KAISAR DUA DUNIA

KAISAR DUA DUNIA
Jangan lakukan hal bodoh


__ADS_3

Setelah Jani menerima telepon dari Jaka, dia berdiri dari bangku taman perumahan lalu berjalan menuju rumah nomor lima. untuk memperjelas, jumlah rumah yang berada di perumahan Golden Residen adalah 10 rumah elite yang dibangun dengan desain yang berbeda di tiap masing-masing rumah.


Perumahan ini juga di lengkapi dengan sebuah taman yang berada di ujung perumahan dan ada juga Komplek pertokoan yang ada berada di depan perumahan untuk memenuhi kebutuhan para penghuni perumahan. keunggulan dari perumahan ini bukan dari kemewahan tempat ini, tapi dari keamanannya yang sangat ketat sehingga menjadi salah satu perumahan teraman di Asia tenggara.


Saat Jani sampai di depan rumah tersebut, dia melihat banyak polisi yang berjaga dan ketika dia sedang memperhatikan daerah sekitar, dua orang polisi mendekatinya dan bertanya "hei! apa yang kau lakukan di sini?"


Jani dengan cepat memasang wajah polos dan menjawab polisi tersebut "ini pak! saya tadi sedang bermain petak umpet sama teman saya, terus sampai sekarang dan belum menemukannya sampai sekarang!"


"kalau begitu, cari di tempat lain! jangan di sini."


"memangnya kenapa, pak? saya kan belum cari teman saya di sini, siapa tahu dia sedang bersembunyi di dalam."


"dia enggak mungkin ada di dalam, pergi sana!" jawab salah satu polisi yang mengusir Jani dengan kasar. saat Jani di dorong oleh salah satu polisi, dia tidak terdorong, melainkan tetap berdiri tegak lalu berkata "maaf pak, kalau bapak menghalangi saya. saya akan membuat bapak menyesalinya, loh."


"memangnya apa yang ingin kau lakukan, hah?! membunuhku?" tanya polisi itu dengan nada arogannya.


Tepat saat Jani ingin menjawab, terdengar suara baku tembak dari arah gerbang perumahan yang menandakan di mulainya penyerangan ini. tentu saja kedua polisi yang menjaga gerbang sempat teralihkan oleh suara tembakan tersebut dan saat itu juga Jani mengeluarkan pedang Lavanya lalu dengan cepat menebas polisi yang arogan tersebut yang membuat tubuh atas dan bawahnya terpisah.


Polisi yang tertebas tidak menyadari serangan tersebut sampai tubuh bagian atasnya terjatuh dan barulah saat itu dia menyadari dan berteriak kesakitan. "AAAHHHH!!! BADANKU!!"


Melihat temannya yang telah terbagi dua, polisi satunya lagi mulai mengarahkan senjatanya kepada Jani dengan perasaan takut bahwa dia akan di bunuh juga. melihat hal itu, Jani tidak langsung membunuhnya dan mulai berkata kepada polisi tersebut "kalau kau takut mati, jangan lakukan hal bodoh dan buang senjata-mu sekarang!"


Polisi tersebut tidak langsung membuang senjatanya dan masih bersiap menembak dengan tangan yang gemetaran. setelah beberapa detik suasana hening, tiba-tiba suara tembakan terdengar dua kali.


*DOR!! DOR!!*


Tembakan itu bukan berasal dari Jani melainkan berasal dari polisi itu sendiri yang menembak temannya dan kemudian menembak pahanya sendiri. Sambil menahan rasa sakit, dia berkata "jika aku mengikuti perkataan-mu, maka kau pasti akan tetap membunuhku kan?"


"ohh! aku terkesan kau bisa membaca tindakanku selanjutnya, tapi aku penasaran kenapa kau membunuh temanmu sendiri?" jawab Jani yang terkesan dengan intuisi polisi tersebut.


Polisi itu menatap temannya yang sudah tewas akibat pelurunya yang tepat mengenai kening dan kemudian berkata "aku hanya membuatnya beristirahat lebih tenang dengan cepat."


"baiklah, aku biarkan kau tetap hidup, tapi dengan syarat rahasiakan wajahku ini." kata Jani yang sambil mengenakan topeng iblis berwarna merah.


Tentu saja polisi itu terkejut bukan main karena buronan kepolisian yang paling di cari ternyata berusia sangat muda. karena masih dalam keadaan terkejut, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyetujui persyaratan yang sebelumnya.


"kalau begitu, selamat bermimpi indah!" jawab Jani yang kemudian membuat polisi itu pingsan dengan sekejap.


Setelah berurusan dengan kedua penjaga, Jani segera memasang Earphone di telinganya dan berkata "Jal, apa lu sudah dalam posisi?"


Suara jali mulai terdengar melalui Earphone yang berkata "aku siap kapan saja!"

__ADS_1


"Green Goblin! lakukan yang terbaik!" kata Jani kepada Green Goblin yang saat ini menggantikan posisi Jaka.


"baik, bos! saya akan melakukan yang terbaik!"


"baiklah mari kita mulai penyerangan ini!" kata Jani yang mulai mengambil kuda-kuda dan kemudian menarik napas dan berkata dengan suara pelan "Teknik ayunan satu Golok: potongan pembelah!"


...


Di halaman depan rumah mewah nomor 5 ini, sudah bersiap puluhan polisi yang bersenjatakan lengkap untuk menangkap Jani. bahkan di balkon kamar lantai dua rumah tersebut, sudah di persiapkan senapan mesin serta beberapa anggota polisi yang memegang peluncur roket.


Salah satu polisi yang terlihat pemimpin kelompok ini berkata "kalian semua dengarkan ini baik-baik!! karena target kita adalah seorang buronan terkejam di Indonesia dan kali ini kita akan pastikan bahwa iblis merah tidak akan pernah membuat kekacauan lagi di negara kita ini."


Tepat dia selesai berbicara, pintu gerbang yang terbuat dari lapisan baja tiba-tiba meledak dan di dalam asap akibat ledakkan seorang berjalan sambil berkata dengan nada cerianya "halo semuanya! sudah hampir tujuh bulan kita tidak bertemu, apa kalian masih merindukanku?"


Tentu saja orang yang berkata seperti itu tidak lain adalah Jani yang saat ini mengenakan topeng iblis merahnya. walaupun masih dalam keadaan terkejut, sang pemimpin berkata "semuanya! bersiap menembak! BIDIK... TEMBAK!!"


Sebelum peluru mengenai Jani, sebuah dinding air dengan cepat terbentuk untuk menghalau semua peluru tersebut. Jali yang sudah siap di posisinya, langsung menembak tiga kali yang tepat mengenai tiga polisi di balkon lantai dua yang masing-masing memegang satu senapan mesin dan dua peluncur roket.


Jani juga mulai menyerang dari arah kiri untuk menghabisi lima orang pertama. dengan bantuan sihir darah untuk mempercepat gerakannya dan juga senjata pedang lava yang saat musuh tertebas akan menimbulkan sebuah ledakan dari luka pedang ini, membuat Jani dapat dengan mudah menghabisi lima polisi pertama dalam hitungan detik. setelah menghabisi lima polisi itu, Jani dengan cepat menghabisi polisi lainnya. beberapa polisi yang sadar bahwa semua peluru mereka tidak berguna karena di halangi oleh dinding air mulai gemetar ketakutan dan beberapa dari mereka mulai berhenti menembaki Jani.


Setelah beberapa saat, semua polisi akhirnya berhenti menembaki Jani dan pemimpin polisi yang melihat anak buahnya berhenti menembak mulai berkata dengan nada panik "Woi! kenapa kalian berhenti menembak?! te..terus lakukan!! apa pun yang terjadi segera bunuh monster itu!!"


Alasan pemimpin itu panik tentu bukan hanya karena takut dengan kekebalan Jani terhadap peluru melainkan sesuatu yang lain. 'sial! kalau begini terus, si iblis merah pasti akan tahu bahwa akulah orang yang pertama mendapat perintah dari Amerika untuk menangkap Green Elf!'


"aku tidak mau tahu! bagaimana pun caranya kalian harus membunuhnya!!"


"maaf kapten! aku tidak mau melakukannya karena aku masih ingin berkumpul dengan istri dan juga anakku yang baru saja lahir beberapa hari yang lalu!"


"aku juga, kapten! saya masih ingin hidup karena saya baru saja menikah!"


Satu persatu anak buahnya menyatakan tidak mau melakukan apa yang dia perintahkan yang membuatnya semakin marah dan akhirnya membuat pemimpin itu mengeluarkan senjatanya dan ingin menembak semua anak buahnya sambil berkata "DASAR PARA PENGHIANAT!! KALAU BEGITU MAU KALIAN, KENAPA SEKARANG KALIAN TIDAK DULUAN SAJA MATI TERLEBIH DAHULU, HAH!!?"


Sebelum kapten itu menembak, Jani sudah berada di belakangnya sambil menaruh pedangnya di leher sang kapten dan kemudian berkata "kenapa bukan kau saja yang mati terlebih dahulu, Goblok!"


Setelah itu, Jani langsung menggorok leher sang kapten. para bawaannya hanya terdiam melihat kapten mereka mati di depan mata mereka. melihat hal itu, Jani bertanya kepada mereka "apa kalian tidak merasakan apa-apa, saat melihat kapten kalian mati begitu saja?"


"dia pantas mati!" jawab salah satu polisi yang memasang ekspresi penuh kebencian di wajahnya.


Melihat kebencian pada polisi tersebut, Jani mengetahui bahwa kapten polisi ini telah melakukan banyak hal buruk kepada anak buahnya sehingga dia sangat di benci oleh mereka. setelah memahami hal tersebut, Jani dari dalam kantongnya mengeluarkan satu botol berisi obat dan melemparkannya ke salah satu polisi dan berkata "jika kalian masih ingin menjadi polisi, maka minumlah obat ini. tenang saja! itu hanyalah obat tidur biasa."


Semua polisi mulai menatap Jani dan kemudian mereka mulai berdiskusi untuk memutuskan percaya atau tidak kepada perkataan Jani. Jani mulai tidak memedulikan mereka dan memasuki rumah tersebut.

__ADS_1


...


Saat dia memasuki rumah tersebut, Jani sempat terkagum dengan dekorasinya yang begitu mewah dan mulai berkata kepada dirinya sendiri "gila! rumah gua aja gak mewah kayak gini amat!"


Setelah cukup puas mengagumi dekorasinya Jani berkata kepada Jali melalui Earphone-nya "Jal, setelah para polisi itu sudah tertidur, suruh anak buah lu masuk untuk membawa bahan peledaknya."


"kayaknya gua meragukan bahwa mereka akan meminum obatnya." kata yang saat ini sedang memantau para polisi.


"tenang saja! mereka pasti akan meminumnya. karena jika mereka tidak meminumnya, mereka akan di anggap tidak becus menghadapi satu orang dan pada akhirnya di pecat untuk menutupi negosiasi terselubung yang di lakukan oleh atasan mereka dengan negara asing"


"ohh! jadi begitu rupanya!" jawab Jali yang mulai mengerti dengan penjelasan sahabatnya.


Saat Jani selesai berbicara dengan Jali, dia mulai menaiki tangga untuk menuju kamar tempat di mana Jaka berada.


Setelah mencapai kamar tersebut, Jani langsung menghancurkan pintunya menggunakan pedangnya lalu memasuki kamar tersebut dan mulai berkata "Jaka! sahabatmu datang menyelamatkanmu!!"


"iya gua tahu! jadi kagak usah banyak gaya!" jawab Jaka dengan nada yang biasa dia pakai.


"haha... biar kelihatan keren sedikit gitu. ngomong-ngomong gak biasanya lu mau di culik kaya begini."


"yah... maaf kalau gua ngerepotin elu semua. sebenarnya gua juga kaget, tiba-tiba identitas gua sudah ada yang tahu. oleh karena itu, gua sengaja di menerima di culik untuk mencari tahu siapa orang yang berhasil mengetahui identitas gua."


Walaupun Jani sudah mengetahui siapa orang tersebut, dia tetap bertanya kepada Jaka "lalu apa kau sudah mengetahuinya?"


"aku belum mengetahuinya secara jelas, tapi yang pasti dia bekerja dengan pemerintah Amerika."


"sudahlah, kita pikirkan itu nanti. lebih kita keluar terlebih dahulu sebelum tempat ini di ledakkan oleh anak buahnya Jali."


"hah! di ledakan!? bukannya itu terlalu berlebihan?"


"menurutku tidak. karena ini juga sebagai peringatan bagi mereka yang coba-coba menyakiti sahabatku." jawab Jani dengan nada yang sangat serius.


mereka pun terus berjalan menuju keluar dan sesampainya di ruang tamu, Jani melihat para anak buahnya Jali sudah berkumpul sambil membawa 100 kilogram bahan peledak berjenis C4. saat Jani melihat mereka telah datang, dia mengeluarkan sebuah kertas dan berkata kepada salah satu dari mereka "pasang bom di tempat yang sudah aku tandai agar ledakkannya runtuh di tempat dan tidak merusak rumah penghuni lainnya."


"baik, Bang Jani!!" jawab orang tersebut lalu dia mulai memberitahu yang lainnya.


Sementara itu, Jani keluar dari rumah tersebut dan melihat bahwa semua polisi sudah tidak sadarkan diri akibat meminum obat dari Jani.


Jaka yang melihat banyak polisi yang pingsan ingin bertanya, tapi dia menahannya karena dia tahu bahwa Jani saat ini melihat para polisi yang pingsan dengan tatapan menjijikkan di matanya. oleh karena itu, untuk meringankan suasana, dia berusaha mengalihkan Jani dari para polisi yang pingsan dengan bertanya "ngomong-ngomong, setelah nih kita mau ke mana? ke rumah lu?"


"enggak, kita akan melihat rumah baru untuk lu."

__ADS_1


Setelah itu, Jali terus berjalan bersama Jani menuju rumah barunya yaitu rumah bernomor dua yang berada di samping rumah Jani.


__ADS_2