
Di Atap perusahaan Arcadia.
Awalnya ada tempat yang telah di pasang tembok oleh Jani agar tidak ada yang bisa masuk dan hanya bisa di masuki melalui lingkaran sihir teleportasi yang ada di kantor kamar rahasia Jani, tetapi kini tembok itu sudah di hancurkan oleh Jani dan saat ini banyak pekerja yang mendekor ulang tempat itu atas permintaan Jani.
Ketika Jani dan Alicia sampai di sana, para pekerja berhenti sejenak dan memberi salam kepadanya lalu melanjutkan pekerjaan mereka. Alicia yang penasaran bertanya kepada Jani "Papa, kejutan seperti apa yang ingin Papa berikan untuk Mama?"
"sesuatu yang spesial." Jawab Jani kepada Anaknya lalu dia bertanya kepada salah satu karyawannya "bagaimana? Apa persiapannya masih lama?"
"sebentar lagi kami akan segera selesai, Bos!"
"Bagus, tapi ingat pastikan tidak ada kesalahan apa pun karena acara malam ini sangat spesial untukku!" kata Jani yang mengingatkan karyawan tersebut.
Karyawan itu juga mengerti betapa pentingnya acara malam ini bagi Bosnya. Jadi, dia menjawab dengan serius kepada Jani "jangan khawatir, Bos! Saya sendiri yang akan bertanggung jawab atas acara malam ini."
"baiklah! Aku percayakan kepadamu." Kata Jani yang pergi menuju arah selatan gedungnya yang berdekatan kompleks wisata Ancol dan tentu saja dari sini juga terlihat hamparan lautan yang luas.
Alicia yang duduk di pundak Jani tiba-tiba teringat sesuatu lalu bertanya kepada Jani
"ngomong-ngomong Papa, ke mana Mama pergi saat ini?"
"Mamamu saat ini sedang memeriksa langsung pabrik mesin virtual dan mengecek stok mesin virtual yang ada di gudang."
"bukankah sudah ada orang di sana yang bertugas melakukan hal itu?" tanya kembali Alicia yang sedikit paham pekerjaan orang tuanya.
"tentu, tapi Papa sengaja menyuruh orang di sana untuk membuat laporan yang berbeda di sana agar mamamu bisa mengeceknya sendiri."
"hehe... Papa jahat melakukan itu kepada Mama!" tawa Alicia sambil menyebut Jani jahat.
"Baiklah, karena kita sudah memeriksanya. Sekarang kita bersiap memberi kejutan kepada Mama."
"oke!" dan mereka berdua pun ikut bersiap memberi kejutan kepada Ayu.
....
Ketika Ayu kembali ke kantor, hari sudah sore dan tidak lama lagi malam hari akan tiba. Banyak karyawan yang sudah pergi meninggalkan kantor dan ketika Ayu sampai di ruangan CEO, dia tidak melihat Jani ataupun Alicia di mana pun.
Saat dia mengira keduanya sudah pulang duluan, Ayu menemukan sebuah kertas di atas meja Jani yang bertuliskan satu kalimat 'Sayang, aku menunggu kamu di atap.' Karena penasaran, Ayu segera menuju atap gedung menggunakan tangga darurat.
Ketika Ayu sampai di depan pintu menuju atap, dia tidak langsung membuka pintunya karena sekarang hatinya berdegup kencang mengantisipasi kejutan dari kekasihnya. Setelah menenangkan dirinya, dia perlahan membuka pintu lalu melihat atap yang sebelum di penuhi warna hitam karena efek dari sihir api milik Jani, sekarang telah berubah menjadi restoran eksklusif yang hanya menyediakan satu meja dengan dua kursi.
Dekorasi tempatnya juga bisa di katakan sangat harmonis dengan suasana matahari tenggelam saat ini dan ini memang suasana yang pernah dia katakan kepada Jani untuk dia nikmati. Saat Ayu masih mengagumi tempat itu, seorang pria tampan mendekatinya lalu mengulurkan tangannya sambil berkata "Sayang, kamu pasti lelah! Bagaimana kalau kita makan malam dulu di sini?"
"mhm! Tolong bimbing aku ke meja, Sayang!" jawab Ayu yang menerima tangan pria tampan itu yang tidak lain adalah Jani sendiri.
Saat mereka duduk di kursi mereka, Ayu ingin bertanya banyak hal, tapi itu di hentikan oleh Jani yang berkata "Sayang, untuk saat ini kamu tidak perlu bertanya banyak hal. Cukup nikmati makan malam hari ini, oke?"
__ADS_1
"baiklah..."
Mereka mulai makan malam di temani pemandangan matahari terbenam yang membuat suasana semakin romantis. Ketika hari berubah menjadi malam, seluruh daerah di dekat kantor Arcadia menjadi gelap tanpa cahaya lampu sedikit pun.
Ayu yang penasaran mulai bertanya kepada Jani "Sayang, apa yang terjadi? Kenapa semua lampu di sini padam?"
"aku juga tidak tahu? Biar aku menelepon dulu!" kata Jani yang berpura-pura menelepon pihak terkait, tapi sebenarnya dia malah menelepon anak buahnya untuk melanjutkan rencananya ke tahap berikutnya.
Ayu berjalan menuju pinggir atap gedung sembari menunggu Jani selesai menelepon. Ketika dia sedang menunggu, tiba-tiba lampu perlahan mulai menyala dan hanya meninggalkan satu gedung perkantoran yang letaknya berdekatan dengan kantor Arcadia. Beberapa saat kemudian, lampu gedung itu mulai menyala, tapi hanya sebagiannya saja yang menyala dan membentuk beberapa kata yang bertuliskan: 'AYU CAHYANI, KAMU ADALAH WANITA YANG PANTANG MENYERAH! TETAP MENDEKAT MESKIPUN AKU MENJAUH, TETAP PEDULI MESKIPUN AKU TIDAK PEDULI'
Saat Ayu sedang fokus membaca kata-kata itu, terdengar suara Jani yang melanjutkannya "tetap mencintai meskipun aku ragu akan cinta! Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk menerima cintamu dan sampai sekarang aku akhirnya juga bisa merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang yang membuatku ingin selalu berada di dekatmu dan kehilangan dirimu."
Mungkin bagi kebanyakan orang Puisi cinta itu terdengar berlebihan, tapi bagi orang seperti Jani ini adalah ungkapan isi hatinya selama ini.
Ayu yang mendengarnya juga sesekali mengingat tentang masa lalunya ketika dia mulai tertarik dengan Jani dan merasakan sulitnya membuka hati Jani.
Setelah membaca puisi itu, Jani melanjutkan "untuk membalas semua hal yang telah kamu lakukan untukku. Aku tidak lagi ingin memilikimu sebagai kekasihku, tetapi aku ingin memilikimu sebagai Istriku!, Ibu dari Alicia!, Menantu Ibuku dan bersamamu sampai ajal memisahkan kita!"
Ketika Ayu mendengar apa yang dikatakan oleh Jani, dia segera berbalik badan dan melihat Jani sedang berlutut satu kaki lalu bersiap membuka sebuah kotak kecil.
Saat Jani melihat Ayu berbalik, dia segera berkata "MAUKAH KAMU MENIKAH DENGANKU!?" Sambil membuka kotak cincin yang dia dapatkan sebelumnya dari Si Babeh.
Ayu yang tidak kuat menahan air matanya, mulai menangis bahagia sambil menjawab "IYA!! AKU MAU MENIKAH DENGANMU!!"
Setelah memasangkan cincin di jari manis Ayu, Jani memberi sinyal kepada semua orang untuk keluar dan memulai pesta yang dia siapkan sebelumnya.
Ayu terkejut melihat semua temannya dan keluarganya juga hadir di acara ini lalu memberinya ucapan selamat kepadanya.
Ketika Jani melihat Jali yang datang bersama dengan Devi, Jani mulai tertawa karena melihat tangan Jali yang di ikat dengan perban.
"Hahaha!!... Woi! itu tangan kenapa? Terluka kena peluru atau nulis kalimat yang sama sebanyak satu buku?"
"Diam kau, unggas!" kata Jali yang sedikit kesal dengan ejekan Jani.
"Makanya jangan suka cari sensasi!" kata Jaka yang juga datang bersama kakaknya.
"Hei! Ini bukan cari sensasi saja!! Tapi formalitas yang harus dilakukan sebagai...." sebelum Jali menyelesaikan perkataannya mulutnya sudah di bungkam menggunakan beberapa kue yang ada di dekat tempat mereka mengobrol.
Orang yang memasukkan kue ke dalam mulut Jali tidak lain adalah Devi yang berdiri di samping Jali.
Jani melihat sekelilingnya takut ada yang mendengarkan lalu setelah dia merasa cukup aman, Jani berkata kepada Devi "untung kau bertindak cepat, Dev! Kalau tidak, entah berita apa yang muncul besok tentang aku yang terkait dengan aksi itu."
"Hehe... Tenang saja, aku sudah sedikit memahami sifatnya yang tanpa tidak sengaja sering membocorkan informasi penting milik orang lain."
"baguslah... Sekarang aku bisa tenang karena ada penjaganya!" kata Jani yang mulai tertawa bersama dengan yang lainnya.
__ADS_1
"puas ya! Pada ketawain gua, besok kalau lu butuh apa pun Jangan cari gua!"
"tenang dulu, Jal! ini kan Cuma hiburan dan jangan di anggap serius, toh!" jawab Jani yang menenangkan Jali.
"Bodo amat!!"ketus Jali sambil meminum minuman keras yang ada langsung dari botolnya.
Setelah menghabiskan satu botol, Jali mulai berbicara kepada Ayu dalam keadaan mabuk
"hei Ayu! Dengarkan gua nih ya! Jaga Jani baik-baik karena banyak wanita yang menginginkannya. Meskipun dia masih tidak peduli dengan wanita mana pun selain lu, tapi jika dia mulai membicarakan soal bisnis, maka dia akan akrab dengan siapa pun termasuk para wanita yang menginginkannya meskipun itu hanya kedok mereka untuk mendekati Jani."
"hei gua enggak sampai segitunya juga ya!" jawab Jani yang protes dengan perkataan sahabatnya.
"Oh! Benarkah? Lalu kenapa kau makan siang bersama dengan anak saudagar tambang kemarin?"
Ayu yang tidak pernah tahu tentang hal ini, mulai tertarik dan bertanya kepada Jani "Sayang, apa itu benar?"
Walaupun pertanyaan itu singkat, tapi sangat sulit untuk menjawabnya. Ketika dia sedang kebingungan, Jani tiba-tiba melihat ke arah ibunya lalu mengingat sebuah pesan yang di sampaikan ibunya ketika dia baru menjalin hubungan dengan Ayu.
Pesan itu adalah "Nak, dengarkan Mama! Dasar menjalin hubungan adalah kejujuran. Meskipun ada yang akan membuatnya terluka, tapi lebih baik dari pada dia terkena racun yang disebut kebohongan!"
Mengingat hal itu, Jani berkata kepada "itu benar, Sayang! kemarin aku menerima ajakan kerja sama dengan butik miliknya dalam pembuatan kostum karakter game kita!"
Ayu tahu bahwa Jani berkata jujur dan ketika dia tahu wanita bernama Netalia Nur Wijaya, dia semakin yakin bahwa kekasihnya tidak berselingkuh di belakangnya. Memikirkan semua hal itu, membuat Ayu berkata "baiklah, aku maafkan kali ini, tapi masalah kerja sama yang kamu sepakati dengannya biar aku yang urus, bagaimana?"
"tentu saja! Aku tidak keberatan!" Jani langsung menyetujuinya secara langsung.
Setelah masalah kecil itu di selesaikan, pesta pun di lanjutkan sampai tiga Jam lamanya. Saat hampir semua orang sudah pulang, Jani meminta izin Ayu untuk tinggal sementara untuk mengurus beberapa hal yang belum dia selesaikan dan Ayu yang tidak mengetahui tentang video yang direkam Alicia, mengizinkan Jani untuk tetap tinggal.
Ketika mobilnya sudah pergi jauh dari kantor, Jani segera menelepon Arman dan saat telepon itu terhubung Jani segera bertanya "halo, Arman! Apa dia sudah mau berbicara?"
"masih belum, Bos! Da masih membantah dirinya sebagai mata-mata pemerintah China!" kata Arman lewat sambungan telepon.
"masih keras kepala juga, ya? Baiklah! tunggu aku di sana, aku akan menuju ke sana segera!" kata Jani yang segera menutup teleponnya.
...
Di lantai dasar adalah tempat departemen keamanan berkantor. Di sini berbeda dengan lantai lainnya yang setiap karyawannya memiliki satu komputer masing-masing, sedangkan di lantai ini hanya ada di bagian pemantauan CCTV saja yang memilikinya dan sisanya adalah alat olahraga untuk melatih para penjaga keamanan yang baru.
Di sudut lantai dasar, ada sebuah pintu dengan tulisan di pintunya 'hanya untuk pegawai keamanan' yang sangat jarang di gunakan oleh para pegawai keamanan itu sendiri, tapi jika ada yang penasaran untuk memasuki tempat ini, maka yang mereka lihat hanyalah sebuah loker penyimpanan alat kebersihan milik petugas kebersihan.
Tidak seperti hari biasanya, pintu ruangan itu sekarang di jaga dua pegawai keamanan yang berbadan kekar. Saat Jani ingin memasuki ruangan tersebut, salah satu penjaga segera membukakan pintu dan yang satunya lagi menarik tuas rahasia yang memicu terbukanya sebuah pintu lainnya.
Setelah Jani masuk, pintu kembali di tutup dan ada lagi sebuah pintu lainnya yang di jaga pegawai keamanan lainnya. Saat Jani sampai di depan pintu dia bertanya "di mana Arman?"
"di dalam bersama dengan mata-mata itu, Bos!" jawab salah satu pegawai keamanan. Jani segera memasuki ruangan tersebut.
__ADS_1