
Melihat isi koran tersebut, Panji langsung berkata kepada Ayah "Itu Jani, yah!! Jani yang menendang ku dari belakang!!"
Mendengar nama anak pertamanya di sebut, sang kepala keluarga pun terdiam sesaat lalu bertanya kepada seorang ajudan yang ikut menemani anaknya "apa benar Jani ada di sana?"
"benar, Tuan!! Saya sendiri melihat kedatangan tuan muda Jani bersama dengan sorang wanita cantik menggunakan mobil bak! Aku juga sempat memfoto mereka berdua." Jawabnya dengan suara panik dan kemudian menunjukkannya foto tersebut kepada sang kepala keluarga.
Sang kepala mengambil foto tersebut lalu menatapnya. Di sisi lain sang nyonya keluarga Senopati berkata dengan nada angkuh "Heh!! apa sebegitu miskinnya dia sampai harus menjadi tukang angkut barang?"
Sang kepala keluarga sedikit melirik ke arah istrinya, tapi tidak mengatakan apa-apa dan lanjut melihat foto tersebut. Panji yang mendapat dukungan dari ibunya mulai bersemangat lalu berkata "benar, Ibu! Dia pasti sangat iri dengan popularitas yang aku punya saat ini!"
Mendengar perkataan panji, sang kepala pelayan, Darius memasang senyum canggung dan berkata di dalam hatinya ' Tuan muda Panji, apa anda belum menyadari? Bahwa anda terkenal sebagai contoh buruk bagi anak-anak jaman sekarang?'
Pada akhirnya sang kepala keluarga pun berhenti menatap foto tersebut dan berkata "baiklah, foto ini sudah cukup membuktikan kau tidak bersalah, tapi ini tidak melepaskan mu dari hukuman yang akan kuberikan kepadamu."
"tapi Ayah aku kan ti..."
Sebelum Panji menyelesaikan perkataannya, sang kepala keluarga langsung menyelanya "berhenti membantah, Panji!! Apa kau mau kuberi hukuman untuk ikut manasik haji lagi dalam golongan lanjut usia!?"
"ti..tidak! Ayah aku mohon jangan hukum aku seperti itu lagi!!" jawabnya sambil merinding mengingat hukuman tersebut.
"baiklah, aku akan menghukum mu dengan hal yang lain yaitu: dilarang pergi ke klub malam, Hang out tanpa ada alasan yang jelas, dan semua kartu ATM dan kredit mu aku sita!"
"Suamiku! Bukankah itu terlalu berlebihan!!" sela Istrinya yang menganggap hukuman anaknya itu terlalu berat.
"diam dulu! Aku belum selesai bicara!" kata sang kepala keluarga yang memarahi istrinya. Dia pun melanjutkan perkataannya "namun aku juga akan memberimu sebuah misi khusus, yaitu dengan terus bermain game Virtual Reality, Arcadia Land."
"bermain game? Apa ayah serius memberiku misi semudah ini!?"
"Jangan remehkan Game ini dulu Panji! Dalam waktu satu minggu dari sekarang, Server utama akan di buka untuk umum dan dari sanalah kamu harus benar-benar serius memainkan game ini! Karena menurut perkiraan mu game ini akan menjadi pasar baru bagi dunia E-sport saat ini dan ini juga kesempatanmu untuk memperbaiki namamu di mata publik dengan cara menjadi pemain terkuat di dalam game!"
Mendengar penjelasan Ayahnya, Panji pun berdiri dan berkata kepada ayahnya dengan ekspresi serius "baiklah Ayah, aku akan menjalankan perintah mu dengan serius dan setelah server utama di buka, aku akan membuat sebuah Guild dengan nama keluarga kita yang suatu saat nanti akan menjadi Guild terkuat di game Arcadia Land!"
"aku menantikan pencapaian mu, Nak!" jawab sang kepala keluarga dengan sedikit senyuman di wajahnya.
"Pasti, Ayah! Kalau begitu aku permisi dulu untuk mempelajari game tersebut!"
"hmm, pergilah!"
Setelah mengatakan hal tersebut Panji pergi ke kamarnya dengan penuh semangat dan mulai menggunakan Kapsul Virtualnya.
Melihat anaknya pergi dengan penuh semangat, sang Nyonya mendekati kepala keluarga lalu berkata "Suamiku! Terima kasih telah memberikan kesempatan Panji untuk menunjukkan bakat miliknya!"
"jangan berterima kasih kepadaku, berterima kasihlah kepada Mr.Gold yang telah membuat game ini tercipta. Dan kau bisa pergi sekarang aku ada hal lain yang ingin aku bahas dengan Darius!"
"baiklah, aku permisi dahulu!" kata sang Nyonya lalu dia pergi dari ruangan tersebut.
Setelah istrinya pergi, dia berkata kepada kepala pelayannya "Darius, bagaimana penyelidikan mu sampai saat ini?"
"masih aman dan lancar, Tuan. Menurut semua penyelidikan mu dapat di pastikan bahwa Mr.Gold yang selama ini menjadi sosok penguasa saham adalah Tuan muda Jani!"
"benarkah?"
__ADS_1
"ini sudah dipastikan dengan tepat, Tuan. Mulai dari tempat tinggalnya yang sama-sama di Golden Residen sampai kedekatannya dengan CEO wanita Ayu Cahyani yang bisa dikatakan mereka sedang menjalin sebuah hubungan."
"hahaha!!" tiba-tiba kepala keluarga Senopati tertawa lalu berkata dengan perasaan bangga dia berkata "Seperti itulah anakku! Yang mampu menguasai dunia saham dalam waktu kurang dari 3 tahun!!"
"tapi, Tuan! Bukankah belum lama ini kita juga sudah membuktikan bahwa tuan muda Jani adalah pemburu bandar narkoba yang kejam, Iblis merah! Dengan mengirimkan utusan dari Diablo ke rumah tuan muda."
"yah, biarkan kita berpura-pura tidak mengetahui hal itu. Lagi pula itu adalah rencana mu untuk membayar hutangku kepada Diablo dengan memberikan alamat Jani kepada mereka dan menuduhnya sebagai sang Iblis merah!"
"baiklah, aku mengerti tuan!"
Setelah mereka berbicara beberapa hal, tiba-tiba sekretaris dari kepala keluarga meneleponnya dan saat teleponnya di angkat dia mulai berkata "Bos! Kita mendapatkan klien dompet besar, Bos!!"
"apa yang kau maksud? Jelaskan dengan benar!"
"begini, Bos. Tadi saya mendapat telepon dari CEO Arcadia Teknologi, Ayu Cahyani yang menginginkan perusahaan kita untuk menangani proyek pembangunan mereka!"
"kalau begitu, lakukan sesuai prosedur perusahaan saja! Kenapa kau menghubungiku untuk sesuatu yang tidak penting seperti ini!"
"saya sudah melakukannya Bos!, tapi departemen terkait memberitahuku bahwa nilai proyek yang di bangun totalnya sekitar 3 milyar Dolar Amerika!"
"HAH!! APA KAU YAKIN TIDAK SALAH DENGAR!!"
" tidak Bos! Saya juga sudah menghitungnya dengan benar, total bangunan yang akan dibangun adalah: satu unit rumah, delapan kantor cabang mereka, Dan delapan kafe virtual yang masing-masing memiliki 5 lantai!!"
"baiklah kalau begitu, kau kosongkan jadwalku besok untuk pertemuan penting ini!"
"siap, Bos!"
"lihat, Darius! Dia baru memulai usaha, tapi sudah berani mengeluarkan uang sebanyak itu!"
"kau tidak perlu menyelidik tentang hal itu, Darius. Cukup biarkan itu tetap menjadi rahasia miliknya."
"Baiklah, tuan. Saya akan berhenti melakukan penyelidikan." Kata Darius sambil menuangkan teh ke cangkir milik tuannya.
Sang kepala keluarga kemudian meminum tehnya lalu setelah itu dia berkata "lebih baik aku juga memberitahukan hal ini kepada Ayah agar besok pertemuan menjadi lebih ramai!" dan setelah itu sang kepala keluarga menelepon Ayahnya sang menteri BUMN, Aryanto Senopati.
Saat Telepon itu di angkat, Sang menteri mulai berkata "ada apa, Hardi? Meneleponku malam hari begini?"
"Ayah, apa kau besok sibuk?" tanya sang kepala keluarga kepada Ayahnya.
"tidak terlalu. Palingan aku harus menghadiri rapat rutinitas dengan beberapa direksi perusahaan pemerintah, memang ada perlu apa kau bertanya seperti itu?"
"kalau sempat datanglah ke kantor perusahaanku, soalnya besok aku kedatangan klien spesial!"
"memangnya siapa orang itu? tidak biasanya kau begitu antusias hanya karena kedatangan seorang Klien."
"hehe... kau akan mengetahuinya besok, Ayah! Kalau begitu aku pamit dulu, Selamat malam, Ayah!" dan telepon pun langsung di tutup.
Setelah menutup teleponnya, sang kepala keluarga berkata kepada kepala pelayannya "Darius, aku memiliki tugas berikutnya kepadamu."
"apa itu, tuan? Biarkan aku mendengarkannya dengan jelas." Jawab Darius sambil membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan kepada sang kepada kepala keluarga.
__ADS_1
"aku minta kau menyelidiki wanita ini! Meskipun hubunganku dengan kedua anakku sekarang sedang tidak baik, tapi sebagai seorang Ayah mereka aku berhak menilai calon pasangan hidup dari anakku." perintah kepala keluarga sambil menunjuk foto Ayu yang sebelumnya di foto oleh ajudan anaknya.
Tanpa banyak bertanya, Darius menjawab "Baik, Tuan. Saya akan segera melaksanakannya."
....
Sementara itu Di kediaman milik Hendrawan.
Ada dua orang pria sedang menikmati segelas kopi dengan suasana ruangan terasa tegang. Mereka berdua tidak lain Hendrawan sendiri dan juga Jani.
Setelah Hendrawan selesai menyeruput kopinya, Dia berkata kepada Jani "Jan, kamu tahu gak pantangan orang tua dulu tentang Melangkahi sang kakak' dalam pernikahan?"
"iya aku mengetahuinya. Apa Om percaya akan pantangan tersebut?"
"tentu aku percaya akan hal itu. Aku mengerti tentang kesibukanmu dalam membangun perusahaan, tapi sebagai Ayah dari Ayu Cahyani, aku memintamu untuk segera meminang anakku secepat mungkin."
"jangan khawatir, Om! Aku sudah menyiapkan semuanya dan aku pastikan akan menikahi Ayu sebelum Jali."
"baiklah, aku pegang Janjimu, tapi aku sarankan kalian melaksanakan akad nikah terlebih dahulu dan untuk soal resepsi kita bisa bicara setelah perusahaan mu sudah stabil."
"apa itu tidak apa-apa, Om?"
"tentu saja tidak apa-apa! Yang aku pedulikan adalah tentang keseriusan mu dalam menjalin hubungan dengan anakku. Aku takut jika kalian terlalu lama berpacaran, itu akan membuatmu merasa jenuh dengan anakku dan berpaling ke wanita lain."
"Om! Aku sudah berjanji hanya akan selalu setia kepadanya!" bantah Jani kepada calon mertuanya yang meragukan kesetiaannya kepada Ayu.
"janjimu itu hanyalah Janji kosong, Jani. Karena kita tidak akan tahu apa yang terjadi di masa depan. Aku tidak mau menyebutkannya, tapi kau sudah pernah melihatnya sendiri kan? bagaimana janji kosong itu pernah di langgar hanya karena sebuah skema licik seorang wanita yang menginginkan harta?"
Jani tahu yang disebut oleh calon mertua tidak lain adalah ayahnya sendiri dan dia menjawab dengan tenang "iya, Om. Aku pernah melihatnya. Bagaimana keluargaku di rusak oleh wanita tersebut, tapi yakinlah, Om! Aku tidak akan mengulangi kejadian yang sama seperti yang di lakukan oleh Ayahku!"
Melihat keseriusan Jani, Hendrawan berkata "baiklah, untuk saat ini aku percaya kepadamu."
Dan setelah itu, Hendrawan meminum kopinya sekali lagi lalu melanjutkan "sudah larut malam ya! Kurasa kita akhiri di pembicaraan kita, Jan. Kau bisa pulang sekarang, sebenarnya aku ingin meminta bantuan mu, tapi lebih baik kita bicarakan di lain waktu dan Ayu! Berhentilah mengintip dan pulang bersama pacarmu ini!"
"iya, Ayah!" Jawab Ayu yang keluar dari kamarnya. Setelah keluar dari kamarnya, Ayu memeluk lengan Jani lalu berkata kepada Ayahnya "Ayah Kata-katamu tadi itu berlebihan tahu! Aku percaya, Janji Jani itu bukanlah Cuma Janji kosong! Melainkan janji suci yang hanya dia ucapkan kepadaku saja!"
Setelah mengatakan hal itu, Ayu menarik lengan Jani dan menyeretnya untuk keluar dari rumah lamanya.
....
Di perjalanan Pulang.
Ayu yang masih tampak kesal dengan Ayahnya sedang bermain sosial medianya untuk menenangkan hatinya. Jani yang melihat hal itu, tersenyum sedikit lalu berkata "sudahlah Jangan marah melulu. Lagi pula aku tidak merasa tersinggung akan ucapan Ayahmu yang sebelumnya kok."
"iya, tapi aku Cuma sedikit kesal saja!"
"itu sama saja! Oh iya, Kamu sudah menghubungi perusahaan PT. Senopati Karya kan?"
"sudah tadi sore! Saat aku menjelaskan tentang rencana pembangunan kita yang masif, mereka terkejut sampai beberapa kali bertanya tentang keseriusanku." Jawab Ayu mulai tersenyum mengingat teleponnya dengan sekretaris perusahaan PT. Senopati Karya.
"haha... aku kira pasti ada orang lain yang akan ikut dalam pertemuan besok!"
__ADS_1
"siapa itu?"
"kakekku atau sekarang kita menyebutnya dengan sebutan Menteri BUMN."