
*RTATAATA*
Suara tembakan terus terdengar dari para prajurit, tapi berapa kali pun mereka menembaki Celestia, Peluru itu terhalang oleh perisai emas yang muncul secara tiba-tiba untuk melindungi Celestia.
"hehe...untung aku membawanya" kata Celestia yang membuka sebuah gulungan emas.
Sambil berlindung dari hujan peluru, Celestia memanjatkan sebuah mantra "para prajurit setiaku~ keluarlah dan bunuh musuh ratu kalian!!" lalu dia pun melempar gulungan emas ke atas.
Saat gulungan itu berada di atas, dia mengeluarkan cahaya yang sangat terang lalu kemudian dari dalam cahaya muncul ribuan anak panah yang langsung melesat ke arah para prajurit yang berada di landasan pacu.
*SYUUTT*
*BOOOMMM* bunyi ledakan pun terdengar dari heli dan pesawat jet yang meledak karena terkena serangan panah dari cahaya tersebut.
Setelah hujan panah berakhir, cahaya itu mulai jatuh kembali lalu dari dalamnya keluar prajurit-prajurit kuno yang memakai zirah emas mewah dan mereka mulai berbaris di depan Celestia.
Celestia berkata dengan suara keras memberi perintah kepada prajuritnya "WAHAI PRAJURIT LANGIT!! BUKA JALAN BAGIKU MENUJU PEMIMPIN MUSUH!!"
*BRUUUKK!!* suara injakkan kaki mereka adalah cara bagaimana mereka merespons perintah. Karena apa yang di keluarkan oleh Celestia dari gulungan emasnya adalah prajurit langit tingkat rendah yang sama sekali tidak memiliki akal.
...
Ruang kendali kapal.
Laksamana yang melihat semua kejadian itu mulai memukul meja dan berkata dengan kesal "apa-apaan Wanita itu, datang entah dari mana meminta senjata lalu setelah ditolak malah mengamuk. Apa ada yang tahu siapa wanita gila ini?"
"erm... Laksamana sepertinya aku tahu siapa dia?" jawab salah satu anak buahnya.
"oh.. kau mengetahuinya! Kalau begitu beritahu kami siapa dia?"
"ini mungkin sulit di percaya, tapi menurut rumor yang beredar di kalang masyarakat kita dia mungkin adalah sang Celestia yang baru terbangun dari meditasinya karena terlepasnya segel dari tongkat emas."
Mendengar jawaban dari anak buahnya, Laksamana berkata "maaf Sersan! Aku ini adalah tipe orang yang percaya dengan logika dan tidak percaya dengan dongeng yang sering diceritakan nenekku sebelum aku tidur dulu. Daripada memikirkan hal yang tidak masuk akal, lebih baik kita mencari cara bagaimana membunuh wanita gila itu!"
"baik, Laksamana." Jawab sersan tersebut lalu dia meninggalkan ruangan kendali untuk menghindari amukan dari Celestia.
Tidak lama setelah kepergian Sersan tersebut, bunyi baku tembak terdengar dari lorong lalu diikuti dengan teriakan salah satu prajurit "PERCUMA!! MEREKA TIDAK BISA DI BUNUH DENGAN CARA APA PUN!! UAAAACKK!!"
Mendengar terikan tersebut, Laksamana terkejut lalu berkata dengan heran "Sejak kapan mereka sampai kemari!?"
Setelah Laksamana berkata seperti itu, pintu masuk menuju ruangan ini terbelah menjadi dua bagian lalu lebih dari sepuluh prajurit langit masuk dan memenuhi ruangan kendali ini. Laksamana yang melihat kedatangan prajurit langit langsung memerintahkan anak buahnya.
"APA YANG KALIAN TUNGGU!? CEPAT TEMBAK MEREKA!!!"
*RTATATTAT*
Suara tembakan terus terdengar sampai pada akhirnya semua orang kehabisan peluru, tapi pada akhirnya para prajurit langit tidak mengalami kerusakan apa pun.
Melihat hal itu, sang Laksamana berkata "apa-apaan mereka ini!? Segala jenis peluru tidak ada yang mampu menembus zirah mereka!"
"Laksamana!! Apa yang harus kita perbuat!?"
__ADS_1
Melihat keadaannya sudah terpojok, Laksamana dengan pasrah berkata "buang senjata kalian, kita menyerah."
Para prajurit yang tersisa terkejut dengan perkataan laksamana mereka, lalu di antara mereka ada menentang dan berkata "tapi, Laksamana-" tapi belum dia selesai berkata, Laksamana sudah berkata sekali lagi.
"JIKA KALIAN INGIN HIDUP, maka buang senjata kalian sekarang!!"
Mereka semua pun membuang senjata mereka dan kemudian mengangkat tangan mereka tanda mereka menyerah. Beberapa saat kemudian, seorang wanita memasuki ruangan sambil memegang sebuah pistol dan berkata " hmm, aku menyukai senjata ini, sederhana dan mematikan, tapi sayangnya materialnya sangat lemah bahkan tidak sanggup menembus prajurit langit tingkat rendah ini."
Wanita itu tidak lain adalah Celestia yang saat ini sedang mengamati pistol yang dia ambil dari salah satu mayat tentara. Saat dia puas mengamati pistol yang dia pegang, Celestia pun melirik ke sekitar ruangan lalu berkata "oh! apa kalian sudah menyerah? aku pikir pertempuran ini akan menjadi begitu lama. tapi mau bagaimana lagi, senjata kalian terlalu lemah untuk menghadapi pasukanku ini."
Saat Celestia berkata seperti itu, ajudan Laksamana berbisik kepada Laksamananya "Laksamana, apa kau juga merasakannya?"
"ah, aku juga merasakannya. Walau pun dari penampilan seperti gadis perempuan biasa, tapi mataku bisa merasakan bahwa wanita gila ini tidak dapat di bunuh oleh manusia biasa seperti kita!"
Tentu saja, Celestia mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Dia pun mengeluarkan sedikit aura spiritualnya untuk mengancam mereka sambil berkata "hei! Apa kalian mendengarkanku?"
Laksamana dan Ajudan langsung bergidik ketakutan lalu mereka menundukkan kepala mereka dan tidak berani melirik ke arah Celestia. Celestia pun berjalan mendekati Laksamana lalu dengan tenang menembak salah satu kaki Laksamana.
*DORR!*
"ARRGHH!!" teriakan Laksamana yang kakinya tertembak dan sebelum dia meringkuk kesakitan, Celestia kemudian langsung menendangnya lalu duduk di atas tubuh laksamana dan kemudian berkata "hei, laksamana! Aku hanya meminta sebagian senjata milikmu, tapi kenapa kau malah menyerangku dengan sangat brutal? Lihat! Banyak tentara negara kita yang menjadi korban akibat tindakanmu yang sembarangan ini!!"
Laksamana pun menjawab dengan sedikit tertawa "hehehe... Nyonya Celestia, apa anda pikir semua senjata bisa di bagikan secara percuma kepada semua orang? Lagi pula apa yang aku lakukan tidak salah dan meskipun aku mati hari ini, negara akan tetap mengenagku sebagai pahlawan yang melindungi rakyat dari monster sepertimu!"
Mendengar Jawaban dari Laksamana, tatapan Celestia berubah menjadi dingin lalu berkata "jika itu yang kau inginkan, maka jadilah pahlawan sekarang!" dan kemudian Celestia pun meremas lehernya sampai dia mengeluarkan bunyi tulang patah.
Setelah membunuh Laksamana, dia berkata kepada semua orang yang masih hidup di ruangan ini "aku tidak akan mengulanginya dan dengarkan bak-baik! Jika kalian semua masih mau hidup, Kumpulkan semua senjata dan amunisi yang ada di kapal ini lalu bawa mereka semua ke landasan pacu kapal ini, sekarang!!"
Mereka yang tersisa pun bergegas menuruti perintah Celestia.
Di saat yang bersamaan di ruang rapat istana negara, Indonesia.
Jani tidak bisa pergi begitu saja karena dia di tahan oleh kedua Jendral yang dia sudah kenal yaitu, Karto Kencana dan Jarwo Bondowoso.
Jendral Karto bertanya kepada Jani "hei, sekarang bisakah kau menceritakan wanita gila yang kau maksud itu?"
"ya! kau harus memberitahu kami wanita yang mampu membuat dua jendral China panik seperti tadi!"
Jani sebenarnya enggan menjawabnya dan mencoba meminta bantuan Pak presiden yang masih ada di sana, tapi sayangnya Pak presiden malah juga penasaran dan ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
Melihat tidak jalan lain, Jani berdiri dan berkata "aku akan memberitahu kalian satu hal saja!, Wanita Gila yang aku sebut bukan karena dia kurang waras, tapi kekuatannya melebihi manusia biasa yang seharusnya tidak ada di dunia ini dan pantas di sebut Gila!"
Setelah mengatakan hal itu, Jani pergi tanpa menunggu jawaban mereka semua. Saat dia akan pergi meninggalkan Istana, seorang staf istana mendatanginya dan berkata "Mr.Gold!! saya mendapat perintah dari presiden untuk memberikan surat ini kepada anda." dan kemudian dia memberikan sebuah surat lalu pergi begitu saja tanpa berkata apa pun kepada Jani.
Jani tahu surat ini cukup penting, Jadi dia hanya menyimpannya lalu pergi dari istana untuk pulang ke rumahnya.
...
Sesampainya dia di rumah, Jani melihat bahwa putri angkatnya menangis dan saat dia mendekatinya, jani merasa aneh karena tubuh Alicia berubah menjadi agak kecil. Alicia yang mengetahui kedatangan Jani langsung berlari ke arah Jani lalu memeluknya sambil menangis "huaa!!... PAPA!! Kekuatan kak Seno telah hilang dariku!!"
"hei Alicia... berhentilah menangis dan coba ceritakan semuanya apa yang sebenarnya terjadi?" kata Jani yang coba menenangkan Alicia sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
"um.. sebenarnya umurku bukan delapan tetapi aku baru berumur 5 tahun. Alasan kenapa aku bisa menjadi terlihat berumur delapan tahun karena itu berkat kekuatan Kak Seno yang mampu mengendalikan waktu."
"Jadi kamu khawatir dengan kondisi Kak Seno yang efek kekuatannya tiba-tiba menghilang dari diri kamu?"
"iya, Papa!! Aku takut Kak Seno sudah mati akibat luka di dadanya."
"tenanglah, Alicia. Saudara Papa itu orang susah untuk mati! Jadi sekarang kamu tenang dulu biar papa yag mencari keberaaan saudara-saudari kamu yang lainnya. Sekarang papa ingin bertanya apa kamu belum makan?"
"Be-belum." Jawab Alicia yang memasang wajah malunya. Jani menghela napasnya dan berkata
"baiklah mari kita makan bersama dengan nenekmu."
Jani membawa Alicia memasuki ruang makan lalu melihat ibunya yang cemas menghampirinya dan berkata "Jani, apa yang terjadi dengan Cia!? Kenapa tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi kecil!?"
"Ma, nanti saja aku jelaskan semuanya. Sekarang kita makan malam dulu keburu makanannya dingin."
"baiklah, mari kita makan dulu."
Mereka semua pun memulai makan malam dan sesudah makan malam, Ayu mengajak Alicia untuk ke lantai dua lalu meninggalkan Jani, Putri dan Ibunya di ruang makan agar Jani bisa menjelaskan semuanya kepada mereka berdua.
"nah, Kak! Sekarang kakak bisa jelaskan semuanya kan?" Kata Putri yang juga penasaran asal-usul Alicia.
"baiklah, Biar kakak ceritakan dari awal."
Jani menceritakan semuanya kepada dua keluarganya dan setelah mendengarkan semuanya, Putri dan ibunya terkejut sekaligus marah dengan orang yang tega menjadikan anak berumur lima tahun sebagai subjek penelitian.
Mereka beberapa kali mengutuk para peneliti dan setelah tenang, Ibunya bertanya kepada Jani "Nak, apa kamu sudah memberitahu tantemu tentang informasi ini?"
"belum, tapi kalau mama mau coba meneleponnya, silahkan saja beritahu tante."
"baiklah, mama akan meneleponnya sekarang."
Ibunya pergi ke dapur untuk menelepon ibu dari Seno Brawijaya yang kebetulan suaminya adalah adik dari Ayah Jani.
Sementara ibu Mereka menelepon, Putri berkata "kak, karena aku tidak bisa membantu, aku ingin pergi bermain Arcadia Land dulu."
"baiklah, ingat! Selalu melihat indikator mesin apakah ada masalah atau tidak."
"oke, aku mengerti!" Jawab Putri kepada kakaknya lalu pergi memasuki kamarnya.
Saat dia di tinggalkan sendirian, tiba-tiba Jaka meneleponnya dan kemudian Jani mengangkat teleponnya.
"halo, Jak! Apa sudah kau tahu lokasi lab rahasia mereka."
"sudah! Nanti kita bahas aja di ruang bawah tanah aja!"
"Oke!" Jawab Jani dengan tenang lalu mematikan teleponnya.
Saat dia selesai menerima telepon, Ibunya datang dari dapur dan berkata kepada Jani.
"kata tantemu, dia akan segera kembali ke Indonesia dan membicarakan semuanya denganmu."
__ADS_1
"Oke, kalau Tante sudah sampai, mama nanti kabari aku aja dan sekarang aku ingin pergi ke rumah Jaka dulu."
"baiklah, nanti mama kabari." Setelah itu, Jani pergi ke ruang bawah tanah milik Jaka untuk membahas masalah ini dengan kelompoknya.