
Keesokan paginya
Jani bangun dari tempat tidurnya dan melihat bahwa ini masih Jam lima pagi. Melihat ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor, Jani memutuskan untuk pergi ke halaman depannya untuk menghirup udara segar.
Setelah menghirup udara segar, Jani berkata "4 hari lagi ya? Setelah selesai berurusan dengan peluncuran server utama, aku akan berlibur ke dunia fantasi!"
Zein tiba-tiba bertanya kepada Jani "Master, apa kau yakin tidak ingin menggunakan tiket liburanmu agar tetap berada di bumi?"
"memangnya kenapa kalau aku tidak menggunakannya? Apa tiket itu akan hangus, kalau aku tidak menggunakannya sekarang?"
"tidak, tiket tidak akan hangus selama belum di gunakan."
"kalau begitu biarkan saja dulu, aku akan menggunakannya di waktu berikutnya." Kata Jani sambil melakukan pemanasan pagi.
Setelah selesai melakukan pemanasan, Jani kembali masuk ke dalam rumahnya dan kemudian bertemu ibunya yang baru saja bangun. Kartika yang bertemu dengan Jani langsung menyeretnya ke ruang tamu dan bertanya " nak, bagaimana diskusimu semalam apa kau sudah menemukan lokasi mayat Seno berada?"
"aku sudah menemukannya, Ma. Dan juga sekalian aku sudah mengambil mayat Seno dari tangan mereka."
"kau bahkan sudah mendapatkannya mayatnya kembali!?"
"betul. Nanti mama kasih tahu bibi aja bahwa Mayatnya Seno sudah berada di tanganku."
"Oke, mama sekarang akan menghubunginya."
Sebelum Kartika menelepon Saudarinya, tiba-tiba ada seorang mengetuk pintu dengan sangat terburu-buru. Setelah bunyi ketukan pintu, terdengar juga suara seorang wanita yang memanggil Ibunya Jani
"Kartika! Apa kau di dalam!?"
Kartika yang sudah mengetahui siapa itu langsung datang menghampiri pintu sambil berkata "Iya! Aku ada di sini!"
Setelah Kartika membukakan pintu, dia langsung di sambut rentetan pertanyaan dari saudarinya "Kartika! Apa benar anakku sudah mati!? lalu bagaimana kau tahu kalau dia sudah mati!? Lalu apa kau sudah tahu siapa yang melakukannya!?"
Mendengar rentetan pertanyaan tersebut, Kartika langsung berkata dengan keras "SULISTINA BRAWIJAYA! Tenangkan dirimu dulu, oke?"
Sulistina segera mencoba menenangkan dirinya sambil berkata "oke, aku harus tenang dulu."
Setelah saudarinya yang bernama Sulistina cukup tenang, dia mengajaknya ke ruang tamu untuk bertemu dengan Jani. Sulistina juga di temani dengan suaminya yang bernama Rojak Brawijaya dan saat dia bertemu dengan Kartika, dia langsung berkata "kak, terima kasih telah membantu kami menemukan anak kami!"
"sudahlah, Rojak! Kau masuk dulu dan tenangkan istrimu kalau-kalau dia mengamuk lagi setelah mendengar cerita dari anakku."
"baiklah, kak! Aku mencoba menenangkan Suli." Dan Rojak pergi ke dalam rumah di ikuti oleh dua orang pengawal.
Alasan Rojak sangat menghormati Kartika karena mereka adalah dua saudara kandung yang sejak kecil sudah di tinggal mati oleh kedua orang tua mereka dan Kartikalah yang selalu merawat Rojak hingga dia sudah memiliki keluarganya sendiri.
Itulah sebabnya meskipun dia sudah menjadi pengusaha di bidang logistik antar negara, dia tidak pernah lupa akan jasa kakaknya di masa lalu dan selalu menghormatinya sampai kapan pun.
Setelah mereka semua pindah ke ruang tamu dan duduk berhadapan dengan Jani, Kartika mulai berkata kepada Jani "nak, bisa kau mulai bercerita tentang semuanya kepada bibimu?"
"tentu setelah dua orang tidak di kenal ini pergi dari rumahku."
"maaf, Bocah! Kami ini adalah pengawal dari perusahaan Tiger Security yang harus menjaga klien kami di mana pun itu."
__ADS_1
"oh, Tiger Security ya? Kalau begitu..." Jani mengambil sebuah kacang dari meja lalu melemparnya ke arah pengawal dengan kekuatan penuh miliknya. Kacang tidak mengenai si Pengawal, tetapi hanya menggores pipinya lalu melesat menuju dinding dan membuat lubang di tembok.
Pengawal itu terkejut dengan luka yang dia alami, lalu mulai menatap bingung ke arah Jani. Setelah Jani melempar kacang tersebut dia berkata "lebih baik kalian pergi sebelum mati konyol karena kacang yang kulempar berikutnya akan menembus kepala kalian."
Dua pengawal itu mulai mengeluarkan keringat dingin dan dengan tangan gemetar mengarahkan senjata mereka ke arah Jani. Melihat suasana mulai tegang, Rojak berkata ke pada dua pengawalnya "sudah cukup! Kalian berdua bisa menunggu di luar."
"Tapi, Pak Rojak..." salah satu pengawal mencoba ingin memberitahu sesuatu kepada Rojak, tapi Rojak langsung membantah mereka dengan nada sedikit keras.
"ini permintaan klien!"
Setelah mendengar perkataan Rojak, Dua pengawal itu segera menuruti perintahnya dan pergi dari rumah Jani. Setelah mengusir dua pengawal, Rojak berkata "Jani, Maafkan mereka berdua yang sedikit kasar."
"yah, aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Hanya saja aku memang sudah mengenal perusahaan Tiger Security yang anggotanya kebanyakan adalah mantan preman dan tidak pernah belajar etika sopan santun." Kata Jani dengan Santai.
"Jadi, bisakah kau menceritakan kepada kami semuanya sekarang?"
"baiklah, tapi aku hanya menceritakan bagian yang aku tahu saja. Sisanya kalian bisa tanyakan kepada anakku kalau dia sudah bangun nanti."
Jani pun mulai menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Alicia kemarin dan ketika dia menceritakan tentang alasan kenapa Seno di culik untuk di jadikan bahan penelitian, Sulistina dan Rojak terkejut dan Sulistina yang tidak percaya membantah cerita Jani.
"BOHONG! TIDAK MUNGKIN ANAKKU MEMPUNYAI KEMAMPUAN MENGENDALIKAN WAKTU!"
"Jan, apa yang kau ceritakan tidak masuk akal sama sekali dan sulit bagi kami untuk mempercayainya." Kata Rojak yang juga tidak mempercayainya.
"percaya atau tidak itu urusan kalian, tapi apa yang kuceritakan adalah kenyataan yang harus kalian terima." Setelah itu, Jani berdiri kemudian melanjutkan "Sepertinya kita sudahi pembicaraan kita di sini karena aku harus berangkat ke kantorku dan jika kalian mencari mayat Seno, dia ada di kamar tamu."
"tunggu Jan! Bisakah kami berbicara dengan anak angkatmu?"
Ketika dia melihat ke arah tangga, dia melihat Alicia yang sudah terbangun bersama dengan Ayu turun dari lantai dua. Alicia yang melihat Jani langsung bertanya dengan penuh semangat "papa! Apa papa sudah berhasil menyelamatkan Kak Seno?"
Jani sebenarnya tidak ingin memberitahu anaknya, tapi dia juga tidak bisa terus berbohong tentang keadaan Seno yang sudah meninggal. Setelah menenangkan hatinya, Jani berlutut di depan Alicia lalu berkata "Alicia, maaf Papa tidak bisa menyelamatkan kak Seno tepat waktu."
Alicia yang mendengarnya langsung terkejut lalu berkata sambil meneteskan air matanya "Hiks...hiks... begitu ya. Jadi kak memang sudah mati...Hiks...hiks.."
Jani dengan cepat memeluk Anaknya sambil berkata "tidak apa-apa, menangislah sekuat yang kamu inginkan!"
Alicia pun mulai menangis di pelukan Jani sekuat yang dia bisa. Setelah menangis cukup lama, Alicia mulai terdiam dan Jani mulai berkata kepadanya "meskipun papa tidak bisa menyelamatkannya, tetapi papa berhasil mendapatkan mayatnya kembali."
"benarkah!?"
"benar, bahkan orang tua Seno sudah berada di sini dan ingin bertemu denganmu!"
"aku juga ingin bertemu mereka, tapi aku takut mereka akan menyalahkanku atas kematian kak Seno."
"tidak perlu takut! Mama akan menemanimu!" sela Ayu yang memegang pundak Alicia.
"yay! Mama memang yang terbaik!"
"kalau begitu kalian temui mereka. Aku ingin bersiap ke kantor."
Jani meninggalkan mereka dan kemudian pergi ke lantai dua untuk bersiap pergi ke kantor hari ini.
__ADS_1
...
Setelah Jani selesai bersiap, dia turun kembali lalu pergi ke kamar tamu untuk melihat situasi yang ada. Saat dia melihat ke dalam kamar, Jani melihat Alicia sedang di peluk oleh Om dan Tantenya.
Sulistina yang masih memeluk Alicia, mulai berkata "terima kasih, Alicia! karena sudah bertahan hidup untuk memberitahukan keberadaan anak kami!"
Alicia bingung dengan ucapan terima kasih tersebut kemudian bertanya kembali "apa Om dan Tante, tidak marah kepadaku karena membuat Kak Seno mati?"
"kenapa kami harus marah! Anak kami lah yang telah memilih untuk berkorban menyelamatkanmu. Jadi kami harus menghargai pilihannya."
Setelah selesai berterima kasih kepada Alicia, Rojak mengangkat tubuh anaknya lalu hendak pergi keluar rumah Jani. Ketika dia melihat Jani sedang bersandar di lorong, Dia berhenti lalu berkata "Jani, kurasap di masa depan aku akan menghubungimu untuk menjalin kerja sama antara perusahaan kita."
"aku akan menunggumu Paman dan sebagai saran saja, lebih baik jasad Seno di kremasi saja agar tidak ada tukang bongkar makam yang mencuri mayatnya kelak."
"kau benar, aku akan mengikuti saranmu." Dan kemudian mereka pergi dari rumahnya. Setelah itu, Jani mendekati Ayu dan berkata "sayang, bisakah kamu mengambil cuti beberapa hari untuk menemani Alicia?"
"gak mungkin, sayang! Empat hari kita memiliki acara besar dan kita sudah harus bersiap untuk melakukan banyak hal."
"kamu tidak perlu khawatir, aku akan mengurus semuanya dan kamu di sini menjaga anak kita" jawab Jani sambil memeluk Ayu dan kemudian mencium bibirnya.
Ketika mereka mulai lupa dengan keadaan sekitarp, Ibunya Jani berdeham lalu berkata "ermh!! Jani, bukankah kamu sudah terlambat?"
"oh iya, kalau begitu aku akan berangkat! Alicia, papa berangkat dulu."
"hmm! Hati-hati Papa!!" kata Alicia mengucapkan selam tinggal kepada Jani.
...
Di perusahaan Arcadia.
Jani memulai rapat seperti biasa untuk membahas persiapan acara besarnya. Setelah melakukan rapat lebih dari tiga jam, mereka akhirnya selesai membahas semuanya dan di dalam rapat di putuskan bahwa acara di adakan di tempat yang Jani pakai dulu yaitu Balai Sarbini.
Setelah Jani selesai dengan rapat, dia langsung pergi ke kantor Ayahnya untuk menandatangani kontrak kerja sama yang sebelumnya dia sepakati. Sesampainya di sana, dia berbicara kepada Ayahnya "apa kontrak sudah di buat?"
"tentu saja, silahkan baca terlebih dulu isinya kontraknya."
Jani membacanya sekilas, lalu berkata "baiklah, tidak ada masalah di dalamnya." Dan kemudian menandatanganinya.
"kalau begitu, semoga kerja sama bisa sukses tanpa ada kendala sedikit pun." kata Ayahnya yang berdiri dari kursinya lalu berjabat tangan dengan anaknya. Setelah kontrak di tanda tangani, Jani bersiap kembali ke kantornya.
Sebelum dia pergi, Ayahnya berkata "nak, apa kau belum makan siang?"
"aku akan melakukannya di kantorku." Kata dengan tenang dan berjalan pergi keluar.
Melihat anaknya berjalan pergi, Hardi menahannya kemudian berkata "tunggu sebentar, bagaimana kalau sekali-sekali kita makan siang bersama?"
Jani tahu ayahnya memiliki sebuah rencana lain mengajaknya makan siang, tapi karena penasaran Jani terdiam sesaat lalu berkata "baiklah."
Mereka pun akhirnya pergi ke sebuah restoran bintang lima untuk makan siang. Setelah mereka duduk di kursi mereka dan selesai memesan, tiba-tiba seorang wanita yang sangat cantik menghampiri mereka lalu bergabung bersama mereka.
Jani yang melihat hal itu langsung berkata di dalam hatinya 'haha... sudah kuduga pasti ada suatu alasan lain untuk mengajakku makan siang.'
__ADS_1