
Setelah truk kontainer pergi, Jali bersiap pergi karena semua persiapan penyerangan telah di bawa pergi oleh truk kontainer yang menuju sebuah lokasi rahasia milik kelompok Jali yang letaknya tidak jauh dari perumahan Golden Residen.
Saat dia ingin menaiki mobilnya, jali melihat sahabatnya jani yang masih berdiri tegak dan sedang menatap sesuatu. Jali mencoba melihat apa yang di lihat sahabatnya dan saat dia melihat arah tatapan Jani menuju sekelompok anak kecil, dia melihat ke arah Jani lalu berkata "jan!, lu belum puas sama Ayu ya?"
Mendengar pertanyaan sahabatnya, Jani langsung memukul kepalanya dan kemudian berkata "jangan memikirkan hal yang aneh, Djancok!!"
"lalu apa lagi yang elu pikirkan ketika melihat sekelompok anak kecil selain menjadi predator anak?"
Jani terdiam sebentar dan kemudian berjalan menuju motornya sambil berkata "sudahlah! elu tidak akan mengerti. Dan kalau lu mau langsung ke rumah gua, tolong bilang kepada Ayu bahwa gua akan terlambat sebentar."
"memangnya kau mau ke mana?"
"ke daerah Cikini." Jawab Jani dan kemudian dia pergi menggunakan sepeda motornya.
Saat Jani pergi, jali mulai berkata "memangnya di Cikini ada apaan?"
Saat dia sedang berpikir, salah satu anak buahnya berkata "mungkin CGC, bos?"
"CGC? Oh! Memang dari dulu nih orang, kagak mau liat cewek marah dikit doang ."
Setelah mengatakan hal itu, Jali memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan gudang miliknya menuju rumah Jani.
...
Sementara itu, di daerah Cikini.
Daerah Cikini hanya ada satu tempat yang paling sering di kunjungi orang yaitu CGC (Cikini Gold Center) yang merupakan pasar emas terbesar di Jakarta. Meskipun sudah ada pasarnya, tetapi ada juga beberapa toko emas kecil yang membuka tokonya di sekitar pasar tersebut dan di situlah tempat Jani sedang menuju.
Tidak seperti CGC yang memiliki keamanan yang kuat, kebanyakan toko di sekitar pasar dahulu di jaga oleh preman setempat, tetapi sekarang itu tidak lagi semenjak ada seorang pelajar SMK yang sering berkunjung ke sini lalu menghajar semua preman tersebut.
Saat Jani sampai, ada sebuah keributan karena ada seorang pemabuk mengamuk di depan sebuah toko emas. Melihat keributan tersebut, Jani mendekati pemabuk dalam langkah senyap lalu saat berada di belakang sang pemabuk Jani memegang pundaknya lalu berkata "Woi! Bangun goblok!" Dan kemudian Jani langsung meninju sang pemabuk hingga membuatnya terlempar dan menghantam tembok.
Walaupun terkena pukulan Jani, sang pemabuk tetap berusaha bangun lalu mulai memarahi Jani "Woi Bocah! Lu kagak sayang nyawa, berani mukul gua begini?"
Melihat sang pemabuk kembali berdiri, Jani kembali mendekatinya lalu menangkap kepalanya dan kemudian menggunakan sedikit sihir petir yang membuat pemabuk tersebut tersentak dan langsung pingsan.
Setelah memastikan sang pemabuk tidak sadarkan diri, Jani kembali berjalan menuju sebuah toko emas tua lalu berkata "Beh! Gimana bisnis, lancar?"
"yah lumayanlah, nah kalau lu ngapain kemari? Enggak biasanya lu datang ke sini." Jawab pria tua seorang penjual perhiasan emas yang sering di panggil Jani dengan sebutan Babeh.
"ini Beh, saya mau bikin cincin menggunakan mutiara ini." Kata Jani sambil mengeluarkan satu mutiara yang telah terbelah menjadi dua bagian.
Saat pria tua itu melihat mutiara milik Jani, dia mengerutkan keningnya lalu berkata "gua baru tahu kalau ada mutiara berwarna biru kayak begini, elu dapat dari mana mutiara kayak begini?"
"yah pokoknya ada teman yang jual sama saya." Jawab Jani yang mencari alasan agar tidak di curigai si Babeh.
"ya sudah, pokoknya lu mau buat cincin kayak gimana?"
"buat lamaran, Beh"
"Hah!! Lu sudah mau lamaran!?" tanya Babeh yang terkejut dengan berita tersebut.
"iya Beh, rencananya sih Minggu ini mau minta izin sama orang tuanya terus kalau sudah dapat, mau langsung lamar dia di depan umum."
"okelah, gua doakan semoga acaranya lancar dan kalau barangnya sudah selesai, gua langsung telepon elu."
__ADS_1
"oke siap! Kalau begitu, Beh. saya pergi dulu ada urusan lain." Setelah berpamitan Jani pergi lagi untuk kembali ke rumahnya. Alasan kenapa Jani memilih mempercayakan cincin lamaran kepada si Babeh bukan hanya karena dia akrab dengannya, tetapi karena dia tahu keahlian Babeh dalam membuat ukiran di cincin itu sangat di sukai oleh para kolektor batu akik.
Setelah Jani pergi, si Babeh berkata kepada dirinya sendiri "Hadeh.. sayang banget menantu idaman gua sudah di ambil orang duluan." Lalu dia mulai menulis sebuah pengumuman di depan tokonya yang bertuliskan 'MAAF! UNTUK SAAT INI TIDAK MENERIMA LAYANAN CUSTOM SAMPAI WAKTU YANG TIDAK DI TENTUKAN.'
Setelah itu, dia berkata kepada putrinya yang sedang belum lama ini sampai di sini "Dilah! Kamu jaga toko. Babeh mau merancang cincin lamaran buat orang."
"iya, Beh!"
....
Setengah jam kemudian
Jani kembali ke rumah dan melihat bahwa makan malam mereka masih di persiapkan oleh tiga orang wanita yaitu: Ibunya Jani, Ayu, dan Devi. Saat Jani masuk ke ruang keluarga, dia melihat adiknya dan Jali sedang menonton TV yang sedang menyiarkan berita tentang tertangkapnya Hacker ternama Green Elf.
Saat berita selesai di siarkan, Putri bertanya "kak... ini kagak bohongkan, Kalau kak Jali tertangkap?"
"memang itu bukan bohong, tapi aku punya firasat kalau dia sengaja membiarkan dirinya tertangkap." Jawab Jani yang menanggapi pertanyaan adiknya.
"aku juga sependapat." Tambah Jali yang menyetujui firasat sahabatnya.
"kenapa kalian berpikiran seperti itu?"
"Putri, apa kamu percaya sebelum kami berteman baik dengan Jaka, kami sering berkelahi dan kakak pernah di kalahkan olehnya sebanyak tiga kali."
"enggak! Aku mana mungkin percaya kalau kak Jaka bisa ngalahin kakak yang sejatinya ahli pencak silat dalam sepuluh aliran berbeda."
"percaya gak percaya itu memang terjadi dan alasan kenapa kakak kalah adalah karena keahliannya dalam seni bela diri Taekwondo itu setara dengan tentara elite milik negara Korea."
Mendengar hal itu, Putri masih belum percaya lalu mencoba melihat ke arah Jali untuk bertanya tentang kebenaran cerita tersebut. Jali hanya menganggukkan kepalanya yang menyatakan bahwa cerita Jani itu benar adanya.
Sebelum Jani menjawabnya, ibunya datang ke ruang keluarga dan berkata "sudahlah! Berhenti meributkan masalah itu lalu pergi ke ruang makan karena makan malam sudah siap."
"siap!" jawab ketiganya dan setelah itu mereka pergi makan malam terlebih dahulu sebelum melakukan serangan malam ini.
....
Setelah makan malam, Jani mulai bersiap dan saat dia ingin pergi, Jani melihat Ayu sudah menunggunya di depan pintu masuk sambil menggendong seekor anak harimau yang tidak lain adalah Ignis.
Ayu yang melihat Jani ingin pergi, perlahan mendekatinya lalu bertanya "kamu sudah mau berangkat?"
"iya, tadi aku baru dapat kabar dari Green Goblin. Katanya ada isu yang menyatakan bahwa Jaka akan di pindahkan. Jadi harus buru-buru, sebelum dia akan di pindahkan." Jawab Jani yang juga mendekati Ayu.
"baiklah, tapi ingat jangan sampai kamu terluka. Kalau kamu terluka, kamu tahukan hukumannya?"
"maka dari itu, dalam penyerangan kali ini aku di garis depan tidak sendirian."
"sama siapa?"
"aku akan menyerang dengannya!" Jawa Jani sambil menggendong Ignis.
"Ignis? Memangnya dia bisa menyerang?"
"hehe.. sebenarnya Ignis dan Tempest bukan sekedar hewan langka saja, tetapi mereka berdua adalah kartu As yang akan aku gunakan dalam keadaan seperti ini." Jawab Jani sambil menyuruh Ignis berubah menjadi sebuah pedang.
Saat Ayu melihat hal tersebut dia tidak terkejut, melainkan dia tersenyum dan berkata "kalau begitu aku akan merasa lebih tenang! Dan juga sebelumnya aku ingin minta maaf karena mengatakan hal yang tidak tepat di depan kamu, yang saat itu sedang dalam kondisi panik karena hilangnya Jaka."
__ADS_1
Melihat kekasihnya mulai meminta maaf, Jani menaruh Ignis di punggungnya lalu memeluk Ayu dan kemudian berkata "aku tidak marah karena aku mengerti alasan kamu berkata seperti itu."
Setelah mengatakan hal itu, Jani mencium bibir Ayu dan saat mereka selesai berciuman, jani berkata "kalau begitu aku berangkat dulu!"
"hmm, hati-hati!" jawab Ayu yang wajah memerah karena baru selesai berciuman dengan Jani.
...
Satu jam kemudian.
Hari sudah berganti menjadi malam hari dan sementara itu di beberapa atap gedung, Ada beberapa penembak jitu yang masing-masing di tempatkan di sana atas perintah kepolisian. Jarak mereka dari perumahan Golden Residen kurang lebih 1 kilometer yang merupakan jarak rata-rata para penembak jitu.
Salah satu penembak jitu berkata kepada temannya "hei, apa kau yakin si iblis merah akan menyerang malam ini?"
"itu sudah dipastikan oleh kapten. Dan kalau kita berhasil membunuhnya menggunakan peluru kita, kita berdua akan mendapatkan bonus yang sangat besar dari atasan kita!" jawab orang tersebut yang mengatakan tentang bonus dari membunuh Jani.
"kalau begitu ini pasti akan mudah!"
"jangan meremehkannya! karena sebelum kita membunuh iblis merah, kita harus membunuh rekannya yaitu Black Masker yang juga adalah seorang penembak jitu. ngomong-ngomong, apa kau sudah memeriksa keberadaan Black Masker?"
"sudah, aku telah memeriksa 1 kilometer dari tempat kapten dan tidak menemukan orang mencurigakan di atap gedung manapun."
"kau bodoh! Tidak mungkin dia menembak dari jarak sedekat itu! Coba lakukan pemeriksaan 2 kilometer dari tempat Kap..."
*Syuut*
Sebelum temannya menyelesaikan perkataannya, sebuah peluru menembus kepalanya dan seketika di jatuh terduduk dan mati begitu saja.
Temannya yang bingung dengan suara jatuh tersebut mulai bertanya "Woi apaan tuh yang jatuh?"
Meskipun dia bertanya tidak yang menjawab dan karena itu, saat penembak jitu itu berbalik untuk melihat temannya, dia terkejut melihat temannya sudah mati dan sebelum dia sempat untuk berlindung sebuah peluru menembus kepalanya dan penembak jitu tersebut juga mati.
....
Empat kilometer jauhnya dari tempat para penembak jitu mati, Jali sudah berkata "dua jatuh! Sisa delapan lagi!"
Posisi Jali saat ini adalah lantai 40 dari sebuah gedung yang jaraknya 5 kilometer dari perumahan Golden Residen. Itulah sebabnya kenapa jali tidak bisa di temukan.
"tiga jatuh.. empat jatuh.. tujuh jatuh Dan yang terakhir sepuluh jatuh..." setelah menembak semua penembak jitu, Jali segera pergi dari tempat itu lalu pergi ke tempat posisi menembak selanjutnya untuk membantu Jani dari jarak jauh.
Di perjalanan menuju ke lantai dasar, jali menelepon Jani "halo Jan! Penembak jitunya sudah gua urus!"
"oke! Gua yang urus sisanya." Jawab Jani dari balik telepon.
Setelah menelepon Jani, Jali kemudian menelepon anak buahnya untuk bergerak sekarang. Saat Jali sedang menelepon, dia lupa bahwa saat ini dia berada di dalam lift yang kebetulan di dalamnya ada seorang ibu dan anaknya yang berumur tujuh tahun.
Tentu saja ibu dan anak itu mendengar percakapan Jali yang membuat sang ibu menggigil ketakutan. Berbeda dengan sang ibu yang ketakutan, anaknya malah tertarik dengan Jali dan kemudian bertanya "Abang Black Masker dari trio Djancok ya?"
Jali dan si ibu terkejut melihat anak itu bertanya seperti itu. dia pun juga tertarik dengan anak itu lalu kemudian kembali bertanya "bagaimana kau mengetahui bahwa aku adalah Black Masker?"
"karena aku sering menonton video kalian dan aku ingin menjadi seperti kalian!" jawab anak itu yang matanya berbinar menunjukkan kekagumannya kepada Jali.
Saat lift terhenti di lantai berikutnya, si ibu berkata kepada Jali "maaf atas perilaku anakku yang kurang sopan!" dan setelah itu, si ibu menarik anaknya keluar dari lift.
Tepat sebelum anak itu keluar, Jali memasukkan sesuatu ke kantongnya tanpa di sadari oleh si ibu tersebut. Anak itu menyadari nya dan mencoba menoleh ke belakang, tapi sayang pintu lift sudah tertutup dan menuju ke lantai dasar.
__ADS_1