KAISAR DUA DUNIA

KAISAR DUA DUNIA
Mega proyek pertama


__ADS_3

Mendengar ucapan dari bosnya, Annisa langsung mengeluarkan kalkulator dan mulai menghitung dengan sangat cepat dan tidak lama dia berkata kepada Jani "Bos, apa tabunganmu ada sekitar dua milyar dolar Amerika?"


"apa itu jumlah dana yang kita butuh kan untuk membangun menara Virtual di seluruh Indonesia."


"betul master dan bukan hanya itu saja, Bos. Dana itu juga termasuk dengan perekrutan teknisi yang akan merawat menara tersebut."


"itu terlalu sederhana, Annisa! Yang aku maksud dengan memperluas jaringan kita itu bukan hanya memperbanyak menara virtual saja, tapi itu juga termasuk kantor cabang kita, virtual kafe yang mampu menampung 500 unit kapsul virtual, dan yang terakhir satu gedung kantor utama kita yang baru memiliki 80 lantai!."


"Bos! Itu terlalu mendadak! Kita saja belum membangun kantor cabang kita di kota besar pulau Jawa!" jawab Bima selaku kepala departemen HRD.


"haha... jangan terlalu panik begitu, Bima. Rencana ini adalah Mega Proyek pertama kita dan kita akan mewujudkannya selangkah demi selangkah. Apa kau mengerti sekarang, Bima?"


"ya, aku mengerti, Bos!. Jadi sekarang apa yang perlu kita fokuskan Bos?"


"kita akan mulai fokus dalam membangun kantor cabang kita dan virtual Kafe di dekat menara virtual kita yang ada di pulau Jawa ini dan juga kita perlu perluasan pabrik utama kita."


"dengan skala pembangunan yang masif seperti itu, kita perlu bekerja sama dengan perusahaan Kontraktor ternama agar menjamin suksesnya pembangunan tersebut." Kata Ayu yang menanggapi Jawaban Jani.


"kalau begitu apa kau memiliki saran tentang perusahaan Kontraktor tersebut?"


"ada satu, perusahaan itu bernama PT. Senopati karya!"


Jani mengerutkan keningnya lalu berkata "apa tidak ada perusahaan lainnya?"


"ada beberapa, tapi mereka semua kurang meyakinkan dan terlebih lagi PT. Senopati Karya itu adalah perusahaan kontraktor terbaik di Asia tenggara dengan berhasil membangun beberapa mega proyek milik pemerintah."


'yah seperti yang di harapkan dari kakek dan ayah.' Jawab Jani yang sudah tahu bahwa keberhasilan perusahaan Senopati karya menjadi yang terbaik di Asia tenggara, tidak luput hasil dari kongkalikong dengan kakeknya yang saat ini menjabat sebagai menteri BUMN.


Setelah itu, Jani pun berkata "Baiklah, Ayu kabari perusahaan mereka bahwa aku akan bernegosiasi dengan mereka besok."


"baiklah aku akan menghubungi mereka nanti."


Saat Ayu selesai menjawabnya, tiba-tiba teleponnya berdering dan Ayu pun segera keluar ruang rapat untuk mengangkatnya lalu mulai berkata "Halo, ada apa ayah?"


"ayah sudah ada di kantor ayah untuk bersiap membawa semua barang ayah. Apa kamu masih lama rapatnya?"


"ohh.. oke! Aku akan segera berangkat!" jawab Ayu kepada ayahnya.


"baiklah, jangan terburu-buru! Suruh dia berkendara yang aman dan bawalah mobil bak karena barangnya cukup banyak."


"oke! Aku akan menyampaikan pesan ayah kepadanya!" Ayu menutup telepon Ayahnya lalu kembali ke dalam ruang rapat. Melihat Ayu kembali dari mengangkat teleponnya, Jani mulai mengingat sesuatu dan kemudian bertanya kepadanya "oh iya! aku baru mengingat tentang pertemuan dengan pengusaha Cina yang ingin membuat kesepakatan denganku untuk melakukan pertukaran artefak berusia 2000 tahun, apa kamu sudah mengabarinya?


"sudah, tapi nomor yang di tinggalkannya tersebut tidak bisa di hubungi lagi."


"oh! Kalau begitu kamu tidak perlu menghubunginya lagi. Aku sudah tidak tertarik dengan benda tersebut."


"baiklah. aku akan mengingatnya." Jawabnya dan kemudian Ayu mendekati Jani dan berbisik tentang panggilan telepon dari ayahnya.


Mendengar hal itu, Jani langsung berkata kepada semua kepala departemen "rapat kali ini kita akhiri dulu dan Bima, coba kamu cek perkembangan anak-anak SMK tersebut lalu berikan laporannya kepada ku besok."

__ADS_1


"baik, bos!" dan setelah mengatakan hal itu, Jani pergi bersama Ayu menuju tempat parkir perusahaan.


...


Saat Jani dan Ayu sampai di kantor pusat kepolisian, Mereka terkejut ada banyaknya wartawan di kantor kepolisian. Saat melihat hal ini, Jani berkata "aneh kenapa mereka berkumpul di sini? Apa mereka tahu Ayah kamu adalah anggota polisi di sini?"


"ya enggak mungkin juga, setelah kamu membuka perusahaan, aku kan mulai tinggal bareng kamu dan jarang mengunjungi mereka belakangan ini."


"benar juga. Coba aku tanya sebentar." Kata Jani yang turun dari mobil bak milik perusahaannya. Jani mendekati salah satu wartawan dan bertanya kepadanya "bro! Ada apa nih? Kok rame-rame kumpul di sini?"


Wartawan itu sekilas melihat Jani, lalu menjawabnya tanpa menyadari siapa sebenarnya Jani "oh ini bang! Panji Senopati di periksa polisi terkait kasus pencemaran nama baik!"


"oke, Bro! Thanks ya!"


"iya bang! Sama-sama." Dan dia pergi menuju rekan wartawannya.


Ayu juga mendengar percakapan mereka lalu berkata "mulut bocah itu masih berbisa seperti biasanya!"


"hahaha.... itulah adik tiriku yang paling tidak berguna." Tawa Jani yang di ikuti dengan perkataannya yang sedikit menghina adik tirinya.


"oke Berhenti membicarakannya dan ikut aku mencari ayah di kantornya."


"siap!" dan mereka turun dari mobil lalu memasuki kantor polisi tanpa ada yang mengenali mereka berdua karena antara Jani dan Ayu sedang mengenakan pakaian santai mereka yang membuat mereka terlihat seperti orang lain.


Setelah mereka memasuki kantor polisi, tidak lama mereka berdua telah sampai di kantor milik Hendrawan Cahyani yang tidak lain adalah ayah dari Ayu. Ayu pun segera mengetuk pintu kantor lalu terdengar suara orang dari dalam "siapa itu?"


"ini aku ayah! Aku datang bareng sama Jani."


Mereka berdua masuk dan melihat tumpukan kardus yang cukup banyak. Ayu yang melihatnya mulai memprotes ayahnya "AYAH!! Apa-apaan dengan semua kardus-kardus ini!? Bukankah aku sudah mengatakan untuk membawa yang penting-penting saja!"


"dasar kau anak bodoh!! Ini semua kenanganku selama aku menjadi polisi tahu!. Lihat ini, bahkan aku menyimpan fotomu yang dulu sambil mengenakan topi polisi yang kebesaran!" Ayahnya juga membalas perkataan Ayu sambil menunjukkan sebuah foto Ayu saat dia masih seorang anak kecil yang imut.


Ayu langsung merampas foto itu dan menyimpannya sebelum Jani melihatnya. Setelah itu, Hendrawan menyapa "Jan, bagaimana kabarmu? Apa aku sebelumnya mengganggu rapatmu?"


"baik, Om! Dan tenang saja, Om! Itu Cuma rapat rutin biasa saja. Jadi, aku bisa menundanya dan melanjutkannya besok hari."


"baiklah karena tidak ada masalah, kamu langsung bawa semua kardus itu ke mobil bak kamu."


"baik, Om!" Jawab Jani dengan semangat lalu dia segera membawa beberapa kardus menuju mobilnya.


Ayu yang di tinggalkan sendirian dengan Ayahnya mulai berkata kepadanya "yah. Ini kan Devi sudah di lamar duluan, aku boleh gak di langkahi duluan sama Devi ?"


"tidak, nak! Peraturan keluarga kita melarang sang adik melangkahi kakaknya untuk menikah lebih duluan."


"tapi, Ayah! Saat ini perusahaan Jani baru saja di bangun dan banyak pekerjaan yang harus kami berdua lakukan untuk menstabilkan perusahaan. Jadi, aku merasa belum waktunya untuk aku menikah sekarang."


"baiklah, aku memahami kesibukan kalian dalam membuka sebuah usaha, tapi Ayah ingin peraturan keluarga tetap di jalankan dan kamu harus meminta kepada Adikmu menunda pernikahan mereka." Jawab Hendrawan kepada Ayu lalu dia membawa beberapa barangnya dan keluar dari ruangannya.


...

__ADS_1


Sementara itu di saat yang bersamaan.


Halaman kepolisian sedang ramai karena Panji Senopati baru saja selesai di periksa dan saat ini dia sedang kerumuni oleh para wartawan yang membuat pintu masuk tidak bisa di lewati.


Jani yang kebetulan menuruni tangga melihat hal itu dan dirinya berkata dalam hatinya 'bocah tidak berguna itu masih saja selalu cari sensasi!'


Setelah mengatakan hal itu, Jani langsung berjalan menuju pintu masuk lalu saat dia tepat di belakang Panji, Jani langsung mendorongnya ke depan menggunakan kakinya sambil berkata "Woy! Bisa gak jangan menghalangi pintu masuk!?"


Dorongan kaki Jani cukup kuat hingga membuat Panji terjatuh ke depan sambil berteriak


"WOOOAAHHH!!" lalu setelah terjatuh dia bertanya dengan marah "HEI!! SIAPA YANG BERANI MENDORONG GUA!?"


Tidak yang menjawab karena setelah mendorong Panji sampai terjatuh, Jani langsung melewatinya untuk menaruh barang bawaannya menuju mobil bak miliknya. Karena penuh dengan rasa malu, Panji pun segera menuju mobilnya dan segera pergi dari kantor polisi.


Sesaat dia akan pergi, mobil miliknya melewati Jani dan Jani yang mengetahui hal itu, mengacungkan jari tengahnya ke arah mobil milik Panji. Entah kemarahan seperti apa yang dialami oleh Panji, tapi yang pasti mobilnya sedikit bergoyang menandakan kemarahan Panji.


Melihat hal itu, Jani dengan perasaan puas kembali ke dalam kantor polisi untuk mengangkut barang milik calon mertuanya.


....


Setelah hampir setengah jam, semua barang milik Hendrawan sudah di muat ke dalam mobil bak milik Jani. Banyak anggota polisi yang sedang bertugas berhenti sejenak hanya untuk mengucapkan perpisahan kepada Hendrawan bahkan wakil jendral kepala polisi pun turut hadir mengucapkan perpisahan.


Ayu dan Jani yang menunggu di samping mobil bak milik Jani lalu tidak lama kemudian, Ayu mulai berbicara kepada Jani "sayang, ini tentang Ayah, dia berkata kapan kamu akan melamarku?"


"oh.. soal itu ya." Jani mendekati Ayu dan merangkul pundaknya sambil berkata " tidak lama lagi aku akan melamarmu!"


Wajah Ayu memerah lalu memeluknya sambil berkata "mhm!! Aku akan menunggu sampai kapan pun itu!!"


Dari kejauhan wakil Jendral dan Hendrawan melihat kemesraan mereka lalu wakil Jendral pun mulai berkata "mereka mesra sekali ya? Sampai mengingat masa mudaku dulu!"


"haha... ya begitulah anak muda jaman sekarang!" jawab Hendrawan tersenyum bahagia melihat merek berdua.


"ngomong-ngomong, Hendrawan! Apa kau sudah menyelidiki latar belakang calon menantumu itu?"


"tentu saja sudah! Dia itu memiliki latar belakang yang luar biasa yang bahkan aku sendiri pun hampir tidak percaya saat pertama kali mengetahuinya!"


"coba beritahu aku itu!?" Hendrawan pun membisikkan latar belakang Jani kepada wakil Jendral dan setelah mendengarnya, wakil Jendral langsung berkata "kau benar-benar beruntung! Hendrawan!"


"yah begitulah!, tapi akhir-akhir ini dia mulai di selimuti banyak misteri yang bahkan melibatkan banyak kekuatan besar dunia!"


...


Sementara itu, di sebuah vila mewah.


Tempat itu adalah kediaman utama milik keluarga Senopati. Di mana dulu Jani pernah dilahirkan dan dibesarkan di sana. Meskipun Jani sudah tidak tinggal di sini lagi, banyak para pelayan lama yang merindukan keberadaan tuan muda mereka yang dulu.


Salah satu di antaranya adalah kepala pelayan rumah ini yaitu pak Darius. Yang saat ini sedang berdiri di belakang kepala keluarga yang sedang menatap anaknya Panji Senopati. Sang kepala keluarga pun mulai berkata "Panji! Apa kau belum puas dengan hukumanmu yang sebelumnya!?"


"sudah Ayah! Aku sudah sangat puas dengan hukuman tersebut!!"

__ADS_1


"lalu! Bisa kau jelaskan maksud dari kejadian yang kau lakukan siang ini!?"


Sang kepala keluarga melemparkan sebuah koran dengan berita utama yang berjudul [KARMA!! PANJI SENOAPATI DI TENDANG DARI BELAKANG SETELAH MENGHALANGI PINTU MASUK KANTOR KEPOLISIAN!!]


__ADS_2