KAISAR DUA DUNIA

KAISAR DUA DUNIA
Awal dari rencana


__ADS_3

Arena petarungan suci Westeria.


Tempat ini dibangun oleh raja pertama Westeria, Gladius Van Lester untuk menghormati rekan seperjuangannya dalam mendirikan kerajaan ini.


Di masa lalu, arena ini sering di gunakan sebagai tempat pertarungan para budak untuk hiburan pada bangsawan, tapi setelah Roman Van Lester menjadi raja dan melarang perbudakan di kerajaan ini, kegiatan itu di hentikan dan sekarang tempat ini di jadikan sebagai pelatihan para calon ksatria kerajaan ini.


Saat ini arena petarungan suci sedang di penuhi oleh warga ibukota karena duel antara jendral Dom dan pangeran ketiga akan di gelar hari ini. Jendral Dom yang sudah sampai terlebih dahulu sedang bersantai di pinggir arena bersama dengan istri dan anaknya.


Randy yang duduk di samping ayahnya berkata " Ayah, kenapa Alex belum sampai?"


"tidak tahu, tapi menurut mata-mataku yang ada di istana, mereka sudah pergi meninggalkan istana melewati sihir milik ratu ketiganya, Alice." Jawab Jendral Dom dengan tenang.


Saat menyebut nama ratu ketiga, sang istri menjadi kesal dan berkata " kalau saja wanita liar itu tidak ada, saat ini keluarga kita sudah menjadi penguasa di kerajaan ini."


"tenanglah istriku, aku sudah mempunyai rencana untuk menghadapi wanita gila itu dan tidak lama lagi kamu akan menjadi ratu satu-satunya dari kerajaan ini."


"rencana apa yang kau miliki, sayangku?" tanya sang istri sambil menggodanya.


"baru-baru ini ahli racun yang aku sewa telah menciptakan racun yang dapat mengacukan inti sihir seseorang dan membuatnya mengeluarkan sihir tanpa dia sadari. Jika wanita gila itu terkena racun ini maka sudah di pastikan akan merusak pertahanan sihir kerajaan ini." Kata sang jendral dengan bangga akan rencananya.


"benar ibu, jika rencana ayah berhasil maka paman akan bisa mengirim banyak penyihir ahli dari kekaisaran untuk membantu kita menghancurkan keluarga Lester berserta para pendukungnya." Sela Randy yang mendukung rencana ayahnya.


"baiklah, aku mempercayai kedua pria hebatku ini."


"oh.. sepertinya roman telah tiba." Jawab jendral dom yang melihat tempat khusus untuk raja, tiba-tiba muncul api yang membentuk wujud seseorang yang tidak lain adalah sang Raja sendiri.


Saat raja sudah muncul dan duduk di singgasananya, kepala ksatria yang berdiri di samping raja mulai berkata kepada semua orang "di mohon untuk seluruh rakyat Westeria berdiri dan memberi hormat kepada yang mulia."


Seketika seluruh warga yang berada di arena berdiri dan memberi salam secara serempak "SALAM UNTUK RAJA!! SEMOGA DIBERI UMUR PANJANG DAN DI BERKATI PARA DEWA DAN DEWI!!"


Jendral Dom dan keluarganya juga ikut memberi salam. Walaupun mereka memberi salam, tapi mereka memiliki ekspresi cemburu akan penghormatan yang diberikan rakyat kepada Raja Roman.


Setelah para penonton duduk kembali di kursi mereka, raja mulai menjelaskan tentang duel ini.


"salam semuanya, hari ini untuk menghentikan perdebatan antara jendral Dom Blackwolf dan pangeran ketiga Alex Van Lester. Akan di adakannya duel antara mereka berdua dan menurut hukum Arena pertarungan suci Westeria pihak yang ditantang berhak menentukan isi dari duel dan hal yang di pertaruhkan di dalamnya. Setelah mendengarkan hukum ini apa kau masih ingin melanjutkan tantangan ini, Jendral Dom Blackwolf?"


Setelah mendengar pertanyaan dari sang raja, Jendral Dom berlutut dengan enggan dan berkata "saya menerima hukum yang ada dan tetap menantang pangeran ketiga."


"kalau begitu, tolong panggil pangeran ketiga untuk memasuki arena." Kata raja kepada kepala ksatria.


Mendengar perintah sang raja, kepala ksatria langsung berkata "Di mohon pangeran ketiga untuk segera memasuki arena."


....


Beberapa saat kemudian, Jani muncul bertelanjang dada dan tidak membawa senjata apa pun. Berbeda dengan jendral Dom yang sudah dilengkapi dengan Armor berwarna emas mengkilap dengan sebuah pedang sihir yang memancarkan aura yang mengerikan.


Melihat penampilan Jani, jendral Dom berkata dengan jengkel "hei! Pangeran ketiga, apa maksud dari penampilanmu ini, hah!?"

__ADS_1


"apa kau lupa bahwa akulah yang menentukan isi dari duel ini?"


"jadi, bagaimana kita melakukan duel ini?"


"pertarungan tanpa senjata dan agar lebih menarik, untuk menentukan siapa pemenangnya salah satu dari kita harus membuat dada atau punggung lawan menyentuh tanah sebanyak tiga kali. Bagaimana apa kau berani menerima tantanganku ini, Jendral Dom Blackwolf?"


Seolah memikirkan rencana jahat, jendral dom tersenyum dan langsung berkata "tentu aku menerimanya."


Setelah tantangannya di terima, Jani melanjutkan "dalam setiap duel pasti ada namanya taruhan. Bagaimana kalau kita bertaruh?"


"jika itu sesuatu yang pantas aku menangkan, mungkin aku akan ikut bertaruh." Jawab jendral dom dengan sombong.


"tenang saja, kau pasti akan ingin memenangkannya, taruhannya adalah pemenang boleh meminta 1 hal apa pun kepada pihak yang kalah dan yang kalah harus menuruti 1 hal tersebut. Sebagai contoh, jika aku kalah dan kau ingin menggantikanku sebagai pewaris kerajaan, maka mau tidak mau aku harus menurutinya. Bagaimana bukankah ini sesuatu yang kau inginkan sejak dulu?"


Seketika, seluruh warga yang menonton terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pangeran ketiga mereka. Sang kepala ksatria juga ingin menentang taruhan ini, tapi raja menahannya sambil berkata dengan suara yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua.


"kau tidak perlu terlalu cemas begitu, karena semua ini telah di rencanakan oleh anakku."


Saat mendengar isi taruhan yang diajukan Jani, Jendral Dom langsung tertawa lalu berkata "haha, kau sendiri yang memintanya pangeran ketiga!! Jangan menyesal apa yang telah kau ucapkan!."


"tentu." Jawab Jani dengan singkat.


Setelah Jani dan jendral dom menyetujui isi dari duel, sang raja juga berdiri dan berkata kepada para penonton "karena aku mempercayai anakku, maka aku juga menerima isi dari duel ini. Dan untuk menjadikan duel ini lebih adil aku meminta agar jendral dom melepaskan semua Armor nya, lalu aku meminta salah satu penyihir kerajaan yang menguasai unsur tanah untuk menjadi wasit duel."


Segera salah satu penyihir langsung menjawab "hamba siap menjalankan perintah yang mulia."


Lalu dia memasuki arena dan berdiri di antara Jani dan jendral Dom.


Kemudian sang raja melemparkan sebuah sihir bola api ke langit di atas arena dan saat sihir itu sudah berada di langit, raja mengepalkan tangannya dan sihir itu meledak dengan suara yang cukup keras.


*BAAAMM!!*


Semua orang kecuali Jani, Lisa dan keluarganya tidak ada yang mengetahui bahwa sihir itu juga sebuah sinyal untuk memulai rencana mereka.


#MISI 1: PENGALIHAN (SUKSES)#


...


Daerah pemukiman kumuh


Ratu Alice dan Julius yang bersembunyi di salah satu rumah penduduk langsung mulai bersiap saat mereka mendengar sinyal dari sang raja. Saat mereka hendak ingin keluar dari rumah tersebut, suara seorang gadis pemilik rumah ini berteriak "YANG MULIA RATU ALICE, PANGERAN JULIUS! SEMOGA KALIAN BERHASIL MENYELAMATKAN PARA PENDUDUK YANG DI JADIKAN BUDAK."


Ratu Alice berbalik dan menatap gadis tersebut seolah dia melihat bayangan dirinya pada gadis kecil itu. Setelah menatapnya begitu lama ratu Alice mendekatinya kemudian dia berkata "gadis kecil, kau harus berjanji kepadaku. Jika aku berhasil menyelamat adikmu, kau tidak boleh menangis lagi, janji?"


"mhm, aku berjanji!" jawab gadis kecil itu sambil menahan air matanya.


Setelah membuat janji dengan gadis kecil tersebut, ratu Alice keluar dan memimpin Julius dan para ksatria menuju sebuah bar. Saat sampai di depan bar, ratu Alice berkata kepada kelompoknya "kalian tunggu di luar sebentar, aku perlu meredakan amarahku sedikit." Kemudian dia memasuki bar tanpa menunggu jawaban dari kelompoknya.

__ADS_1


Salah satu ksatria yang berdiri di samping Julius bertanya "pangeran pertama, apa tidak apa-apa membiarkan ratu Alice mengamuk seperti ini?"


"aku tidak bisa berbuat apa-apa karena saat ratu Alice mengamuk, hanya ayah dan Alex yang bisa menahannya, apa kau mengerti?" jawab Julius dengan tenang


"aku mengerti, pangeran pertama."


Di dalam bar.


Saat ratu Alice memasuki bar, dia langsung menarik napas lalu berteriak sangat kencang "HEI PARA SAMPAH!! KUBERI KALIAN WAKTU LIMA DETIK UNTUK MEMBERITAHUKU DI MANA PINTU MASUK MENUJU 'KANDANG'!! 1.."


Ratu Alice mulai menghitung, tapi semua orang hanya tertawa menanggapi ancamannya. Salah satu lelaki yang bertugas sebagai penjaga kandang berkata "hei wanita sombong, aku tidak tahu kau dari keluarga bangsawan mana?, tapi hati-hatilah saat kau berbicara di sini, mengerti!?"


"2.." ratu hanya terus menghitung tanpa memedulikan omongan lelaki tersebut.


"3.."


Lelaki itu mulai panik dan berteriak "HEI!! APA KAU TIDAK DENGAR PERKATAANKU,HAH!!"


"4.."


"Baiklah, jika kau ingin mati!!" lelaki tersebut mulai mengeluar pedangnya dan langsung mengayunkannya ke arah ratu Alice.


"5.. waktu habis, terpaksa aku harus sedikit keras." Kata ratu Alice sambil menepis pedang yang datang ke arahnya kemudian mengucapkan sebuah mantra sihir "Chaos Dimension!"


Setelah ratu Alice mengucapkan mantra tersebut, dia langsung mengucapkan mantra kedua "Sword Void: Rain."


Seketika puluhan portal muncul di langit-langit bar dan langsung mengeluarkan ratusan Crystal ungu berbentuk pedang yang membunuh semua orang kecuali seorang pria pengguna pedang yang melindungi dirinya menggunakan tubuh bawahannya.


Melihat ada yang selamat dari serangannya, ratu Alice memuji orang tersebut " aku kagum kau bisa selamat dari sihirku, tapi apa kau bisa selamat dari serangan berikutnya?"


"tu..tunggu aku akan mengatakan di mana pintunya, oke!?" jawab pria tersebut yang mulai merinding ketakutan.


Ratu Alice tidak memedulikan omongannya dan langsung mengangkat tangannya yang membuat semua pedang yang tertancap di tanah melayang lalu mengarahkannya ke pria tersebut.


Sebelum menyerang pria tersebut, ratu Alice berkata "bukankah sudah kubilang bahwa satunya habis." Setelah itu semua pedang melesat ke arah pria tersebut.


Setelah membunuhnya, ratu berjalan menuju sebuah tembok dan menghancurkannya. Saat tembok itu hancur, terlihat sebuah tangga yang menuju bawah tanah.


"Julius!, suruh para ksatria masuk lalu ikuti aku menuruni sebuah tangga yang berada di dalam tembok yang baru saja aku hancurkan."


"baiklah, ibu Alice!!." Kata Julius sambil memasuki bar bersama ksatria.


Ratu Alice tidak menunggu Julius dan langsung menuruni tangga. Saat dia turun, ratu Alice langsung melihat puluhan kandang besi yang berisi budak dari berbagai ras. Ratu Alice menahan amarahnya dan mendekati salah satu kandang lalu setelah itu, dia melemparkan sekantong kunci yang di terima oleh salah satu budak.


"hei, bebaskan seluruh budak yang ada di sini."


"apakah kami benar-benar bisa bebas?" kata budak tersebut sambil memegang kantung yang berisi kunci dengan tangan yang gemetar.

__ADS_1


"ya, tapi lakukan secara diam-diam agar para bangsawan yang sedang mengikuti pelelangan di sana tidak mengetahui apa yang terjadi di sini, mengerti?" jawab ratu Alice dengan suara kecil sambil menunjuk ke arah pelelangan berada.


Budak itu mengangguk lalu membangunkan rekannya sambil membebaskannya tanpa berisik. Sementara itu, ratu Alice berjalan menuju pelelangan bersama dengan para ksatria.


__ADS_2