
Jani yang sudah kembali dan memasuki mobilnya, melihat orang yang duduk di sampingnya bukanlah Ayu melainkan anak kecil yang sebelumnya di selamatkan oleh dirinya. Jani yang telah membuka topengnya berkata kepada anak kecil tersebut "Jadi, apa yang ingin kamu katakan kepadaku?"
Anak kecil tersebut sebenarnya agak gugup melihat ke arah Jani dan mencoba meminta bantuan kepada mama barunya, Ayu. Namun sayangnya Ayu malah menyuruhnya untuk berterus terang saja dan tidak perlu takut kepada Jani.
"Sebelumnya aku ingin berterima kasih kepada Om yang telah menyelamatkanku dari kejaran petugas laboratorium yang mengejarku. Lalu aku juga punya permintaan untuk Om?"
"apa itu?" kata Jani yang memandang anak kecil tersebut.
"aku...AKU INGIN MENJADI ANAKNYA OM!!!" jawab gadis kecil itu dengan teriaknya sambil menutup matanya.
Jani sedikit tersenyum, lalu berkata "boleh saja, tapi aku ingin tahu siapa namamu, dari mana kamu berasal dan bagaimana kamu bisa sampai di dalam bagasiku?"
Gadis kecil itu dengan polos mengungkapkan sedikit ceritanya "um... aku tidak tahu siapa namaku yang sebenarnya, tapi orang-orang di laboratorium memanggilku nomor Lima!. Di laboratorium itu ada sepuluh anak yang di tempatkan di ruangan yang sama, sembilan dari kami sebenarnya sudah di rawat di laboratorium itu sejak kami masih bayi, Namun ada satu anak yang berasal dari dunia luar. Dia di beri nama nomor sepuluh oleh dokter laboratorium itu, tapi sebenarnya dia sudah memiliki nama yaitu Seno Brawijaya!"
"Seno Brawijaya!!" kata Jani yang mengulangi nama tersebut dengan terkejut.
"sayang, apa kamu menganal nama ini?"
"iya, jika aku dugaanku benar, maka anak itu adalah sepupuku dari bibiku yang saat ini mengelola bisnis keluarga di bidang logistik. Beberapa tahun lalu keluargaku di hebohkan dengan hilangnya salah satu sepupuku yang di culik dan mungkin dia akan selamat jika si penculik meminta tebusan, tapi sayangnya setelah di culik tidak ada kabar tentang si penculik yang meminta tebusan atau pun Seno yang berhasil kabur dari penculik tersebut."
"lalu bagaimana dengan keadaan bibimu sekarang?"
"dia masih berusaha mencari anaknya di luar negeri. Baiklah, tolong lanjutkan ceritamu." Jawab Jani kepada Ayu lalu menyuruh gadis keci itu melanjutkan ceritanya.
"oke!. Kak Seno adalah orang yang sangat mudah bergaul dengan semua saudara-saudariku. Dia juga yang menceritakan bagaimana keadaan dunia luar yang belum kami rasakan dan kami mulai mendambakan dunia luar seperti itu. Mungkin hanya butuh waktu beberapa hari agar semuanya menganggap kak Seno sebagai kakak tertua dan mulai mendengarkan semua perkataannya, namun ketika dia menyebutkan untuk melarikan diri dari sana, hampir semuanya menolak rencana itu."
"pada akhirnya hanya aku yang mau ikut rencana kak Seno karena bakat unikku yang bisa berteleportasi secara bebas dan semua saudaraku memilih untuk menunggu kembalinya aku untuk membebaskan mereka semua."
"lalu saat kau melarikan diri bersama dengan Seno, apa yang terjadi kepadanya?"
"umm... mungkin masih hidup? Karena ketika kami hampir saja tertangkap, kak Seno tertembak di dada kirinya dan kembali tertangkap."
Jani berpikir sejenak lalu berkata"baiklah! Kamu akan menjadi anakku dan aku juga akan memberimu nama baru yaitu, Alicia!"
"benarkah!?"
"tentu saja! Alicia, kemari peluk papamu ini!"
"PAPA!!" teriak Alicia yang melompat ke arah Jani dengan penuh semangat.
Ayu yang duduk di kursi depan juga merasa gembira karena mereka sudah menjadi keluarga lengkap meskipun mereka belum menikah. Alicia yang masih di pelukan Jani bertanya kepadanya "Papa, bisakah kita menyelamatkan semua saudaraku dan mereka juga bisa menjadi anaknya Papa dan Mama?"
"tentu, mereka saudara-saudarimu dan di masa depan mereka juga anak-anakku!" Jawab Jani yang masih memeluk anaknya lalu berkata "baiklah, sepertinya sudah waktunya kita pulang, tapi sebelum itu kita belanja semua kebutuhanmu dulu!"
"oke, kita berangkat!" Jawab Alicia yang penuh dengan semangat.
...
Setelah puas berbelanja, mereka bertiga pulang ke rumah mereka untuk bertemu dengan ibunya Jani, tapi sesampainya di rumah ibunya tidak ada di rumah dan adiknya sedang bermain dengan game virtual Realty, Arcadia Land.
Melihat Ibunya tidak ada di rumah, Jani berkata "mama ke mana ya?"
__ADS_1
"eh!! Apa nenek tidak ingin menerimaku!?" tanya panik Alicia.
"tidak, Cia! Nenek sedang sibuk mengurus persiapan pernikahan papa dan mama yang sebentar lagi di adakan." Jawab Ayu yang menenangkan Alicia.
"oh! Berati Cia bisa di terima oleh nenek?"
"tentu saja! Cia adalah gadis termanis yang pernah ada! Jadi, nenek kamu gak mungkin menolak kamu."
"Umm! Aku mengerti!"
"sambil menunggu, bagaimana kalau Cia mandi dengan mama lalu mengenakan pakaian yang baru saja kita beli?" tanya Jani yang duduk di sofa ruang keluarga.
"ide bagus! Mama ayo cepat!" Jawab Alicia yang kemudian menarik tangan Ayu untuk segera mandi bersama dengannya.
"iya! Mama ganti baju dulu!" jawab Ayu yang ,mengikuti anaknya ke kamar mandi.
Saat mereka berdua sedang mandi, Putri keluar dari kamarnya lalu mendekati Jani dan bertanya "kak, kayaknya tadi aku mendengar suara anak kecil deh? Apa Cuma perasaan aku aja?"
"itu bukan perasaan kamu saja, tapi memang aku membawa anak kecil yang aku adopsi sebagai anakku." Jawab Jani dengan santai.
"aneh, kenapa tiba-tiba kakak mengadopsi anak?"
"tidak ada alasan khusus, karena kemungkinan ini adalah takdir yang mempertemukan aku dengan anak itu lalu menyelamatkannya."
"takdir? Maksud kakak apaan sih?"
"Yah, nanti saat mama pulang, Anak itu akan menjelaskan semuanya kepada kamu dan mama."
"halo, siapa ini?"
"ini dari kepala staf kepresidenan. Mr.Gold, Pak presiden memanggil anda untuk mengobrol di istana negara."
"enggak bisa besok apa? Saya masih ada urusan yang belum di selesaikan?"
"maaf, pak presiden meminta anda untuk datang segera ke istana."
"haa... baiklah! Saya akan menuju ke sana segera!" jawab dengan nada kesal dan itu juga mengakhir panggilan ini.
Saat Jani selesai menerima panggilan, kebetulan ibunya baru saja pulang dan melihat anaknya tampak kesal setelah menerima panggilan, ibunya bertanya "panggilan dari siapa itu? Sampai membuatmu sekesal itu?"
"kepala staf kepresidenan. Mereka menyuruhku untuk pergi ke istana."
"kalau begitu kamu harus pergi, karena Itu panggilan negara!"
"iya, ini memang aku akan berangkat ke sana. Oh! Iya Ma! Aku baru saja mengadopsi seorang anak perempuan, mama tolong terima dia ya! Karena dia sangat ingin bertemu dengan nenek barunya!"
"tiba-tiba sekali?"
"yah, nanti Ayu yang menjelaskan semuanya. Saat ini dia sedang memandikan Alicia di kamar mandi."
"Alicia? Apa itu nama anak kamu?"
__ADS_1
"benar! Kalau begitu aku berangkat dulu! kalau kelamaan, nanti mereka pasti menelepon lagi." Jawab Jani yang kemudian pergi ke garasi lalu menggunakan sepeda motornya karena dia harus cepat sampai ke istana.
....
Sesampainya di Istana, Jani di antar menuju ruangan yang sebelumnya dia kunjungi. Saat Jani memasuki ruangan itu, Dia melihat ada beberapa orang asing mengenakan pakaian militer dan di seberangnya ada pula beberapa Jendral yang Jani kenal duduk berhadapan dengan orang asing tersebut.
Saat Jani mendekati mereka, seorang wanita yang duduk di antara dua jendral berdiri dan memperkenalkan dirinya "Selamat siang, Mr.Gold! saya Rouxi, penerjemah yang mewakili dua jendral dari negara kami, China."
Jani menganggukkan kepalanya menanggapi wanita itu lalu dia berkata "jadi, Pak presiden? Ada apa memanggilku kemari?"
"aku di sini hanya sebagai penengah bagi dua jendral China ini." Jawab Presiden dengan senyum tenangnya.
Jani mengerti sikap presiden yang lepas tangan ini. Karena jika pemerintah ikut campur dalam masalah ini, mungkin bisa saja dua jendral yang ada di depannya diam-diam meluncurkan beberapa rudal secara acak ke daerah Indonesia yang akan memakan korban sipil.
Setelah memahami sikap Presiden, Jani bertanya kepada dua jendral tersebut "Jadi dua Jendral yang terhormat, apa yang kalian inginkan dari pengusaha kecil sepertiku ini?"
Jendral itu mulai berbicara dalam bahasa mandarin dan setelah selesai penerjemah berkata "kami di sini meminta secara baik-baik kepada Mr.Gold untuk mengembalikan pusaka negara kami!"
"kalau aku tidak mau?"
Sang penerjemah memberitahukannya kepada salah satu jendral lalu Jendral itu menjawab dengan nada mengancam dan Penerjemah dengan segera berkata "kami akan melakukan apa pun untuk mendapatkan pusaka kami kembali!"
"APA MAKSUDMU BERKATA SEPERTI ITU!!?" kata jendral Karto yang marah dengan ancaman jendral asal China itu.
"Jendral Karto aku mengerti dengan amarahmu, tapi kalian semua sudah sepakat untuk tidak ikut campur dalam hal ini, kan?" kata Rouxi kepada jendral Karto yang mengingatkan tentang kesepakatan mereka yang sebelumnya.
Setelah mendengar adanya kesepakatan yang tidak dia ketahui, Jani berdiri dan menyela percakapan mereka berdua "aku tidak tahu kesepakatan apa yang kalian lakukan di belakangku, tapi aku tahu bahwa itu membuat pemerintah menjadi netral terhadap masalah ini. Aku tidak marah dengan kalian semua dan aku juga tidak takut dengan ancaman dua jendral ini karena kalau pun mereka melakukan sesuatu yang mengancam orang di sekitarku, maka bersiaplah untuk menyesalinya!" saat di pengujung kalimat Jani sedikit mengeluarkan auranya untuk mengancam dua jendral tersebut.
Tentu saja dua jendral itu merasakan ancaman yang membuat mereka mengeluarkan senjata mereka dan mengarahkannya ke Jani yang masih mengeluarkan auranya yang menakutkan. Melihat dua jendral itu mengeluarkan senjata mereka, jendral Karto dan jendral Jarwo ikut mengeluarkan senjata mereka dan bersiap menembak dua jendral China ini.
Melihat situasi yang menegang Presiden mencoba menenangkan semua orang, tapi sayangnya usahanya sia-sia karena dia diabaikan.
Saat itu Jani tiba-tiba berhenti mengeluarkan auranya lalu dengan senyuman berkata dalam bahasa mandarin "dari pada kalian mengarah pistol itu kepadaku, lebih baik kalian kembali sebelum kapal induk kalian tenggelam akibat amukan wanita gila itu!"
"apa maksudmu?" tanya salah satu jendral dan tiba-tiba dia mendapatkan sebuah panggilan telepon dan Begitu juga dengan jendral satunya yang mendapat panggilan telepon yang sama. Saat mereka selesai dengan panggilan telepon itu, salah satu jendral mengisyaratkan ke penerjemah untuk mengucapkan perpisahan dan dia pun pergi keluar ruangan dengan tergesa-gesa.
Penerjemah itu mengikuti instruksi sang jendral dan berkata "kami mohon permisi dulu karena ada urusan mendadak!" dan dia pergi mengejar dua jendral itu.
Suasana pun kembali tenang setelah kepergian dua jendral China itu. Saat semuanya kembali tenang, Presiden bertanya kepada Jani "Mr.Gold, apa yang kau katakan kepada mereka berdua sehingga mereka pergi dengan wajah pucat seperti itu?"
"aku hanya memberitahu berita terkini tentang kondisi laut China selatan kepada mereka."
Semua orang masih kebingungan dengan maksud dari perkataan Jani.
....
Sementara itu di laut China selatan.
Sebuah kapal induk milik negara China sedang mengalami kerusakan yang parah dan bisa dilihat banyak awak kapalnya tergeletak dilantai dengan darah yang mengalir keluar.
Di dalam ruangan kendali utama terlihat seorang wanita yang menduduki seseorang dan berkata kepadanya "hei, laksamana! Aku hanya meminta sebagian senjata milikmu, tapi kenapa kau malah menyerangku dengan sangat brutal? Lihat! Banyak tentara negara kita yang menjadi korban akibat tindakanmu yang sembarangan ini!!"
__ADS_1