
“Mr.Gold! ini tidak seperti yang kau kira!” kata sang pria berjas yang coba menenangkan Jani.
“jika kau sayang kepada nyawamu, jangan ikut campur! Dan untukmu tuan Taoist, apa kau bisa jelaskan maksud dari tindakanmu yang kurang ajar ini?” jawab Jani yang mengancam kepada perwakilan perusahaan Tencent tersebut.
Sang Taoist menjawab dengan nafas terengah-engah “haa...haa... aku tidak tahu bagaimana kau bisa menangkal mantraku, tapi apa kau tidak menyadari bahwa akibat kau melukaiku bisa membuat perusahaanmu bangkrut dalam semalam!?”
Mendengar jawaban dari sang Taoist, Jani dalam sekejap mata langsung berpindah ke depan sang Taoist lalu meninjunya sambil memegang punggungnya dengan tangan yang satunya lagi agar sang Taoist tidak terpental ke belakang.
“GAKKHH!!” teriakan sang Taoist yang terkena pukulan Jani dan tidak lama setelah teriakan tersebut, terdengar suara retakan kaca dan kemudian dilanjutkan dengan suara yang lebih keras *PRAANNGG* suara itu berasal dari kaca yang berada jauh di belakang Taoist.
Melihat hal itu, pria berjas semakin ketakutan lalu dengan keadaan putus asa dia berlutut dan memohon kepada Jani “Mr.Gold tolong jangan bunuh dia! Kami dari perusahaan Tencent akan memberikan kompensasi yang setimpal akibat perbuatannya!”
“hehe... kau lihat itu! Bahkan mereka sampai memohon kepadamu untuk tidak membunuhku!” jawab sang Taoist yang masih bersikap sombong setelah terkena pukulan Jani.
“lalu, apa kau pikir aku akan ketakutan setelah mengetahui latar belakangmu yang berasal dari sebuah sekte kuno bernama Xuanmu?” jawab Jani dengan nada santai seolah itu hanya informasi umum.
Mendengar bahwa Jani telah mengetahui latar belakangnya, sang Taoist berkata “karena kamu sudah tahu dari mana aku berasal, segera bersujud meminta maaf kepadaku agar nyawamu dapat di ampuni!”
Mendengar bahwa sang Taoist masih bersikap sombong, Jani hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berkata “kayaknya urat malunya benar-benar sudah putus.”
Pria yang memakai Jas juga melakukan hal yang sama karena dia tidak habis pikir dengan sikap sang Taoist tersebut.
Setelah jani berkata seperti itu, dia segera memukul bagian belakang kepala sang Taoist dan membuatnya langsung pingsan di tempat.
Sesudah sang Taoist pingsan, Jani mengambil sebuah pedang yang berada di punggung sang Taoist lalu kemudian dia berkata “aku akan mengambil ini sebagai kompensasi, apa kau keberatan?”
“tentu saja kau boleh mengambilnya, Mr.Gold!” jawab sang pria berjas tersebut.
“kalau begitu aku akan mengambilnya dan bilang kepada bosmu bahwa sebagai hukumannya karena membiarkan hal ini terjadi, aku tidak akan berdiskusi tentang mesin Virtual sampai tahun depan.”
“baik, saya akan menyampaikannya! Kalau begitu saya permisi dulu, Mr.Gold!” jawabnya dan kemudian dia mengangkat sang Taoist yang pingsan lalu pergi dari ruang rapat tersebut.
Setelah mereka berdua pergi, Jani segera menelepon Arman untuk memeriksa apakah ada yang terluka akibat pecahan kaca yang terjatuh sebelumnya dan setelah memastikan tidak ada yang terluka, Jani menutup teleponnya dan kemudian dia pergi ke kamar rahasia untuk memeriksa keadaan kekasihnya.
...
Sementara itu.
Di sebuah hotel tempat pria berjas dan sang Taoist menginap. Pria berjas tersebut sedang menelepon bosnya untuk memberikan kabar tentang negosiasi baru ini.
“halo Bos. Maaf saya gagal mendapatkan kesepakatan. Baik saya akan segera kembali!”
setelah mengabari bosnya, pria berjas tersebut segera memesan tiket pesawat menuju cina untuk dua orang.
Setelah dia memesan, dia melihat bahwa sang Taoist terbangun lalu bertanya kepadanya “Tuan Mo. Apa anda sudah baikkan ?”
“sudah, tapi perutku masih merasakan sakit akibat pukulan Mr.Gold.” jawabnya sambil memegang perutnya yang masih merasakan sakit.
Beberapa saat kemudian, sang Taoist mulai menyadari bahwa pedangnya tidak ada lalu dengan panik bertanya kepada pria berjas.
“hei! Apa kau melihat pedangku!?”
“pedang itu telah di ambil oleh Mr.Gold sebagai kompensasi atas perbuatanmu yang telah menghipnotis kekasihnya.” Jawab pria berjas dengan tenang.
“SIAL! Bagaimana aku menjelaskan hal ini kepada kepala sekte!?” jawabnya dengan kesal dan kemudian dia kebingungan memikirkan cara mendapatkan kembali pedangnya.
Ada dua alasan yang membuat dia kebingungan yaitu:
__ADS_1
satu, jika dia kembali tanpa membawa pedang tersebut, dia takut akan hukuman yang akan dia terima dari sektenya.
Dan yang kedua, dia tidak yakin bahwa dia bisa mengambil kembali pedangnya dari Jani karena dia sadar bahwa dia bukan tandingan Jani.
Saat dia sedang berpikir bagaimana cara mengembalikan pedangnya, pria berjas berkata kepadanya
“sebelumnya Mr.Gold berpesan kepadaku, 'jika kau ingin mengambil pedang ini maka tukarlah dengan sesuatu benda yang sama berharganya dengan pedang ini'”
“lalu apa maksudmu memberitahuku hal ini?”
“Sebelumnya aku pernah bilang bahwa perusahaan kami yang akan membayar kompensasinya. Jadi berikan benda ini kepadanya untuk menggantikan pedang sektemu itu.” Jawab pria berjas sambil menunjuk sebuah koper panjang yang ada di sudut ruangan.
“baiklah, kalau begitu aku pergi sebentar.” Kata sang Taoist sambil membawa koper panjang tersebut.
....
Di kamar rahasia.
Jani sedang duduk di samping Ayu sambil menunggunya terbangun. Saat Jani melihat ke telinga Ayu, dia teringat bahwa Ignis berada di anting milik Ayu untuk menjaganya.
Setelah menyadari hal itu, Jani mencoba memanggil Ignis dan kemudian seekor anak harimau muncul di depannya dan berkata dengan tenang seolah tidak ada yang pernah terjadi.
“Bocah! Ada apa kau memanggilku?”
“bukankah kau punya sesuatu untuk di jelaskan kepadamu, Ignis?”
“kalau kau membicarakan tentang kenapa aku membiarkan wanita ini di hipnotis adalah karena itu tidak membahayakan nyawanya dan juga itu baru berselang beberapa menit setelah kau datang dan menyadari tentang hal itu.”
Mendengar penjelasan Ignis, Jani menyimpulkan bahwa Ayu hanya terhipnotis beberapa menit saja.
Setelah melihat Jani merasa lega, Ignis berkata “kalau tidak ada yang perlu kau tanyakan, aku akan kembali dulu untuk melanjutkan tidurku.”
Setelah berbicara dengan Ignis, Jani menyuruh Zein untuk memeriksa pedang yang baru saja dia dapatkan dari sang Taoist sebelumnya.
Zein pun memulai proses pemindaian.
[MEMULAI PROSES PEMINDAIAN: 10% 30% 60% 80% 100%. SELESAI, MEMPERLIHATKAN STATUS SENJATA.
Nama Senjata: PEDANG GIOK DARAH KAISAR KONG MING(terbuat dari sebuah Giok darah langka lalu di persembahkan kepada kaisar Kong Ming dalam bentuk sebuah pedang dan hingga akhir hidupnya pedang ini selalu menjadi senjata andalannya)
Status yang di berikan: Kekuatan+30 kecerdasan+50 (status yang di tunjukkan saat ini adalah status pedang dalam kondisi tersegel)
Efek khusus : Tidak ada (karena dalam kondisi tersegel)
Sistem dapat membantu melepaskan segelnya, apa anda mau Y/N]
Melihat bahwa Zein menawarkan pelepasan segel, Jani Sedikit curiga lalu berbalik bertanya “berapa biayanya?”
“hanya satu milyar saja.” Jawab Zein dengan nada datar.
“tidak perlu... lagi pula seseorang akan datang ke sini untuk melakukan penukaran.” Jawab Jani sambil menekan huruf N yang ada pada layar sistem.
Setelah memeriksa pedang tersebut, Jani menaruhnya di samping lalu saat dia hendak berdiri, Jani melihat Ayu mulai tersadar dan membuatnya kembali duduk di samping Ayu untuk menemaninya kembali.
Ayu merasa kepala sakit sekali lalu karena sudah terbiasa dia segera memanggil Jani “sayang!?”
“aku di sini, sayang!” jawab Jani sambil memegang salah satu tangan Ayu.
__ADS_1
Ayu merasakan kehangatan di tangan kanannya dan juga saat dia mendengar suara Jani, dia segera mencoba untuk duduk dan ingin memeluknya, tapi itu di tahan oleh Jani yang berkata “kamu tidak perlu duduk untuk memelukku, biar aku yang tidur di samping kamu.”
Lalu setelah itu, Jani tiduran di samping Ayu dan mereka saling berpelukan. Saat di dalam pelukannya Jani, Ayu berkata “sayang, boleh gak aku minta sesuatu sama kamu?”
“apa itu?”
“aku ingin kamu mengajarimu tentang sihir agar kejadian hari ini tidak akan terulang lagi.”
“kapan aku pernah bilang kalau aku bisa menggunakan sihir?”
“kamu memang belum pernah bilang, tapi apa kamu pikir aku ini tidak pernah menyadari keanehan yang beberapa kali terjadi saat kamu sedang kesal?”
Jani melihat mata ayu yang berisi dengan tekad yang kuat di dalamnya dan kemudian dia berkata “baiklah, aku akan mengajarimu. Entah kenapa ingin menarik ucapanku yang tidak percaya bahwa perempuan itu memiliki intuisi yang kuat saat mereka sedang memeriksa lelaki mereka.”
“memang seperti itu adanya kan?” jawab Ayu yang tersenyum karena telah di setujui untuk berlatih menggunakan sihir.
Melihat ayu yang senang, Jani mencubit hidungnya dan berkata “kamu jangan senang dulu! Pelatihan akan di mulai setelah peluncuran server utama di gelar!”
“iya! Aku tahu!”
“kalau begitu, aku mau keluar dulu. Kamu istirahat dulu di sini.”
“oke! Saat kamu kembali tolong belikan bubur ayam di tempat langganan kita! Aku cukup lapar!”
“siap bos ku!” jawab Jani dengan semangat lalu pergi keluar dari kamar rahasia sambil membawa sebuah pedang yang di periksa Jani sebelumnya.
...
Di depan perusahaan Arcadia
Sang Taoist kembali dengan sebuah koper panjang di punggungnya dan saat dia hendak masuk ke dalam, dia cegat oleh penjaga keamanan yang bertugas.
“maaf pak! Anda dilarang masuk karena sebelumnya telah melakukan sebuah kejahatan dengan menghipnotis CEO perusahaan kami.”
Jawab salah satu penjaga yang cukup mahir dalam berbahasa Inggris dan menahan sang Taoist agar tidak masuk ke dalam perusahaan.
Sang Taoist yang juga mengerti apa yang di katakan oleh penjaga tersebut, berkata dalam hatinya ‘berita itu menyebar dengan sangat cepat, tapi untungnya para wartawan belum mengetahui hal tersebut.’
Sang taoist juga melirik ke sekitarnya yang melihat para pemburu berita berada di sekitar halaman depan perusahaan ini dan untuk tidak menimbulkan hal yang merepotkan, sang Taoist berkata dengan tenang “baikkah, aku akan menunggu di sini, tapi tolong bilang kepada Mr.Gold bahwa aku di sini untuk melakukan pertukaran senjata.”
“baiklah aku akan menyampaikannya.” Jawab sang penjaga keamanan dan kemudian dia pergi ke dalam untuk memberitahu pihak resepsionis tentang alasan kedatangan sang Taoist.
Tidak lama kemudian, Jani keluar sambil membawa pedang milik sang Taoist dan berkata “apa yang membuatmu kembali, Tuan Mo?”
“aku di sini ingin melakukan pertukaran dengan pedang yang sebelumnya kau ambil.”
“tunjukkan kepadaku benda yang ingin kau tukarkan kepadaku.”
Sang Taoist kemudian mengeluarkan benda yang ada di dalam koper panjang tersebut dan saat dia melihat benda tersebut, dia juga terkejut lalu dengan cepat kembali tenang dan menunjukkannya kepada Jani sambil berkata
“aku tidak percaya bahwa mereka berani memberikan benda penting seperti ini, tapi karena itu bukan urusanku aku akan memberikannya kepadamu.”
Benda yang di bicarakan oleh sang Taoist adalah sebuah tongkat kayu biasa yang bahkan di beberapa bagiannya ada sudah berjamuran karena tidak di rawat dengan baik.
Melihat benda ini Jani tidak marah dan hanya menjawab “yah tidak ada bedanya dengan pedang ini, sama-sama tersegel.” Dan kemudian dia mengembalikan pedang itu kepada sang Taoist sambil mengambil tongkat kayunya dan tanpa basa-basi dia kembali ke dalam.
“tunggu! Apa yang kau maksud dengan tersegel!?” tanya sang Taoist kepada Jani yang sudah berjalan kembali memasuki perusahaannya.
__ADS_1
Mendengar suara sang Taoist, Jani berbalik dan berkata “kau sudah mengetahuinya kan?” lalu kembali berjalan memasuki perusahaan tanpa memedulikan suara sang Taoist yang memanggilnya.