
Saat Jani membuka matanya, dia merasakan ada yang berbeda dari Ruangan latihan dimensional. Pertama kali dia memasuki tempat ini, di sini hanya ruangan kosong yang memiliki kepadatan mana yang sangat kental di udaranya, tapi sekarang ruangan kosong ini telah terisi oleh sebuah roda undian yang menampilkan sembilan unsur sihir yang berbeda-beda.
Jani yang penasaran dengan roda undian tersebut kemudian bertanya kepada Zein "hei Zein, roda undian untuk apa ini?"
Zein segera menjawab "roda undian ini berfungsi untuk membantu master dalam berlatih sihir di ruangan ini sesuai dengan di mana jarum roda undian berhenti. Contoh jika jarum berhenti di unsur Api, maka ruangan kosong ini akan segera berubah menjadi lautan api yang kental dengan Mana unsur Api yang melimpah dan dapat mempercepat master dalam menaikkan tingkat sihir unsur Api dengan cepat."
"hmm... aku mulai paham, tapi apa roda undian dapat di putar kapan saja?"
"sayangnya Roda undian hanya bisa di putar seminggu sekali." Jawab Zein yang memberitahukan kapan waktu roda undian di putar.
"baiklah! Kalau begitu mari kita coba!" Jani mulai memutar Roda undian dan jarum Roda mulai menghasilkan suara yang perlahan membuat Roda undian semakin melambat. karena susunan pilihannya di buat menyilang antara sihir unsur dasar dan sihir unsur langka, maka kesempatan mendapatkan unsur langka menjadi lebih sulit.
Ketika roda mulai semakin melambat, jani semakin berharap untuk mendapatkan kesempatan meningkatkan salah satu sihir unsur langkanya. Saat jarum mulai berhenti di sihir unsur dasar Api, Jani mulai berkata "Ayo! Maju sedikit lagi!" lalu memejamkan matanya sambil terus mengulang perkataannya berkali-kali.
Entah karena keberuntungan atau bukan, Jarum mulai sedikit bergerak ke depan dan akhirnya berhenti di tempat sihir unsur setelah unsur Api yaitu: unsur Petir.
Suara sistem mulai berbunyi ketika jarum benar-benar berhenti [SELAMAT KEPADA MASTER!! Karena mendapat kesempatan meningkatkan sihir Unsur langka Petir!!]
Mendengar pemberitahuan sistem, Jani segera membuka matanya lalu berkata dengan penuh semangat "WOO!! Keberuntunganku terkadang memang berguna di saat seperti ini!"
Suara sistem pun sekali lagi mulai terdengar [Memulai mengubah kepadatan unsur Mana murni menjadi unsur Mana Petir dan kemudian membangun tempat yang cocok berlatih unsur Petir.]
Saat pemberitahuan sistem selesai, area yang sebelumnya kosong mulai berubah menjadi pegunungan yang sangat tinggi lalu di puncaknya awan hitam terus menerus bergemuruh sambil sesekali petir keluar dari awan hitam tersebut.
Saat Jani masih memandang pegunungan, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari puncak gunung "Jika kau memang penyihir unsur Petir, maka cobalah menuju puncak dengan selamat!!" dan setelah itu di ikuti dengan layar antar-muka sistem yang muncul di depan Jani yang memberi pemberitahuan [untuk membantu Master berlatih, Sistem mendatangkan Mentor penyihir unsur petir yang pada masanya di juluki 'Master Petir Awan Hitam']
"Bahkan aku mendapatkan seorang mentor!? Ini pasti sangat menarik!" lalu Jani mulai melangkah ke depan untuk pertama kalinya, tapi tiba-tiba dari Awan Hitam sebuah kilatan petir melesat menuju Jani. Karena Refleks yang cukup tinggi, Jani berhasil menghindarinya dengan melompat ke samping.
Ketika dia berhasil menghindar, sebuah tawa terdengar yang berasal dari Mentor tersebut "Hahaha... kau pikir akan begitu mulus untuk mencapai puncak gunung ini!? Maaf saja, aku akan terus melancarkan serangan secara acak sampai kau bisa mendaki menuju puncak!! Hahaha!!!"
Jani yang menerima ejekan tersebut, mulai memprotes Zein "hei Zein! Apa-apaan mentor ini! Bukannya mengajari calon muridnya dengan baik malah langsung menyerangku begitu saja?"
"umm.. Master, aku hanya pemandu sistem dan tidak tahu menahu tentang mentor yang satu ini, tapi aku bisa menjamin semua mentor yang di kirimkan sistem 'KAISAR DUA DUNIA' sangat berkualitas baik di bidang mereka masing-masing!"
__ADS_1
"baiklah jika kau berkata seperti itu." Jani mencoba mulai melangkah sekali lagi dan tentu saja serangan petir sekali lagi mulai menyerang Jani dengan ganasnya.
...
Beberapa Jam kemudian.
Jani masih berada di kaki gunung dan sama sekali belum beranjak dari tempat dia berdiri sebelumnya. Kenapa dia masih belum bisa mendaki gunung, alasan tetaplah sama seperti waktu pertama kali latihan di mulai yaitu semakin Jani mendekati gunung intensitas serangan petir semakin kuat dan memaksa Jani mundur kembali ke tempat sebelumnya.
Dari atas gunung suara mentor itu terdengar kembali "kukira kau ingin belajar sihir unsur petir, tapi sayangnya kau Cuma seorang penakut!"
jani tidak merespons perkataan mentor tersebut, karena dia sedang berpikir bagaimana cara melewati ujian ini "bagaimana caranya aku melewati ujian ini? Dia berkata aku seorang penakut , tapi aku tidak bisa membantahnya karena aku sendiri takut terkena serangan petir darinya."
Ketika itu dia teringat sesuatu tentang pembelajaran yang dia dapat di masa lalu, "Jani ingat baik-baik kalimat ini, setiap guru memiliki cara uniknya masing-masing dalam memberikan ilmu kepada muridnya dan tugas seorang murid adalah menyaring ilmu tersebut supaya bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri."
Setelah mengingat pembelajaran tersebut, dia mulai berpikir kembali tentang perkataan mentor miterius tersebut "aku di sini untuk berlatih unsur petir tapi sampai sekarang aku hanya di serang menggunkan petir berkali-kali. Tunggu! Bukanya cara terbaik untuk berlatih unsur petir adalah dengan tersambar petir!? Sama dengan unsur lain yang harus dekat dengan unsur tersebut supaya bisa menyerap Mana yang ada di alam sekitar?"
setelah ragu sejenak Jani mencoba peruntungannya dan mulai berjalan kembali menuju gunung yang ada di depannya. Ketika petir sekali lagi menyerang Jani tidak menghindar lagi dan berdiam diri d tempat lalu mulai mengalirkan unsur mana petirnya ke seluruh tubuhnya dan kemudian dengan tenang menyerap serangan tersebut ke dalam dirinya.
Tidak butuh waktu lama bagi Jani untuk menyerapnya dan dia merasakan unsur petirnya semakin menguat akibat serangan tersebut. Merasakan efeknya, Jani berkata "hehe.... jadi begini cara kerjanya?" dan kemudian dengan penuh percaya diri Jani berlari menuju gunung dan mulai melakukan pendakiannya sambil mengedarkan mana unsur petirnya ke seluruh tubuhnya.
Ketika Jani sudah setengah jalan, dia merasakan intensitas awan hitam semakin menguat dan sepertinya serangan berikutnya akan lebih kuat dari sebelumnya. Merasakan hal itu, Jani berhenti di sebuah batu besar yang mampu membuatnya berdiri lalu melakukan sebuah gerakan dari salah satu kartun masa kecilnya, yaitu 'AVATAR: The legend of Aang".
Di salah satu karakternya yaitu Paman Iroh, terdapat sebuah adegan ketika dia mengajari Zuko cara melakukan pengendalian petir atau pun menangkal serangan dari pengendali petir. Jani mencobanya di sini sambil berkata "meskipun hanya sebuah kartun, tapi tidak ada salahnya mencobanya di sini."
Ketika serangan petir datang, dia segera mempraktikkannya sambil menyebut Ajaran tersebut "ketika ada sambaran petir, gunakan jari telunjuk dan jari tengah di tangan kiri untuk menerima sambaran petir lalu alirkan menuju perut dan dengan cepat alirkan kembali menuju tangan kanan untuk membuang sambaran petir tersebut!"
*DUAAR!!!* suara Gemuruh petir menyerang ke arah Jani dan langsung masuk ke tangan kirinya lalu keluar melalui tangan kanannya. Ketika Jani berhasil menangkal serangan petir tersebut, dia merasakan bahwa kekuatan sihir unsur petir miliknya telah meningkat ke level 2 awal.
Merasakan kekuatannya meningkat, Jani mulai mengedarkan sihir unsur petirnya ke seluruh tubuhnya dengan lebih banyak dari yang sebelumnya ketika di masih di level 1 awal.
Dengan sihir unsur petirnya yang sekarang membuat Jani mendaki gunung lebih cepat dan ketika ada serangan petir yang datang, Jani berhenti sejenak lalu menerimanya menggunakan gerakan penangkal petir yang dia gunakan sebelumnya.
....
__ADS_1
Setelah melalui pendakian yang sangat ekstrem, Jani berhasil mencapai puncak dan melihat sosok mentor yang dikirim oleh sistem untuknya.
Mentor tersebut adalah seorang pria paruh baya dengan penampilan yang tampak seperti seorang gelandangan, tapi jika seseorang melihatnya lebih lama, maka aura seorang penyihir level 10 puncak bisa di rasakan dan mampu membuat orang pingsan hanya dengan aura penyihir level 10 puncak miliknya.
Saat mentor tersebut masih memandangi awan hitam yang ada di bawah puncak gunung tanpa melihat ke arah Jani dia berkata "bocah, gerakan apa yang kau lakukan untuk mengakal seranganku dan menyerap energi sihir di dalamnya?"
"aku menyebutnya gerakan penangkal petir! Yaitu sebuah gerakan untuk mengarahkan sambaran petir alam melalui tangan kiri melalui perut dan kemudian melempar sambaran petir tadi menggunakan tangan kananmu."
"gerakan penangkal petir, ya? Jika saja aku mengetahui gerakan ini, maka mungkin hari ini aku masih hidup dan menikmati gelarku sebagai 'Master Petir Awan Hitam' yang di puja di seluruh kota benua Arca!" kata sang Mentor yang memikirkan masa lalunya. Tidak lama kemudian dia kembali berkata " tapi itu adalah masa lalu dan sekarang aku akan fokus melatihmu dalam Sihir unsur petir. Sebelum aku melatihmu, aku akan memperingatkanmu bahwa latihanku ini sangat keras dan juga kejam! Apa kau masih ingin aku menjadi Mentormu!?"
"aku tetap ingin di ajari olehmu!" kata Jani dengan ekspresi penuh keyakinan di matanya.
....
Latihan pun di mulai dengan penjelasan dasar tentang unsur petir dari sang mentor, tapi sebelum dia mulai menjelaskan, awan petir hitam yang seharusnya berada di bawah puncak gunung tiba-tiba perlahan naik ke atas mereka lalu sang mentor berkata "di saat aku menjelaskan dasar unsur petir, kau harus menerima seranganku dengan gerakan penangkal petir yang kau lakukan tadi sambil menyerap bagian unsur petir yang murni dari serangan itu dan membuang bagian yang kotornya. Apa kau siap!? Kalau begitu mari kita mulai!"
Jani yang belum siap, tiba-tiba langsung di serang oleh petir hitam dan dengan refleks yang cukup tinggi di berhasil menghindarinya lalu memprotes kepada mentornya "Hei! Mentor sialan!! Aku belum bersiap untuk menerima seranganmu!!"
"oh! Itu salahmu karena belum siap dan serangan berikutnya akan datang!" tanpa memedulikan protes dari Jani, sang mentor tersebut melancarkan serangan berikutnya kepada Jani.
"DJANCOK!!" Dia hanya bisa mengutuk kepada si Mentor sambil mulai menerima serangan petir hitam tersebut.
....
Di saat Jani sedang berlatih sihir unsur petirnya, ada seorang wanita yang mengenakan pakaian modis jaman sekerang melayang di depan kantor Arcadia teknologi.
Wanita itu perlahan mendarat di depan tongkat emas, lalu dia menyentuhnya dan mengalirkan energi spiritualnya menuju tongkat emas tersebut. Seolah merespons energi spiritual wanita ini, tongkat emas memancarkan cahaya emas miliknya dan membawa kesadaran wanita ini ke dalam tongkat.
Saat wanita itu memasuki dunia di dalam tongkat, dia langsung mendengar suara yang sudah lama dia tidak dengar "yahaha.... hei Nenek tua! Kapan kau bangun ?"
Wanita itu berbalik menghadap monyet besar yang sedang asyik memakan buah persik lalu berkata "belum lama ini, aku hanya tertarik dengan orang yang berhasil mematah segel tongkatmu dan menjadi pemilik berikutnya dari tongkatmu, Sage Agung Yang Setara Dengan Surga!!"
__ADS_1