
Semenjak terbangun tengah malam sampai dini hari tadi Kaniya tak henti-hentinya bolak-balik kamar mandi.Badannya terasa lemas tak bertenaga,hal seperti ini baru pertama kalinya ia rasakan seumur hidupnya. Ada gelenyar aneh didalam sana,ya.. perutnya seperti berkedut dan sedikit keram.
"Aku masuk angin kali ya? , tapi aku kan gak telat makan.Apa gara-gara makan mie tadi?. "ucapnya lirih.
Kaniya mencoba untuk kuat, ia ingin membuat secangkir teh manis anget untuk dirinya yang dari semalam jadi susah tidur kembali setelah terbangun dari tidurnya. Secangkir teh anget pun jadi,Kaniya menyeruputnya pelan-pelan.Rasanya sedikit lebih baik sekarang,mual yang ia rasakan sudah sedikit berkurang sekarang.
Tak sengaja Kaniya melirik Kalender yang tergantung didinding, seingatnya ia belum kedatangan tamu bulanannya bulan ini, tapi ini bahkan sudah akhir bulan dan ia belum juga dapet,sekarang fikiran Kaniya berubah menjadi kecemasan.Hal yang paling ia takutkan seolah kini tergambar jelas di depan matanya.
Ia ingat,di malam ulang tahunnya waktu itu ia sama sekali tidak meminum pil kontrasepsi nya." HAHK😱😲"
"Apakah aku hamil?. " pikirnya.
Dielus nya perut yang masih rata itu,wajahnya menampakkan binar bahagia namun bercampur dengan gurat kesedihan yang mendalam.Entahlah, Kaniya bingung harus bahagia atau malah bersedih.
Bahagia karena akhirnya keinginan sang suami dan keluarganya bisa terwujud, namun disatu sisi ia pun sedih karena kebahagiaan ini hadir disaat hubungannya dengan Radit seolah sedang berada ditepi jurang perpisahan.
Rasanya sulit sekali untuk memahami situasi ini,seandainya ia benar-benar hamil. Apakah sebaiknya ia memberitahukan hal ini pada suaminya? ataukah malah sebaiknya ia rahasiakan saja?. Tapi belum tentu juga kan kalau dia beneran hamil, siapa tau itu hanya masuk angin biasa.
"Besok aku akan cek kerumah sakit saja sepulang kuliah. " ujarnya.
*******
Wajah Kaniya seketika makin pucat setelah mengetahui hasilnya.Tadi ia sempat mampir ke sebuah Apotek untuk membeli alat tes kehamilan, dan ia mengujinya di toilet kampusnya.
Betapa kagetnya ia setelah mengikuti tata cara yang ada di bungkus kemasan testpack itu, garis merah dua buah yang muncul sukses membuat Kaniya merasa tak percaya.
"A-ku ha-mil???. " ujar nya sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan, dan sebelahnya lagi memegangi alat tespek itu.
Matanya beralih menatap cermin besar didekat wastafel, dirabanya perut ratanya itu.
"Ada kamu disini sayang?. " ucapnya pada bayi yang mungkin masih berbentuk zigot.
__ADS_1
Kebingungan kini menderanya,bagaimana ia bisa melewati kehamilan ini tanpa memberitahukannya kepada Radit? . Bukankah Radit harus tau? ini kan anaknya?tapi disatu sisi, Kaniya juga belum siap kalau harus bertemu kembali dengan suaminya itu, meskipun rasa rindu dihatinya juga tidak bisa dipungkiri.
Kaniya berjalan gontai menuju ke ruang kelas, hari ini dia jadi merasa tidak bersemangat untuk mengikuti kelas seperti sebelum-sebelumnya.
"Heyyy!!!" tiba-tiba Bella datang dari arah belakang dan langsung mengagetkan dirinya.
Terang saja Kaniya jadi kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Yeeee, kok malah bengong. Kamu abis mikirin apa?. " tanya Bella.
"Eee,gak ada kok. " dusta Kaniya.
"Tapi kayaknya ada apa-apa deh, ayo dong cerita ama aku.Kenapa???, masalah sama suami kamu lagi?. " tanya Bella penuh selidik.
"Bukan."
Akhirnya Kaniya mau buka suara.Bella mengambil kesempatan untuk mengorek cerita dari sahabatnya itu agar mau berterus terang padanya.Sementara Kaniya sedang sibuk cerita, Bella diam-diam mengirim pesan ke Dino kalau Kaniya masuk kampus hari ini.
Dengan sigap, Papa Marco segera memberi tahu Radit bahwa istrinya sekarang sedang ada di kampusnya.
Radit pun menelfon Dino dan meminta Dino untuk menahan Kaniya sampai dia tiba dikampus. Jangan sampai istrinya itu menghilang lagi entah kemana.
Dengan cepat Radit memacu kendaraannya menuju ke kampus sang istri.Jangan sampai kesempatan ini ia lewatkan, mengingat Kaniya sekarang sangat pandai bersembunyi. Entahlah, ia yang tidak pandai mencari atau memang Kaniya yang semakin pintar bersembunyi.
Jelas saja,karena kemana-mana Kaniya selalu memakai masker dan kaca mata hitam dengan jaket hoodie agar tidak dikenali.
*****
Sreeeetttt
Suara ban mobil yang di rem dengan sangat kuat terdengar diparkiran kampus ekonomi manajemen.
__ADS_1
Radit keluar dengan tergesa-gesa dan langsung berlari mencari dimana keberadaan sang istri.
Dino sedang mengamati pergerakan Kaniya yang sekarang sudah masuk kedalam kelas.
"Dino!." sapa Radit ketika menemukan Dino yang berada tidak jauh dari kelas dimana Kaniya berada sekarang.
"Eh, Pak Radit. Kaniya nya, eh maaf.. maksud saya Nona Kaniya lagi ikut kelas Pak. " ujar Dino memberi laporan kepada anak majikan bokapnya itu.
"Baguslah, kamu bisa kembali ke kelas kamu. Biar saya yang menungguinya di sini. " ujar Radit dengan tatapan yang tidak mau dibantah.
Dino gak mau cari masalah, ya dia langsung pergi aja.Toh dia memang masih ada kelas habis ini.
Dengan langkah lebar, Radit melangkah menuju ruang kelas dimana istrinya sekarang sedang menuntut ilmu.Sesampainya didepan pintu kelas itu, tanpa ragu ia pun mengetuk pintunya.
Seorang dosen perempuan yang juga mengenal siapa Radit sangat terkejut ketika mengetahui siapa yang sudah mengetuk pintu kelasnya.
"Raditya Prawira?. " ucapnya seakan tak percaya. Mulutnya menganga nyaris aja kemasukan lalat yang lagi gabut. ᥬ😆á„
"Benar Bu, saya Raditya. Maksud kedatangan saya ke sini, saya ingin menjemput istri saya
, sekarang dia sedang ada didalam. " ujar Radit.Matanya menyapu seluruh bagian kelas itu.
"Istri??, kalau boleh tau yang mana istri kamu?. " tanya mantan dosennya itu
"Yang itu. " tunjuk Radit.
Kaniya yang sedari tadi menyembunyikan dirinya dibalik tubuh tambun salah satu temannya jadi tidak bisa berkutik.Mau tak mau ia harus keluar dan bicar dengan suaminya itu.
"Aduh....
bagaimana ini??? apa aku akan menyerah begitu saja padanya. Ahhhh what ever!!!!!!?? ucapan kesal Kaniya didalam hatinya .
__ADS_1