KAISAR DUA DUNIA

KAISAR DUA DUNIA
Perdebatan di persimpangan jalan


__ADS_3

Rombongan Jani telah pergi cukup lama dari Ibu kota dan sampai di sebuah persimpangan Jalan yang di penuhi dengan padang rumput mereka memutuskan untuk beristirahat untuk sementara waktu.


Meskipun mereka bisa saja terus berjalan, tetapi ada yang menjadi kendalanya dan menyebabkan mereka harus istirahat adalah perbedaan pendapat tentang Jalur yang mereka lewati. Pihak ksatria dan penyihir memilih jalur sebelah kiri karena lebih cepat, tetapi pihak prajurit Elit dan petualang berpengalaman memilih jalur kanan karena lebih aman dan mereka juga mendengar sebuah rumor tentang adanya dua Monster harimau dan naga yang terlihat sering berkelahi di jalur sebelah kiri.


Dua dari mereka terus berdebat dengan Jani yang berada di tengah keduanya. Semenjak perdebatan di mulai, Jani hanya diam dan mengutuk dua ibu tirinya yang dengan enaknya menggunakan lingkaran Rune Teleportasi untuk langsung menuju kota terdekat dengan Padang rumput daerah timur kerajaan.


Dalam suasana perdebatan, tiba-tiba semua orang diam dan menatap Jani. Jani yang merasakan tatapan semua orang melirik mereka dan bertanya "kenapa kalian tiba-tiba berhenti?"


"maaf, Yang Mulia! kami benar-benar tidak memberikan penghormatan terhadap kehadiran-mu!" kata seorang ksatria senior yang mewakili ksatria dan Para penyihir dalam perdebatan kali ini.


"tidak apa-apa. Aku paham keinginan kalian agar kita bisa cepat sampai ke padang rumput, tetapi kalian tidak bisa memikirkan diri kalian sendiri seperti ini, tanpa meminta pendapat orang lain. Itu adalah Sifat Arogan!"


"dan untuk pihak Prajurit Elit! Kalian sangat berpengalaman dalam tugas di alam bebas seperti ini, tapi kenapa sekarang kalian bertindak bodoh?"


"kalian orang yang sudah tahu akan bahaya yang ada di sana, seharusnya menjelaskan dengan tenang dan bukan ikut emosi seperti yang tadi! Jika mereka tidak percaya, maka tinggal tunjukkan kepada mereka betapa berbahaya kedua monster itu. Lalu jika kalian menganggap itu buang-buang waktu, maka tinggal laporkan masalah itu kepada atasan tertinggi mereka di sana dan jika sang pemimpin juga berbeda pendapat dengan kalian, maka tinggalkan saja kelompok ini lalu pergi ke jalur yang menurut kalian aman untuk di lewati. Ini semua bisa di lakukan kalau dari awal tidak ada yang menggunakan emosi berlebihan dan caci maki dalam sebuah diskusi. Paham kalian semua!?"


 Mereke yang sebelumnya berdebat kini menundukkan kepala mereka merasa malu di hadapan Jani yang terlihat kesal. Jani hanya bisa menghela napasnya lalu "lalu untuk masalah pemilihan Jalur, aku memutuskan memilih jalur sebelah kiri!"


Seorang Prajurit Elit langsung berkata "Tapi yang mulia, jalur itu sangat berbahaya!"


"karena dua monster Naga dan harimau kan?" tanya Jani kepada Prajurit Elit tersebut.


"Iya, itu benar Yang mulia."


"kalau begitu aku akan mengurus mereka berdua dan kirim seseorang untuk memandu ke tempat dua monster tersebut. Sementara kalian membuat pasukan ini siap untuk berangkat dalam setengah Jam kemudian, Mengerti!?"


Seluruh perwakilan berlutut dan menjawab "KAMI MENGERTI,YANG MULIA PUTRA MAHKOTA!!"



Setelah itu, Jani di pimpin oleh seorang petualang yang menjadi saksi mata kemunculan dua Monster tersebut mengantar Jani menuju lokasi tersebut. Jani tidak di temani oleh siapa pun, tetapi ada beberapa tentara bayaran suka relawan yang mengikuti Jani masuk ke dalam Jalur kiri dengan alasan hanya untuk pengamatan.


Jani tidak mempermasalah kehadiran mereka dan dia juga tahu ada yang memiliki niat jahat terhadapnya, tapi Jani tidak peduli dan membiarkan mereka yang ingin mengamati terus mengikuti mereka.


Saat tiba di sebuah hutan yang terbakar, Jani sudah bisa menebak bahwa ini adalah hasil dari perkelahian dua monster tersebut. Ketika mereka semakin jauh memasuki hutan yang hangus terbakar, tiba-tiba petualang yang memadu Jani berhenti "mohon maaf yang mulia, saya hanya bisa mengantar anda sampai di sini saja. Mereka pasti akan merasakan kehadiran seseorang jika kita terlalu dekat dengan mereka."


"aku mengerti. Aku rasa dari sini saja sudah cukup."


Jani turun dari kudanya dan mengeluarkan jarum kecil dari telinganya. Para tentara bayaran yang memperhatikan bingung dengan tindakan Jani yang hanya mengeluarkan sebuah Jarum, tapi mereka kemudian terkejut dengan kejadian yang berikutnya.


Jarum itu di lempar lalu berubah menjadi tongkat emas yang di selimuti dengan simbol naga di seluruh tongkatnya. Saat Jani berhasil memegang tongkat itu dia menaikkan aura murninya dan menghantam tongkatnya ke tanah.

__ADS_1


*BANGG!!*


Saat tongkat menghantam tanah, suara keras dan sebuah gelombang keras tercipta lalu menyebar degan sangat luas. Di saat yang bersamaan, Jani berteriak "IGNIS!! … TEMPEST!! CEPAT KEMARI SEKARANG!!"


Tidak lama kemudian, suhu di sekitar mereka mulai memanas dan gumpalan awan hitam mulai terbentuk di atas mereka. Petualang yang memandu Jani berkata dengan nada ketakutan "Yang mulia, kenapa kau memanggil mereka kemari!?"


"untuk berurusan dengan mereka, bukankah lebih baik untuk segera memanggil mereka kemari?"


"itu memang benar, tapi apa kau memikirkan orang lain di sekitar-mu? Kami belum mau mati!!"


"tenanglah! Tidak akan ada yang mati, aku jaminannya!"


Setelah Jani selesai mengatakan hal itu, dari arah pegunungan muncul harimau dengan nyala api di kepalanya dan Naga biru yang muncul dari balik awan hitam di iringi dengan gemuruh petir yang dahsyat. Kehadiran dua monster itu membuat semua orang mundur dan melarikan diri meninggalkan Jani sendirian.


Ignis yang terlihat ganas bertanya "Manusia! Apa kau siap mati, setelah kau menyebut nama-ku?"


Jani tidak menjawab dan membiarkan Tempest yang membalas  "haha… dia ketakutan Ignis! Melihat pertumbuhan kita yang mengerikan ini!"


Jani yang terdiam begitu lama, kini tiba-tiba berkata "Memanjang." Dan tongkat emasnya langsung memanjang dan tepat mengenai kepala Tempest yang sedang berputar-putar di atas Jani.


Melihat Jani mulai menyerang, Ignis juga tanpa pikir panjang langsung menerkam ke arah Jani, tapi Jani lebih cepat dengan mengeluarkan salah satu Pistolnya dan menembak dua kali ke arah Ignis.


*DOR..DOR!!*


Jani berkata dengan tenang "Tempest… Ignis. Aku saran kepada kalian untuk segera berubah menjadi anting sekarang juga."


"HAH! Aku sudah menjadi jauh lebih kuat! Kenapa aku harus menurut kepada manusia seperti-mu!?" Jawab Tempest dengan Arogan dan kemudian membuka mulutnya untuk melancarkan serangan kuat yaitu 'Nafas Petir'.


Nafas di semburkan, tapi Jani berteleportasi dengan santai lalu dengan Sihir petir, dia mempercepat langkahnya dan menghindari serangan 'Bola Magma' yang di lemparkan Ignis hampir bersamaan dengan Tempest.


Setelah menghindari kedua serangan tersebut, Wajah Jani berubah serius lalu berkata "baiklah, aku tidak keberatan bermain dengan kalian berdua!"



Sementara itu.


Di padang rumput persimpangan jalan, Para Ksatria segera panik karena pewaris kerajaan mereka kini di tinggal sendirian dengan dua Monster yang sangat kuat. Awal kepergiannya Jani memeriksa Monster itu, tidak ada seorang pun dari pihak Ksatria yang panik, tapi ketika mereka menyadari bahwa Putra Mahkota mereka meninggalkan Armor pemberian ibunya di dalam tenda, mereka segera panik dan kini berusaha menyusulnya untuk melindungi sang Putra Mahkota.


Sayangnya semua niat mereka terhenti sebab ketika mereka ingin pergi, sesosok Pria bertelanjang dada dengan dua pedang pendek di ikat di punggungnya berjalan ke arah mereka dengan suasana santai.


Saat pria itu melihat pasukan ksatria, dia bertanya "mau ke mana kalian terburu-buru seperti itu? Apa kalian mendapat berita dari Padang rumput di wilayah timur?"

__ADS_1


"Yang Mulia! Apa anda baik-baik saja!?" tanya seorang Ksatria yang menjadi pemimpin kelompok ksatria tersebut.


Mendengar nada panik dari pemimpin ksatria, Jani dengan tenang menjawab "aku baik, hanya saja baju-ku rusak terbakar akibat serangan seekor kucing bodoh itu."


Sang pemimpin ksatria bernafas lega lalu berkata "syukurlah anda baik-baik saja, Yang Mulia. Tapi bagaimana dengan nasib dua monster itu?"


Agar tidak membuat kekacauan tentang kebenaran dia mempunyai sebuah senjata yang bisa merubah senjata itu menjadi monster, Jani berbohong dan menjawab "mereka melarikan diri lalu menjatuhkan dua senjata ini sebelum mereka pergi."


Setelah mendapatkan kembali dua pedang pendek tingkat Mistisnya, Jani bersama dengan ksatria-nya kembali ke pasukan mereka lalu perjalanan mereka menuju wilayah Timur kembali di lanjutkan.



Meskipun mereka mengambil rute tercepat menuju wilayah timur kerajaan, tetapi masih di butuhkan dua hari untuk mencapai lokasi berkumpulnya seluruh pasukan kerajaan untuk menghadapi Agresi Militer dari kekaisaran Rohden.


Setelah dua hari perjalanan, mereka akhirnya sampai dan kedatangan mereka di sambut oleh pasukan dari berbagai kota lainnya. Jani memberikan salamnya kembali lalu setelah itu, pengurus perkemahan datang memandu pasukan mereka untuk beristirahat, sementara Jani menuju kemah pusat strategis untuk bertemu dengan dua ibu tirinya yaitu Ratu Iris dan Ratu Agatha.


Di dalam perkemahan pusat Strategis, Jani di sambut oleh kakaknya Marcus yang memberikannya pelukan hangat sambil berkata "Selamat datang Adik-ku!! di kota terkuat seluruh kerajaan, Balmugh!"


"Balmugh? Bukankah kita berada di perkemahan sementara? Kenapa kau menyebutnya sebuah kota?"


"ck..ck..ck.. Adik-ku, ini hanyalah permulaan dari kota baru ini dan bukankah kamu tidak melihat banyak orang-orang terkuat dari negara kita berkumpul di sini untuk melindungi kerajaan tercinta kita!?"


Jani yang masih dalam pelukan kakaknya, kembali bertanya "lalu bagaimana dengan kota perbatasan Malesah? Bukankah kakak di tugaskan menjaga kota perbatasan timur kita dari serangan kekaisaran Rohden?"


Mendengar pertanyaan tersebut, Marcus terguncang  sedikit lalu melepaskan pelukannya sambil menjawab dengan terbata-bata "itu… ten… tentang itu…."


Jani kebingungan dengan jawaban tidak jelas kakaknya, tapi dari arah belakang ada suara wanita yang berkata "dia kehilangan kota Malesah dua hari yang lalu!"


Mendengar jawaban tersebut, Marcus berbalik dan membantah "Ibu! Aku sudah mengatakannya berkali-kali. aku tidak kehilangan kota itu, tetapi hanya meminjamkannya sesaat kepada mereka! Ketika waktunya tiba, aku pasti akan merebutnya kembali!"


Wanita semakin kesal dan kemudian dengan aura merah darahnya, dia menendang Marcus sambil berteriak "JANGAN BUAT BANYAK ALASAN, BODOH!! Kehilangan tetap kehilangan! Itu tidak akan merubah kenyataan bahwa kau kalah dalam pertempuran itu!"


Orang yang berani menendang Pangeran kedua tidak lain adalah ibunya Ratu Agatha yang sekarang wajahnya di penuhi dengan amarah besar. Tentu saja tendangan dari Ratu Agatha kepada anaknya cukup kuat dan melempar Marcus sampai di luar perkemahan yang jaraknya dari perkemahan pusat adalah lebih dari satu Kilo Meter.


Ratu Iris yang duduk tidak jauh dari adegan berdarah itu, berkata kepada Agatha "Agatha, bisakah kau tidak menggunakan aura unsur darah-mu? Hawa di kemah menjadi semakin pengap di sini."


"maaf soal itu, Kak. Lalu Alex, kenapa kau berdiam diri di situ saja? Kemari-lah aku ingin mendengar pendapat-mu tentang situasi kita saat ini!" kata Agatha yang kembali tenang dan memanggil Jani untuk melihat peta seluruh wilayah perbatasan bagian Timur yang kini telah di rebut oleh pihak musuh.


 


  

__ADS_1


  


__ADS_2