
Laporan dari Tetua Five terus berlanjut dan Jani selaku pemimpin Silent Army mencatat bagian-bagian yang menurutnya cukup penting. Semua anggota Silent Army, mendengarkan laporan dengan sangat serius sampai mereka lupa bahwa ada sekiranya enam orang penting sedang memperhatikan jalannya rapat.
Duke Jack yang sedari tadi diam kini mulai berkata "yang mulia, apa ini benar adalah anggota pembunuh bayangan yang sangat sulit di atur itu?"
Raja tersenyum lalu berkata "itu memang benar mereka, tapi aku cukup terkejut melihat Five begitu menuruti perkataan Alex. Padahal dia adalah orang yang sangat sulit di atur."
Pelayan tua yang berdiri di belakang Raja berkata "mungkin karena Pangeran telah memberikan sebuah tujuan baru untuk mereka semua sehingga mereka merasa lebih di hargai."
"menjadi pahlawan yang tidak di kenal dan melindungi kerajaan dari balik bayangan, kah?.... Haha! Aku tidak tahu dari mana pangeran menemukan kalimat itu, tapi saat pertama kali aku mendengarnya, darahku terasa bergejolak mengingatkanku akan masa muda di medan perang!" jawab Duke Barrox yang mengingat tentang masa lalunya.
"baiklah, kita berhenti dulu dan mari kita dengarkan apa rencana yang akan di susun oleh anak ku ini!"
Para Bangsawan tinggi lainnya juga mulai diam dan memperhatikan rencana yang akan Jani keluarkan.
…
Biasanya butuh waktu lama untuk meneliti setiap laporan yang masuk lalu membuat rencana yang akan berjalan dengan baik. Itu standar orang lain, tapi Jani yang di kenal sebagai Mr.Gold tentu saja berbeda dengan orang lain.
Sejak dia memutuskan memasuki dunia bisnis saat masih duduk di bangku tahun menengah, Jani lebih berpikiran simpel. Yang membuatnya untuk mengambil keputusan terbaik dengan sedikit informasi yang dia dapatkan dan selebihnya mengandalkan keberuntungannya.
Kebiasaan ini juga masih sering dia gunakan hingga saat ini yang membuatnya benar-benar harus mengambil keputusan yang tepat.
Saat Jani memilah setiap laporan, setiap anggota Silent Army menunggunya dengan cemas. Meskipun wajah cemas mereka tidak terlihat karena topeng, tapi Jani bisa melihatnya dengan sempurna dan dengan wajah yang tenang, Jani mulai berkata "aku akan mengumumkan strategi kita kali ini! Pertama, murid Inti dan Murid luar! Kalian semua akan di bagi menjadi beberapa tim untuk menyingkirkan semua pendeta yang akan menyusup dalam acara pelantikan dan pidato ku nanti. Tentu saja itu hanya para pendeta dan tidak ada tikus yang terlibat, benarkan Nomor 10?!"
"tenang saja, Pangeran! Aku dan kelompokku telah memastikan kepada setiap tikus agar mereka tidak ikut campur dalam masalah ini!"
"aku senang mendengarnya, tapi itu belum menjadi jaminan yang pasti! Nomor 11, Nomor 12. Aku ingin kalian bekerja sama dengan Nomor 10 dan pastikan para tikus itu benar-benar tidak terlibat!"
Sesuai keinginan anda, Yang mulia!" setelah mengatakan hal itu tiga murid inti meninggalkan aula pertemuan.
Jani melanjutkan "lalu untuk para ketua, kalian akan bertugas untuk menyelamatkan para sandra dan sekaligus mengalahkan para ksatria suci mereka tanpa harus membunuh mereka!"
"Operasi ini di namakan 'PEMBERSIHAN CAHAYA' karena seperti namanya kita akan membersikan gereja cahaya suci dan para pendeta korup dan operasi akan di lakukan di pagi hari, Jadi jangan ada yang pergi ke distrik 'Merah'! dan juga satu hal yang perlu ingat tidak boleh ada mengetahui operasi kalian! Apa kalian mengerti?"
"kami mengerti! Yang mulia!" jawab serentak semua anggota Silent Army.
__ADS_1
"baiklah, kecuali para tetua, kalian semua boleh bubar!"
Para Tetua bingung kenapa mereka tetap harus tinggal, tapi saat mereka ingin bertanya, tapi Jani hanya menjawab "tunggu sebentar, aku ingin berbicara kepada Ayahku dan para bangsawan lainnya."
…
Jani memasuki sebuah ruangan khusus yang di gunakan untuk pertemuannya dengan Sang raja dan para bangsawan tingkat tinggi lainnya.
Saat Jani menghampiri mereka Jani langsung bertanya "bagaimana, Apa kalian puas melihat pasukan ku ini?"
"aku cuma ingin bertanya, Pangeran! Bagaimana kau membuat mereka tunduk seperti itu?" tanya Duke Barrox yang pertama mendekati Jani.
"untuk saat ini, rahasia! Dan juga cara yang aku gunakan itu hanya bisa di gunakan di pasukan ini dan untuk pasukan ksatria lainnya, aku ragu cara aku ini akan berhasil." Jawab Jani dengan santainya sambil duduk di kursi yang sudah di sediakan untuknya.
"Jadi, menurutmu beda kesatuan ksatria, lain juga cara memimpinnya?" tanya kepala ksatria yang duduk di sebelah Raja.
"yah bisa di bilang begitu, paman Hertez."
"hoho! Aku mengagumi cara pandang, Pangeran, tapi aku ingin bertanya. Mereka adalah pembunuh yang terlatih, kenapa di operasi kali ini kau melarang mereka untuk membunuh?" tanya Duke Stain Rosewell selaku kepala sekolah akademi sihir.
Yang menjawab bukanlah Jani melainkan sang Raja sendiri "karena yang kita lawan ini adalah gereja cahaya suci, kepala sekolah. Kau tahu kan gereja cahaya suci adalah agama yang mempunyai kerajaan mereka sendiri dan mereka juga adalah agama yang paling banyak di anut oleh sebagian rakyat ku."
"tidak apa-apa, kepala sekolah!"
"tunggu sebentar, pangeran! Bukannya tindakan kita kali ini akan memicu kemarahan kerajaan suci?!" tanya Dunchess Marry.
"iya itu memang benar, tapi tenang saja! Kakak pertama ku pasti bisa menenangkan gereja!"
Setelah itu, pertemuan terus berlanjut hingga hampir setengah jam dan setelah puas mengajukan beberapa pertanyaan, para bangsawan berserta Raja pergi untuk kembali ke istana.
Saat Jani keluar dari ruang pertemuan dia kemudian kembali menemui para tetua Silent Army yang menunggu dari tadi. Sebelum Zero bertanya alasan mereka untuk tetap tinggal, Jani segera bertanya "baiklah, siapa di antara kalian yang bertanggung jawab menghamili tetua One?!"
Semua Tetua Silent Army terkejut sampai tidak ada satu pun dari mereka yang mampu menjawab. Melihat mereka semua terdiam, Jani dengan kesal berkata "oke! Karena tidak ada yang mau menjawab, maka tidak ada dari kalian yang mendapatkan senjata khusus untuk saat ini!" dan setelah mengatakan itu Jani berbalik untuk pergi, tapi itu di hentikan oleh Zero yang berkata.
"Pangeran, tenanglah sebentar! Biar aku jelaskan terlebih dahulu, sebenarnya satu tahun yang lalu aku dan tetua One mengadakan pernikahan sederhana dan belum sempat memberitahukan hal ini kepadamu."
__ADS_1
"oh! Kalau begitu aku ucapkan selamat!" jawab Jani yang berbalik dengan wajah tenangnya kembali.
Bingung dengan perubahan sifat Jani yang begitu cepat membuat Zero kembali bertanya "Pangeran, apa anda tidak marah?"
"tidak. aku tidak marah, selama kau bertanggung jawab itu sudah cukup. Dan ngomong-ngomong Tetua One, aku memerintahkan mu untuk mengambil cuti selama satu sampai dua tahun. Tentu saja kau tetap bisa menjadi tetua Silent Army setelah masa cuti mu berakhir, apa kau menerima perintahku, Tetua One?"
One merasa kehangatan di hatinya melihat bahwa Pangeran marah hanya untuk mencari keadilan untuknya. Meskipun ekspresi wajahnya tidak terlihat karena dia menggunakan topeng, tapi semua temannya tahu bahwa One mulai menangis sambil berkata "iya! Aku akan menjalankan semua perintah mu, Pangeran!"
Setelah puas mendengarkan jawaban dari Tetua One. Jani berbalik ke arah Zero "Dan untukmu Paman Zero! Aku harusnya juga memintamu untuk cuti selama masa kehamilan Tetua One, tapi karena kau masih memiliki banyak tugas maka aku tidak jadi memberimu cuti. Tapi aku akan memberikanmu beberapa daftar makanan yang bagus untuk Tetua One dan juga anakmu yang masih di dalam kandungan. Itu saja yang ingin aku sampaikan, sekarang kalian pulanglah dan bersiap untuk menjalankan operasi ini besok!"
"Sesuai keinginan Anda yang mulia!!"
….
Pagi harinya, lebih tepatnya masih pagi buta semua orang sudah kembali berkumpul di tempat yang semalam dengan Jani yang berdiri di atas podium pertemuan yang berkata "Ingatlah kalian semua! Operasi ini bersifat sangat rahasia. Dan meskipun kalian tidak di kenal, tapi aku akan selalu mengenang Jasa kalian sampai kapan pun. Jadi, berusahalah sebaik mungkin!"
"Kami mengerti, Yang Mulia!" jawab serentak semua anggota Silent Army.
"kalau begitu mari kita mulai Operasi perdana Silent Army yaitu, 'PEMBERSIHAN CAHAYA'!!"
…
Sekali lagi alun-alun ibu kota kembali sepi karena mereka sudah sejak pagi keluar dan pergi menuju halaman istana untuk mendengarkan pidato perdana dari Putra mahkota yang baru yaitu, Alex Van Lester.
Meskipun hal ini bukan hal baru bagi penduduk ibu kota, tapi ada satu hal yang membuat pangeran ketiga ini di perhatikan banyak penduduk ibu kota yaitu, keberaniannya dalam melawan bangsawan besar. Sudah dua Bangsawan bergelar Duke yang telah di singkirkan oleh Pangeran ketiga dan membuatnya di takuti oleh hampir semua bangsawan di ibu kota.
Di tambah dengan terselesaikannya sebuah labirin di dekat ibu kota yang membuat nama pangeran ketiga di kenal lebih luas lagi sehingga hampir semua warga ibu kota datang ke istana untuk mendengarkan pidato sang Pangeran.
Saat semua warga sedang menuju ke halaman istana, ada beberapa orang berpakaian serba hitam melompat dan berpindah di antara atap perumahan ibu kota. Ada juga beberapa dari mereka yang berbaur dengan warga lainnya untuk mendekati targetnya.
Tidak ada yang tahu siapa yang mereka incar, tapi ada beberapa kali mereka menangkap orang dan menyeretnya ke gang sempit atau membawa mereka dengan kereta kuda. Meskipun banyak orang yang melihat, tapi tidak ada satu pun dari warga yang ikut campur karena sehari sebelum acara pidato Pangeran, tersebar rumor bahwa pihak kerajaan sedang mencari orang-orang yang terlibat dengan penjualan budak, jadi jika warga melihat ada beberapa orang di tangkap, maka itu pasti adalah orang yang di cari kerajaan.
Sementara itu di dalam sebuah bar, ada beberapa orang pakaian hitam sedang duduk sambil memperhatikan kerumunan warga yang berjalan menuju halaman istana dan salah seorang berkata "sepertinya usaha kita semalam berhasil dengan baik, benarkan kak 10?"
"yah, ini juga berkat pangeran yang telah memerintahkan ku untuk menyebarkan rumor tersebut beberapa hari sebelumnya, jadi bisa di bilang ini semua telah di atur oleh Pangeran sebelumnya."
__ADS_1
"ngomong-ngomong aku masih merasa iri kepada para tetua karena hanya mereka yang di perbolehkan menyerang gereja. Padahal aku sangat ingin mencoba menggunakan senjata baru ini!" kata Nomor 12 sambil menunjukkan senjata tersembunyi miliknya yang di bagi kemarin malam.
"menyerah sajalah 12! Kekuatan kita masih belum cukup untuk menghadapi ksatria suci mereka, apa lagi kita di haruskan untuk mengalahkan mereka tanpa harus membunuh mereka, aku sendiri saja tidak akan mampu melakukan hal itu."