Kaniya Si Gadis Desa

Kaniya Si Gadis Desa
Kerinduan


__ADS_3

Kaniya terbangun dari tidurnya, ia melirik jam weker yang ada diatas nakasnya. Ternyata ini baru pukul 10.30 malam. Kaniya megusap kasar wajahnya. Ia mau mengambil wudhu untuk sholat Isya.Tadi dia sudah melewatkan sholat karena ketiduran.


Kaniya meraih mukenah yang ia taruh di gantungan belakang pintu dan memakainya.Setelah itu ia pun bersiap melakukan sholat empat rokaat itu.Dengan segenap jiwa raganya, setelah sholat selesai ia mendo'akan semoga suaminya selalu diberikan kesehatan dan selalu dalam perlindungan Allah SWT.


Perasaan tidak tenang yang kembali merasuk di jiwa, entah mengapa rasanya malam ini ia tiba-tiba merasakan kerinduan yang amat sangat kepada sang suami yang sangat dan masih sangat ia cintai didalam hatinya.


Kaniya bisa merasakan kalau suaminya itu juga sangat merindukan dirinya.Begitulah adanya , Radit memang saat ini sedang meneriakkan namanya dilapangan yang luas itu, dengan raut sedihnya yang sangat menyayat hati,kehilangan jejak sang istri dalam waktu hampir tiga malam rasanya sangat menyakitkan.



Radit tertunduk mengenang sang istri yang kini tak nampak dimatanya, tak berada disisinya. Biasanya mereka akan saling memeluk sambil terlelap tidur berdua dalam satu selimut yang sama.


Tapi sekarang, setiap malam harus Radit lalui dengan hati yang hampa dan kesedihan yang menyayat hatinya.


Papa Marco yang sedari tadi mengikuti Putera nya itu secara diam-diam mendekat ke arah Radit.Perlahan ditepuk nya punggung sang putera sambil memanggilnya. "Dit." ujar nya.


Radit bergeming, ia seolah membeku.


"Sayang,kamu tidak boleh terus larut dalam kesedihan seperti ini nak. Papa sangat sedih kalau kamu jadi seperti ini, kemana putera Papa yang hebat, yang gagah, yang selalu bisa menyelesaikan masalah?.Bangkit Dit! ,hari esok masih panjang. Masih ada Papa, Mama dan juga adikmu Rani yang akan selalu mendukung kamu Nak. " nasehat sang Papa.


Radit menangis, ia merintih, mengeluarkan segala unek-unek nya pada sang Papa.


"Kenapa Pa?? kenapa Kaniya meniggalkan Radit dan seolah menghilang. " ujarnya tertatih.


"Sabar Nak, Papa yakin sekali kalau istrimu itu sekarang sedang butuh waktu untuk sendiri.Tadi Papa sudah cari info kalau ternyata Kaniya masih akan berkuliah dikampus itu. Besok ia ada jadwal kuliah, kamu bisa temuin dia disana.Tapi tidak perlu kamu bilang hal ini sama Mama mu dulu ya, takutnya Mama yang akan menemui istrimu. Kamu tau kan apa yang bakal terjadi kalau Mama yang pergi menemuinya?. " ujar Papa Marco.

__ADS_1


Sejenak Radit berfikir dan sebuah senyuman yang penuh harapan kini terbit di bibirnya.


"Yang benar Pa?, " tanyanya dengan senyuman yang tak surut di kedua sudut bibirnya.


Papa Marco hanya mengangguk dan menepuk-nepuk punggung Radit.Sepertinya putera nya itu masih memiliki harapan.


"Tapi Pa?. " Radit tiba-tiba berubah murung lagi.


"Tapi apa Dit?. " tanya Papa Marco pada puteranya itu.


"Tapi..., waktu Radit bertemu sama Kaniya terakhir kali. Dia sempat bilang sama Radit kalau dia akan bicara kalau Radit bersedia tinggal terpisah dari keluarga kita Pa. " jelasnya.


"Maksudnya???. " Papa Marco menerka-nerka arah pembicaraan Radit ini.


"Kaniya minta kami berdua untuk keluar dari rumah Papa dan Mama, dulu Radit memang pernah janji sama dia waktu di desa mertuanya Radit.Tapi sampai saat ini belum juga terealisasi. " ujar Radit.


Yaaa walaupun rumah yang mereka tempati sekarang itu adalah rumah yang dibangunkan oleh Opanya dan juga Omanya Radit, yaitu orang tuanya Papa Marco, tapi setidaknya mereka berdua bisa hidup mandiri sambil menunggu kelahiran anak-anak mereka .


Akhirnya mereka bahagia dengan keputusan mereka,Nyonya Sherly pun melahirkan anak pertama nya yaitu Raditya Prawira dan selang empat tahun kemudian akhirnya mereka juga di karuniai seorang putri yang cantik namun jutek seperti Rani.


"Jadi Papa setuju kalau Radit dan Kaniya pindah dari rumah Papa?. " tanya Radit.


"Kalau itu bisa membuat hidupmu dan Kaniya lebih bahagia, kenapa nggak nak.Papa rasa Mama mu juga bisa mengerti akan hal ini, orang tua mana didunia ini yang tidak ingin melihat anaknya hidup bahagia. " ujar Papa Marco.


Radit tersenyum sambil menatap sang Papa

__ADS_1


"Terimakasih Pa,kata-kata Papa sudah mengurangi sedikit beban dipundak Radit, secepatnya Radit pasti akan bisa menemukan istri Radit Pa, dan kalau semua masalahnya sudah beres, Radit akan segera mengajak Kaniya pindah rumah. " Radit mengutarakan rencananya pada Papa Marco.


"Memang nya kamu mau ajak Kaniya beli rumah di daerah mana?. " tanya Papa Marco.


"Rencananya sementara Radit akan mengajak Kaniya untuk tinggal dirumah Oma saja Pa dulu.Lagian rumah Oma disini kan kosong cuma ada bik Aleya saja dan Mang Urip yang mengurusnya.


" Terserah kamu aja, Papa akan mendukung apapun yang kamu putuskan untuk hidup kamu.Cuma satu pesan Papa, jangan lengah soal perusahaan dan perkebunan kamu.Permasalahan yang sudah ada sebaiknya tidak boleh terulang kembali.Kamu pasti paham kan akibatnya kalau peristiwa pencurian kemaren sampai terulang kembali?!."Papa Marco menasehati.


"Tentu Pa, Radit akan jadikan yang kemaren itu sebagai pelajaran bagi Radit untuk kedepannya."


"Bagus!,Papa do'akan semoga istrimu segera ditemukan keberadaannya.Ayo kita pulang,ini sudah malam.Nanti Mama mu cemas. "


Mau tak mau Radit pun menuruti ajakan Papanya.Radit mengekori mobil Papa Marco menuju kerumah mereka, dimana Mama Sherly mondar-mandir kesana kemari didepan pintu rumah menunggu kepulangan suami dan puteranya yang tercinta.


*****


Sementara itu, Kaniya masih larut dalam do'a-do'anya yang ia panjatkan kepada Sang Pencipta.


"Ya Allah, mudahkanlah hamba dalam memulai usaha ini. Semoga dilancarkan segala hal yang menyangkut rumah makan yang akan hamba mulai perintisannya.Aamiin."ucapnya.


Baru saja Kaniya mau melepaskan mukenah nya, tiba-tiba perutnya terasa dikocok-kocok,mual, dan ia tak bisa menahan rasa ingin muntah. Secepatnya ia pergi kekamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya didalam closed.


" Uweekk... uwekkkkk🤮. "


"Huh... Huh... " nafasnya memburu.

__ADS_1


Keringat dinginnya bercucuran,"Aku kenapa?, apa aku sakit. Aku tidak boleh sakit,kan besok aku masih harus kuliah, dan besoknya lagi harus segera merekrut karyawan untuk jaga rumah makan."Ucapnya lirih sambil mengelus-elus perutnya yang rasanya tidak nyaman.


__ADS_2