
Setelah selesai memberi pidatonya, Jani turun dari panggung dan kembali duduk di tempat sebelumnya. Pembawa acara kemudian memanggil lima murid kelas berbakat sesuai peringkat mereka dalam kelas. Intinya mereka yang di panggil pertama kali adalah murid yang terkuat di akademi ini.
Jani memperhatikan kelompok pertama menaiki atas panggung. Saat Jani melihat orang yang pertama kali naik panggung, dia tersenyum dan berkata "Heh, tidak kusangka gadis gila belanja ini cukup rajin belajar juga."
Alasan Jani berkata seperti itu karena orang yang menjadi terkuat di akademi tidak lain adalah adiknya Veronica Van Lester. Ratu Agatha yang mendengar komentar Jani juga ikut berkata "Alex, jangan remehkan metode pelatihan kak iris.
Karena sebelum dia menikah dengan ayahmu, dia pernah mengajar di sini dan di juluki 'Guru berhati es' yang terkenal dengan metode pelatihan nerakanya"
"oh, begitu." Jani berkata seolah tidak mempercayai perkataan ratu Agatha.
Ratu Agatha yang merasa tidak dipercaya oleh Jani mulai mendekatkan dirinya ke arah Jani dan berbisik bagaimana metode pelatihan ratu iris. Setelah mendengarnya, Jani mulai bergidik dan mulai mengerti alasan adiknya tidak ingin ikut pelatihan ibunya.
Di urutan kedua ada seorang cowok bernama Astra Bluecrystal yang memiliki postur tubuh yang sempurna. Pria ini dulu bisa dianggap sebagai rival Alex dalam berbagai hal, tapi sejak dulu dia selalu kalah dari Alex sampai insiden itu terjadi yang mengakibatkan Alex jatuh dalam keadaan koma.
Astra tidak lain adalah sepupu Alex dan juga seorang yang di tunjuk sebagai calon pemimpin keluarga Bluecrystal. Awalnya dia cukup di benci oleh Alex dan Veronica karena selalu beranggapan bahwa 'kerajaan Westeria bukanlah apa-apa jika tidak ada keluarga Bluecrystal di dalamnya', tapi setelah di beri latihan moral oleh ratu iris, dia menjadi sedikit dewasa dan mulai akrab dengan kedua sepupunya.
Setelah memperhatikan kedua saudaranya, Jani mulai melirik para murid kelas berbakat lainnya.
Dari urutan 3 sampai 15 Jani cukup mengenal dengan mereka, di antaranya adalah urutan ketiga sampai kelima adalah tiga cowok Kembar yang Jani temui sebelumnya. Untuk urutan ke enam ada seorang gadis yang memiliki mata berwarna hijau yang indah.
Saat Jani melihatnya, dia merasakan bahwa dadanya terasa sesak dan kakinya mulai bergetar. Setelah Jani selesai mengendalikan emosinya, Jani sekali lagi melirik ke arah gadis tersebut dan dia sudah bisa menebak siapa sebenarnya gadis tersebut.
Nama gadis itu adalah Lisa Catalyn, yang dulu pernah menjadi kekasih Alex. Namun saat ini dia adalah tunangan dari Randy Blackwolf yang juga anak dari jendral Dom Blackwolf yang memiliki tubuh gemuk akibat selalu di manja oleh sang jendral.
Ayah Lisa hannyalah seorang pegawai kecil di departemen keuangan. Dulu saat Lisa masih menjalin hubungan dengan Alex, anak jendral Dom juga diam-diam menyukai Lisa namun karena takut dengan Alex dia tidak berani melakukan apa pun. Setelah Alex mengalami koma, Randy menggunakan pengaruh ayahnya untuk memaksa keluarga Lisa agar bersedia bertunangan dengannya.
....
Lisa yang awalnya terkejut dan mulai menangis dengan kehadiran Alex dalam acara kelulusan ini. Saat namanya dipanggil untuk naik ke atas panggung, dia berusaha untuk menghindari bertatap muka dengan Alex, namun karena godaan hatinya dia melirik ke arah Alex.
Jani yang mengetahui bahwa Lisa berusaha menghindarinya, hanya tersenyum dan dengan suara kecil dia menggunakan sihir angin tingkat dua yaitu Wind send voice untuk mengirim suaranya ke telinga Lisa yang berbunyi 'sampai ketemu di tempat biasanya, Lili.'
Lisa yang mendengar bisikan itu langsung tersipu malu dan wajahnya juga mulai memerah. Setelah turun dari panggung, dia segera meninggalkan tempat ini sendirian untuk pergi ke tempat yang sering mereka gunakan untuk menghabiskan waktu bersama.
Jani juga enggan untuk melihat acara ini sampai akhir dan memutuskan untuk pergi ke tempat Lisa sedang menunggu. Tetapi saat dia keluar dari aula, Jani berpapasan dengan dua saudaranya.
Veronica yang melihat Jani keluar dari aula, langsung datang menghampirinya dan berkata "kak, kenapa kau datang kesini secara tiba-tiba?"
"aku hanya ingin menggunakan alat magis yang ada di akademi untuk melatih tubuhku, kau tahu kan? semua alat magis yang digunakan untuk melatih tubuh sudah di bawa oleh kak Marcus."
__ADS_1
Jawab Jani dengan santai dan setelah itu, dia melirik ke arah sepupunya dan menyapanya "yo! Astra, kau masih belum bisa mengalahkan semua rekorku?"
"tentu saja sudah!! Aku hanya tinggal mengalahkanmu. Oh iya, ngomong-ngomong selamat atas kesembuhanmu, saudaraku. " jawab Astra menanggapi pertanyaan Jani dan setelah itu, dia berjabat tangan Jani sambil mengucapkan selamat atas kesembuhannya.
Setelah Jani mengobrol sebentar dengan mereka berdua, Jani berpamitan dan pergi ke tebing dekat sekolah.
...
Di sebelah barat sekolah ada sebuah tebing berbatuan yang tingginya lebih dari 30 meter dan di tebing itu terdapat beberapa lubang yang sering dibuat oleh beberapa tikus tanah.
Di antara lubang tersebut, ada lubang yang cukup. Besar untuk dilalui orang. Beberapa tahun yang lalu, Jani dan Lisa tidak sengaja menemukan lubang tersebut dan mereka mencoba menjelajahi lubang yang ternyata mengarah ke sebuah area yang berada tepat di bawah danau hutan.
Walaupun tempat itu tepat di bawah danau, tanah tempat itu tetap kering dan juga karena air danau masih jernih, sinar matahari masih bisa menyinari tempat itu. Saat Lisa sedang merindukan Alex, dia sering ke sini untuk menenangkan dirinya dan saat ini dia juga ada di sini menunggu kedatangan Jani.
Beberapa saat kemudian, Jani datang ke tempat tersebut.
Saat Jani sampai di sana, dia melihat Lisa sedang duduk di akar pohon besar sambil melihat ke arah atas untuk melihat danau dari bawahnya. Setelah terdiam karena sesaat, Jani perlahan berjalan mendekati Lisa.
Seolah dia mendengar ada seseorang yang mendekat, Lisa berbalik untuk melihat siapa yang datang dan saat dia mengetahui bahwa Jani yang datang, dia mulai meneteskan air mata lalu berlari untuk memeluk Jani.
Jani langsung menerima pelukan Lisa dan saat mereka berpelukan, Lisa mulai menangis sekencang mungkin seolah dia ingin melepas semua beban yang ada di hatinya. Jani tidak terganggu dengan tangisan Lisa dan malah dia mencoba menyuruh Lisa menangis sekencang mungkin yang dia bisa sambil mengusap punggungnya.
"saat itu, aku tidak pernah menyalahkan siapa pun karena itu adalah keputusanku. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Lagi pula aku ingin bertanya apa kau masih mencintaimu sampai saat ini?"
Lisa berjinjit dan mencium bibir Jani secara tiba-tiba dan kembali memeluknya sambil berkata "apa itu cukup, menjadi jawabanku?"
Jani langsung menjawab "belum!, ini belum cukup!" Jani mengangkatnya dan mencium Lisa dengan sedikit liar. Lisa yang terkejut dengan ciuman Jani, tidak berusaha menolaknya dan malah memeluk Jani semakin erat.
Jani yang melihat bahwa Lisa tidak menolak ciumannya, mulai semakin terangsang dan tangannya yang awalnya hanya memeluk Lisa mulai bergerak ke bawah dan mengelus pantatnya.
Setelah melihat Lisa sudah mulai kehabisan nafas, Jani berhenti sebentar dan membawa Lisa ke satu-satunya pohon besar yang ada di tempat ini.
Setelah bersandar di sana, Jani kembali menciumnya dan juga Lisa tidak menolaknya karena dia sudah mulai menikmati ciuman Jani. Saat Jani mulai mencoba menyentuh bagian bawah Lisa, dia di hentikan oleh Lisa, "maaf, aku belum siap melakukannya."
Jani tidak memaksanya dan setelah dia di hentikan oleh Lisa, Jani berhenti melakukannya dan mulai duduk bersandar di pohon besar sambil memeluk Lisa.
Lisa yang berada di pelukan Jani, bertanya "apa kita masih bisa bersama seperti ini?"
"tentu saja bisa, kenapa tidak?"
__ADS_1
"tapi! Aku sudah bertunangan dengan Randy."
"hah! Kau bertunangan dengan **** itu?"
"iya." Lisa mulai menceritakan semuanya kepada Jani apa yang terjadi selama 3 tahun ini. Awalnya Jani dengan tenang mendengarkan cerita Lisa, tapi dia mulai merasa marah setelah mendengar apa yang dilakukan keluarga Blackwolf kepada keluarga Catalyn.
Setelah mendengarkan cerita Lisa, Jani mulai mengepalkan tangannya dan berkata dengan marah "MEREKA SUDAH KETERLALUAN!! MEREKA PIKIR, MEREKA ADALAH PENGUASA DI KOTA INI, SEHINGGA BISA MENINDAS SIAPA PUN YANG MEREKA MAU!!?"
Lisa yang melihat Jani marah, mulai menenangkannya "Alex tenanglah, ini bukan waktunya untuk melampiaskan amarahmu. Yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu kenapa raja hanya diam saja melihat jendral dom melakukan hal ilegal seperti ini."
"kau benar, sebenarnya aku sudah punya perkiraan alasan apa yang membuat ayah diam saja."
"apa itu?"
"sepertinya jendral Dom, memiliki sebuah rahasia yang berkaitan dengan masa lalu ayah sehingga ayah takut bahwa itu di sebar luaskan olehnya."
" jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Untuk saat ini, biarkan mereka menunjukkan semua taringnya dan Lili bolehkah aku meminta satu hal?"
"boleh, tapi jika kamu mau aku untuk hal itu, ma..af aku belum siap untuk melakukannya!!"
"hahaha, tenang saja aku tidak meminta hal tersebut. Dalam lima hari kemudian sebenarnya aku harus pergi ke perbatasan kerajaan di timur-laut untuk membangun kembali kota perbatasan tersebut. Karena kita baru saja bertemu, aku tidak mau harus berpisah lagi denganmu. Jadi maukah kamu menemaniku ke sana?"
"tentu saja aku mau! Aku juga tidak mau berpisah denganmu lagi."
Setelah mendengar persetujuan Lisa, Jani langsung mulai menciumnya lagi.
Setelah selesai berciuman, mereka melihat melalui air danau bahwa langit sudah berwarna jingga yang menandakan hari sudah sore. Karena rumah Lisa cukup dekat dengan Akademi, Jani memutuskan untuk makan malam di rumah Lisa sekaligus menyapa kedua calon mertuanya.
Di perjalanan menuju kereta kuda, Lisa teringat sesuatu dan berkata kepada jani " Alex, aku lupa mengatakan di rumahku sudah tidak ada koki atau pembantu karena mereka takut di bunuh oleh keluarga Blackwolf. Jadi bagaimana kalau kita restoran terdekat saja? aku juga akan mengundang kedua orang tuaku."
"apa di rumahmu ada dapur?"
"tentu saja ada."
"kalau begitu, kita tidak perlu makan di restoran. Hari ini aku akan memasak di rumahmu."
"ehh, tapi..."
__ADS_1
"tidak ada kata tapi, karena aku sudah memiliki beberapa bahan di gelang dimensional ku. jadi kita tidak perlu ke pasar dan langsung menuju rumahmu." Walaupun Lisa berusaha menghentikannya, tapi di dalam hatinya dia merasa sangat senang karena Alex menerimanya apa adanya.