Kaniya Si Gadis Desa

Kaniya Si Gadis Desa
Merasa Tak Nyaman


__ADS_3

Sore telah berganti malam, Kaniya dan suaminya pun sudah bersiap akan pulang. Hari ini setelah makan siang, Radit memang kembali ke kantor perkebunannya. Tapi sorenya ia kembali datang untuk menjemput sang istri di restoran.


Begitu juga dengan Rani, ia kembali kerumah Prawira dengan menyetir mobilnya sendiri,karena tujuan mereka sekarang berbeda.


Selama di perjalanan pulang, Kaniya meminta pendapat suaminya tentang masalah yang dihadapi Rani, mereka bertukar fikiran bagaimana cara menghadapi keluarga Marcel kedepannya nanti.


"Menurut Mas Radit bagaimana?. " tanya Kaniya.


"Kita lihat aja kedepannya,apa mereka masih melakukan pergerakan untuk membujuk Rani atau tidak.Besok aku sudah suruh Beny salah satu satpam terkuat di perkebunan untuk jagain Rani. "ujar Radit.


" Kayaknya orang baru ya Mas, kok aku baru dengar?. "Kaniya rasa nama itu baru di telinganya.


" Kamu benar sayang, ia baru direkrut akhir bulan lalu karena perkebunan butuh banyak penjagaan sekarang. Kamu tahu sendiri 'kan?, sekarang ini banyak banget masalah yang timbul. Pencurian, kebakaran,rasanya ini aneh banget. Gak biasanya seperti ini, seperti ada seseorang yang mendalangi saja. "ujar Radit panjang lebar.


" Kok bisa ya Mas, apa aku bisa bantu untuk menyelidiki hal itu Mas? "tanya Kaniya.


" Aku rasa gak usah Honey, ingat kamu sekarang sedang berbadan dua. Gak baik kalau kamu main ke perkebunan, disana memang hutan homogen, tapi tetap saja namanya juga hutan.Banyak makhluk tak kasat mata. "cegah Radit.


" Tapi kayaknya aku gak ada masalah deh Mas, apa kamu lupa kalau aku punya kekuatan?. "Ujar Kaniya kekeuh.


" Iya, Mas tau. Tapii.... "


"Pokoknya aku akan bantu nerawang dari jauh aja dulu Mas, kalau sekiranya ada yang tidak beres yang aku temukan, ya kita baru ambil tindakan . " ujar Kaniya lagi.


"Baiklah kalau itu mau kamu honey. " Akhirnya Radit bersedia menerima bantuan dari istrinya.


*****


Arus jalan ke arah kediaman Prawira tak biasa nya macet seperti saat ini.Rani sudah berjam-jam berada dijalan,Mamanya bahkan sudah puluhan kali menelepon dirinya.


Saking bosannya Rani akhirnya memutuskan untuk menepi dulu ke sebuah kafe yang ia lewati.Dari pada pegal duduk lama-lama didalam mobil dan membuat pinggangnya sakit'fikirnya.


Lagi-lagi dibelakang Rani, ada yang mengikutinya saat ia akan masuk ke parkiran kafe tersebut. Ia pun merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, tapi apa? entahlah?!.

__ADS_1


Tanpa menghiraukan sekeliling, ia fokus duduk disalah satu kursi yang ada dibagian depan kafe tersebut.Tanpa ia sadari seseorang tengah memotretnya diam-diam dan mengirimkan foto itu kepada majikannya.


"Lihat Pada,gadis itu sekarang masih di kafe kenangan. Bagaimana kalau kita suruh Jarwo untuk membawanya kerumah kita saja, apalagi kan dia sedang mengandung cucu kita. Jadi kita punya alasan untuk membawanya pulang ke rumah ini. " ujar Nyonya Wati.


"Bagaimana dengan si Prawira dan Si Sherly itu nanti kalau dia tahu putrinya kita bawa?" tanya suaminya yang agak ragu dengan rencana sang istri.


"Mereka kan masih dirumah sakit sekarang, anak buah kita yang dirumah sakit bilang kalau mereka belum keluar dari rumah sakit itu." jelas Nyonya Wati pada Tuan Erlangga.


"Boleh juga Ma,kita bisa ancam si Marco Prawira itu agar mereka bersedia menerima lamarannya Marcel untuk putrinya." Papa dari Marcel itu tersenyum puas dengan usulan sang istri.


"Papa benar sekali,mereka pasti mau tak mau akan menikahkan Marcel kita dengan putrinya..Rani, dan.... perlahan impian Papa akan terlaksana. " ujar Nyonya Wati penuh keyakinan.


"Hahahaha, baiklah, cepat segera Mama hubungi si Jarwo untuk segera membawa gadis itu kerumah ini, bagaimanapun caranya!. " ujar Tuan Erlangga.


"Baik Pa, Mama akan segera kasih tahu Jarwo agar tidak gagal dalam melaksanakan tugas. "ujar Tuan Erlangga.


Karena masa persidangan Marcel akan segera tiba, Tuan Erlangga dan istrinya itu berusaha semaksimal mungkin agar puteranya yang nakal itu bisa dibebaskan.Meskipun mereka akan melakukan hal yang di luar nalar sekalipun.


Pak Jarwo yang sudah mendapatkan instruksi dari pasangan suami istri itu segera bertindak.Disaat Rani sedang memesan minuman hangat, ia segera menyelinap dan membayar pelayan yang akan memberikan minuman itu agar mau membubuhkan obat tidur didalam minuman yang dipesan oleh Rani.


Banyaknya uang yang Pak Jarwo berikan membuat Pelayan kafe itu gelap mata dan mau bekerjasama.Mudah saja bagi Pak Jarwo yang memang sudah berpengalaman dalam bidang ini. Itulah sebabnya keluarga Sudiro bersediakah membayar mahal untuk mempekerjakan laki-laki bertubuh bongsor itu dan rekan-rekannya.


Setelah meminum kopinya, Rani perlahan merasakan kantuk yang begitu tak terelakkan. Kepalanya terasa berat, hingga ia pun beberapa kali menguap dan akhirnya ia pun tertidur.


Tanpa basa-basi Pak Jarwo lansung meminta anak buahnya yang bersembunyi didalam mobil yang sudah mereka siapkan untuk mengalihkan perhatian pengunjung yang lain, dan dengan mudahnya ia membawa tubuh Rani yang sedang tertidur dari sana.


*****


Tengah malam, Rani terbangun di sebuah ruangan yang cukup besar.Namun kamar ini bernuansa gelap,warna yang mendominasi adalah warna abu-abu metalik.


Hanya gordennya saja yang berwarna Biru langit.Rani mengedarkan matanya kesegala arah, ia bisa memastikan kalau ini bukanlah kamarnya.Apalagi setelah ia melihat sebuah foto yang ada diatas nakas, betapa terkejutnya Rani.


"Foto itu... itu..foto .... laki-laki brengsek itu. Kenapa ada disini?, jangan-jangan ini... " Rani sangat shock sampai-sampai ia menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Matanya membelalak seakan tak percaya kalau ia sampai diculik lagi.Tapi bukankah laki-laki itu sedang dipenjara?, lalu siapa yang melakukan ini pada dirinya'fikir gadis itu.


Sebelum semua kesadarannya berkumpul, tiba-tiba saja pintu kamar itu sudah terbuka lebar. Nyonya Wati masuk dengan membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan juga segelas air putih.


"Nak Rani, kamu sudah bangun sayang."sapanya dengan lembut keibuan.


" Maaf tante, kenapa saya bisa ada disini?!, ini dimana?!. "tanya Rani yang masih terkejut, dan semakin terkejut karena melihat Ibunya Marcel yang datang.


" Kamu gak usah takut sayang, sebaiknya kamu makan dulu ya. "pinta wanita itu dengan bujukan manisnya.


" Jawab saya dulu tante, saya mohon lepaskan saya!. "Rani setengah memohon.


" Sayang, kami tidak menyekap kamu kok, kamu bebas mau ngapain aja dirumah ini, ini juga adalah rumah kamu.Kamu kan calon menantu kami, dan ini kamar calon suami kamu, Marcel. "ujarnya.


" Apa?!, bagaimana aku bisa ada disini... "Rani memegangi kepalanya, mencoba mengingat lagi dimana saja ia sebelum ada disini. Ia ingat, tadi ia terjebak macet dan akhirnya ia memutuskan untuk mampir ke kafe sambil menunggu macet nya mengurai.


Selain itu, Rani ingat kalau ia tadi memesan secangkir kopi, dan setelah itu.... '


Rani menggelengkan kepalanya karena ia masih tidak percaya dengan semua ini" Tidak!, saya maupun pulang tante. Saya tidak mau berada disini,SAYA MAU PULANG!!!. "teriak Rani frustasi.


" Ini sudah malam nak lihatlah jam didinding itu. Tidak baik kalau kamu yang sedang berbadan dua ini pulang tengah malam-malam begini dijalan sendirian. Besok saja ya.. "bujuk Nyonya Wati.


Rani berlari ke pinggir jendela, ia melihat keluar sana, suasana sudah gelap, langit mendung dan sebentar lagi sepertinya akan turun hujan.


Gadis itu hanya bisa mendesah pasrah, tak tau harus bagaimana lagi.Ia mencari tas dan ponselnya, tapi tak ia temukan.


" Kamu sedang cari apa sayang?. "tanya Nyonya Wati, wanita itu memperlakukan Rani dengan sebaik dan semanis mungkin, tujuannya agar Rani tergugah hatinya dan maupun menjadi menantu mereka.


" Tas dan ponsel aku dimana?. "tanya Rani, ia ingin sekali menghubungi Kakak dan Kakak iparnya.


"Tadi kamu pingsan di kafe, kebetulan anak buah kami yang sedang mengawasi kamu melihat dan menghubungi kami. Jadi saya meminta mereka untuk membawa kamu kerumah ini.Saya khawatir sama calon menantu dan juga cucu saya. " bukannya menjawab pertanyaan Rani tapi wanita itu malah mengarang cerita baru agar Rani semakin tergugah hatinya dengan kebaikan yang semu itu.


"Pingsan??, mana mungkin..?!. " Rani bingung apa yang sebenarnya terjadi padanya, kenapa dia tidak mengingat apapun??!.

__ADS_1


__ADS_2