KAISAR DUA DUNIA

KAISAR DUA DUNIA
Protokol yang berlaku di sini


__ADS_3

Setelah sang sopir berkata seperti itu, dari bawah kakinya kegelapan mulai menyebar ke seluruh bus sampai tidak cahaya sedikit pun yang tersisa. Para anggota Interpol mulai terkejut karena kegelapan yang muncul secara tiba-tiba.


Walaupun seluruh bus di selimuti kegelapan, cahaya dari telepon semua orang masih berfungsi dan mereka pun menggunakannya sebagai senter untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah bus berhenti secara perlahan, sang sopir berdiri dari kursi pengemudi dan menghadap ke arah anggota Interpol lalu berkata "Apa kabar anggota Interpol sekalian!"


Anggota Interpol terkejut dengan orang bertopeng yang ada di hadapan mereka dan sang pemimpin yang mewakili semua anggota Interpol mulai bertanya "siapa kau?"


"AH! Maafkan aku yang lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan aku adalah sang Iblis merah, pemburu pengedar narkoba di negara Indonesia ini." Jawab sang sopir yang tidak lain adalah Jani yang saat ini mengenakan topeng Iblis merah.


Setelah Jani memperkenalkan dirinya, dia secara diam-diam mengeluarkan Double Blaster dari penyimpanan milik sistem dan kemudian menaruhnya di belakang punggungnya tanpa di sadari oleh anggota Interpol. Pemimpin Interpol sebenarnya sudah mengetahui keberadaan Iblis merah ini di Indonesia melalui kenalannya yang memiliki hubungan dengan kartel narkoba Meksiko, Diablo.


Meskipun dia mengetahuinya, tetapi dia mengabaikannya dan memfokuskan dirinya untuk menangkap Green Elf. Hingga saat ini, sang pemimpin tersebut masih meremehkan keberadaan Iblis merah dan dia dengan nada sombongnya berkata "lalu? Apa urusanmu datang kemari? Kami sama sekali tidak mengganggu aksi heroik mu kan?"


Pernyataannya itu di lanjutkan dengan tawa dari anggota Interpol yang lainnya dan Jani yang melihat hal itu hanya bisa menghela napasnya lalu berkata dalam hatinya ' kenapa akhir-akhir ini aku selalu bertemu dengan orang sombong yang tingkahnya setinggi langit?'


Setelah mengeluh seperti itu, Jani tanpa basa basi mengeluarkan Double Blaster nya lalu menembak anggota Interpol dengan brutal.


*DOORR...DOOORR...DOORR*


Suara tembakan terus terdengar hingga terhenti karena peluru di Double Blaster habis. Setelah memeriksa tidak ada yang berhasil selamat, Jani berbalik ke arah David dan berkata "David, apa kau siap untuk pergi?"


"aku siap! Tapi sebelum itu aku ingin meminta bantuanmu untuk membuatku seolah- olah ikut mati di sini juga."


"Oh! Itu masalah gampang." Jani mengeluarkan sebuah mayat yang dia sendiri pun lupa kapan memasukkannya ke dalam gelang penyimpanan dimensional nya lalu kemudian mengeluarkan sebuah bom kecil dan kemudian menempelkannya di bus. Setelah semua persiapannya sudah beres, Jani berteleportasi dengan David menuju rumah kosong yang tidak jauh dari lokasi bus berhenti.


Sementara itu di bagian luar bus.


Hendrawan yang berada di mobil paling depan mengeluh "Ahh! Kenapa aku yang harus menjadi pemandu sekelompok Interpol ini!?"


"karena di departemen kita, hanya senior yang lancar berbahasa inggris!" jawab bawahannya yang saat ini sedang mengendarai mobil.


"kau tahu! Tadi malam itu seharusnya aku bertemu dengan calon mantuku yang pertama, tapi karena sekelompok Interpol inilah yang membuatku gagal menemuinya!"


"tenanglah senior! Lagi pula aku juga tidak ingin menemani mereka yang penuh dengan percaya dirinya mengatakan bahwa mereka akan menangkap Green Elf dengan cepat!"


"kau benar! Apa lagi mereka pasti meremehkan keberadaan Iblis merah yang sebenarnya adalah orang yang melindungi keberadaan Green Elf."


Setelah itu, Hendrawan mulai kembali memikirkan pertemuan yang akan dia lakukan setelah pekerjaan ini selesai.


Setelah beberapa saat, Hendrawan merasakan ada yang aneh dengan bus yang tiba-tiba berhenti lalu menghubungi sopir bus dan bertanya kepadanya.


"hei, apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba berhenti!?"


Butuh waktu cukup lama sampai Hendrawan mendapatkan jawaban darinya dan setelah beberapa saat sang sopir yang asli menjawab "Pak Hendrawan!! Gawat pak!! Bus saya telah di bawa oleh orang lain!!"


"HAH!! Kenapa kau baru memberitahuku sekarang, Goblok!!?"


"saya sebelumnya telah di buat pingsan, pak. Tapi sekilas saya melihat orang yang membuat saya pingsan mengenakan topeng berwarna merah!!"


Mendengar jawaban dari sopir bus tersebut, Hendrawan berkata di dalam hatinya 'baru tadi di sebut! Sekarang malah kejadian!'. Setelah mengatakan hal itu, Hendrawan berkata "baiklah, kau sekarang laporkan masalah ini kantor pusat untuk memanggil bala bantuan!"


"Siap, pak!!" jawab sopir tersebut lalu dia menutup teleponnya.

__ADS_1


Setelah selesai berurusan dengan sang sopir, Hendrawan segera memerintahkan anak buahnya untuk memblokade jalan agar menghindari kejadian yang tidak di inginkan. Tepat setelah memblokade jalan terdengar suara tembakan yang sangat keras dari arah bus yang membuat warga yang menonton kejadian panik.


Hendrawan pun segera menyiapkan pistolnya untuk berjaga-jaga, namun tak lama bus itu meledak dengan sangat kuat.


*BOOMM!!*


Untungnya tidak ada yang terluka akibat ledakan bus tersebut karena warga sudah menjauh terlebih dahulu akibat suara tembakan sebelumnya.


Hendrawan yang melihatnya hanya bisa menurunkan senjatanya dan berkata dengan pelan "sial! Aku nanti pasti akan di ceramahi oleh atasan."


....


Di rumah milik Jali.


Saat jani dan David turun dari mobil, mereka di sambut oleh teriakan Jali yang menyambut kedatangan David. "Hei, David!! Akhirnya lu bebas juga dari posisi itu!"


"iya! Cukup melelahkan untuk berakting setiap hari di depan para orang-orang serakah itu." Jawab David yang menjawab Jali dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar.


"Jali, ajak teman kamu untuk masuk ke dalam dan kalian bisa melanjutkan reuninya di dalam sambil makan malam yang kebetulan baru saja matang." Jawab Lena yang muncul dari dalam rumah dari dalam rumah.


Saat dia melihat ada Jani, Lena menambahkan "Jan, apa kamu mau ikut makan malam bersama kita?"


Jani tersenyum lalu menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata "tidak perlu repot seperti itu. Karena di rumahku masih ada wanita yang sudah menyiapkan makan malam untukku."


"kalau begitu aku tidak akan menahan mu." Jawab Lena lalu dia memasuki rumahnya.


Setelah Lena memasuki rumah, Jani berkata kepada jali "Jal, setelah makan malam ajak David ke markas bawah tanah."


....


Sementara Jani sedang menikmati makan malamnya, Sang calon mertuanya yaitu Hendrawan saat ini sedang bejalan menuju kantor Jendral polisi yang sementara di duduki oleh wakilnya karena sang jendral sedang berada di penjara untuk menghadapi masalah hukum.


Saat sudah berada di depan ruangan jendral polisi, Hendrawan segera mengetuk pintunya dan tidak lama suara orang di dalam berkata "masuklah!"


Hendrawan pun masuk, lalu berkata "apa bapak memanggil saya?"


Sang jendral menjawab "betul, duduklah terlebih dahulu."


Saat Hendrawan sudah duduk di kursinya, sang jendral melanjutkan "Hendrawan, sebenarnya aku bingung harus mengatakan apa kepadamu. Karena di satu sisi pihak Interpol meminta kami untuk bertanggung jawab, tapi di satu sisi merekalah yang salah karena terlalu meremehkan musuh mereka."


Hendrawan juga mengerti tentang perasaan sang jendral yang terus di desak oleh pihak Interpol yang tidak mau di salahkan itu dan di awali dengan tarik nafas dia pun mulai berkata kepada jendral "pak, sebenarnya saya memiliki usulan untuk mengatasi masalah bapak."


"coba jelaskan apa usulan mu itu?"


Hendrawan kemudian mengeluarkan sebuah kertas lalu memberikannya kepada sang jendral sambil berkata "silahkan di lihat, pak."


Sang jendral terkejut lalu dengan tenang berkata "aku menolak usulan mu ini!"


"Kenapa, pak? Bukannya itu adalah cara yang paling mudah saat ini?"


"Memang, tapi itu bukan berarti kau harus mengundurkan diri dari kepolisian ini!. Lagi pula jika tidak ada cara lain, aku akan memilih untuk berdebat dengan pihak Interpol tentang masalah ini sampai mereka yang lelah sendiri!"

__ADS_1


"Haha! Terima kasih atas perhatian bapak, tapi sebenarnya alasan saya mengundurkan diri juga bukan tentang masalah ini saja."


"Lalu apa alasanmu?"


"itu karena tugasku sebagai seorang ayah sebentar lagi akan selesai. Kedua anak gadisku tidak lama lagi akan segera di pinang oleh lelaki pujaan hati mereka masing-masing dan mereka ini pengusaha yang cukup kaya, jadi aku tidak perlu memikirkan tentang biaya hidup mereka lagi."


"ohh! Jika itu alasanmu aku tidak akan merasa bersalah nantinya, tapi sebelumnya aku mengucapkan selamat dan terima kasihku kepadamu, Hendrawan!" jawab sang Jendral sambil berjabat tangan dengan di barengi sebuah senyuman tulus darinya.


Hendrawan mengerti maksud dari ucapan terima kasih sang Jendral dan dia menjawab sambil menyebutkan nama sang jendral "Sama-sama, Jendral!"


Setelah berbincang sebentar, Hendrawan pun pergi dari ruangan tersebut. Sang Jendral yang di tinggalkan sendirian berkata kepada dirinya sendiri "walaupun kita mendaftar di akademi kepolisian bersamaan, tetapi hanya kau yang bertahan di jabatan penyidik senior selama lebih dari 20 tahun tanpa alasan yang jelas."


...


Kembali ke perumahan Golden Residen.


Jani yang selesai makan berniat pergi ke markas bawah tanahnya, tetapi di hentikan oleh Ayu yang memanggilnya.


"Sayang! Aku dapat kabar dari ayah kalau dia telah berhenti dari kepolisian!" kata Ayu yang wajahnya terlihat senang.


Jani pun mempertanyakan ekspresinya yang terlihat senang seperti itu " kamu aneh ya? Ayah kamu mengundurkan diri dari pekerjaannya, tetapi kamu malah terlihat senang sekali."


"ya, aku senanglah karena dia tidak perlu kerja lembur terus dan dia bisa menikmati masa tuanya dengan tenang."


"oke, bagaimana kalau kita mengunjungi ayahmu setelah rapat rutin kita besok?"


"baiklah, aku akan memberitahu ayah nanti."


"Tidak usah memberitahunya sekarang,. Biarkan ini menjadi kejutan untuk ayahmu besok!"


"Hmm, oke!!" Jawab Ayu dengan penuh semangat.


Setelah itu, Jani pun pergi menuju markas ruang bawah tanahnya dan sesampai dia di sana, David dan Jaka sudah ada di sana tepatnya di ruangan milik Jaka.


Saat Jani melihat mereka, dia berkata "sepertinya aku terlambat nih?"


Tapi tidak jawaban dari mereka berdua karena mereka Sedang fokus pada layar komputer yang menampilkan barisan kode yang tidak terhitung jumlahnya.


Jani juga cukup mengerti tentang hal ini, jadi dia dengan tenang menunggu mereka selesai. Setelah beberapa saat, mereka selesai dan baru menyadari keberadaan Jani lalu Jaka berkata "sudah lama lu berdiri di situ, Jan?"


"tenang aja, belum lama kok! Ngomong- ngomong gimana perangkat komputer gua, Vid?"


"lebih nyaman dari di kantor gua sebelumnya yang masih pakai perangkat standar orang kantoran dan di sini gua bebas mau lakukan apapun tanpa perlu mengikuti protokol yang merepotkan." Jawab David yang membandingkan tempat ini dengan gedung Pentagon tempat dia dulu berada.


Jani berkata dengan nada serius " eh! Di sini juga ada protokolnya juga."


Jaka dan David bingung dengan perkataan Jani dan Jaka bertanya "memangnya protokol apaan di sini? gua baru tahu kalau di sini juga ada."


"Protokol yang berlaku di sini adalah DI LARANG NONTON VIDEO PORNO TERLALU SERING!"


hening sesaat dan kemudian...

__ADS_1


"haha!! Tanpa lu larang juga gua malas nonton yang begituan." Jawab Jaka sambil tertawa dengan keras di ikuti David yang juga tidak bisa menahan tawanya.


__ADS_2