KAISAR DUA DUNIA

KAISAR DUA DUNIA
Sebuah persyaratan


__ADS_3

3 hari kemudian.


Saat Jani terbangun, dia merasakan sedang di peluk oleh seseorang dan melihat ke bawah selimutnya. Di bawah selimutnya, terdapat seorang wanita berambut panjang bergelombang dan bertubuh langsing yang tidak lain adalah Ayu Cahyani selaku CEO perusahaan Arcadia dan pacar sang pemilik perusahaan, Jani.


Jani mencoba melepaskan pelukan Ayu, tapi tidak berhasil dan malah membuatnya lebih erat memeluknya. Pada akhirnya Jani membiarkannya dan menunggunya terbangun sambil melihat panggilan tidak terjawab di HP-nya dengan satu tangan dan tangan satunya mengelus kepala Ayu yang masih keadaan tertidur.


Di antara panggilan tidak terjawab nya ada satu nomor yang paling banyak menghubunginya. Jani menamai nomor tersebut dengan Ryoma Takahashi, dia adalah kepala keluarga Takahashi saat ini yang juga ayah dari Masamune dan Kazuya.


Jani berpikir 'pasti pak tua itu sudah tahu bahwa aku telah membeli cabang perusahaannya, lebih baik menghindarinya terlebih dahulu'. Jani menjawab kembali semua panggilan kecuali panggilan milik Ryoma Takahashi dan setelah menjawab semua panggilan tersebut, Jani mengetahui bahwa mesin CAPSUL VIRTUAL REALITY telah sukses melakukan uji coba dan TOWER VIRTUAL REALITY hampir rampung dikerjakan.


Sudah 30 menit berlalu, tapi ayu tetap tidak bangun dan terus berbaring di dada Jani sambil menikmati kepalanya dielus-elus. Mengetahui Ayu sudah terbangun tapi tidak mau pindah dari posisinya membuat Jani kesal dan berkata dengan lembut “sayang, jika kamu tidak bangun juga. Aku akan batalkan liburan kita ke Jepang nanti.”


Mendengar ancaman Jani, ayu langsung bangun dan menjawab “iya-iya aku udah bangun, jangan ancam buat batalin liburannya ya, sayang.”


“iya, aku kagak jadi batalin, tapi sekarang kamu mandi duluan terus berangkat ke kantor. Sudah hampir jam 6 pagi, kalau kagak berangkat sekarang kamu pasti terjebak kemacetan.”


“oh iya, kamu benar.”


Ayu segera bangkit dari tempat tidur dan segera pergi ke kamar mandi. Di saat dia sedang mandi, dia berteriak memanggil Jani “sayang!!, tolong pilihkan pakaian sama sepatu aku. Di lemari pojok kiri.”


Jani bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke lemari pakaian dengan lima pintu sambil berpikir. ‘bukannya lemari pojok kiri itu masih kosong ya?’


Saat Jani membuka lemari pojok kiri, dia terkejut isi lemari sudah penuh dengan pakaian dan sepatu milik pacarnya. Saat Jani selesai memilih pakaian untuk pacarnya, tiba-tiba HP-nya berbunyi nada dering panggilan masuk.


Jani melihat siapa yang meneleponnya dan setelah melihatnya, Jani ragu untuk mengangkatnya karena yang meneleponnya adalah Ryoma Takahashi.


Jani akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan tersebut dan memulai percakapan mereka.


“halo.” Kata Jani dalam bahasa Jepang.


“BOCAH, akhirnya kau mengangkat teleponku.”


“maaf guru, selama dua hari ini aku tak sadarkan diri karena terserang demam dan baru hari ini aku kembali sehat.”


“bagus kau sudah kembali sehat dan sekarang aku ingin bertanya, kenapa kau membeli cabang perusahaanku tanpa memberi tahu gurumu terlebih dahulu?”


“kejadian itu bertepatan dengan saat aku ingin memulai sebuah perusahaan dan aku berpikir itu akan sangat menghemat biaya untuk membeli perusahaan lama dan merombak nya menjadi perusahaan yang baru daripada harus membuat yang baru.”


“baiklah, aku terima alasanmu. Tapi beritahu aku, bisnis seperti apa yang kau jalani di perusahaanmu?”


“ini bisnis penjualan produk teknologi tinggi.”


“produk apa itu?”


“ini masih aku rahasiakan, guru. Tapi yang jelas produk ini akan mengejutkan seluruh dunia.”


“oh, itu semakin membuatku penasaran. Aku tidak akan bertanya lagi tapi jika kau membutuhkan bantuan panggil saja aku, gurumu siap membantu kapan pun itu.”

__ADS_1


“aku sangat menghargai bantuanmu, guru. untuk sekarang aku akan menutup telepon dulu dan jagalah kesehatanmu, guru.”


“baiklah, biar aku bertanya satu hal lagi, kapan kau akan mengunjungiku lagi?. Sudah lebih dari satu tahun kau tak pernah datang mengunjungiku, bocah.”


“kalau tidak ada halangan, awal musim semi aku akan berkunjung ke sana.”


“kutunggu kunjunganmu.”


Setelah menutup teleponnya, Jani menghela nafas panjang sambil berkata pada dirinya sendiri “untung guru tidak banyak bertanya. Kalau dia tahu bahwa aku akan menjual mesin yang telah dia teliti selama lebih dari 30 tahun, dia pasti mati karena terkejut.”


Jani melihat jam dinding yang menunjukkan sudah hampir setengah jam berlalu dan berteriak ke kamar mandi “SAYANG!! Aku tunggu di bawah. Kalau setengah jam lagi kamu belum turun, aku tinggalin kamu ya.”


“iya, sebentar lagi aku selesai. Tungguin aku ya!!”


“ya!!!, aku tunggu di bawah.”


Jani keluar dari kamarnya sambil membawa seragam sekolahnya dan turun ke lantai satu. Saat Jani turun, dia melihat adiknya sedang bermain HP barunya di ruang keluarga dan ibunya di dapur sedang membuat sarapan.


Melihat kakaknya sudah bangun, Putri berkata kepada kakaknya “oh kakak sudah bangun. Pantas di atas berisik banget.”


Ibunya melihat Jani membawa seragam sekolahnya bertanya “kamu langsung masuk sekolah? Kagak istirahat dulu satu hari lagi?”


Jani langsung menjawab pertanyaan ibunya “aku sudah sehat kok, mah” dan setelah itu dia melihat ke arah Putri dan bertanya “Putri, kak Ayu kapan datangnya?”


“baru kemarin malam, kak ayu Datang tanya kabar kakak. terus aku ngomong jujur kalau kakak sudah sakit selama tiga hari dan melarang aku buat kasih tahu kak Ayu. Setelah itu, kak Ayu minta izin sama mamah buat menginap dan merawat kakak.”


“kalau biasanya, kalian itu Cuma mau melakukan yang begituan kan?. Tapi saat Ayu memohon untuk menginap semalam, mamah terkejut melihat reaksi pacarmu, saat dia mengetahui kalau kamu sedang sakit dia tidak menangis atau marah kepadamu tapi malah langsung memohon kepadaku untuk menginap dan merawatmu.”


Ibunya berhenti melakukan pekerjaannya dan berbalik menghadap Jani dan bertanya “nak, apa kau punya alasan tersendiri untuk tidak memberitahu pacarmu kalau kamu sedang sakit atau kamu Cuma lupa aja?”


“tentu saja aku punya alasannya. Sebelum aku sakit, aku menyuruhnya untuk melakukan kesepakatan bisnis dengan lima perusahaan berbeda untuk menyuplai komponen mesin yang akan kubuat secara massal. Dalam kesepakatan itu, aku menyuruh ayu untuk mengelabui mereka untuk menandatangani kesepakatan tanpa membaca isinya secara detail dan membuat mereka masuk ke dalam perangkap yang kubuat.”


Jani melanjutkan “jika Ayu tahu kalau aku sedang sakit, dia pasti akan cemas dan mengganggu konsentrasinya dalam menghadapi lima pengusaha itu. Saat mereka melihat Ayu sedang cemas, mereka pasti akan curiga dengan kesepakatan itu dan saat mereka membacanya secara detail, mereka pasti menolak untuk menandatanganinya.”


Saat Jani selesai menjelaskan alasannya, dia bingung dengan reaksi ibunya yang terkejut dan bertanya “mah, kenapa malah terkejut?”


Ibunya akhirnya tersadar dan tersenyum sambil menjawab Jani “nanti aja mamah kasih tahunya, sekarang kamu mandi dulu sana!”


Jani berjalan ke kamar mandi dalam keadaan bingung.


Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolahnya, Jani keluar dari kamar mandi dan melihat Ayu duduk berhadapan dengan ibunya sambil memasang wajah memerah karena malu. Ibunya melihat anaknya selesai mandi, menyuruhnya untuk duduk di samping Ayu.


Ibunya mulai berbicara “mamah sudah dengar semuanya dari Ayu, dari pertama kali kalian bertemu dua tahun lalu di bursa efek saham dan sampai Ayu yang pertama kali menyatakan cinta sama kamu karena anakku ini terlalu kurang peka terhadap perasaan lawan jenisnya sendiri.”


Mendengar penjelasan ibunya, Jani juga ikut merasa malu pada sikapnya di masa lalu yang tidak peduli dengan perasaan Ayu saat itu karena dia terlalu sibuk mencari uang untuk membantu keuangan keluarganya. Sambil merasa malu, jani bertanya kepada ibunya “jadi, apa yang ibu ingin sampaikan kepada kita berdua setelah mendengar cerita awal pertemuan kita?”


“tapi sebelum itu, mamah ingin bertanya serius dengan kalian berdua. Jani dan Ayu apa kalian saling mencintai?”

__ADS_1


““kami saling mencintai.”” Jawab Jani dan Ayu secara bersamaan sambil saling memandang dan berpegangan tangan di bawah meja.


Melihat reaksi mereka berdua, ibunya berdeham untuk membuat mereka tersadar kembali dan kembali bertanya kepada mereka secara terpisah


“yang pertama mamah mau bertanya kepada Jani. Jani, apa kamu serius menjalani hubungan kamu dengan Ayu atau ini cuma sekedar 'CINTA MONYET' belaka?”


“aku serius dan aku tidak pernah memikirkan bahwa ini Cuma 'CINTA MONYET' karena jika bukan di sebabkan oleh aku yang masih berstatus sebagai pelajar, mungkin sekarang aku sudah berstatus sebagai suami dari Ayu Cahyani.”


“oke, sekarang untuk Ayu. Ayu, mungkin sekarang Jani sedang dalam masa di atas roda kekayaan tapi jika dia sedang terpuruk dalam roda kemiskinan, apa kamu masih mau menemaninya saat itu?”


“aku pasti akan terus bersamanya, walaupun dia adalah orang termiskin di dunia sekali pun.”


“Bagus, kalian berdua telah memberikan jawaban yang memuaskan. Sekarang mamah akan memberitahu kalian, apa yang ingin mamah sampaikan. Mamah telah merestui hubungan kalian berdua dan setuju jika kalian akan menikah di masa depan nanti.”


Sejenak Jani dan Ayu terdiam sesaat. Jani bertanya dengan terbata-bata kepada ibunya “ap..apa be..benar mamah merestui hubungan kami?”


“benar mamah telah merestui hubungan kalian. Alasan mamah bertanya seperti ini bukan Cuma karena mamah ingin merestui kalian doang, tapi juga karena dua hari yang lalu kedua orang tua Ayu datang ke sini dan mempertanyakan tentang surat yang di berikan Jani 3 hari yang lalu.”


Ibunya mengeluarkan sebuah kertas dan melanjutkan “kami berdiskusi tentang hubungan kalian berdua dan memutuskan untuk memberi Jani sebuah persyaratan jika dia ingin melamar Ayu.”


“apa persyaratannya, mah?”


“untuk membuktikan keseriusan kamu, ayahnya Ayu, meminta kamu dalam waktu satu tahun, kamu harus mendapatkan uang sekitar 50 triliun pendapatan bersih dari perusahaan kamu.”


Jani terdiam sesaat dan menjawab kembali dengan senyuman menantang “mah, apa hanya itu persyaratannya?”


“benar, hanya itu.”


“kalau begitu, kagak perlu menunggu satu tahun, cukup enam bulan bertepatan hari jadi aku sama Ayu. Aku akan melamarnya.”


“itu terserah kamu. Baiklah itu saja yang ingin mamah sampaikan, sekarang kalian berangkatlah ke sekolah dan kantor kalian masing-masing.”


“oke, mah. Berangkat dulu ya.”


“iya, hati-hati di jalan.”


Didepan rumah jani.


Jani menyuruh pak Karyo untuk menghantarkan Ayu dan putri, sedangkan Jani menggunakan sepeda motornya untuk berangkat ke sekolahnya.


Ayu ingin mengatakan sesuatu tapi itu di hentikan oleh Jani yang berkata duluan “kamu kagak perlu mengatakan apa pun soal ini. Cukup tunggu dan lihat aku akan melamarmu nanti.”


Ayu hanya menganggukkan kepalanya dan mendekati wajahnya ke arah Jani berniat untuk mencium. Jani tidak menolak ciuman tersebut dan membalasnya dengan ciuman Prancis yang lebih menggairahkan.


Saat mereka terlalu terbawa suasana, Putri memukul pintu mobil dan berteriak “woy, masih pagi sudah bermesraan. buruan nanti terlambat nih!!.”


Jani dan Ayu tersadar kembali dan bergegas ke kendaraan mereka masing-masing dan Jani langsung pergi melesat dengan menggunakan motornya di ikuti oleh mobilnya yang membawa Ayu dan putri di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2