KAISAR DUA DUNIA

KAISAR DUA DUNIA
Silent Army


__ADS_3

Semua anggota pasukan bayangan masih menunggu penjelasan Jani yang telah menghancurkan token pasukan mereka sembari mengatakan bahwa dia akan membubarkan pasukan ini.


Jani dengan tenang berkata "alasan aku membubarkan pasukan bayangan karena kalian tidak bersumpah kepada siapa pun."


"apa masalahnya jika kami tidak bersumpah kepada siapa pun!?" tanya Five yang masih marah dengan hancurnya token pasukan mereka.


"masalahnya adalah kalian menjadi sekelompok pasukan yang tidak dapat di kendalikan oleh kerajaan ini. Lalu, apa kalian tahu? bahwa Dalam setiap rapat para bangsawan, pasukan bayangan telah di cap sebagai ancaman untuk kerajaan ini dan hampir di paksa di bubarkan berkali-kali?"


Semua orang terdiam menandakan bahwa mereka sadar akan hal itu. Lalu Jani melanjutkan.


"Oleh karena itulah, aku ingin sepenuhnya merubah seluruh pasukan ini menjadi lebih baik!. Pertama, aku ingin kalian bersumpah setia kepadaku lalu juga kepada lambang ini."


Saat itu Jani menunjukkan sebuah lambang dan itu membuat beberapa orang bingung dan kebingungan itu di wakili oleh sang pemimpin mereka yaitu, Zero.


"Pangeran, kenapa kita harus bersumpah kepada lambang kerajaan ini dan bukan lambang keluarga kerajaan Anda?" tanya Zero yang bingung dengan alasan Jani yang menyuruh mereka untuk bersumpah kepada lambang kerajaan dan bukannya terhadap lambang keluarga Lester.


"memang benar biasanya para bangsawan besar akan mengikat sebuah kelompok atau seseorang ke lambang keluarga mereka agar di masa depan kelompok itu tetap melayani keluarga tersebut meskipun telah berganti kepala keluarga. Tapi kalian perlu ingat ini baik-baik! Kerajaan Westeria bukan milik keluarga Lester!!"


Mereka semua terkejut, tapi Jani terus melanjutkan perkataannya.


"Kerajaan ini adalah milik rakyat Westeria entah itu para bangsawan maupun penduduk biasa. Sedangkan keluarga Lester hanya di beri kepercayaan untuk memimpin seluruh rakyat.  Itulah yang selalu di ajarkan ayahku, tapi sangat di sayangkan masih banyak bangsawan yang hanya memikirkan keluarga mereka sendiri dan memandang rendah mereka yang berbeda status sosial mereka."


" di tambah dengan mereka yang haus akan harta dan sehingga terjadi korupsi di mana-mana. Di mata mereka, kalian adalah ancaman karena pasukan ini dapat bergerak hanya bermodalkan sebuah token dan tidak berpihak kepada siapa pun. Lalu aku juga khawatir bahwa token ini akan jatuh ke tangan yang salah dan membuat kalian menjadi alat membunuh yang kejam. Untuk mencegah hal itu, aku ingin kalian bersumpah kepada lambang kerajaan ini yang itu juga berarti kalian bersumpah setia kepada rakyat kerajaan ini. Apa kalian sudah mengerti dengan jelas maksud perkataan ku?"


Banyak anggota yang masih tidak mengerti karena mereka belum mempelajari tentang bersumpah setia kepada seseorang. Melihat hal itu, Zero berkata dengan sedikit keras "Intinya adalah Pangeran Alex ingin pasukan kita melindungi rakyat Westeria sampai kerjaan ini runtuh dan tugas ini akan kita teruskan menuju generasi berikutnya secara turun temurun."


Setelah mendengar pemahaman dari kapten mereka, semua orang perlahan mulai mengerti dan Five yang menemukan celah dalam perkataan Jani, mulai memberikan sebuah pertanyaan.  


"Lalu pangeran, Jika suatu saat nanti kau mulai berubah menjadi seorang Raja yang menelantarkan rakyatnya dan malah memperkaya diri sendiri, apa yang harus kami lakukan?"


"FIVE!! KAU!!??" Zero ingin segera menghajar Five, tapi Jani menghentikannya dan berbalik mendekati Five secara perlahan sambil berkata "jika aku berubah menjadi seperti itu, maka yang perlu kau lakukan adalah; pertama kau pegang pisau mu erat-erat lalu arahkan ke sini tepat ke arah jantungku lalu akhiri dengan menusuknya dengan kuat hingga menembus ke bagian belakang. Apa kau sudah mengerti, Five?"


Untuk pertama kalinya tangan Five bergetar dan mengeluarkan keringat dingin saat dia di arahkan untuk menusuk jantung Jani. Saat Jani bertanya, dia mulai sadar lalu menjawab "aku mengerti, Pangeran."


Setelah membuat Five tenang, Jani kembali bertanya kepada semua anggota pasukan bayangan di sini. "apakah ada yang masih ingin bertanya?"


Mereka semua diam karena takut salah berbicara dan juga takut mengalami kejadian yang sama seperti salah satu pemimpin mereka yaitu Nomor Five. Melihat tidak ada yang bertanya lagi, Jani kemudian melanjutkan.


"baiklah, aku akan membahas hal yang berikutnya. Untuk nama baru pasukan ini adalah Silent Army! Silent yang artinya Diam dan Army yang artinya adalah Tentara. Silent Army adalah satuan khusus yang langsung berada di bawah kendaliku dan kalian hanya akan beraksi secara rahasia."


"untuk menandakan jati diri kalian, Kalian akan menggunakan topeng ini."


Jani mengeluarkan sebuah topeng berwarna hitam dengan sebuah simbol angka khusus benua Arca yang berwarna merah terletak di dahinya. Setelah membagikan seluruh topeng sesuai dengan urutan nomor mereka, Jani mulai menjelaskan "topeng ini di buat khusus agar penggunanya tidak terpengaruh oleh gas beracun atau pun asap tebal yang menggangu kalian nanti dan di topeng tersebut ada sebuah tanda yang menjadi bukti nyata itu adalah topeng yang asli."

__ADS_1


"untuk yang terakhir aku akan memberikan beberapa peraturan yang perlu kalian ingat. Pertama, dilarang membunuh orang yang tidak bersalah. Kedua, dilarang menjadi terkenal. Dan yang ketiga, dilarang berkhianat pada organisasi ini. Ketiga peraturan ini bersifat abadi yang artinya meskipun aku sudah mati, peraturan ini tetap berlaku sampai kapan pun. Itu saja untuk malam ini dan sampai jumpa besok malam, Bubarkan diri kalian!!"


Dengan cepat semua orang meninggalkan ruangan ini secara rapi, tapi ada satu pengecualian yaitu seseorang yang duduk di kursi belakang. Orang tersebut pergi dengan terburu-buru yang membuat pergerakannya sangat terlihat.


'Orang bodoh mana yang berani menyusup dalam pasukan ku?' pikir Jani yang pura-pura tidak melihatnya lalu dia juga pergi dari ruangan tersebut dengan berteleportasi.


Di ruangan lainnya.


Di sini semua mantan pemimpin sedang berkumpul untuk membahas sesuatu. Zero yang melihat Five masih bergetar bertanya "Five, apa yang kau rasakan saat itu?"


"kepastian akan kematian itulah yang aku rasakan saat pangeran membuatku untuk menusuk dadanya."


"meskipun kau hanya perlu mendorong pisau itu lalu berpindah dengan kecepatan mu, tapi kau masih akan mati ?" tanya seorang pemimpin dengan nomor 7 di topengnya.


"yah, mungkin kalian tidak akan percaya, tapi jika kalian merasakannya sendiri, kalian akan tahu bahwa pangeran bukan hanya orang lemah yang baru bangun dari komanya, tapi dia layaknya seekor naga kuno yang baru terbangun."


 Semua mantan pemimpin terkejut dengan penjelasan dari saudara mereka ini dan Zero kemudian mencoba bertanya saudaranya yang memiliki nomor 2 di topengnya.


"Two, kau yang paling handal menilai seseorang, bisakah kau beri penjelasan kepada kami?"


"sebelumnya kak, aku ingin berterima kasih karena kakak telah mengambil keputusan yang tepat untuk bersumpah setia kepadanya. karena apa yang dia lakukan malam ini telah di perkirakan oleh sang pangeran sejak awal seolah dia bisa melihat ke masa depan."


"benarkah!?"tanya Zero.


"baiklah, untuk saat ini kita hanya perlu melihat apa yang akan dia lakukan dengan pasukan 'Silent Army' ini dan jangan bertindak gegabah!"


"Baik!!" semua saudaranya menuruti apa yang di katakan oleh Zero lalu mereka pergi dari ruangan itu dan mennyisahkan Zero berserta istrinya One.


"Ze, terima kasih telah membuat pilihan ini untuk kita semua!" kata One yang segera memeluk Zero dengan erat tanpa memedulikan perutnya yang sedang mengandung.


Zero segera menjadi panik lalu berkata "jangan memeluk ku terlalu erat! Itu bisa menyakitinya nanti!"


"hmph! Sepertinya kamu lebih menyayangi anak kita dari pada aku!"


"tentu aku juga menyayangi mu, One!"


Saat mereka sedang saling bermesraan, tiba-tiba di kepala mereka terdengar sebuah suara.


"Zero, One! Segera datang ke kantor ku sekarang."


Mereka tahu suara ini milik sang Raja dan mereka segera bergegas menuju istana sesuai perintah sang Raja.


Di dalam kantor Sang Raja

__ADS_1


Pasangan suami istri tersebut memasuki ruangan dengan perlahan lalu segera berlutut di depan sang Raja.


Tanpa melihat mereka, sang Raja yang masih memandangi peta seluruh kerajaannya berkata "jelaskan hasil pertemuan yang kalian lakukan tadi dengan pangeran."


"baik!" Zero dan One tanpa ragu menjelaskan semuanya kepada sang Raja.


Setelah mendengar hal itu, Raja akhirnya menyuruh Zero dan One pergi lalu tidak lama setelah kepergian mereka berdua, masuklah kepala ksatria Hertez Bonavic ke dalam ruangan tersebut.


"Hertez, bagaimana menurutmu tentang konsep kesetiaan kepada lambang kerajaan?"


"itu konsep yang sangat bagus, tapi menurutku itu tidak bisa di lakukan di sistem ksatria kita saat ini, Roman."


"ya, kau benar! Kebanyakan dari mereka hanya ingin mengunakan gelar ksatria untuk menaikkan nama keluarga mereka dan hanya ksatria di bawah mu saja yang benar-benar bisa di anggap sebagai ksatria sejati."


"bagus kau menyadarinya. Sebenarnya aku cukup tertarik dengan konsep ketentaraan yang sebelumnya di ceritakan oleh Alex. Bagaimana kalau kita menggunakan konsep ini?"


Raja juga sudah mengetahui konsep ketentaraan tersebut dan jujur dia memang ingin sekali menggunakan konsep tersebut lalu menggantikannya konsep ksatria yang menurutnya sudah sangat di salah gunakan oleh para bangsawan.


Raja yang mendengar usulan dari Hertez segera menolaknya dengan berkata "masih terlalu dini Hertez untuk menggunakannya."


"kau benar. Jika kita terus menekan para bangsawan seperti ini, mereka pasti akan mulai melakukan pemberontakan yang akan merugikan masyarakat di daerah mereka masing-masing. Lalu bagaimana kita menangani masalah ini, Roman! Aku sudah mulai pusing dengan tingkah laku para ksatria titipan itu! di tambah dengan datangnya surat dari mata-mata kita bahwa kekaisaran Rohden memulai bersiap melancarkan serangan akibat kematian Dom."


"aku sudah menduga hal itu. Lalu bagaimana kabarnya dengan mata-mata kita yang ada di kekaisaran Sandria?"


"situasi di sana masih aman karena raja mereka sedang jatuh sakit dan kini anak-anaknya sedang bersaing memperebutkan tahta tersebut."


"hmm, kalau begitu kau perintahkan Jendral Borkus untuk menuju perbatasan kekaisaran Rohden untuk membantu Marcus yang berjaga di sana."


"oke, aku akan segera melakukannya. Lalu bagaimana solusi untuk masalah yang sebelumnya?"


"untuk saat ini kau bersabar saja dulu. Ketika permasalahan dengan gereja cahaya suci selesai, aku akan menanyakan hal ini kepada Alex, Oke!?"


"baiklah, aku mencoba bersabar, tapi jangan salahkan aku, kalau ada beberapa ksatria titipan itu yang menghilang secara tiba-tiba, mengerti?"


Setelah mengatakan hal itu, Hertez pergi dari ruangan itu dengan perasaan kecewa karena dia tidak mendapatkan solusi yang dia inginkan dan masih harus bersabar menghadapi para ksatria titipan yang bertindak seenaknya.


Pengawal Hertez yang mengikuti dari belakang bertanya "Tuan, apa anda mendapatkan solusi dari yang mulia?"


"tidak, kita masih harus bersabar, tapi sampaikan ini kepada yang lainnya; jika kalian melihat mereka melakukan sesuatu di luar batas, maka kalian berhak menghukum mereka sesuka hati kalian."


mendengar hal itu, pengawal tersebut langsung menunjukkan senyuman jahatnya lalu berkata "baiklah, aku akan segera menyampaikannya kepada yang lainnya tentang solusi yang sangat bagus ini!"


"lakukan sesukamu!" jawab Hertez dengan nada malasnya yang sudah tidak peduli tentang nasib para ksatria titipan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2