
Istana negara, Jakarta.
Di dalam ruang rapat, hampir semua Menteri di kabinet presiden Jokowi hadir termasuk presiden Jokowi sendiri. Ada juga beberapa orang yang berpakaian militer hadir dalam rapat.
Meskipun mereka semua berkumpul di dalam satu ruangan, tetapi mereka tidak sedang mengadakan suatu rapat penting. Mereka ada di sini hanya atas dasar rasa penasaran mereka kepada seorang pengusaha muda yang di panggil ke istana negara oleh presiden Jokowi.
Saat Jani memasuki ruang rapat, dia melihat banyak orang yang hadir lalu berkata dengan canggung "oh..maaf, pak presiden! aku tidak tahu bahwa kau sedang mengadakan rapat kabinet. Kalau begitu aku akan menunggu di luar dulu."
Saat Jani hendak pergi keluar ruangan, presiden menghentikannya lalu berkata "tunggu, Mr. Gold! Tidak ada rapat kabinet hari ini. Mereka di sini hanya penasaran dengan keberadaanmu yang membuat seluruh dunia panik hari ini."
"ohh, kalau begitu permisi!" Kata Jani kepada presiden lalu duduk di kursi yang kosong. Ayu tidak ikut ke dalam Istana dan saat ini berada di dalam mobil yang sedang menuju mall untuk menjemput Putri. Alasan Jani tidak membawa Ayu bersamanya karena dia sudah tahu, beberapa menteri yang ada di sini adalah seorang pria hidung belang yang memiliki banyak simpanan wanita muda.
Setelah Jani duduk, presiden lalu berkata "baiklah, Mr. Gold. Bisakah Anda menjelaskan alasan Anda menjual cetak biru dari mesin virtual milik anda secara tiba-tiba?"
"alasannya sederhana, aku perlu sesuatu untuk mengembangkan mesin virtualku dan benda itu hanya di miliki negara Amerika."
"benda apa yang kau maksud itu?"
"bukannya kemarin aku sudah memberitahu kelompok agen B.I.N yang menerobos ke kantorku, apa benda itu."
*BRAAKK*
Suara meja yang di pukul keras lalu di susul perkataan dari ketua B.I.N yang marah "bagaimana mereka mau menjawab! setelah pulang dari perusahaanmu, mereka semua mengalami guncangan mental yang kuat dan di tanya tentang dirimu, mereka mengalami ketakutan yang sangat besar. Biar aku bertanya kepadamu, Mr. Gold! Apa yang sebenarnya kau lakukan kepada anak buahku kemarin?"
Jani tidak langsung menjawab pertanyaan itu dan malah mengeluarkan sebuah buku kecil dan sebuah pena lalu menulis sesuatu. Setelah menulisnya, Jani menjawab "yah, aku hanya memberikan hukuman kecil kepada mereka karena ucapan mereka yang membuat aku kesal, Itu saja"
Sebelum ketua B.I.N memprotes Jani, Jani terlebih dahulu berkata " pak presiden! Aku di sini juga ingin mengajukan protes! Bahwa aku ini bukanlah terduga *******, jadi untuk apa kalian memantau diriku, menyadap teleponku!? Itu sangat menjengkelkan tahu!!"
"hmph! Kalau kau tidak mau untuk di mata-matai, maka berhentilah untuk membuat keributan yang membuat mata dunia tertuju kepadamu!" ketus seorang jendral yang duduk di seberang jendral Karto Kencana.
Jani melirik ke arah Jendral Karto lalu sang Jendral segera menyadari tatapan Jani dan menganggukkan kepalanya sekali. Melihat konfirmasi dari jendral Karto, Jani berkata dalam hatinya 'oh! Pantas dia agak membenciku, ternyata dia adalah ayah dari seorang perwira yang mukanya aku hantamkan ke meja kepala sekolah waktu itu.'
"yah! Aku memang tidak cukup membuat kehebohan kali ini, tapi tetap saja perbuatan kalian itu membuatku tidak nyaman. Jadi, kusarankan untuk berhenti melakukannya. Atau kalau tidak, mungkin kalian harus bersiap untuk melihat setiap hari ada agen dari pemerintah yang kukirim ke rumah sakit."
"berani sekali kau mengacam pemerintah seperti itu! Apa kau tahu? kami bisa saja membuat usahamu hancur tanpa kau sadari?" kata seorang menteri B.U.M.N yang mengancam balik dan orang itu juga sangat familiar di mata Jani.
"lakukanlah, tapi perlu aku ingatkan satu hal. Saat ini publik sangat antusias dengan mesin virtualku dan walaupun aku menjual dengan harga yang cukup tinggi, mereka tetap laku seperti nasi uduk yang di pinggir jalan."
"lalu apa masalahnya?" jawab menteri B.U.M.N.
"apa kalian lupa bahwa negara ini adalah negara demokrasi?, Saat ini arus opini publik berada di pihakku. Jika kalian melawan arus ini secara paksa, maka mungkin tragedi 1998 akan terjadi lagi." Kata Jani dengan santai, tetapi perkataannya tetap membuat semua orang yang di ruangan ini bergidik.
__ADS_1
"kau hanya seorang pengusaha kecil yang baru saja merintis usahanya, bagaimana mungkin kau bisa menggoyahkan pemerintahan ini?" jawab seorang jendral yang membenci Jani yang juga perkataannya di setujui oleh menteri yang lain.
"jika kalian tidak percaya, maka kalian bisa mencobanya sendiri. Akan kubuat kalian merasakan dahsyatnya arus yang saat ini kalian coba remehkan." Jani tersenyum di balik topengnya dan tanpa dia sadari, Jani mengeluarkan aura yang membuatnya terlihat ingin menghancurkan mereka semua.
Para penjaga yang berdiri di sudut ruangan segera mengeluarkan senjata mereka karena aura Jani membuat mereka tidak nyaman. Jendral Karto pun berdiri dari kursinya lalu berkata cukup keras
"tenanglah! kalian semua!"
Suaranya membuat Jani tersadar, lalu dia menarik kembali auranya dan berkata "maaf semuanya! Aku tadi sedikit kelepasan!"
Tentu saja walaupun para penjaga hanya merasa tidak nyaman, tetapi beberapa menteri yang semasa hidup mereka hanya menggunakan otak mereka, kini berkeringat dingin dan sedikit gemetar ketakutan.
Sementara para mengerti masih terdiam, presiden berkata "Mr. Gold maafkan anak buahku yang sebelumnya karena membuatmu sedikit tersinggung."
"yah, aku juga salah karena membawa sebuah topik yang cukup berbahaya."
"jujur Mr. Gold, aku sedikit kecewa saat mengetahui kau melakukan transaksi ke pihak negara asing secara mendadak kemarin."
"pak presiden, di masa depan kau tidak perlu terkejut seperti itu. Karena ini adalah hal yang biasa dalam dunia bisnis dan kau juga sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi. Jadi, di masa depan aku mohon untuk tidak terlalu mencampuri bisnisku dan sebagai imbalannya aku jamin bahwa perusahaanku akan selalu berada di negara ini."
"baiklah, aku percaya kepadamu! Di masa depan kau tidak perlu khawatir tentang orang yang memata-mataimu dan juga aku ingin menyampaikan hal itu sekali lagi, jika kau membutuhkan bantuan, istana negara selalu terbuka untukmu."
Saat dia akan keluar, Jani seolah mengingat sesuatu lalu berkata kepada presiden "oh iya, pak presiden! Aku lupa mengatakan sesuatu, mesin virtual adalah produk pertamaku. Jika kau berumur panjang, maka di masa depan kau akan melihat bahwa aku akan membuat negara ini menjadi negara dengan teknologi tingkat tingginya dan membuat seluruh dunia iri akan kemajuan teknologinya!"
"aku menantikan hal itu terwujud!" jawab presiden dengan senyum di wajahnya.
Setelah itu, Jani pergi dari ruangan ini dengan penuh semangat di dalam dirinya.
Saat Jani pergi meninggalkan ruangan, para menteri bernafas lega dan jendral Karto pun berdiri untuk meninggalkan ruangan ini sambil berkata kepada presiden "karena pertunjukannya sudah selesai, Kurasa aku akan kembali ke markasku sekarang. Pak presiden, aku cukup senang karena presiden yang kupilih memiliki pandangan jauh ke masa depan."
"terima kasih, atas pujiannya." Jawab singkat presiden.
"kalau begitu, aku permisi!" lalu setelah itu jendral Karto pergi dan tak lama di ikuti oleh beberapa menteri.
Beberapa saat kemudian, hanya tersisa presiden dan seorang wanita paruh baya yang saat ini menjadi menteri keuangan negara. Wanita itu berkata "pak presiden, apa yang membuatmu menaruh harapan besar pada Mr. Gold?"
"hmm, mungkin karena dia memiliki sebuah mimpi besar yang bahkan oleh generasi kita sendiri pun tidak pernah terpikirkan untuk melakukan hal tersebut." Jawab presiden kepada wanita tersebut.
"kalau itu hanya mimpi, maka aku yakin orang itu akan hanya menjadi bahan tertawaan dunia. Karena aku sudah pernah bekerja untuk sebuah organisasi dunia dan melihat banyak orang yang mimpinya hancur karena tidak mengetahui betapa busuknya dunia yang mereka tinggali ini." Jawab wanita itu dengan tatapan suram yang mengingat masa lalunya dan kemudian dia pergi.
Setelah dia di tinggalkan sendirian, presiden berkata dalam hatinya 'kau salah, kalau kau melihatnya sebagai pengusaha polos dengan mimpi besar. Karena sebelumnya dia pasti sudah merasakan busuknya dunia dan bahkan mungkin dia ikut dalam menghancurkan mimpi yang di miliki para pengusaha polos tersebut.'
__ADS_1
saat dia sedang bersandar di kursinya, seorang lelaki tua masuk sambil membawa dua gelas teh hangat dan presiden yang melihatnya berkata "aku pikir kau sudah kembali ke kantormu, pak tua Senopati!"
orang yang membawa teh hangat tidak lain adalah mantan kepala keluarga Senopati yang juga adalah kakek dari Jani dan saat ini dia menjabat sebagai menteri B.U.M.N.
"tidak, aku hanya keluar untuk pergi ke dapur dan membawakan segelas teh hangat untuk sahabatku." Jawab lelaki tua tersebut.
Presiden pun menikmati teh tersebut lalu berkata kepada sahabatnya "sebelumnya aku tidak percaya bahwa cucumu keluar dari keluarga Senopati untuk mengikuti ibunya dan membuang kesempatannya untuk menjadi pewaris keluarga bisnis nomor satu di Indonesia."
"haha!! Kau salah! Bukan itu alasan sebenarnya untuk pergi dari keluargaku!"
"lalu apa? Kalau tidak salah saat ibunya memilih bercerai dengan anakmu, dia baru berusia 10 tahun. Jadi alasan apa lagi yang di berikan bocah berumur 10 tahun kalau bukan untuk mengikuti ibunya?"
"saat itu, dia lebih cerdas dari kebanyakan bocah seumurannya dan bisa memilih mana yang lebih baik untuk dirinya sendiri. Jadi saat itu ayahnya bertanya tanpa ragu kepadanya untuk memilih mengikuti siapa, ibunya atau ayahnya. Saat itu, Dia dengan cepat untuk memilih ibunya dan kemudian memberikan alasannya memilih mengikuti ibunya yaitu karena dia tidak tertarik untuk melanjutkan usaha bekas orang tuanya dan menganggap itu sangat membosankan."
"hah!? Tidak mungkin bocah 10 tahun berkata seperti itu! Kau jangan terlalu banyak membual pak tua!" jawab dari presiden yang tidak percaya dengan cerita sahabatnya.
"percaya atau tidak, itu urusanmu. Yang jelas aku berdebat dengannya tadi karena bawaan sifatku yang tidak suka di ancam secara terbuka seperti itu meskipun itu dari keluargaku sendiri."
"haha! Pantas memang turunan keluarga!"
Setelah itu, mereka mengobrol tentang Jani selama lebih dari satu jam. Di saat mereka sedang mengobrol tentang Jani, saat ini Jani berada lobi istana dan sedang menunggu mobilnya yang sedang menjemput adiknya di mall.
Saat Jani sedang menunggu, Jendral Karto datang menghampirinya dan berkata "apa jemputan mu belum datang?"
"yah, begitulah. Mereka sedang menjemput adikku."
"lalu bagaimana kalau aku antar menggunakan mobilku?"
"tidak perlu, kau lihat di luar gerbang sana banyak predator informasi mengarahkan mata mereka ke sini? Aku tidak ingin gosip aneh menyebar tentangku besok. Oh iya! Jendral Karto apa kau sesudah ini sibuk?"
"tidak, memangnya kenapa?"
"bagaimana kalau setelah ini aku berkunjung ke tempatmu? Bukannya kau penasaran dengan teknik yang kugunakan waktu itu?"
"oh!! Tentu! Aku selalu penasaran tentang hal itu!" jawab sang jendral dengan penuh semangat.
"kalau begitu, sore nanti aku akan ke markasmu untuk berkunjung." Kata Jani lalu dia memasuki mobilnya yang baru saja sampai di halaman istana.
"oke, kutunggu kedatanganmu!" balasnya yang juga pergi bersama dengan ajudannya.
Tanpa di sadari oleh mereka berdua, ada orang yang berpakaian militer mendengar pembicaraan tersebut lalu melakukan panggilan kemudian pergi dengan senyuman yang berbahaya.
__ADS_1