seri satelit ini hanya ada lima di dunia yang di miliki oleh beberapa negara adidaya seperti Amerika, cina, Rusia, dan Korea Utara.
Alasan kenapa hanya ada lima di dunia karena sang perancang tiba-tiba menghilang dari dunia Deep Web dan tidak pernah di temukan keberadaannya meskipun seluruh kekuatan dunia Hacker bersatu mencarinya.
Jaka yang masih melakukan programing, menjawab pertanyaan Jani. "mereka mau! Tapi mereka pasti tidak menginginkan uang, tetapi sesuatu yang lain."
"sesuatu yang lain? Apa itu?"
"cetak biru dari mesin virtual."
"hah! Bukannya itu terlalu berbahaya, bagaimana kalau mereka bisa meneliti dan memproduksi massal mesin virtual sebelum kita menyebarkannya ke seluruh dunia?"
"itu mungkin, tapi itu akan memakan waktu terlalu lama karena kita tidak menjual rancangan menaranya. Lagi pula, setelah kita berhasil memiliki satelit bintang lima, mereka mungkin baru menyadari bahwa di butuh kan menara virtual untuk menjalankan mesin virtual."
Seolah tercerahkan dengan perkataan Jaka, Jani melanjutkan perkataan sahabatnya "jadi maksud, lu. Saat mereka meminta rancangan menara virtual,kita bisa melakukan pertukaran lagi dengan mereka dan saat mereka mulai membangun menara virtual secara massal kita hanya perlu mengoneksikan mesin virtual kita ke menara mereka dan kita bisa menghemat pembangunan menara untuk seluruh dunia, benar begitukan, Jak!?"
"seperti yang di harapkan dari pebisnis paling irit di dunia."
"hoho! Kau terlalu memujiku, Jaka!"
"Itu bukan pujian! Djancok!!"
"yaa, terserah lah. Yang penting gua coba bahas sama petinggi perusahaan gua buat ngejalanin rencana lu itu. Kalau begitu gua tinggal dulu ya, gua mau ke kantor dulu dan kalau lu butuh sesuatu bilang gua, pasti gua usaha in asal jangan minta cewek aja."
Untuk pertama kalinya Jaka menghentikan programing nya lalu berbalik arah dan langsung melempar sendalnya sambil berkata "******** LU, JAN!!"
"haha!" Jani langsung kabur meninggal gudang tua dan saat dia meninggalkan gudang, dia melihat mobil yang mencurigakan lalu berkata dalam hatinya 'kayaknya gua harus percepat buat ngebangu laboratorium buat Jaka di dalam kompleks perumahan Golden Residenceaa deh, Biar sahabat gua aman dari serangan mereka. Tapi siapa yang mau ngejual rumah di perumahan yang memiliki keamanan tertinggi di Asia tenggara?'
Jani mencoba menghubungi pihak pengurus perumahan dan bertanya tentang ada tidaknya tetangga yang mau menjual rumah mereka, tapi hasilnya tidak ada dan malah pengurus bertanya kepadanya apa ia mau menjual rumahnya. Jani akhirnya mengurungkan niatnya dan mencoba mencari jalan alternatif lainnya.
...
Setelah kembali ke rumahnya Jani melihat Ayu sudah bersiap untuk pergi ke kantor dan bertanya kepadanya "siap berangkat?"
"tentu saja, siap dong!" jawab ceria dari Ayu yang terlihat sangat cantik dengan setelan kantornya yang modis dan membuatnya terlihat seperti model kelas dunia.
Jani merapikan setelan kantornya lalu pergi menaiki mobil bersama dengan Ayu. Saat dia akan berangkat, Putri dari dalam rumah berlari dan berkata "kak, jangan lupa kirim mesinnya ke rumah hari ini ya! Aku pengen banget coba masuk dunia virtual kayak yang di novel-novel itu."
"iya! Udah di bilangin kok! Sama pengurusnya buat memasangnya hari ini. Palingan sejam lagi juga sampai di depan kompleks!" jawab Jani sambil mencubit pipi adiknya.
"Aww sakit tau!!" kata Putri yang langsung masuk ke dalam rumah agar tidak di cubit oleh kakaknya lagi.
Setelah itu, Jani dan Ayu berangkat ke kantor. Di perjalanan Ayu bertanya kepada Jani "aku kagak pernah di cubit pipinya sama kamu."
"mau aku cubit sampai pipi kamu tembem kayak Putri?"
"gak usah! Nanti kamu kagak suka lagi sama aku?"
__ADS_1
"memang, tapi aku bakalan makin cinta sama kamu!"
"ihh! Gombal!" jawab Ayu yang bersandar pada bahu Jani sambil menikmati kemesraan mereka dalam perjalanan ke kantor.