
Setelah keluar dari jalan rahasia, Nine meletakkan wanita itu di atas meja lalu pemilik bar segera bertanya "apakah ini benar istriku?"
"aku kurang yakin, tapi saat aku nyanyi lagu suci bangsa Elf, dia menjawab dengan ingin kembali ke bar kecilnya dan itu saja yang aku tahu sebelum dia jatuh pingsan."
"Baiklah, ini sudah lebih dari cukup, Pangeran. Meskipun aku belum yakin dia adalah istriku, tapi aku merasa ada sesuatu yang membuatku ingin melindunginya, Jadi aku tetap akan merawatnya."
"kalau begitu, kami berdua pamit dulu." Kata Jani kepada pemilik bar dan setelahnya mereka pergi dari Bar lalu memasuki kereta kuda yang di siapkan Bernard untuk Jani gunakan.
Di dalam kereta, Jani langsung berkata "Nine, sampaikan pesanku kepada Zero. 'ada penghianat kecil di Silent Army, Temukan dia sebelum pertemuan penting malam ini.'"
Setelah mendengar pesan itu, Nine menjawab "baik, akan saya sampaikan segera!" lalu dia segera pergi dari kereta yang sedang berjalan menuju tempat Zero berada.
Setelah kepergian dari Nine, Jani memutuskan untuk kembali ke istana sebelum para Agen Gereja menyadari kepergiannya dan mencurigai keterlibatannya akan kekacauan yang terjadi di gereja.
…
Sementara itu di dalam gereja
Keributan itu mulai tersebar di seluruh gereja karena ada rumor yang mengatakan bahwa uskup terkena serangan racun saat menuju ruang bawah tanah dan para penjaga yang tertidur tanpa sebab yang pasti.
Uskup Agung yang di katakan terkena racun saat ini berada di kamar mandi pribadi miliknya sedang melumuri tubuhnya dengan berbagai parfum untuk menghilangkan bau tidak sedap yang ada di tubuhnya.
"Sialan! Mahluk kotor mana yang membuatku menjadi bau busuk seperti ini!?" kata Uskup Agung yang mengutuk perbuatan Jani terhadapnya.
Saat dia sedang membersihkan tubuhnya, seorang pelayan datang mengetuk pintunya. Mendengar hal itu, Sang Uskup menjawab "masuklah!"
Saat pelayan itu masuk, hidung sudah merasakan bahwa bau di tubuh uskup agung masih berbau busuk yang cukup kuat dan agar tidak menyinggung perasaannya dia mencoba menahannya lalu mulai berkata "Uskup Agung, kami telah menanyai ke beberapa prajurit suci yang tertidur waktu berjaga, tapi mereka mengaku bahwa tidak mengetahui apa pun dan bahkan mereka berkata bahwa setelah bangun, mereka tidak mengingat tentang apa yang terjadi hari ini."
'gangguan ingatan kah? Apa mereka telah diracuni?' pikir Uskup Agung. Lalu tidak lama kemudian dia bertanya "lalu bagaimana kabar mata-mata kita yang ada di istana kerajaan? Apakah masih belum ada kabar?"
"kami baru saja mendapat laporan darurat dan di laporan itu mengatakan bahwa semua mata-mata kita telah dilenyapkan oleh pihak kerajaan."
"sialan! Itu pasti perbuatan pangeran busuk itu! Kenapa dia tidak mati saja saat pemberkatan sebelumnya, hah!!? Jika saja dia mati saat itu, maka mungkin saat ini kerajaan ini sudah berada di kekuasaan gereja kami dan aku pasti sudah di angkat menjadi Uskup tetua!" umpatan demi umpatan terus di keluarkan oleh sang Uskup Agung tanpa menyadari bahwa wajah pelayannya sudah berubah menjadi hijau dan dia sudah mulai menutup hidung rapat-rapat.
Setelah selesai meluapkan amarahnya, dia berkata "baiklah, kau terus bangunkan ksatria suci kita yang masih tertidur."
"baik, saya akan melaksanakan perintah anda, Uskup Agung." Jawab sang pelayan lalu di perlahan keluar dan menutup pintunya.
*UUUEEKK!!*
tidak lama kemudian terdengar suara pelayan tersebut yang memuntahkan isi perutnya yang sudah lama dia tahan sejak dia berada di dalam kamar mandi pribadi milik Uskup Agung.
Mendengar suara menjijikan itu, uskup Agung segera berkata dengan nada penuh amarah "DASAR PERANGKAP SIALAN!!, AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUH ORANG KEJI YANG MEMASANG PERANGKAP ITU!!!"
…
Di suatu tempat markas rahasia Silent Army.
*HAACUU!!*
Suara bersin keras terdengar dari seorang yang baru saja masuk dan seorang yang sedang duduk tidak jauh dari tempat itu menegurnya "Hei Nine! saat kau bersin gunakan tanganmu untuk menutup hidungmu! Itu sangat menjijikan tahu!"
"maaf, guru! Aku juga tidak tahu kenapa aku tiba-tiba bersin." Jawab Nine kepada orang yang menegurnya.
"baiklah, lalu kenapa kau datang kesini?"
"ada pesan dari yang mulia pangeran untukmu, guru!"
"apa itu?"
__ADS_1
Nine mendekati Zero untuk membisikkan isi pesan dari Jani, tapi sebelum dia mengatakan pesan itu, Nine segera mundur dan tepat sedetik kemudian sebuah pisau dapur melesat melewatinya dan menancap di tembok.
Nine segera memprotes kepada orang yang melempar pisau tersebut "Tetua One! Itu sangat berbahaya tahu!"
"kau tidak perlu panik seperti itu, Nine. lagi pula aku belum menggunakan sihir unsur ku sama sekali. Lalu bagaimana? apa kau mau mencobanya?"
"itu tidak perlu, Tetua One!"
"kalau begitu jangan merahasiakan sesuatu dariku! Apa kau mengerti Nine!?"
"aku mengerti, Tetua One!"
Zero hanya bisa menghela nafasnya lalu mengambil pisau yang tertancap di tembok dan berjalan ke arah Istrinya sambil berkata "Sayang, Nine merahasiakan pesan itu, karena itu juga atas perintahku."
"kenapa? Apa kamu tidak menganggap ku sebagai tetua Silent Army?"
"bukan seperti itu, Sayang! Aku hanya ingin kamu fokus kepada bayi kita."
"kamu terlalu khawatir, Ze! Kandunganku baru berumur 1 bulan dan aku juga masih bisa beraktifitas seperti biasa!"
"tapi lihat, kamu mulai tidak bisa mengendalikan emosimu dan kamu tahu, kan? Bagi Seorang pembunuh, pengendalian emosi adalah hal yang paling penting."
"aku tahu itu! Tapi…" saat One ingin membantah, tiba-tiba dia merasa mual lalu segera berlari menuju kamar mandi dan saat dia kembali dia berkata "baiklah, aku setuju untuk istirahat." Setelah berkata seperti itu, dia kembali ke kamar tidur untuk beristirahat.
Setelah berurusan dengan istrinya, Zero kembali ke ruang tamu dan menyuruh Nine untuk memberitahu isi pesan dari pangeran Alex.
Saat mendengar bahwa dia perlu membereskan seorang mata-mata di Silent Army, Zero segera berkata "baiklah, Nine! ayo kita tangkap penghianat ini!"
"Guru! Apa anda sudah tahu siapa orangnya?"
"tentu saja aku tidak tahu, tapi aku tahu cara untuk membuatnya membuka penyamarannya. Ayo kita bergegas!"
…
Di sebuah kedai minuman
Zero masuk ke dalam bersama dengan Nine lalu mereka segera pergi menuju lantai dua dan menghampiri kelompok orang yang sedang bersantai.
Saat mereka berada di depan kelompok tersebut, tanpa basa-basi Zero meraih kerah seseorang dan memukulnya beberapa kali.
Melihat kawan mereka di pukul, seluruh orang yang ada di lantai dua itu segera bersiap menghajar Zero dan Nine dengan salah satunya berkata "hei Bro! kami tidak tahu apa masalahmu, tapi aku ingin bertanya ? apa kau cari mati di sini?"
"aku tidak cari mati,bodoh! Aku ke sini mencari penghianat!" jawab Zero sambil memukul orang yang berbicara sebelumnya dan orang itu segera berkata "habisi mereka!"
Perkelahian pun menjadi semakin ricuh di lantai dua saat beberapa orang dari lantai satu mulai ikut memukul orang yang berada di lantai dua tanpa tahu apa sebabnya perkelahian itu terjadi.
Saat sekelompok orang itu di hajar sampai pingsan semua, Zero berkata kepada orang yang sebelumnya membantunya "kalian bagus! Nomor berapa kalian?"
"aku nomor 40 dan dia temanku nomer 41!"
Lalu siapa orang yang kebingungan itu?"
"itu nomer 51 tetua! Tapi dia agak bertingkah aneh dan bahkan sangat sering mengunjungi gereja!"
"begitu ya." Zero terdiam sesaat lalu Nine dengan sihir unsurnya membuat nomor 51 pingsan seketika dan segera menyuruh yang lainnya dengan berkata "nomor 40, nomor 41 kalian bawa orang ini dan ikuti kami!"
"baik! Ketua!" tanpa mengetahui bahwa bahwa yang menyuruh mereka adalah nomor tunggal, dua anggota Silent Army itu segera bergegas membawa tubuh anggota nomor 51 dan mengikuti dua orang yang ada di depan mereka.
Salah satu temannya bertanya "hei! Bagaimana kau tahu bahwa orang itu adalah seorang tetua?"
__ADS_1
"aku juga tidak tahu, tapi aku dengar dari guru kita bahwa ketika ada perkelahian dadakan kau harus perhatikan perkelahian itu dan jika ternyata gerakannya sama dengan gerakan dari organisasi kita, maka kita harus membantunya dengan cepat."
"ohh! Begitu ya! Kalau begitu apa yang terjadi dengan orang yang kita bawa ini?"
"dia? Pasti akan mati !"
…
Saat mereka sedang mengobrol, mereka segera memasuki sebuah tempat seperti rumah kosong dan saat berada di dalam, Zero menyapa orang yang ada di dalam "Five! Aku perlu ruangan itu!"
"kakak Zero! Ada apa memangnya kau tiba-tiba datang ke sini lalu meminta menggunakan ruangan itu?"
"aku di perintahkan yang mulia, untuk mengurus mata-mata ini!"
"hah! Mata-mata !? siapa yang berani menyelinap memasuki Silent Army dan mencuri informasi dari kita, kak!?"
"itu gereja, tetua Five!" jawab Nine dengan tenang saat mengambil tubuh nomor 51 dari pundak nomor 40.
"hoho! Bagus sekali mereka melakukan itu! Kalau begitu biar aku yang mengurusnya kak! dan kau kembali lah mengurus kak One yang sedang hamil itu!"
"baiklah! Lakukan sesukamu! Dan jangan lupa untuk ikut dalam rapat malam ini!"
"memangnya kenapa aku harus ikut kak?"
"kamu akan tahu nanti! Ayo kalian berdua kita pergi!"
Dua orang yang sebelumnya terdiam kini tiba-tiba terbangun dan menjawab secara bersamaan "SIAP! TETUA ZERO!!"
"ada dengan kalian berdua?" tanya Zero yang bingung dengan sikap kedua anak muda tersebut.
Nine hanya tersenyum dan berkata di dalam hatinya 'apa guru belum tahu? Bahwa bagi murid luar untuk bertemu dengan pendiri pasukan bayangan bagaikan bertemu idola mereka? Ah! aku lupa sekarang itu di sebut dengan Silent Army.'
…
Pada malam harinya.
Di sebuah ruangan khusus, seluruh anggota bernomor Silent Army berkumpul dengan mengenakan topeng yang sebelumnya di berikan oleh Jani. Saat semua anggota memasuki ruangan, mereka terkejut bahwa sang Raja dengan beberapa bangsawan tingkat tinggi juga hadir dalam pertemuan mereka yang membuat sebagian dari mereka merasa sedikit gugup.
Melihat beberapa orang mulai gugup, Jani sebagai pemimpin mereka berkata "kalian semua tidak perlu khawatir! Raja beserta para bangsawan ini hadir hanya untuk mendengar rencana kita dalam mengalahkan uskup korup berserta dengan anak buahnya."
Semua orang mulai sedikit santai dan mereka mulai duduk di kursi yang telah di susun berdasarkan nomor dan tingkat mereka. Dari semua anggota, terdapat satu kursi yang kosong dan Jani yang melihatnya bertanya kepada Zero.
"Zero, apa kursi yang kosong itu adalah mata-mata yang kau tangkap?"
Zero berdiri dan menjawab "itu benar, Pangeran! Dia adalah orang yang menjadi mata-mata untuk Gereja Cahaya suci!"
"lalu apa kau sudah menginterogasinya?"
"untuk masalah tersebut. Saya sudah serahkan kepada Tetua Five untuk menanganinya. Tetua Five, tolong laporkan hasil interogasinya!"
Tetua Five kemudian berdiri dan menjawab "dari hasil interograsi yang saya lakukan, di ketahui nomor 51 yang asli telah terbunuh oleh mata-mata tersebut dan menggunakan sebuah ramuan, si mata-mata berhasil mengubah penampilannya menjadi mirip dengan nomor 51 yang asli sehingga kita semua tidak menyadari bahwa kita telah disusupi oleh mata-mata."
Mendengar laporan itu, Jani berkata "apa kau berhasil mengetahui ramuan tersebut?"
"sayangnya tidak, pangeran. Dia berkata bahwa ramuan itu di berikan oleh uskup dan tidak tahu darimana ramuan itu berasal."
"baiklah, lanjutkan laporannya." Jawab Jani yang menulis bagian penting dari laporan Tetua Five.
__ADS_1