
Pagi berikutnya.
Jani dan Ayu telah selesai bersiap untuk melakukan pertemuan, tapi sebelum pergi mereka sarapan bersama dengan Putri dan Ibunya Jani, Kartika Ningsih.
Saat mereka sedang sarapan Ibunya bertanya kepada Jani. "bagaimana pertemuan mu dengan Ayahnya Ayu?"
"tidak ada masalah. Dia memberikan restunya dengan syarat aku harus segera menikahi Ayu secepatnya."
"bagus! Mama juga sependapat dengannya! Jadi kapan kamu menggelar pernikahannya?"
"Ma! Bisa kita bicarakan ini nanti setelah peluncuran server utama game aku di gelar? Lagi pula Om Hendrawan sudah memberiku izin hanya menggelar akad nikah terlebih dahulu tidak apa-apa dan masalah resepsi akan di gelar setelah perusahaanku stabil."
"Mama tidak setuju, Jani! Akad nikah dan resepsi harus dilakukan secara bersamaan dan jika kamu terlalu sibuk, mama yang akan mengurus semuanya dan kamu hanya akan dipanggil saat di perlukan."
"bukannya mama sibuk dengan masalah warung nasi uduk mama?"
"anak-anak panti yang mama pekerjakan itu sudah bisa menjalankan toko sendiri! Jadi saat ini mama bisa membantu kamu mengurus semua tentang pernikahanmu nanti."
"baiklah, aku menyerah! Mama bebas mengatur semuanya dan jika membutuhkan uang, mama bisa menggunakan kartu ini." Jawab Jani sambil memberikan salah satu kartu ATM miliknya lalu melanjutkan "di dalamnya ada sekitar 1 atau dua milyar mungkin? Yang jelas itu cukup untuk acara perkawinan tidak terlalu mewah kan?"
"yah ini lebih dari cukup." Jawab ibunya Jani sambil menyimpan kartu tersebut lalu seakan melihat sesuatu yang biasa, Ibunya Jani kembali bertanya "ngomong-ngomong bukankah ini masih terlalu pagi bagi kalian untuk berangkat ke kantor?"
"tidak, kami berencana untuk mengunjungi perusahaan milik Ayah dan menjalin kerja sama untuk proyek pembangunan perusahaan di berbagai daerah pulau Jawa. Apa Ibu ingin menitipkan salam kepadanya?"
"tidak, ibu masih terlalu sibuk untuk memikirkan Ayahmu itu."
"haha.. kalau begitu lebih baik kami berangkat sekarang. Takut nanti terjebak kemacetan."
"baiklah, hati-hati kalian berdua!!"
"" Iya, Ma!"" Jawab Ayu dan Jani secara bersamaan lalu mereka berangkat menuju kantor PT. Senopati Karya.
....
Di perjalanan
Jani sedang memeriksa rekomendasi rancangan gedung yang di berikan oleh kenalannya dan kemudian bertanya kepada Ayu "sayang, Bagaimana menurutmu? Yang ini buat kafe Virtual lalu yang buat kantor cabang kita. Bagus gak?"
"hmm, menurutku yang ini kurang untuk kantor cabang kita." Jawab Ayu yang menunjuk desain untuk kantor cabang perusahaan Arcadia.
"kenapa? Bukan ini sudah sangat bagus?"
"terlalu kuno, sayang. Kalau untuk kafe internetnya, itu memang sangat cocok karena kita menjual game virtual bernuansa dunia Fantasi sihir."
"hehe, kamu benar! Jadi aku coba tanya sama temanku untuk desain gedung kantor kita." Jani mencoba menelepon Arsitek kenalannya, tapi sebelum dia menelepon tiba-tiba mobilnya berhenti mendadak dan Jani langsung bertanya kepada Pak Karyo "kenapa Pak!? Kok tiba-tiba berhenti?"
"kayaknya saya menabrak anak kecil deh, Bos. Tapi dia tiba-tiba muncul di depan mobil begitu saja!"
"baiklah, coba kamu periksa apa anak itu terluka parah atau tidak?" kata Jani yang menyuruh Pak Karyo untuk memeriksa korban tersebut.
"oke, Bos." Pak Karyo pun keluar dan memeriksanya, tapi saat dia memeriksanya tidak ada anak kecil tersebut di mana pun. Para pengendara yang juga berhenti bertanya kepada Pak Karyo "bang? Kenapa kok tiba-tiba berhenti?"
"ini tadi saya merasa kayak menabrak anak kecil, tapi kok anak itu menghilang ya?"
__ADS_1
"ah! Abangnya salah lihat kali! Masa habis ke tabrakan langsung menghilang?"
"benar! saya tadi merasa menabrak!"
Saat Pak Karyo masih kebingungan, tiba-tiba ada sekelompok orang berpakaian baju Hamzat muncul dari sebuah mobil Van lalu seolah mencari sesuatu sampai mereka pun berkata kepada pak Karyo "hei! Cepat buka bagasi mobil kamu! CEPAT!"
"maaf pak! Ini bukan mobil saya! Saya Cuma sopir!" Jawab Pak Karyo yang menolak permintaan orang tersebut.
"elu mau buka atau gua tembak kepala sekarang?" kata orang itu yang kemudian mengeluarkan sebuah senjata api jenis pistol dari sakunya dan menodongkannya ke arah Pak Karyo.
Melihat sopirnya di todong dengan pistol, Jani yang mengenakan topeng emas dengan perlahan keluar dari mobil lalu secara diam-diam memukul bagian belakang kepala orang tersebut hingga dia jatuh pingsan. Ketika orang tersebut pingsan, Jani langsung mengambil pistol miliknya dan menginjak orang tersebut sambil mengarahkan pistolnya ke kepalanya lalu berkata dengan marah "JIKA DI ANTARA KALIAN ADA YANG BERGERAK MAKA KEPALA TEMAN KALIAN AKAN AKU BUAT BERLUBANG DENGAN CEPAT!!"
Tiga orang yang juga rekan pria tersebut langsung tidak bergerak dan di antara mereka ada yang berkata kepada Jani "oke! Kami tidak bergerak! Jadi bisakah lepaskan teman kami?"
"baiklah, tapi sebelum itu buang senjata kalian lalu taruh tangan kalian di atas kepala kalian!!"
Mereka ragu dengan perintah Jani dan tetap diam di tempat. Melihat mereka enggan membuang senjata mereka, Jani langsung mengarahkan pistolnya ke kaki orang tersebut dan...
*DOOORRR!!*
Jani menembaknya yang membuat orang tersebut bangun karena rasa sakit lalu berteriak "ARRGGHH!!" Jani dengan cepat menendang kepalanya dan membuatnya pingsan lagi.
Setelah melakukan hal itu, Jani bertanya kepada tiga orang rekannya "apa kalian masih ragu membuang senjata kalian?" dan mereka segera menuruti perintah Jani yang sebelumnya.
Setelah mereka membuang senjatanya dan Jani berkata kepada pak Karyo "Pak Karyo! Ambil senjata mereka lalu taruh di atas mobil."
"baik, Bos!" Jawabnya lalu mengambil semua senjatanya dan menaruhnya di atas mobil.
setelah melihat semua senjata api dikumpulkan, Jani melepaskan orang tersebut dan berdiri di depan kap mesin mobilnya lalu berkata "sebenarnya aku bisa mengizinkan kalian membuka bagasi mobilku, tapi karena teman kalian telah mengancam sopirku, maka maaf saja! Aku tidak akan mengizinkan kalian lagi!"
Setelah melakukan hal tersebut, Jani kembali memasuki mobilnya, tapi berhenti dan berkata kepada mereka "masalah kita akhiri sampai di sini. Dan jika kalian tidak terima, cari aku di kantor Arcadia teknologi dan cari orang yang bernama Mr. Gold!"
Setelah itu, Jani memasuki mobil lalu pergi melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan kontraktor, PT. Senopati Karya.
...
Di dalam mobil.
Pak Karyo yang masih menyopir mobil mulai berkata kepada Jani "Bos, terima kasih sudah menyelamatkan saya!"
"enggak apa-apa, Pak! Saya kan gaji pak Karyo menjadi sopir saya dan untuk masalah yang tadi memang sudah kewajiban seorang Bos untuk melindungi anak buahnya!"
"iya, pokoknya sekali lagi saya sungguh terima kasih, Bos!" Kata Pak Karyo yang menyopir sambil tersenyum kepada Jani.
Setelah berbincang dengan sopirnya, Jani kembali melanjutkan kegiatan sebelumnya, tapi sekali lagi dia terganggu oleh suara dari sistem yang memunculkan sebuah misi baru.
[TING!! MISI BARU TELAH MUNCUL DENGAN TEMA *MENGADOPSI ANAK!!*
Penjelasan misi : seorang anak yang telah di jadikan kelinci percobaan telah melarikan diri dan sedang bersembunyi di bagasi mobilmu. Dengan perasaan yang ketakutan akan tertangkap lagi, dia berencana untuk melarikan diri setelah mobil ini berhenti.
Target misi: Lepaskan kalung pelacak yang terpasang di lehernya(0/1)
Adopsi dia menjadi anakmu dan beri dia sebuah nama baru(0/1)
__ADS_1
Hadiah misi : teknik penempaan dewa unsur tanah dan buku tentang pembuatan pedang sihir milik penempa legendaris.
Hukuman kegagalan misi: unsur sihir ruang akan di hapus dari diri master.
Catatan dari sistem: tidak ada salahnya memiliki anak angkat sebelum menikah!]
Melihat dia mendapat sebuah misi dari sistem, Jani sudah tidak tertarik melihat desain gedung itu dan berkata kepada sopirnya "Pak! nanti kalau ada restoran cepat saji, kita mampir dulu."
"baik, Bos!" jawab Pak Karyo lalu tidak lama mobil memasuki restoran yang melayani Drive-thru dan Jani mulai memesan banyak makanan sekaligus air mineral.
Ayu yang bingung dengan pesanan Jani yang banyak, bertanya kepadanya "memangnya kamu sanggup menghabiskan semuanya?"
"semua itu bukan buat aku, tapi buat seseorang yang menumpang di bagasi mobil kita!"
"memangnya ada siapa?"
"nanti saja aku beritahu, untuk saat ini aku ingin memanggil Jaka dulu."
Jani menelepon Jaka dan memintanya untuk datang ke halaman parkir kantor Pt. Senopati Karya.
Setelah sampai di parkiran kantor, Jani turun dari mobil lalu dengan cepat membuka bagasinya dan akhirnya melihat sosok anak kecil tersebut yang memiliki kulit putih pucat dan berambut kuning keemasan pingsan di dalam badasi mobilnya.
Ayu yang juga melihatnya terkejut lalu berkata "Astaga! Dari mana anak ini berasal!?"
"shtt! Sayang! Kecilkan suaramu! Kalau sampai di ketahui banyak orang kemungkinan kita akan menjadi berita heboh lainnya!"
"oh iya! Maaf aku terkejut sampai lupa akan situasi. Lalu menurut kamu dari mana dia berasal?"
"melihat dari pakaiannya, kemungkinan dia habis melarikan diri dari sebuah lab penelitian lalu cara dia bisa masuk ke dalam bagasi, mungkin dia punya kekuatan khusus yang mampu membuatnya memasuki bagasi tanpa harus membuka bagasi."
Mendengar penjelasan Jani, Ayu semakin marah dan mulai berkata "tidak bisa dimaafkan! Berani sekali mereka melakukan percobaan kepada anak kecil ini! Kalau saja aku tahu siapa orangnya!"
"tenanglah sayang! Lebih baik kita pindahkan dia dulu lalu kamu tetap di sini menunggu anak itu bangun."
"oke aku akan menjaganya!"
Tidak lama setelah Jani memindahkan anak itu, Jaka tiba dan bertanya kepada Jani "kenapa Jan, memanggil gua ke sini dengan terburu-buru seperti itu?"
"ini Jak! Lu bisa lepasin kalung yang di gunakan anak itu?, tapi alatnya masih dalam kondisi menyala."
"Coba gua periksa dulu." Jawab Jaka dengan tenang lalu mulai mengotak-atik kalung yang terpasang pada anak kecil tersebut.
Butuh waktu agak lama, tapi pada akhirnya Jaka memberikan alat tersebut kepada Jani dengan kondisi menyala sambil berkata "fuih... akhirnya Selesai juga! Nih bendanya! Entah orang gila macam apa yang memasang alat tersebut kepada anak kecil ini?"
"kenapa Jak? Ada yang salah dengan alat ini?" Tanya Ayu yang penasaran dengan perkataan Jaka.
"benda telah di pasang bom di dalamnya yang mampu menghancurkan leher orang yang di pasangkan benda ini."
Ayu dan Jani yang mendengar hal itu, sekali lagi terkejut karena tidak menyangka bahwa orang yang menangkap anak ini benar-benar sekejam itu.
Setelah beberapa saat, Jani berkata "baiklah Jak, elu pulang dulu. Nanti malam kita bahas ini bersama dengan semua orang."
"Oke. Kalau begitu aku pamit dulu. Oh iya Tentang cetak biru yang kau berikan, aku rasa kita perlu kerja sama dengan orang lain karena aku agak kurang ahli dalam bidang bagian pencocokan saraf!"
__ADS_1
"baiklah, nanti aku pikirkan tentang masalah itu." Kata Jani yang menanggapi permintaan Jaka dan setelah itu, Jani pergi ke dalam gedung kantor untuk bertemu dengan Ayahnya dan membahas tentang pembangunan yang akan dia lakukan.