
Ada beberapa perusahaan yang menggunakan atap perusahaannya untuk berbagai hal seperti: membangun landasan helikopter pribadi, membangun kantin tipe Outdoor bagi pegawainya, atau dibiarkan begitu saja.
Tapi berbeda dengan kebanyakan pengusaha lainnya, Jani menggunakan atapnya sebagai taman pribadi miliknya sendiri. Dia dengan sengaja membuat dinding di atap untuk membatasi sebuah ruang yang hanya bisa di masuki oleh dirinya menggunakan sihir teleportasi.
Oleh karena itu, saat semua orang mendengar bahwa bos mereka ingin bertemu seseorang di 'Teras', semua pegawai yang mendengarkan termasuk Ayu mulai kebingungan.
Saat berada di dalam Lift, Ayu bertanya kepada Jani "aku tidak pernah tahu kalau kita memiliki sebuah Teras di perusahaan kita?"
Jani tersenyum di balik topengnya, lalu berkata "yah.. sebenarnya tempat itu baru setengah jadi, tapi ada tamu tidak di undang datang ke sana lalu menyuruh untuk menemuinya segera."
"siapa sih orang tersebut! Apa dia belum tahu bahwa lelakiku ini adalah penyihir berbakat!?"
"kamu pasti akan mengetahuinya nanti." Jawab Jani sambil berjalan keluar dari lift yang sudah sampai di lantai 10. Lalu dia juga berkata di dalam hatinya ' meskipun aku juga cukup kuat, tapi dengan kekuatanku yang sekarang, aku tidak mungkin dapat mengalahkannya'
...
Sementara itu di ruang rapat utama.
Ada tiga orang perwakilan negara Cina datang ke sini dengan di temani oleh seorang pengacara asal Indonesia untuk mengambil kembali tongkat emas. Tiga orang perwakilan dari cina memiliki posisi cukup kuat, yaitu: satu berasal dari kedutaan besar negara Cina dan dua orang lagi berasal dari NPM(National Palace Museum).
Kebetulan dua orang dari NPM sedang berlibur di Indonesia dan saat mereka mendengar kabar bahwa salah satu artefak negara mereka yaitu tongkat emas berada di tangan seorang pengusaha Indonesia, mereka segera berupaya untuk mengambil kembali senjata itu dari tangan pengusaha tersebut.
Saat ini mereka sedang menunggu kedatangan Jani dengan rasa percaya diri yang tinggi bahwa mereka pasti dengan mudah membuat Jani mengembalikan tongkat emas tersebut, tapi setelah menunggu cukup lama Jani tidak kunjung datang dan malah seorang resepsionis yang sebelumnya telah mereka suap yang datang lalu berkata "maaf tuan-tuan sekalian, bos berpesan kepadaku bahwa kalian harus menunggu sedikit lebih lama karena dia harus bertemu dengan seorang tamu yang lebih penting dari pada kalian semua!"
Seorang pengacara mendekati resepsionis itu dan berkata "hei, apa maksudmu kita harus menunggu lagi!? Bukankah aku sudah membayar mu sangat banyak dan kau berkata bahwa hari ini, kau bisa membuat kami bertemu dengan bos mu itu!?"
"memang aku berjanji seperti itu, tapi aku tidak menyebutkan kapan tepatnya bos gold bisa bertemu dengan kalian. Kalau begitu, saya permisi dulu." Jawab sang resepsionis dan setelah itu dia pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
Setelah sang Resepsionis pergi, pengacara berkata dengan nada kesal "sial! Padahal aku sudah membayar banyak untuknya!"
"tenanglah, tuan pengacara. Hasil suapan mu itu tidaklah buruk karena kita berhasil untuk menunggunya di sini saja sudah cukup daripada kita harus menunggu di lobi perusahaan bersama dengan wartawan dan para pedemo tersebut." Jawab sang duta besar Cina.
"terima kasih atas pujian, tuan Gong." Jawab sang pengacara kepada duta besar Cina.
Saat mereka selesai mengobrol, salah seorang perwakilan dari NPM yang baru saja selesai menelepon mendekati sang duta besar. Duta besar itu melihat perwakilan NPM, lalu berkata dengan bahasa mandarin "Bagaimana? Apa yang di katakan para atasan?"
Perwakilan tersebut mendekatinya membisikan sesuatu "...."
Sang duta besar terkejut, tetapi dengan dia kembali tenang lalu berkata "tolong sampaikan kepada atasan bahwa aku akan berusaha sekuat tenaga, tapi aku tidak menjanjikan keberhasilannya."
"baik, akan saya sampaikan sesuai perkataan anda." Jawab perwakilan tersebut lalu dia mulai melakukan panggilan lagi.
....
Sementara itu di kamar rahasia.
__ADS_1
Jani sudah mengangkat kasur di kamar tersebut dan dia bawahnya terdapat gambar seperti lingkaran sihir. Saat Jani mengalirkan energi sihirnya ke lingkaran sihir tersebut, lingkaran sihirnya mulai bersinar terang dan setelah memeriksa bahwa semuanya sudah aman, Jani bertanya kepada Ayu "apa tehnya sudah siap, sayang?"
"tentu! Semuanya sudah siap!."
"kalau begitu, mari kita sambut tamu tidak di undang tersebut!" Jani pun mulai memejamkan matanya lalu dengan pelan berkata "Teleportasi, AKTIF!!"
Mereka berdua pun pindah menuju atap perusahaan tempat sang tamu menunggu kedatangan mereka berdua.
....
Saat Jani dan Ayu membuka matanya, mereka telah berpindah menuju 'Teras' yang sebelumnya disebutkan oleh Jani. Ayu pun mulai melihat ke sekelilingnya karena penasaran, tapi berbeda dengan Jani yang hanya menatap seorang wanita berpakaian cina kuno sedang dengan santai duduk di sebuah kursi dengan tenang.
Wanita itu tidak melihat ke arah Jani, tetapi dia tahu bahwa Jani sudah ada di sana dan berkata "Bocah, akhirnya kau datang juga, tapi sepertinya ada wanita yang juga ikut bersamamu ya?"
"tenang saja! Dia adalah wanita yang paling aku percaya. Jadi, kedatangan mu kemari pasti tidak akan diketahui siapa pun, Nona Celestia." Jawab Jani dengan senyum ramahnya yang dia tunjukkan di balik topeng emasnya.
Ayu yang mendengar perkataan Jani terkejut lalu dia kemudian menatap sosok wanita yang di sebut sebagai Celestia di depannya. Untuk pertama kalinya Celestia membuka matanya lalu melirik ke arah mereka berdua dan berkata "duduklah terlebih dahulu, aku tidak mau terus melihat kau berdiri di sana seperti orang bodoh, Mr.Gold."
Jani yang semenjak tadi diam, mulai tersadar dan duduk berhadapan dengan Celestia. Saat Jani berkata dalam hatinya 'aneh, kenapa aku seperti di hipnotis olehnya atau ini Cuma perasaanku saja?'
Setelah Jani duduk, Ayu juga dengan perlahan menyajikan teh Da Hong Pao lalu setelah selesai dia berdiri di belang Jani dengan tenang. Celestia tidak ragu untuk meminumnya dan setelah meminum sedikit dia berkata "Teh Da Hong Pao ya? Terakhir aku meminum ini sekitar 1000 tahun yang lalu Saat ulang tahun kaisar cina, tapi aku lupa siapa namanya..."
"lalu apa tujuanmu datang kesini, nona Celestia?" tanya Jani kepada Celestia di depannya.
"tujuanku? Hmm.... aku hanya penasaran dengan orang yang telah berhasil membuka segel tongkat itu." Jawab Celestia yang memandang Jani lalu setelah beberapa saat dia kembali meminum tehnya dengan tenang.
"kau pikir aku ini siapa, Bocah!? Meskipun aku dengan mudah merebutnya, tapi benda itu pasti telah terikat kontrak jiwa denganmu." Jawab Celestia yang meninggikan nadanya.
"kontrak jiwa?"
"apa monyet itu tidak memberitahumu? Siapa pun yang berhasil membuka segel tongkat emas akan menjadi pemilik tongkat yang berikutnya dan mewarisi sesuatu darinya. Jadi, apa kau mendapatkan sesuatu yang lain dari monyet itu?"
"sesuatu yang lain.... ah! Dia memberikanku sebuah bola emas yang katanya adalah sisa dari baju perangnya dahulu saat mengamuk di Khayangan." Jawab Jani sambil mengeluarkan bola emas dari penyimpanan sistem.
"apa? hanya ini? Apa dia memberitahumu sesuatu tentang sebuah pedang?"
"nona Celestia, apa tujuanmu sebenarnya adalah mencari tahu tentang pedang kaisar giok?"
"memang, aku sedang mencari cara untuk membuka segel pedang tersebut. Kenapa? apa dia memberitahumu sesuatu tentang hal itu?"
Jani diam sesaat lalu menjawab "tidak, dia tidak memberitahuku apa pun."
"begitukah. Baiklah, karena kau tidak mau memberitahuku tidak apa-apa, tapi apa kau siap menerima akibat dari tindakanmu itu, bocah!" Jawab Celestia sambil berdiri dan mengeluarkan aura yang sangat kuat dari dalam dirinya.
"hehe.. melihatmu sangat marah, berarti informasi itu sangat penting ya?, tapi aku juga harga diri untuk tidak menuruti semua keinginan penyusup sepertimu!!" setelah Jani berkata seperti itu, dia mengeluarkan aura sihir api terkuatnya.
__ADS_1
"sihir elemental, ya? Kau membuatku tertarik, bocah. Bagaimana kalau kita membuat satu permainan."
"apa itu?"
"kita akan mengadu kekuatan! keluarkan mantra terkuat mu kepadaku dan jika kau berhasil melukaiku sedikit saja, maka aku akan membiarkanmu kali ini. Bagaimana?"
"aku tolak, Hadiahnya terlalu kecil! aku minta kau tidak mengganggu sampai aku yang mengganggumu duluan. Bagaimana itu tidak terlalu buruk sekarang kan!?" kata Jani yang mulai berpindah tempat ke area teras yang masih belum di bangun.
Celestia pun juga mengikuti Jani dan setelah berdiri berhadapan dia berkata "baiklah, bagaimana kalau kita mulai sekarang! Bersiaplah dan jangan sampai kau mati, bocah!"
"Sihir api tahap keempat! FLAMES OF ARMOR!!"
Tubuh Jani mulai di selimuti kobaran api yang sangat kuat dan tidak sampai di situ saja, dari tangan kiri Jani, angin mulai berkumpul dan membuat bola angin yang kemudian bercampur dengan api yang ada di seluruh tubuh Jani.
Celestia yang melihat sihir Jani mulai semakin bersemangat dan kemudian berkata "sudah lama aku tidak melihat keberadaan para penyihir, tapi sayangnya hari ini aku akan membunuh salah satu dari mereka! FORMASI LOTUS ABADI: BATANG BERDURI!!"
"KOMBINASI ANGIN DAN API: FIRE GALE SALSH BLAST!!"
Setelah mereka saling bersiap, mereka mulai melancarkan serangan mereka masing-masing.
....
Sementara itu....
Saat para pedemo terus berteriak di depan gedung, tiba-tiba mereka berhenti karena mereka semua merasakan sebuah getaran dan itu juga di ikuti oleh suara ledakan yang sangat keras berasal dari atas gedung kantor Arcadia.
*BOOOMMM*
Ledakan itu sanga keras, tapi anehnya setiap kaca gedung Arcadia yang seharusnya pecah sekarang tidak mengalami kerusakan apa pun.
Para wartawan yang sebelumnya bersantai menunggu konversi pers, sekarang mulai sibuk lagi untuk menyiarkan kejadian yang baru saja terjadi.
...
Sementara itu kembali ke teras.
Asap hasil benturan tadi mulai menghilang dan sosok Jani yang terkapar mulai terlihat. Ayu ingin menghampirinya, tapi di tahan oleh Jani.
Sosok Celestia juga mulai terlihat, tapi sayangnya dia tidak terluka sedikit pun dari serangan sebelumnya. Celestia dengan tenang berkata "sepertinya ini kemenangan ku ya? Sekarang bisakah kau menepati Janjimu itu, Mr.Gold?"
Jani mulai tertawa "haha! Apa kau bermimpi, nona Celestia? Akulah yang menang! Lihat bahu kiri mu itu!"
Celestia melihat bahu kirinya dan terkejut dengan luka sayatan panjang yang terbuka di sana. Setelah diam beberapa saat, dia menghela napasnya lalu berkata "haa... aku tertipu ya. Baiklah aku akan menepati janjiku, tapi ingat hal ini! jika kau mengeluarkan sihir yang berbahaya di negaraku, maka perjanjian ini akan secara resmi batal, bagaimana?"
"Baik, aku akan berusaha memegang janji itu." Jawab Jani yang masih terkapar di lantai.
__ADS_1
"Kalau begitu selamat tinggal!!" Celestia pun mulai terbang dengan cepat meninggalkan gedung Arcadia.