
Siapa itu pasukan Bayangan?
Jawabannya hanya satu, mereka adalah pasukan paling mematikan yang di miliki oleh keluarga kerajaan Lester. Pasukan ini didirikan oleh sang raja tepat setahun setelah insiden pemusnahan klan bayangan di wilayah kerajaannya.
Pasukan ini memiliki 56 anggota aktif yang siap menjalankan perintah keluarga Lester kapan pun itu dan mereka terdiri dari: 8 pemimpin, 16 murid inti dan 32 murid luar. Setiap anggota memiliki keahlian membunuh yang sangat baik dan yang terbaik di antara mereka adalah delapan orang yang memimpin pasukan ini dengan keahlian membunuh mereka yang sangat kejam.
Dan saat ini delapan orang itu sedang berlutut di depan Jani dan menunggu jawaban dari pangeran ketiga mereka.
Mendengar pertanyaan itu, Jani melirik kelompok itu lalu menjawab pertanyaan mereka "aku mempelajarinya dari sebuah buku kuno."
Kelompok itu terkejut dengan jawaban Jani lalu sang pemimpin kelompok yang bernama Zero memberanikan dirinya untuk bertanya sekali lagi "pangeran, bisakah kami meminjam buku tersebut?"
"untuk apa kalian meminjam buku tersebut?"
"kami ingin mempelajari sihir bayangan pangeran!"
"bukankah kalian adalah sisa-sisa dari klan bayangan? Apa kalian tidak di ajari sebelumnya?"
"itu…. Karena saat insiden itu terjadi, kami masih belum mempelajarinya dari para tetua klan." Jawab Zero yang membuat alasan kepada Jani dan tidak memberi tahu yang sebenarnya bahwa dia dan teman-temannya tidak berbakat dalam sihir bayangan.
Jani menatap kelompok itu cukup lama lalu seolah menemukan sesuatu yang mencurigakan, Jani mengerutkan keningnya dan bertanya kepadanya "paman Zero, apa anda menyembunyikan sesuatu dariku?"
"tidak, pangeran! Aku tidak menyembunyikan apa pun." Jawab paman Zero dengan tenang.
Jani melihat mereka sekali lagi, tapi kali ini dengan bantuan Zein dia akhirnya tahu bahwa delapan orang ini tidak memiliki bakat dengan sihir kegelapan yang artinya mereka tidak mampu mempelajari sihir bayangan sama sekali.
Tentu saja di dalam buku yang di beli Jani dari sistem, itu juga berisi tentang bagaimana membangkitkan sihir kegelapan, tapi apa yang di ajarkan di dalam buku itu terlalu kejam dan bertentangan dengan prinsip Jani.
Dia pun memutuskan untuk tidak memberitahu mereka dan kemudian berkata "menjadi seorang Pembunuh itu tidak harus memerlukan sihir kegelapan."
Zero tahu bahwa tuannya tidak berniat memberitahunya, tapi di dalam hatinya ada hasrat yang kuat untuk mempelajarinya dan itu berkaitan dengan masa lalunya ketika di desa tersembunyi klan Bayangan. Zero dengan berani berkata "tapi, Pangeran! Sebagai bagian dari klan bayangan aku punya kewajiban untuk mempelajari sihir tersebut!"
"klan bayangan telah tiada Paman Zero! dan itu berarti kewajiban kalian sebagai keturunannya juga di hilangkan!"
Setelah mengatakan hal itu, jani mengeluarkan buku yang dimaksud dan melempar ke depan kelompok tersebut sambil berkata "jika kalian semua masih tetap ingin mempelajarinya, maka ambillah buku itu! Tapi mulai sekarang hubungan kita akan berakhir dan pasukan pembunuh kerajaan akan di bubarkan hari ini juga!"
Dan Jani pergi dengan tatapan penuh kecewa di matanya meninggalkan kelompok delapan orang tersebut di lorong istana. Sebenarnya Jani sendiri merasa bingung karena kekecewaan yang dia tunjukkan bukan berasal dari dirinya melainkan dari tubuh orang ini yaitu Alex.
…
Zero yang melihat tuannya pergi dengan perasaan kecewa, tidak tahu harus berbuat apa dan akhirnya memutuskan mengambil buku itu. Salah satu dari mereka yang saat ini mengenakan rok pendek bertanya "kakak Zero, apa kita benar-benar harus mempelajarinya?"
__ADS_1
Zero kembali bertanya kepada wanita itu "Eight? Apa menurutmu apa kita perlu mempelajarinya?"
"Jika kita harus meninggalkan kerajaan ini, maka aku harus menolak, kak!"
"begitukah? Baiklah tinggalkan aku sendiri, aku perlu berpikir tentang ini."
Satu persatu dari pemimpin pergi meninggalkan Zero, tapi dia menyadari masih ada seorang yang masih belum pergi dari sana dan Zero berkata "One, apa kau tidak mendengar permintaanku untuk tinggalkan aku sendirian?"
"aku tahu, tapi aku ingin kau berpikir tentang nasib masa depan seluruh saudara kita, nasib kita berdua dan nasibnya." Jawab wanita yang bernama One sambil memegang perutnya yang agak membuncit.
Mendengar perkataannya, Zero segera berdiri lalu memeluk pinggangnya sambil berkata "mari kita pulang, aku tidak ingin kau terlalu banyak bergerak."
"mhm!" anggukan singkatnya yang menyetujui permintaan Zero untuk pulang ke rumah mereka.
…
Setelah memberikan buku tersebut kepada Zero, Jani kembali ke kamarnya dan menutup jendelanya agar tidak ada yang bisa melihat apa yang di lakukan Jani di dalam kamarnya. Setelah merasa aman, Jani menghela napas lega lalu mengeluarkan beberapa benda dari dalam penyimpanan sistem dan kemudian berkata "untung aku memisahkan benda-benda ini, jika saja aku tahu kalau ayahku memiliki sifat yang sama dengan bajingan tua itu, maka aku pasti sudah memisahkan buku-buku berharga itu!"
Salah satu hobi Alex adalah membaca dan karena Jani telah bersatu dengan Alex, maka hobi milik Alex telah tertanam dalam diri Jani meskipun Jani sendiri tidak terlalu menyukai hobi tersebut. Oleh karena itulah ketika di dalam ruang penyimpanan harta kuil sembilan dewa dan dewi, Jani lebih tertarik dengan tumpukan buku dan mengabaikan tumpukan emas yang memenuhi ruangan harta tersebut.
Setelah itu, Jani melirik benda yang sebelumnya jani pindahkan ke dalam penyimpanan sistem dan salah satunya adalah bola hijau misterius yang belum sempat jani periksa sebelumnya. Meskipun benda ini terlihat biasa saja, tapi Jani merasakan bahwa bola hijau ini sangat istimewa dan kerena itulah Jani segera memeriksanya.
Segera identitas bola ini muncul.
Peringkat: Mistis
Efek yang di berikan: jika di konsumsi maka akan memiliki unsur sihir legendaris yaitu Kayu dan jika di rawat dengan baik, maka akan menumbuhkan pohon dunia yang baru.]
Melihat identitas dari bola hijau ini, Jani tersenyum lebar sambil berkata "Haha! satu lagi barang bagus! Aku ingin tahu bagaimana raut wajahnya ketika sang raja tahu aku mendapatkan harta tingkat mistis ini, mungkin akan sama seperti wajah orang tua itu!!"
Setelah merasa senang membayangkan wajah sang raja yang berubah mirip seperti kakeknya yang ada di bumi, Jani mulai memikirkan bagaimana memanfaatkan bibit ini, tapi setelah bepikir cukup lama dia masih belum bisa memutuskan dan akhirnya hanya dapat menyimpannya kembali.
Setelah selesai berurusan dengan harta karunnya, Jani segera memasuki ruangan latihan milik sistem dan mulai berlatih di sana.
Di dalam ruang pelatihan.
Jani segera melakuakan beberapa gerakan bela diri pencak silat yang dulu dia pelajari dari 10 pondok yang berbeda dan menggabungkannya menjadi satu yang menjadi gerakan beladiri milik Jani pribadi.
Saat masih melakukan beberapa gerakan, Jani berkata di dalam hatinya 'Sial! Kenapa aku bisa sampai lupa menggunakan teknik beladiri!? Kalau saja waktu melawan Armor hidup itu aku menggunakan teknik beladiri, maka ketiga kembar itu tidak akan mengalami luka yang cukup parah!!'
Setelah merasa cukup lelah, Jani beristirahat sebentar lalu saat itu tiba-tiba dia menemukan sebuah pertanyaan hebat di kepalanya yaitu "Bagaimana jadinya kalau sihir dan beladiri digabungkan?" pertanyaan itu membuat imajinasi Jani semakin liar dan dia segera bertanya kepada Zein tentang hal ini dan dia menjawab.
__ADS_1
"itu mustahil, Master. Dalam menggunakan sihir, di perlukan pengucapan mantra sihir dan terlebih lagi seorang penyihir kebanyakan harus menggunakan tongkat sihir sebagai katalis mana dan mantra yang akan mereka keluarkan."
"kau benar, Zein. Akan sangat kesulitan untuk seorang penyihir melakuakan dua hal berbeda di saat yang bersamaan."
"Master, yang aku katakankan sebelumnya itu adalah difinisin untuk penyihir biasa dan itu tidak berlaku untukmu Master!"
"apa maksudmu Zein? Aku tidak begitu paham."
"Master, apa kau lupa dengan title-mu yang di sebut 'SANG PENGUASA SIHIR'?"
"Hah!? Tunggu! Biar aku periksa statusku!"
Jani memeriksa statusnya dan langsung melirik bagian title miliknya. Setelah membaca deskripsinya, Jani akhirnya tertawa lepas "haha! Kalau begini aku perlu mencobanya!"
Jani dengan semangat mencoba melakukan sebuah gerakan dan juga sihir yang cocok dengan gerakan itu, tapi hasilnya adalah kegagalan dengan Jani yang terpental kebelakang akibat ledakan sihirnya sendiri.
Dalam keadaan masih terkapar di tanah Jani berkata "haha… aku terlalu banyak memasukan mana kedalam sihirnya. Mungkin aku harus mencoba dengan menggabungkannya dengan sihir tingkat pertama."
Penelitian tentang penggabungan ilmu bela diri dan ilmu sihir terus berlanjut. Sampai pada akhirnya Jani memutuskan untuk berhenti dan hanya bisa puas dengan 7 gerakan dari seni Tinju api neraka yang telah dia kuasai sebelumnya.
Masalah yang paling besar bagi Jani saat ini adalah pengendaliannya terhadap Mana yang akan dia keluarkan saat menggunakan sihirnya. Meskipun daya rusaknya sangatlah besar, tetapi ini membuat Jani cepat kehabisan Mana dan ketika dia kehabisan mana, pengelihatannya sedikit menjadi buram dan membuatnya kehilangan fokus beberapa kali.
Setelah memikirkannya dengan serius Jani memutuskan untuk berlatih pengedalian Mana-nya terlebih dahulu. Dalam salah satu buku yang Jani baca, ada sebuah buku yang menjelaskan tentang pengendalian Mana.
Pengendalian Mana di bagi menjadi 5 tingkatan yaitu: pemula, Terlatih, Master, Grand Master, dan Sage. pengendalian mana dapat di lakukan oleh siapa saja dan bagi mereka yang terlahir dengan unsur sihir, mereka dapat menjalani pelatihan untuk menjadi seorang penyihir.
sedangkan bagi mereka yang tidak dilahirkan dengan unsur sihir, dapat menjalani pelatihan seorang pejuang.
Jalan seorang pejuang biasanya di bagi berdasarkan senjata yang mereka gunakan dan yang terkenal di antaranya adalah: Ahli pedang, Tombak, Panah dan senjata tumpul.
Sayangnya Pengendalian Mana di Jalan Pejuang sangat susah dan beresiko tinggi dan di negara yang kaya akan dengan kehadiran penyihir inilah yang membuat orang biasa menjadi tidak percaya diri melakukan pengendalian Mana di Jalan Pejuang.
Meskipun sangat susah di jalankan, masih banyak yang sukses di jalan ini dan mendapat gelar dan kehormatan yang tinggi. salah satu orang yang sukses di jalan ini adalah sang kepala ksatria kerajaan Westeria yaitu Hertez Bonavic
Semua ini adalah pengetahuan umum di dunia ini dan Jani tahu ini juga adalah masalah yang harus di hadapi kedepannya. Setelah berlatih cukup lama, Jani memutuskan untuk keluar dari ruangan pelatihan lalu kembali ke kamarnya.
Saat dia sedang beristirahat, seorang pelayan mengetuk pintunya lalu berkata "yang mulia pangeran, tunangan anda ingin bertemu dengan yang mulia."
Jani segera berkata "suruh dia masuk."
Setelah itu, seorang gadis cantik masuk ke kamar Jani dan dengan suara manisnya dia berkata "hei Alex! Apa aku mengganggumu?" saat dia mengatakan hal itu, wajahnya memerah dan pandangan sesekali melirik Jani yang berada di sofa kamarnya.
__ADS_1
Melihat tingak lakunya yang begitu imut, Jani hanya bisa tersenyum "tentu saja tidak, Lisa! Masuklah, aku senang kamu berada di sini!"
Lisa masuk ke kamar dengan perlahan lalu duduk di samping Jani. Sang pelayan juga dengan cepat memahami situasi lalu tanpa permisi dia segera keluar dari kamar sang pangeran dan pergi melanjutkan pekerjaannya.